
...༻〇༺...
Bimo ternyata mengajak Acha ke tongkrongannya. Cowok itu menghentikan motor di jalanan dimana teman-teman gengnya berkumpul.
"Kak Bimo ngapain ngajak aku ke sini sih? Malas banget, Kak..." protes Acha memberengut.
"Belum juga gabung, udah pesimis aja. Kau kan belum kenalan sama teman-temanku," tanggap Bimo.
"Oke. Tapi Kak Bimo harus janji nggak balapan," tukas Acha.
"Oke." Bimo menjawab singkat. Dia memperkenalkan Acha kepada semua temannya.
"Akhirnya lo ngajak Acha juga, Bim. Kita udah nunggu momen ini loh," ujar Arvan.
"Iya, takut banget adiknya digebet teman," sahut Reyhan yang sependapat dengan Arvan.
"Ya iyalah. Awas aja kalau kalian coba-coba dekatin adik gue. Lewati mayat gue dulu!" tegas Bimo serius.
"Kak Bimo!" Acha tersenyum kecut. Dia jadi malu karena Bimo bersikap begitu protektif padanya.
"Idih! Sok-sokan lo, Bim!" timpal Arlin. "Acha pasti benci diperlakukan begitu. Iyakan, Cha?" tanyanya. Meminta pendapat Acha.
"Nggak tahu deh." Acha hanya terkekeh sambil memegangi tengkuk. Teman-teman Bimo benar-benar jauh dari frekuensi Acha.
__ADS_1
Tak lama kemudian sekelompok geng motor lain datang. Mereka mengajak Bimo dan gengnya untuk balapan.
Sebelum memberi jawaban, Bimo menoleh ke arah Acha terlebih dahulu. Cewek itu tampak melipat tangan di depan dada sembari melayangkan tatapan tajam. Pertanda bahwa Acha melarang tegas sang kakak untuk balapan.
"Sorry, hari ini nggak dulu," kata Bimo. Keputusannya membuat Acha tersenyum tipis.
"Ah! Sejak kapan lo cemen, Bim! Kapok ya? Karena udah kalah sebelumnya," remeh Tian. Ketua geng motor Red Dog. Setelah berucap begitu, dia tergelak bersama teman-temannya.
"Enak aja! Siapa yang takut!" Bimo tersungut. Dia bukanlah tipe cowok yang akan diam saat diremehkan.
Acha sigap memegangi lengan Bimo. Berusaha menenangkan sang kakak. "Udah, Kak!" ujarnya.
"Lo yakin nggak mau balapan, Bim? Ini geng Red Dog loh. Taruhan sama mereka nggak main-main," ucap Arlin. Mencoba membujuk Bimo.
Acha hanya diam sambil mengerutkan dahi. Setelah melihat bagaimana teman-teman Bimo, dia semakin yakin kalau dirinya tidak cocok dengan mereka.
Bimo segera menatap Acha. Dia berkata, "Sorry ya, Cha. Aku janji ini terakhir kalinya aku melakukan balapan!"
Acha masih membisu. Dia ingin melarang Bimo. Namun teman-teman di sekeliling cowok itu tampak melayangkan tatapan serius. Apalagi Arlin yang sepertinya tak begitu menyukai Acha.
"Terserah Kakak deh." Acha terpaksa mengalah. Sehingga Bimo segera bersiap untuk melakukan balapan.
Acha mendengus kasar dan mengambil posisi aman ke pinggir jalan. Ia menatap Bimo dan Tian yang baru saja saling melajukan motor.
__ADS_1
Lima menit berlalu. Terdengar suara sirine polisi. Suara tersebut lama-kelamaan semakin mendekat
"Anjir! Polisi!"
"Kabur!"
Seluruh anggota geng motor panik. Mereka saling berdahuluan melarikan diri. Sedangkan Acha ditinggalkan begitu saja. Sepertinya semua orang di sana sangat panik sampai hanya memikirkan diri sendiri.
Acha kebingungan. Dia akhirnya memilih berlari jauh dari lokasi balapan. Cewek itu juga panik dan hanya terpikirkan untuk kabur.
Acha memasuki sebuah gang kecil. Jalan itu membawanya menuju jalanan besar. Meskipun jalanannya besar, tetapi lokasi tersebut sangat sepi.
Dari kejauhan, Acha bisa melihat seorang cowok tidak asing. Di hadapan cowok itu terlihat ada motornya yang tergeletak di tanah dan mengeluarkan banyak asap.
"Apa itu Kak Alan?" gumam Acha menduga. Dia sebenarnya ingin menghindari Alan. Akan tetapi di saat keadaan genting sekarang, sepertinya memiliki seseorang yang dikenal bersamanya adalah yang terbaik.
Acha berjalan menghampiri Alan. Langkahnya melambat ketika mendengar suara rengekan dari cowok itu. Acha jadi ragu untuk mendekat.
'Nggak jadi deh,' batin Acha mengurungkan niat. Dia berbalik badan. Sayangnya ponsel Acha tiba-tiba berdering. Sehingga Alan menyadari kehadirannya.
"Astaga!" gumam Acha tegang. Dia takut Alan akan marah karena dirinya memergoki cowok tersebut menangis.
"Acha?" panggil Alan menduga. Dia tak butuh waktu lama untuk mengenali gadis yang dilihatnya.
__ADS_1