
...༻〇༺...
Bimo tersenyum geli melihat Acha memejamkan mata. "Kenapa pejamin mata, Cha?" tanyanya.
Acha langsung membuka mata. "A-aku..." ujarnya yang bingung harus menjawab apa. Ia semakin kehabisan kata-kata karena wajah Bimo masih sangat dekat.
"Aku--" Saat Acha hendak menjawab, Bimo tiba-tiba mencium bibirnya. Cowok itu melakukannya dengan singkat. Mata Acha sontak membulat sempurna.
"Kau mengharapkan ini kan?" tanya Bimo.
Acha lagi-lagi tak mampu menjawab. Bimo yang melihatnya, tersenyum. Lalu kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Acha. Ia memagut bibir ranum gadis itu dengan lembut.
Acha lantas kembali memejamkan matanya. Dia membalas ciuman Bimo. Tangan gadis tersebut berpegang erat ke kaos baju yang dikenakan Bimo.
Bimo mengawali ciuman dengan lembut. Namun lama-kelamaan ciuman itu menjadi intens. Ciuman yang awalnya hanya pergerakan bibir, kini di ikuti dengan permainan lidah.
Acha berusaha mengikuti pergerakan Bimo yang seolah menuntun mulutnya harus bergerak bagaimana. Jujur saja, ciuman yang terjadi sekarang membuat seluruh tubuhnya merasakan sensasi berbeda. Bukan saja debaran jantung yang menggebu, tetapi juga sensasi kupu-kupu beterbangan di dalam perut.
Suara kecup-mengecup dari dua mulut yang saling bergulat itu memecah kesunyian. Ciuman tersebut berakhir ketika Bimo melepas tautan bibirnya lebih dulu. Lalu memundurkan diri untuk menjauh dari posisi Acha.
Bimo bangkit dari tempat duduknya. "Sepertinya kau sudah bisa mengerjakan soalnya sendiri. Aku akan pergi sekarang," ujarnya sembari beranjak keluar kamar. Bersikap seakan tidak ada yang terjadi.
Sementara itu Acha, dia mematung di tempat. Mulutnya juga masih dalam keadaan sedikit menganga. Sensasi ciuman yang diberikan Bimo tadi masih terasa di mulutnya.
'Apa itu? Apa yang baru saja terjadi?' batin Acha yang perlahan memegangi bibirnya sendiri. 'Apa ini mimpi?' lanjutnya. Kemudian menampar pipinya dengan keras satu kali.
__ADS_1
"Aaa!" Acha kesakitan akibat perbuatannya sendiri. Karena rasa sakit itu, dia yakin kalau dirinya sekarang tidak bermimpi.
Acha berdiri dari tempat duduk. Dia menoleh ke arah pintu. "Kalau ini nyata, apa maksudnya itu? Kenapa Kak Bimo melakukannya?" gumamnya keheranan. Mengingat Bimo menciumnya tanpa ada penjelasan apapun.
Acha menangkup wajahnya sendiri. Lalu menjatuhkan diri ke ranjang. Meski tidak tahu dengan maksud dari ciuman Bimo, tetapi Acha merasa kesenangan. Dia sampai berguling-guling tak karuan di ranjang akibat salah tingkah. Terutama saat mengingat bagaimana dirinya dan Bimo berciuman.
'Jangan-jangan Kak Bimo juga suka sama gue?' batin Acha menduga. 'Ah, tidak! Kalau suka, dia pasti sudah bilang. Terus kenapa tadi dia cium gue dong? Itu jelas kalau Kak Bimo suka sama gue,' sambungnya. Berusaha menyimpulkan ciuman yang terjadi tadi. Saking polosnya Acha, dia sampai tak terpikir kalau Bimo bisa saja mempermainkannya.
...***...
Malam telah tiba, semua orang berkumpul untuk makan malam. Termasuk Bimo. Sedangkan Acha terlihat tak kunjung muncul. Padahal Mira sudah memanggil berkali-kali.
"Nih anak kenapa sih. Nggak biasanya dia begini. Kemarin juga begini loh," keluh Mira.
"Udah. Mungkin Acha lagi diet kali," kata Rizal.
"Nggak usah. Biar aku aja yang panggil Acha." Bimo mengajukan dirinya.
"Benarkah? Ya sudah kalau begitu." Mira lantas kembali duduk.
Bimo tersenyum dan segera beranjak dari meja makan. Dia mendatangi kamar Acha.
"Aku kenyang, Mah!" ujar Acha dari dalam kamar. Mengira orang yang datang adalah Mira.
Bimo membuka pintu. Dia berkata, "Yakin? Mau dibikinkan roti tengah malam lagi?"
__ADS_1
"Kak Bimo!" Acha langsung bangkit dari ranjang. Dia berdiri tegak dengan mata yang membola. Acha juga tak lupa memperbaiki rambutnya yang berantakan.
Bimo melangkah masuk ke kamar Acha. Berjalan mendekati gadis itu.
"Stop!" pekik Acha sambil mengulurkan satu tangan. Hingga Bimo berhenti melangkah.
Sebelum bicara, Acha menenggak salivanya sendiri. Sebenarnya sejak tadi dia tidak berhenti memikirkan ciuman yang terjadi di antara dirinya dan Bimo. Dalam perenungannya tersebut, Acha berakhir memutuskan akan meminta penjelasan dari Bimo.
"Ini tentang yang Kak Bimo lakukan padaku saat waktu belajar tadi," ucap Acha. Ia benar-benar memaksakan diri untuk membicarakan semuanya sekarang.
"Cha..." Bimo berjalan kian mendekat.
Acha lantas melangkah mundur. Namun dia terpojok ke ranjang dan berakhir terduduk di sana. Acha mendongak menatap Bimo yang sudah berdiri di hadapan.
"Aku sudah tahu perasaanmu sejak kita melakukan pindahan," ungkap Bimo. Dia kebetulan menemukan buku gambar Acha. Di buku itu terdapat banyak sekali sketsa gambar wajah Bimo. Sketsa yang sebenarnya adalah wajah pacar khayalan Acha.
"A-apa?" tanggap Acha tak mengerti.
"Pas kita pindahan, aku menemukan buku gambarmu. Kau menggambar wajahku di buku itu," jelas Bimo. Dia berjongkok dan mendekatkan wajahnya lebih dekat ke hadapan Acha.
Acha tertegun. Matanya mengerjap pelan. "Lalu apa ciuman itu mengartikan kalau Kak Bimo juga suka sama aku?" tanyanya.
"Menurutmu?" Bimo justru berbalik tanya. Dia mengecup singkat bibir Acha. "Aku rasa itu bisa menjelaskan," katanya.
Acha tersipu malu. Akan tetapi itu berakhir saat dia mengingat hubungan saudaranya dengan Bimo.
__ADS_1
"Tapi kita saudara, Kak!" ujarnya dengan raut wajah cemas.
Bimo malah menanggapi dengan senyuman tenang. "Iya. Tapi..." Bimo berhenti sejenak. Lalu mendekatkan mulut ke telinga Acha. Ia melanjutkan dengan berbisik, "saudara tiri..."