
" Buang pikiran buruk mu tentang putriku! karena apa yang ada di pikiranmu itu salah besar." Ucap Ayah Rifky lagi, seolah pria paruh baya itu tahu apa yang sedang di pikirkan pemuda yang berdiri di hadapannya itu. " Kalian keluarlah ayah ingin berbicara berdua dengannya." Pintanya kepada Nadia dan Rista, kedua wanita itu pun keluar, memberikan waktu untuk ayah Rifky dan Riyadh berbicara, seperti yang di inginkan ayahnya.
Mendadak suasana bernuansa putih itu langsung hening, setelah kepergian kedua wanita itu. Riyadh masih duduk di tempatnya, menunggu lelaki paruh baya itu menyudahi keheningan diantara mereka.
" Saya tahu kamu tidak mencintai putri saya." Ucap ayah Rifky sambil tersenyum samar, Bukan tanpa sebab seorang ayah akan berbicara seperti itu. sebab ia hanya ingin menguji kesungguhan dari pemuda yang berada di sampingnya. " Kamu hanya penasaran Kenapa sikap dia seperti itu." Sebuah tebakan tetapi tepat pada sasarannya membuat Riyadh menggaruk tengkuknya yang sudah pasti tidak gatal.
" Benarkan yang saya katakan." Tanya Ayah beranak tiga itu lagi, membuat Riyadh semakin kehilangan kata-katanya untuk memberikan pembelaan. Wajahnya memerah karena malu, telah ketahuan membohongi pria yang terbaring lemah di tempat tidurnya.
" Maaf Sa_"
" Tidak perlu minta maaf! kamu bukanlah orang pertama yang melakukan hal ini, sebab dulu ada beberapa pemuda juga melakukan hal yang sama." Sahut Ayah Rifky Sebelum Riyadh menyelesaikan ucapannya. " Jika kamu masih penasaran dengan dia maka akan aku ceritakan kenapa putriku bersikap? seperti sekarang ini, tapi saya harap setelah ini jauhi dia." Pinta Ayah Rifky penuh harap. Tetapi pemuda yang ada di sampingnya tidak kunjung merespon, ia hanya menunggu untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi pada wanita yang bernama Icha itu.
Hening...
Ayah Rifky terlihat menarik nafasnya sejenak, Sebelum membuka kembali luka hatinya.
Flashback On.
POV Ayah Rifky.
Sepuluh tahun yang lalu, Icha adalah gadis yang ceria dan manja! Ia pandai dalam segala hal mau itu belajar atau pun bergaul, Sebagian orang yang melihatnya pasti akan menyukainya walaupun ada sebagian yang tidak suka wajar saja namanya juga hidup pasti Ada baik dan buruknya bukan. Aku dan Istriku begitu mencintai anak-anak kami, Apa yang mereka inginkan selalu kami penuhi, Terlebih untuk Icha putri bungsu kami.
Hari-hari kami berjalan begitu bahagia sampai hari dimana petaka itu datang menimpa Keluargaku.
__ADS_1
Icha Putriku yang malang, Ia menghilang sepulang sekolah, begitu juga dengan kakaknya yang ingin menjemput dia waktu itu.
Aku dan Istriku mencari keberadaan mereka berdua hari itu juga, di bantu teman-teman dari satuan ku. Kami mencari ke sana-kemari, bertanya kepada Seluruh Siswa, Guru dan Penjaga sekolah siapa tahu ada yang melihat kemana mereka berdua pergi tetapi hasilnya Nihil. Hari kedua pun demikian, Icha dan Raihan tak kunjung di temukan.
Hari ketiga aku hampir saja putus asa, tetapi salah satu temanku dari kaset Intel berhasil menemukan kebenaran mereka dari salah satu siswi yang melihat Icha pulang dengan salah satu guru, guru itu tidak lain adalah adik ipar ku Sendiri.
Aku ingin bertanya kepada siswi itu kenapa dia baru menceritakan semuanya sekarang! Di hari pertama, kami bertanya! kenapa dia mengatakan tidak tahu. Tetapi semua pertanyaan itu Aku urungkan, karena Nasib anak-anakku jauh lebih penting untuk saat ini.
Kami menuju rumah Ipar Ku. Begitu sampai di sana, aku melihatnya duduk di teras rumah sambil minum kopi dan menghisap sebatang rokok di tangannya. tidak ada tanda-tanda mencurigakan sedikit pun. Ia bersikap biasa saja, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
" Kak ada apa?" Tanyanya. " Kenapa banyak polisi disini?" Lanjutnya sambil melihat teman-temanku
" Apa kakakmu tidak memberi tahu! bahwa kedua keponakanmu menghilang?" Alih-alih menjawab pertanyaannya, aku malah Balik bertanya.
" Tidak! Kakak justru ingin bertanya kepadamu, dimana Icha dan Raihan." Jawab ku.
" Aku."
" Ya! Salah satu teman sekolah Icha melihatnya pulang bersamamu."
" Oh itu! Ya awalnya dia memang pulang bersamaku, tetapi di pertengahan jalan, Raihan menghentikan motorku, Ia meminta Icha untuk ikut dengannya, Icha pun menurut! aku juga tidak tahu kemana mereka pergi sebab aku langsung pulang." Jawabnya begitu lancar tidak ada beban sama sekali, membuat kami percaya dengannya tetapi hati kecilku merasakan sesuatu yang ganjil, hati ku begitu berat meninggalkan tempat itu.
" Apa kamu yakin! kamu tidak tahu keberadaan mereka?" Tanya salah satu temanku.
__ADS_1
" Ya Aku tidak tahu kak! kalau aku tahu pasti aku akan memberi tahu kakak." jawabnya mencoba meyakinkan kita semua.
" Ahh sial ban ku kempes." Keluh salah satu Temanku, pandangan kami semua menatap Kepadanya.
" Bawah ke bengkel dulu biar kita tunggu disini." Usul temanku yang lain.
" Iya, kebetulan ada bengkel yang tidak jauh dari sini, tepat di ujung jalan sebelah sana." Ucap Adik ipar ku sambil menunjuk ke arah jalan menuju bengkel itu.
" Bisa antar saya." Pinta temanku! tetapi adik iparku itu nampak berpikir dan ada keraguan untuk mengatakan iya. Lebih tepatnya dia ragu untuk meninggalkan rumahnya.
" Ada apa sih didalam, sampai kamu begitu berat meninggalkan rumahmu ini." Ucapku langsung menyelonong begitu saja, masuk kedalam rumahnya. Aku sudah sangat frustasi mencari keberadaan anak-anak yang entah dimana, di tambah iparku itu seakan tak ingin bekerja sama.
Dia yang takut ketahuan sesuatu langsung berlari untuk menahan aku tetapi terlambat aku sudah lebih dulu masuk kedalam rumahnya, begitu tiba di ruang tamu aku begitu terkejut! rumahnya yang selalu rapi berubah hancur bagaikan kapal pecah. Jantungku berdebar semakin tak terkendali ketika aku melihat darah di lantai yang sudah mengering.
Aku tidak menghiraukan teriak serta larangannya untuk masuk lebih dalam! sebab rasa penasaran serta kekhawatiran telah menguasai aku.
Dua orang temanku yang penasaran, mengikuti langkahku. kami mengikuti bercak darah yang ada di lantai itu, sampailah kami di sebuah ruangan yang aku yakini itu adalah kamarnya, aku memang jarang berkunjung kerumahnya, kalaupun berkunjung aku hanya sampai di Ruang tamu.
" Buka." Pinta salah satu temanku, saat mencium bau menyengat dari dalam kamar itu. tanpa pikir panjang Aku langsung memutar hendel pintu dan begitu pintu itu terbuka, tubuhku langsung lemas, melihat kekejian dari saudara ipar ku sendiri.
Kakiku serasa tak bertulang, jantungku seakan berhenti berdetak. Kedua anakku yang aku cari ke sana kemari, selama tiga hari ini, terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang yang terletak di dalam kamar itu, Tubuh Icha polos tidak tertutup sehelai benang pun, darah segar yang mulai mengering di kedua pahanya, belum lagi banyak jejak merah yang tertinggal pada kulit putihnya dan bau menyengat itu berasal dari tubuh sang kakak yang sudah kaku Entah apa yang di lakukan iparku itu kepada kedua anak dan sejak kapan semua itu terjadi.
Salah satu temanku mendekat, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh icha, setelah itu memeriksa nadinya. " Masih hidup." Ucapnya, dengan sigap ia mengangkat tubuh Icha membawanya ke rumah sakit! Sedangkan Raihan, sudah tidak bernyawa.
__ADS_1
Sejak hari itu aku merasa begitu gagal, seragam yang aku gunakan tidak dapat menolong serta melindungi kedua anakku, aku mungkin berhasil dalam tugas tetapi aku gagal menjadi seorang ayah.