
...༻〇༺...
Acha mengerutkan dahi saat melihat Bimo dan teman-teman bermotornya memasuki jalanan sepi. Jujur saja, itu membuat Acha semakin penasaran.
Setelah terus di ikuti, akhirnya Bimo dan geng motornya berhenti. Mereka terlihat berhenti di satu titik jalanan besar. Walau besar, jalanan itu sepi dari alat transportasi lain.
Terlihat bukan hanya Bimo dan geng motornya yang ada di sana. Ada kelompok geng motor lain serta beberapa cewek yang rata-rata mengenakan pakaian bebas. Entahlah apakah mereka cewek SMA atau tidak. Acha tak bisa menduga.
Acha menyuruh sopirnya menghentikan mobil cukup jauh dari Bimo. Dia tentu tak ingin keberadaannya di ketahui cowok tersebut.
Agar bisa melihat lebih jelas, Acha keluar dari mobil. Dia mengamati dari balik pohon. Berusaha memperhatikan Bimo.
Bimo tampak melepas seragam putihnya. Cowok itu segera mendapat sorakan dari banyak orang. Tentu saja orang-orang yang bersorak histeris adalah para cewek. Mengingat Bimo memiliki badan yang cukup atletis.
Bimo mengganti seragamnya dengan kaos hitam. Setelah berganti pakaian, beberapa cewek mendatanginya. Cewek-cewek itu menciumi pipinya secara bergantian.
Acha tercengang melihatnya. Apalagi saat ada satu cewek yang sengaja dicium bibirnya oleh Bimo.
Buru-buru Acha berbalik badan. Kedua tangannya mengepal erat. Acha merasa sangat marah dan terkhianati.
Belum lama berbalik, terdengar keributan yang terjadi di tempat Bimo berada. Acha sontak menoleh lagi ke sana. Dirinya menyaksikan Bimo tampak berseteru dengan seorang cowok.
"Non Acha? Non baik-baik saja kan?" tanya Pak Norman yang cemas menyaksikan kegelisahan Acha. "Apa ingin ketemu sama Den Bimo?" lanjutnya.
"Tidak! Kita pulang aja, Pak!" ajak Acha sembari beranjak masuk ke mobil.
"Baik, Non." Pak Norman mengangguk dan segera membawa Acha pulang.
Di sisi lain, Bimo sedang bertengkar dengan cowok bernama Alandra Fatih. Dia merupakan musuh bebuyutan Bimo dalam adu balapan motor.
Hubungan Bimo dan Alan semakin memanas sekarang. Mengingat Bimo nekat memacari gadis yang disukai Alan. Gadis yang tadi berciuman bibir dengan Bimo. Hari itu perseteruan Bimo dan Alan berakhir dengan balapan. Alan semakin marah, ketika Bimo lagi-lagi mengalahkannya.
__ADS_1
...***...
Sepanjang perjalanan, Acha hanya sibuk menangis. Hatinya terasa sakit sekali. Bimo benar-benar cowok bad boy garis keras.
"Aaaarkhhhh!!!" Acha berteriak karena saking kesalnya. Ia menangis sampai tergugu.
"Non? Non baik-baik saja?" Pak Norman yang menyetir tentu cemas. Dia menanyakan keadaan Acha berulang kali. Akan tetapi gadis itu hanya diam.
"Tolong jangan katakan tentang ini pada siapapun ya, Pak... Aku mohon..." ujar Acha.
"Baik, Non..." Pak Norman mengangguk patuh.
Sesampainya di rumah, Acha langsung masuk ke kamar. Tangisannya masih berlanjut. Acha bahkan mengambil buku gambarnya. Dia merobek semua sketsa gambar Bimo.
"Gara-gara kau, reputasi Rasya juga tercoreng dimataku!" geram Acha. Mengomeli gambaran terakhir Bimo yang sebenarnya adalah pacar khayalannya. Dengan penuh amarah, dia robek gambaran tersebut.
Untung saja kala itu kedua orang tua Acha tidak ada di rumah. Mereka memang sudah pergi untuk melakukan kegiatan makan malam istimewa semenjak jam empat sore.
"Mulai sekarang, jangan harap dia bisa akrab sama gue!" Acha bertekad.
Ketika jam setengah enam sore, terdengar suara motor dari luar. Acha yakin itu adalah Bimo. Kakak tirinya tersebut sudah pulang dari yang katanya sibuk melakukan kegiatan sekolah. Dasar pembohong!
Buru-buru Acha mengunci pintu kamarnya. Dia tidak akan membiarkan Bimo masuk seperti biasa. Sekarang Acha bahkan tak berminat ingin melihat wajah cowok itu.
Tak lama kemudian, gagang pintu kamar Acha bergerak. Selanjutnya, terdengar suara ketukan dan suara Bimo yang memanggil nama Acha.
"Acha? Kau didalam kan? Kenapa pintunya di kunci?" ujar Bimo seraya menaikkan salah satu alisnya.
"PERGI! Aku nggak mau melihat wajahmu!" usir Acha. Berteriak dari dalam kamar.
Bimo kaget mendengar Acha berucap begitu. Dia tentu heran kenapa adiknya itu mendadak marah.
__ADS_1
"Kau kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Bimo.
"Ya! Kesalahan besar! Jangan harap kita bisa akur kayak dulu lagi! Dasar cowok keparat!" timpal Acha. Mengeluarkan seluruh kekesalannya dengan membara. Dia akhirnya berakhir menangis.
Di luar, Bimo terdiam. Ia penasaran dengan alasan kemarahan Acha. Alhasil dirinya terpikir untuk bertanya pada Pak Norman.
Awalnya Pak Norman tak mau memberitahu. Mengingat itu adalah permintaan Acha saat menangis di mobil. Tetapi setelah mendapat uang suap dari Bimo, Pak Norman akhirnya mengatakan semuanya.
"Jadi pulang sekolah tadi kalian mengikutiku?" Bimo memastikan.
"Iya, Den!" Pak Norman mengangguk.
Bimo mendengus kasar. Dia justru tersenyum. Lalu beranjak ke kamarnya.
Acha sengaja tak keluar dari kamar. Ia bahkan lebih memilih memesan makanan di luar dari pada mengambil makanan di dapur. Acha menyuruh Pak Norman untuk mengantarkan makanan ke kamarnya.
Kini Pak Norman baru tiba di depan pintu kamar Acha. Bersamaan dengan itu, Bimo keluar dari kamar. Dia yang melihat, segera mengambil alih tugas Pak Norman.
"Ketuk dan panggil dulu. Baru Pak Norman pergi," bisik Bimo.
Pak Norman menurut saja. Dia mengetuk dan memanggil Acha. Kemudian beranjak pergi dari sana. Ketika berjalan menuruni tangga, Pak Norman berhenti dan menoleh ke arah Bimo lagi. Ia tentu merasa ada yang aneh di antara kakak beradik tersebut.
Pak Norman mengedikkan bahunya. Dia memutuskan pergi dan tak mau ikut campur dengan urusan pribadi sang majikan.
Acha baru saja membuka pintu. Matanya terbelalak tatkala menyaksikan Bimo yang mengantarkan makanannya.
"Kau melihat semuanya?" tanya Bimo.
"Menurutmu? Yang aku tahu bibirmu itu seperti barang obral!" balas Acha ketus.
"Ya, tapi kau salah satu orang yang juga menikmati obralan itu!" Bimo tak mau kalah. Sepertinya hubungan harmonis mereka akan berubah menjadi perdebatan dan kebencian.
__ADS_1