Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 46 - Opsi Acha


__ADS_3

...༻〇༺...


"Hush!" Acha menjauhkan tikus di kaki Alan dengan cara halus. Sehingga binatang pengerat itu segera pergi.


"Sumpah! Kak Alan sampai segitunya takut sama tikus," tukas Acha sembari berjongkok. Ia memperhatikan Alan yang masih menutupi wajah dengan dua tangan. Cowok itu terdiam. Kemungkinan Alan merasa sangat malu pada Acha.


"Kak Alan nggak apa-apa kan?" tanya Acha. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh lengan Alan. Pupil mata Acha membesar saat bisa merasakan panas di badan cowok tersebut. "Astaga! Badan Kakak panas!" serunya.


Acha segera mendekati Alan. Menjauhkan dua tangan cowok itu dari wajah. Hingga Acha bisa menyentuh dahi Alan. Memastikan suhu panas yang ada.


"Pergi! Tinggalin aja gue," hardik Alan seraya menjauhkan tangan Acha darinya.


"Aku nggak bisa! Kalau Kak Alan mati di sini gimana?" tanggap Acha. Menolak untuk pergi.


"Biarin aja! Apa peduli lo? Lo nggak kapok sama kejadian terakhir kali? Jujur ya, malam saat pesta itu gue berniat pengen jebak lo! Tapi semuanya berantakan gara-gara Erza!" timpal Alan. Dia sebenarnya tidak enak badan. Itulah alasan dia terjatuh dari motor. Sepertinya masalah yang sedang terjadi membuat Alan merasa terbebani baik secara mental dan fisik.


"Aku tahu. Sejak awal aku juga tahu kau bukan cowok baik. Tapi setelah mendengar pengakuanmu tadi, aku jadi ragu. Aku bisa melihat sisi baik Kakak. Pasti berat menghadapi masalahmu sekarang. Aku yakin Kak Alan butuh teman," sahut Acha.


Alan terkesiap mendengar ucapan Acha itu. Sungguh, dia tak pernah mendengar seseorang berucap begitu padanya. Tulus dan menenangkan.


"Ayo kita pergi dari sini. Aku akan mengantarmu pulang," ajak Acha sambil berdiri. Ia mengulurkan satu tangan ke arah Alan. Menunggu apakah cowok itu menerima bantuannya atau tidak.


"Gue bisa pergi sendiri. Lagian gue sekarang nggak mau pulang ke rumah!" tolak Alan sembari membuang muka.


"Yakin? Kalau ada tikus lagi gimana? Kakak bisa bayangin nggak kalau tikus kecil tadi punya banyak teman. Lalu mengajak teman-temannya untuk mencari--"


"Hentikan!" potong Alan. Membayangkan ribuan tikus saja dia sudah merasa jijik. Cowok tersebut lantas berdiri. Ia dan Acha beranjak dari komplek perumahan.


Alan melangkah dengan lambat. Dia juga memegangi kepala. Alan juga merasa matanya berkunang-kunang. Sebenarnya dirinya sudah tidak makan dari kemarin.


Rasa pusing semakin menusuk. Alan mulai lemas dan akhirnya jatuh pingsan.

__ADS_1


Acha yang berjalan lebih dulu, sama sekali tidak tahu. Namun setelah mendengar suara ada yang jatuh, barulah dia menoleh.


"Kak Alan!" seru Acha yang bergegas menghampiri Alan. Dia mengguncang badan cowok itu beberapa kali. Tetapi Alan tidak bangun.


"Aduh... Gimana nih!" keluh Acha yang kebingungan. Dia semakin panik saat mendengar suara petir dari langit. Memang sejak tadi di langit tidak ada bintang yang terlihat. Pertanda bahwa hari sedang mendung.


"Sebaiknya bawa berteduh dulu," gumam Acha. Dia yang tidak kuat mengangkat Alan, terpaksa menyeret cowok itu di tanah. Hingga dirinya bisa bernaung di rumah komplek terdekat. Tak lama kemudian, hujan benar-benar turun.


"Kak Alan bangun!" Acha mencoba membangunkan Alan lagi. Namun cowok itu masih bergeming.


Acha terpikir untuk mencari pertolongan. Ada dua nama yang terlintas dalam benaknya. Yaitu Bimo dan Ezra. Akan tetapi Acha bingung harus memilih siapa. Mengingat dua cowok tersebut sama-sama bermusuhan dengan Alan.


"Siapa ya?" Acha menggaruk kepalanya sambil duduk berjongkok di sebelah Alan yang disandarkan ke dinding. Cewek itu merasa semakin gelisah saat menyadari suasana malam semakin mencekam.


"Kak Bimo jelas akan marah kalau tahu gue bareng sama Kak Alan. Tapi Kak Ezra sepertinya nggak akan marah. Lagi pula Kak Alan dan Kak Ezra sekarang menghadapi masalah bersama. Kemungkinan mereka bisa menyelesaikan masalah kalau bertemu kan?" gumam Acha. Pilihannya lebih condong untuk memilih Ezra.


Ponsel Acha berdering. Dia mendapatkan panggilan dari Bimo. Acha segera mengangkat panggilan tersebut.


"Cha? Kau dimana? Kau baik-baik saja kan? Maaf aku baru bisa meneleponmu. Aku ada di kantor polisi sekarang," ungkap Bimo dari seberang telepon.


"Apa? Kantor polisi? Jadi Kakak tertangkap?" Acha merasa khawatir. Dia semakin yakin dengan pilihannya untuk memilih Ezra untuk membantu dirinya dan Alan.


"Iya, Cha. Kau dimana? Maafkan teman-temanku yang kurang ajar. Tak satu pun dari mereka yang bergerak untuk membantumu!" Bimo tentu sangat mengkhawatirkan Acha. Apalagi saat mengetahui teman-temannya tidak ada yang membantu Acha.


"Aku baik-baik saja. Aku dalam perjalanan pulang sekarang," kilah Acha.


"Benarkah? Syukurlah kalau begitu." Bimo mendengus lega. Dia meneruskan, "Sebelumnya aku mau minta maaf, Cha. Sepertinya dalam waktu dekat akan sering terjadi perdebatan di keluarga kita..."


Acha terdiam. Dia mengerti Bimo sedang membicarakan masalahnya dengan Rizal. Ayah kandung Bimo itu pasti marah besar ketika tahu sang putra ditangkap polisi.


"Iya, Kak..." lirih Acha. Pembicaraannya dan Bimo berakhir. Kini Acha mencoba menghubungi Ezra.

__ADS_1


Panggilan pertama tak dijawab. Acha baru mendapat jawaban dari Ezra saat mencoba melakukan panggilan ketiga.


"Halo? Siapa ya?" tanggap Ezra dari seberang telepon.


"Ini aku Acha, Kak!" ucap Acha.


"Acha? Ngapain telepon gue malam-malam begini? Lo suka sama gue?" balas Ezra.


"Ish! Kepedean banget sih. Aku cuman mau minta bantuan. Ini darurat! Aku sekarang sedang bersama Kak Alan. Badannya--"


"Apa?! Sama Alan? Lo nggak apa-apa kan? Lo di apakan sama dia, Cha?" Ezra terdengar cemas sekali. Dia sampai memotong perkataan Acha.


"Dengerin aku dulu, Kak! Di sini yang nggak baik-baik aja justru Kak Alan. Badannya panas banget. Kak Alan bahkan pingsan sekarang. Aku nggak tahu harus gimana. Aku nggak kuat gendong dia," jelas Acha panjang lebar.


"Oke. Lo dimana sekarang? Gue akan ke sana!" Ezra semakain khawatir.


Acha segera memberitahukan dimana lokasinya dan Alan. Kini dia bisa tenang dan menunggu kedatangan Ezra.


Cukup lama menanti kedatangan Ezra, Acha jadi mengantuk. Beberapa kali dia jatuh ke pundak Alan.


Selain mengantuk, Acha juga kedinginan. Bukannya memikirkan diri sendiri, dia malah memberikan jaket rajutnya untuk Alan. Sekarang Acha hanya bisa memeluk tubuhnya dengan erat. Bibir cewek itu gemetaran.


Dari kejauhan sebuah taksi perlahan mendekat. Buru-buru Acha berdiri dan melambaikan tangan. Dirinya yakin orang yang datang adalah Ezra.


Benar saja, taksi itu berhenti. Ezra segera keluar dari sana dan menghampiri Acha.


"Kak Ezra!" Acha merasa lega saat melihat kehadiran Ezra.


"Cepat bantuin Kak Alan!" Acha memberitahukan keadaan Alan dengan menunjuknya.


"Lo gila! Sebelum mencemaskan orang lain, cemaskan diri lo sendiri dulu!" Ezra justru mengomel. Dia mengambil jaket Acha dari Alan dan memakaikannya kembali pada sang pemilik. Ezra bahkan merelakan jaketnya juga untuk gadis tersebut.

__ADS_1


Setelah berbuat begitu, Ezra langsung mengangkat Alan. Lalu membawanya masuk ke taksi. Di ikuti oleh Acha setelahnya. Mereka segera pergi meninggalkan komplek perumahan terbengkalai.


__ADS_2