
...༻〇༺...
Karena tidak tahu akan rencana jahat Alan, Acha minum saja minuman yang diberikan cowok itu. Dia bahkan meminumnya sampai airnya tinggal setengah gelas.
"Kau cantik banget hari ini, Sayang..." ujar Alan sembari membelai rambut Acha. Dia semakin mendekati gadis itu. Lalu perlahan memeluknya dari samping.
Acha yang mulai merasakan efek obat, sudah mengantuk. Matanya tiba-tiba terasa berat sekali.
Di waktu yang sama, Ezra merasa cemas dengan Acha. Dia takut Alan akan berbuat yang tidak-tidak pada gadis itu.
Ezra segera menuju tempat pesta dilakukan. Di sana dia melihat keberadaan Bimo. Dengan cepat Ezra bawa Bimo ke tempat yang jauh dari keramaian. Dia memberitahu cowok itu mengenai apa yang dilakukan Alan.
"Mereka sedang ada di kamar sekarang! Aku takut Alan melakukan yang tidak-tidak pada Acha," ungkap Ezra.
"Dimana kamarnya?" tanya Bimo yang sudah menampakkan raut wajah murka.
"Di lantai dua. Kamarnya leretan kedua setelah lift," jawab Ezra.
Tanpa pikir panjang, Bimo langsung pergi. Dia menaiki lift terlebih dahulu. Setibanya di lantai dua, Bimo segera membuka pintu kamar yang tadi disebutkan Ezra.
Betapa terkejutnya Bimo ketika memergoki Alan sedang melepaskan gaun Acha. Untungnya gaun yang dikenakan Acha belum sepenuhnya dilepaskan. Alan terlihat baru membuka resletingnya.
"Sialan!" geram Bimo yang langsung menyerang Alan. Dia melayangkan bogem ke wajah cowok yang sudah berani menyentuh adik tirinya itu.
"Sial!" Alan mengumpat. Dia kesal sekaligus heran dengan kedatangan Bimo. Bagaimana cowok itu bisa tahu?
"Apa yang lo lakukan sama Acha, hah? Gue akan laporkan ini ke polisi!" timpal Bimo seraya mencengkeram erat kerah baju Alan.
Saat itulah Alan terpikirkan sesuatu. Karena rencananya gagal, dia akan membuat pengakuan bohong pada Bimo.
"Maaf, Bim. Gue sama Acha baru saja melakukannya. Lihat aja adik lo. Dia kelelahan banget," ucap Alan sambil tersenyum miring. Meski sudah tertangkap basah, dia tetap tidak ingin kalah. Alan mengaku kalau dirinya dan Acha sudah berhubungan intim.
"Aaaaarghhhh!!!!" Bimo sangat kesal. Dia pukuli Alan dengan penuh amarah.
Melihat keadaan sangat genting, Ezra yang sejak tadi mengamati segera turun tangan. Dia menghentikan Bimo yang sedang terbakar amarah.
__ADS_1
Awalnya Ezra sangat kesulitan menghentikan Bimo, tetapi dia akhirnya bisa saat mengerahkan seluruh tenaga.
"Sudah, Bim! Kita tahu Alan bukan orang biasa. Lo sebaiknya bawa Acha pergi!" saran Ezra yang sudah berhasil menjauhkan Bimo dari Alan.
Bimo yang sejak tadi terfokus pada Alan, baru sadar mengenai keadaan Acha. Dia segera menghampiri adiknya tersebut.
"Acha! Cha?" Bimo mencoba membangunkan Acha. Namun gadis itu tidak kunjung bangun.
Bimo pun tak punya pilihan selain menggendong Acha dengan gaya bridal. Ia menatap miris gadis berparas cantik tersebut.
"Gue akan tunjukkan pintu belakang," kata Ezra. Dia berjalan memimpin lebih dulu. Kala itu, dia menatap Alan selintas. Majikannya tersebut terlihat mempelototkan mata sambil mengacungkan jari tengah.
Ezra mendengus kasar. Dia yakin dirinya pasti akan mendapat resiko berat karena sudah ikut campur urusan Alan.
Meskipun begitu, Ezra tidak peduli. Untuk sekarang dia fokus membantu Bimo dan Acha. Kini mereka sudah keluar melewati pintu belakang.
Bimo menggerakkan kakinya dengan langkah cepat. Sebelum beranjak, dia berhenti sejenak dan berbalik menatap Ezra.
"Thanks udah bantuin gue sama Acha," ungkap Bimo.
"Ezra!" panggil Bimo. Menyebabkan langkah kaki Ezra sontak terhenti.
"Gue bingung kenapa lo nggak langsung bantu Acha sendiri. Kenapa lo malah kasih tahu gue dulu? Lagian kan Acha pacar lo?" tanya Bimo.
"Karena gue tahu bagaimana Alan. Dan gue nggak akan pernah menang melawan dia. Mengenai hubungan gue sama Acha, itu bukan hal serius. Kami cuman ngaku-ngaku aja biar selamat dari guru BK," sahut Ezra. Setelah berucap begitu, dia benar-benar pergi.
Sementara itu, Bimo membawa Acha pulang menaiki taksi. Dia membiarkan cewek tersebut menyandar ke pundaknya.
"Aku kan sudah bilang, Alan bukan cowok baik, Cha." Bimo berbicara pada Acha yang masih belum sadar. Dia peluk erat gadis tersebut. Sungguh, Bimo sangat mengkhawatirkan Acha.
...***...
Saat waktu menunjukkan jam 2 dini hari, Acha akhirnya terbangun dari tidur. Dia langsung menemukan Bimo tampak tertidur di kursi.
Acha mengedarkan pandangan. Memastikan tempat dirinya berada. Sebab terakhir kali dia sedang bersama Alan. Acha jadi panik sendiri karena tidak bisa mengingat apa yang terjadi setelah Alan memeluknya mesra.
__ADS_1
"Kak Bimo!" Acha memutuskan membangunkan Bimo. Dia penasaran dengan apa yang telah terjadi.
"Acha! Akhirnya kau bangun juga," ucap Bimo ketika sudah bangun.
"Apa yang terjadi kepadaku, Kak? Kenapa kita sudah ada di rumah?" tanya Acha.
"Alan melakukan hal buruk sama kamu. Jadi aku langsung membawamu pulang," jelas Bimo.
"Hal buruk? Apa, Kak?" Acha menuntut jawaban.
"Kau tidak ingat?" Bimo memastikan.
Acha menggeleng. "Hal terakhir yang kuingat, Kak Alan memelukku..." ungkapnya yang merasa cemas.
"Kau tenang saja, tidak ada hal yang terjadi. Itu karena aku datang di waktu yang tepat!" Bimo sengaja menutupi kenyataan yang sudah diketahuinya. Dia juga tidak mau percaya kalau Acha dan Alan sudah bercinta. Namun sayangnya, Bimo tidak menyebutkan sedikit pun perihal bantuan yang diberikan Ezra.
"Benarkah?" Acha menatap Bimo dalam keadaan mata yang berembun.
"Kan aku sudah bilang padamu, Alan bukan cowok baik," kata Bimo sembari berpindah duduk ke sebelah Acha. Berusaha menenangkan adiknya tersebut.
"Maafin aku, Kak." Acha memeluk Bimo. "Makasih udah bantu aku," tambahnya.
"Sudah sepantasnya aku menjagamu. Aku juga minta maaf karena sebelumnya berbuat hal tidak sepantasnya kepadamu. Ayo kita perbaiki hubungan adik kakak ini mulai sekarang, Cha..." ujar Bimo.
Acha mengangguk sambil tersenyum. Dia menatap Bimo dan berhenti memeluk.
"Tapi Kak Bimo harus janji. Jangan pernah pakai obat terlarang dan main-main cewek lagi," imbuh Acha.
Bimo terdiam sejenak. Ia berucap, "Aku juga inginnya begitu. Tapi nggak tahu gimana caranya berhenti."
"Kalau begitu, biar aku bantuin gimana?" tawar Acha yang tiba-tiba merasa antusias.
"Iya, iya..." Bimo tersenyum sambil mengusap puncak kepala Acha.
Acha balas tersenyum. Perlahan senyumnya memudar karena dia lagi-lagi terpesona akan sosok Bimo.
__ADS_1