Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 23 - Hubungan Alan & Ezra


__ADS_3

...༻〇༺...


Acha menoleh ke belakang. Memastikan apakah Bimo mengejarnya atau tidak. Namun dia melihat cowok itu tampak menepi bersama dua temannya.


"Udah, Kak! Kak Bimonya nggak ngejar lagi," kata Acha. Memberitahu Alan.


"Iya. Kita juga bentar lagi sampai." Alan memelankan motornya. Dia melirik Acha melalui kaca spion. "Hubunganmu sama Bimo kayaknya nggak sebaik yang aku kira," cetusnya.


"Begitulah, Kak. Kami kan belum ada satu bulan jadi saudara," pungkas Acha.


"Tapi tempo hari kau sepertinya sangat peduli sama Bimo. Sampai cariin ke area jalan balapan liar."


"Aku cuman penasaran aja. Kak Bimo soalnya sering pulang telat," sahut Acha seraya memegang tengkuk. Dia tentu tidak mau perasaan khususnya pada Bimo diketahui oleh Alan.


"Kita masih jauh ya? Katanya tadi udah dekat," tanya Acha. Sengaja mengalihkan topik pembicaraan.


"Bentar lagi sampai. Udah lapar ya?" tanggap Alan.


"Bisa dibilang begitu." Acha memegangi perutnya.


Tak lama kemudian Alan singgah di sebuah cafe besar. Cafe itu bernama Onama. Memiliki suasana monokrom yang kuat. Meskipun begitu, cafe Onama terbilang cukup mewah. Di sana sudah ada empat teman geng motor Alan yang menunggu. Ada juga cewek bernama Ria yang sempat menyapa Acha beberapa waktu lalu.


"Di sini, Lan!" seru Roby sambil melambaikan tangan.


"Oy!" Alan balas menyapa. Dia menoleh ke arah Acha. Lalu menggenggam tangan gadis itu. Alan segera mengajak Acha bergabung bersama gengnya.


"Kenalkan, Cha. Sohib-sohibku. Roby, Sahril, Zoni, dan Ria." Alan memperkenalkan teman-temannya pada Acha.


"Hai, aku Acha!" Acha segera memperkenalkan diri dengan senyuman simpul.


"Ayo duduk, Cha! Btw, Alan sering cerita tentang lo," ujar Sahril.


"Dia bilang apa?" tanya Acha seraya duduk.

__ADS_1


"Udah, Cha. Jangan didengar omongan mereka. Biasanya banyak bohongnya. Pokoknya jangan dipercaya!" imbuh Alan memberitahu Acha. Dia duduk di sebelah cewek tersebut.


'Kayak sendirinya enggak.' Acha berkomentar dalam hati. Dia pura-pura tergelak. Kala itu Acha berusaha berbaur dengan Alan dan kawan-kawan. Acha tentu terpaksa melakukannya. Sebab dirinya yakin kalau semua teman-teman Alan pasti tahu rencana buruk Alan. Acha tak akan jatuh pada kebaikan yang ditunjukkan oleh Alan dan kawan-kawan. Semuanya adalah kebohongan belaka.


Saat asyik menikmati sandwich serta minuman bersama Alan dan yang lain, tiba-tiba terdengar keributan. Acha sontak menoleh ke arah sumber suara. Dia melihat pemilik cafe memarahi seorang cowok berseragam SMA.


Acha memicingkan mata karena dia merasa mengenali cowok berseragam SMA itu. Setelah diperhatikan baik-baik, sekarang dirinya yakin kalau cowok tersebut adalah Ezra. Pakaian Ezra terlihat masih kotor seperti tadi pagi saat di apotek. Ezra tampak dimarahi oleh pemilik cafe. Sepertinya dia adalah pekerja di tempat itu.


"Eh, lihat tuh Ezra, Lan! Dia dekil banget," ujar Zoni sambil menunjuk Ezra.


"Begitulah parasit," sahut Alan dengan seringainya.


Acha langsung mendelik ke arah Alan. Baginya ucapan Alan begitu kasar.


"Kenapa ngomong begitu?" tukas Acha.


"Wajar Alan ngomong begitu, Cha. Ezra itu anak pembantunya Alan. Btw Alan selalu kesal sama Ezra karena--"


"Udah! Gue nggak mau bahas itu!" sergah Alan sembari berdiri. Memotong perkataan Ria.


Alan mendengus kasar. Suasana hening sejenak. Saat itulah Alan bertukar tatapan dengan dua teman cowoknya. Jujur saja, dia sangat enggan bercerita masalah pribadinya. Apalagi pada orang yang akan dipermainkan. Bagi Alan itu sama sekali tak perlu. Namun sepertinya cowok tersebut tak punya pilihan selain bercerita.


'Nggak papa. Gue nggak harus cerita yang sebenarnya kan?' batin Alan. Berniat membohongi Acha.


"Gini, Cha. Selain sebagai anak pembantuku di rumah, Ezra juga tinggal satu atap denganku. Dia tinggal di rumahku sejak SD. Kala itu Ezra sering diam-diam menindasku. Dia semakin semena-mena saat orang tuaku lebih membanggakannya dibanding aku. Jadi aku menyebutnya parasit. Sekarang atas dukungan sohib-sohibku ini, aku bisa melakukan perlawanan pada Ezra." Alan bercerita panjang lebar. Sebagian besar ceritanya adalah kebohongan. Pada kenyataannya, dialah yang sering membuli Ezra.


"Begitu ya?" Acha mengernyitkan kening. Dia ragu untuk percaya. Namun dirinya akan berpura-pura percaya. "Itu pasti sulit untuk Kak Alan," tambahnya.


"Sulit benget, Cha. Tapi sekarang aku bisa menghadapinya dengan baik..." lirih Alan. "Thanks, udah peduliin aku," tuturnya sembari mengembangkan senyuman manis.


Menyaksikan pemandangan itu, teman-teman Alan berusaha keras menahan tawa. Mengingat mereka hampir tak pernah melihat Alan bersikap manis begitu.


"Ayo kita ke atas! Kita main billiard," ajak Ria. Sengaja menghentikan suasana melow.

__ADS_1


"Billiard?" Acha menatap penuh tanya pada Alan.


"Di sini ada juga tempat billiard. Tapi bukan tempat seperti yang kita datangi tempo hari," jelas Alan. Dia dan teman-temannya segera mengajak Acha ke lantai dua. Di sana terdapat balkon yang dilengkapi dengan papan billiard serta sofa untuk bersantai. Dinding di sana juga terlihat dihiasi dengan grafiti unik. Acha melihat tulisan Ababil ditulis dalam huruf besar.


"Apa ini tempat nongkrong kalian?" tanya Acha.


"Iya. Cafe ini punya Alan!" jawab Roby.


Acha lantas menatap Alan. "Pantesan, kenapa nggak bilang dari tadi," tukasnya seraya memukul pundak Alan.


"Lagian kamu nggak nanya kan?" Alan terkekeh.


Acha segera duduk ke sofa bersama Ria dan Sahril. Melihat Alan, Roby, dan Zoni bermain billiard.


"Kita butuh yang segar-segar. Mau pesan es krim, Cha?" tawar Ria.


"Boleh." Acha setuju saja.


"Siapa yang mau es krim. Gue sama Acha mau pesan!" pekik Ria. Bertanya pada para cowok.


"Kalau Acha pesan, gue juga!" sahut Alan. Ketiga temannya otomatis ikut-ikutan. Ria segera memesan es krim melalui telepon.


Selang sekian menit, pelayan yang mengantar es krim datang. Dia tidak lain adalah Ezra. Cowok itu sudah mengganti pakaiannya dengan seragam pelayan cafe berwarna hitam.


Acha mencoba menyapa Ezra dengan senyuman. Tetapi cowok itu tak membalas sapaannya. Ezra justru sangat cemberut. Dia meletakkan es krim pesanan semua orang ke atas meja. Lalu membagikan semua es krim itu satu per satu.


"Makasih," ungkap Acha pelan saat Ezra memberikan es krim. Selanjutnya dia membawakan es krim untuk para cowok.


Saat Ezra berjalan, Roby dengan sengaja mengulurkan kakinya untuk menghalangi jalan. Akibatnya, Ezra tersandung. Untung saja dia mampu bertahan dan tak terjatuh.


"Eits! Hampir aja jatuh. Kalau jatuh, hutang lo nambah nanti," tukas Zoni. Dia cekikikan bersama Roby dan Sahril. Ria yang duduk di sebelah Acha bahkan tergelak juga. Seolah apa yang mereka lakukan itu hal lucu.


Ezra tak menghiraukan. Tatapannya justru tertuju pada Alan. Dia lanjut melangkah. Setelah memberikan es krim pada Roby, Zoni, dan Sahril, Ezra berjalan ke arah Alan. Ketika hampir dekat dengan posisi Alan, Ezra tiba-tiba tersandung. Es krim yang dibawanya jadi tumpah mengenai Alan.

__ADS_1


"Bangssat!!" Alan langsung merutuk.


"Sorry." Ezra meminta maaf dengan ekspresi datar. Dia terlihat tenang sekali. Kesannya seperti dirinya memang sengaja pura-pura tersandung agar bisa menyiram Alan dengan es krim.


__ADS_2