
...༻〇༺...
"Ma-maaf, Kak." Acha tergagap. Suasana menjadi begitu canggung. Setelah melihat surat-surat di kamar Ezra, sekarang dirinya yakin kalau cowok itu adalah pengirim surat misteriusnya selama ini.
Ezra berusaha membuang semua rasa malunya. Dia justru memasang raut wajah marah.
"Ada yang pengen lo katakan?" timpal Ezra.
"A-anu. Aku merasa nggak asing dengan surat yang aku baca tadi," ungkap Acha. Memberanikan diri.
"Yang benar?" Ezra memasang raut wajah serius. Dia melangkah lebih dekat ke hadapan Acha. Membuat gadis itu harus melangkah mundur. Sampai akhirnya Acha terpojok ke dinding.
Posisi wajah Ezra dan wajah Acha begitu dekat. Hanya berhelatkan beberapa senti.
"Kak..." Acha mengepalkan erat kedua tangannya. Tatapan Ezra dengan mata elang itu membuat Acha seolah terhipnotis. Jantung cewek tersebut juga berdegup kencang. Apalagi setelah meyakini bahwa Ezra adalah pengagum rahasianya selama ini.
"Lo bisa jelaskan kenapa isi surat yang gue tulis ini nggak asing?" tanya Ezra.
__ADS_1
"Aku akhir-akhir ini sering mendapat surat begitu dari bawah meja. Ta-tapi mungkin saja cuman kebetulan." Entah kenapa di sini Acha yang merasa malu. Padahal Ezra sedang berada dalam posisi pelaku yang tertangkap basah.
Ezra tersenyum singkat. Senyuman yang sulit untuk di artikan. Satu tangannya memegang dagu Acha. Hingga gadis tersebut mendongak untuk menatapnya.
Deg!
Jantung Acha berpacu lebih cepat. Dia menduga Ezra akan mencium bibirnya. Apalagi saat cowok itu bergerak kian mendekat.
Acha menenggak ludahnya sendiri. Ia perlahan memejamkan mata. Sungguh, Acha tak tahu kenapa dirinya bersikap seolah pasrah dan berharap Ezra menciumnya.
"Kenapa lo tutup mata?" tanya Ezra. Dia sebenarnya mengerti makna dari tindakan Acha. Hanya saja Ezra bukanlah cowok kurang ajar yang suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. "Mengharapkan sesuatu?" lanjutnya.
"Enggak! Bu-bukan apa-apa. Aku mau ke toilet." Acha benar-benar dibuat salah tingkah oleh Ezra. Gadis itu langsung keluar dari kamar dan mencari toilet. Namun dia berjalan ke arah luar.
"Lo mau ke toilet atau keluar?" tegur Ezra. Membuat Acha sontak berbalik arah menuju pedapuran.
"Di rumah gue nggak ada toilet. Adanya WC jongkok. Selamat menikmati," ujar Ezra. Dia kembali sibuk membersihkan kamar dari kertas-kertas yang berhamburan.
__ADS_1
Sementara itu, Acha sudah masuk ke toilet yang ada di rumah Ezra. Tempatnya sempit. Selain itu di sana tidak ada closet seperti di rumah Acha. Seperti yang dikatakan Ezra, hanya ada WC jongkok dan bak kecil.
Meski kecil, rumah Ezra bersih dan rapi. Itu membuat Acha merasa lebih nyaman. Dari situ Acha mengetahui bahwa Ezra adalah cowok yang rajin.
"Kak Ezra memang sesuai reputasinya," gumam Acha sambil berjongkok ke atas WC. Dia senyum-senyum sendiri memikirkan Ezra. Namun tangannya langsung menampar pipi sendiri saat mengingat kejadian tadi.
"Kenapa gue pakai pejamin mata segala sih. Malu-maluin!" Acha berucap seolah mengomeli dirinya sendiri. Dia bergegas keluar dari toilet setelah selesai.
Acha sengaja berjalan laju saat melewati Ezra. Dia juga menundukkan kepala sampai rambutnya menutupi wajah. Acha duduk ke sofa sebentar. Ia mendadak kepikiran dengan keadaan Bimo.
"Aku sepertinya harus pulang," gumam Acha seraya mengambil ponsel dari tas. Berharap bisa menemukan ojek online yang masih beroperasi.
Bersamaan dengan itu, Alan yang sejak tadi telentang di sofa, membuka mata. Ia menatap ke arah Acha.
"Ada!" seru Acha. Tatkala menemukan ada ojek online yang masih bisa dipesan. Dia lantas merapikan tasnya dan berdiri.
"Kak Ezra! Aku pulang ya!" ujar Acha sembari melangkah ke arah pintu.
__ADS_1
"Jangan!" tanpa diduga, Alan dan Ezra berseru di waktu yang sama. Ezra terlihat muncul dari balik tirai. Sementara Alan langsung merubah posisi menjadi duduk.
Acha sendiri langsung berhenti melangkah dan menoleh.