
Hari pertama di rumah baru mereka cukup mendebarkan untuk Icha, bagaimana tidak ini pertama kalinya ia tinggal berdua dengan pria lain selain Ayah Rifky.
Icha mungkin tidak akan setegang ini, Andai dia dan Riyadh, menempati kamar yang berbeda. Sayangnya di rumah sebesar ini, mereka hanya berdua dan menempati kamar yang sama. Sekalipun rumah itu memiliki banyak kamar kosong! Tapi Riyadh menolak untuk mereka tidur di kamar yang berbeda.
"Cha, kenapa belum mandi." Tanya Riyadh, membuat Icha tersadar dari lamunannya, sebab di luar sana matahari telah tenggelam berganti kan rembulan, namun istrinya itu masih mengunakan pakaian yang sama saat mereka datang pagi tadi." Sayang kenapa?" Tanya Riyadh lagi, suaranya terdengar begitu lembut.
Sementara sang istri masih terdiam seribu bahasa dengan kepala yang terus saja menunduk, Dari sikapnya itu Riyadh tahu, kalau istrinya saat ini sedang takut. " Sebaiknya kamu mandi, Aku akan menunggu di luar, kalau kamu takut aku akan masuk, Kunci saja pintunya." Ucap Riyadh lagi, Setelah itu melangkah keluar kamar itu meninggalkan Icha seorang diri. Begitu menyadari jika Istrinya butuh privasi.
Begitu Riyadh, pergi Icha langsung beranjak dari tempat duduknya dengan terburu-buru, wanita itu mengunci pintu kamarnya, setelah itu ia membuka lemari pakaian, mengambil pakaiannya yang baru saja ia susun rapi di lemari itu, sejam yang lalu.
Icha yang terburu-buru, karena takut Riyadh akan datang lagi, tidak sadar membuat pakaiannya kembali berantakan dengan mengambil asal pakaian.
Setelah itu dia bergegas, menuju kamar mandi! Mandi dengan cepat, secepat yang dia bisa. Karena saat ini iya kembali di selimuti rasa takut serta, bayang-bayang kelam itu. Membuat nafasnya tiba-tiba sesak, saking sesaknya, dia merasa ingin pinsang saat itu. Sehingga Icha buru-buru menyelesaikan mandinya, membuat kamar sabun-sabun dan segala perlengkapan mandi yang tertata rapi didalam sana menjadi berantakan. Icha tidak berusaha untuk merapikan, wanita itu mengerikan tubuhnya dengan Handuk dan segera mengunakan pakaiannya. Setelah itu dia berlari keluar ruangan itu, membuka pintu dan jendela-jendela seakan hal itu dapat membuatnya mendapatkan oksigennya lagi.
Tapi Sayang, sejauh yang dia lakukan, Hal itu justru semakin menekannya. Karena dia tidak dapat menenangkan dirinya sendiri. Orang yang memiliki penyakit seperti Icha, pada umumnya lupa cara menenangkan dirinya sendiri mereka butuh bantuan orang yang mereka percaya untuk membantunya, Sama seperti Icha.
Dulu disaat dia seperti ini, sang ayahlah yang memeluk dan menyakinkan-nya, membuatnya kembali tenang dan dapat melewati hari-harinya lagi. Tapi saat ini sang ayah sudah tidak ada.
__ADS_1
Dalam keadaan panik dan terdesak, Icha berlari keluar untuk mencari Riyadh, iya bahkan sampai tersandung hingga terjatuh. Sementara Riyadh yang dengar suara Icha saat terjatuh. Langsung menghampirinya. " Sayang, ada apa?" Tanya Riyadh.
Mendengar suara Riyadh, Icha pun mendongak kepalanya ke atas, membalas tatapan khawatir suaminya. " Ob_obat akuhh."Ucap Icha dengan nafas tersengal-sengal.
" Sayang, kamu kenapa?" Tanya Riyadh saat menyadari wajah pucat Icha.
" Ob_obat." Icha tidak menjawab pertanyaan Riyadh, wanita itu justru meminta obatnya. Riyadh sadar saat ini Icha sedang panik, sehingga ia memberanikan diri untuk mendekatinya. Karena menurut yang di katakan Amanda, di saat Icha panik, hal pertama yang harus dia lakukan dengan menenangkannya, setelah itu barulah yakinkan dia kalau dia bukan orang jahat. Sekali mungkin belum menunjukkan reaksi apa-apa tapi, perlahan-lahan Icha pasti akan terbiasa dengannya.
" Mau apa kamu, pergi, pergi, jangan ganggu aku." Teriak Icha semakin Riyadh melangkah maju dia akan terus mundur sembari meminta Riyadh untuk pergi. " Nggak, Icha nggak mau, pergi jangan sakiti Icha. Tolong AAEEKKKHHH." Teriaknya, saat Riyadh tiba-tiba memeluknya.
" Cha. Liat aku, aku suami kamu! Aku bukan orang jahat." Bujuk Riyadh karena Icha terus saja meronta-ronta dalam dekapannya meminta Riyadh untuk melepaskannya." Sayang tenang ini Aku Riyadh." Ucap Riyadh lagi sembari mengusap punggung Icha. Membuatnya perlahan-lahan tenang.
Icha pun langsung menelannya tanpa air putih. Membuat Riyadh tidak dapat berkata-kata, ia hanya bisa mengusap punggungnya, hingga perlahan-lahan Icha pun terlelap saat efek dari obat itu berkerja tepat waktu.
Kejadian hari ini, membuat kedekatan Riyadh dan Icha naik satu tingkat, Riyadh sudah dapat memeluk wanita itu, walaupun Icha sempat menolak dan mendorongnya pergi, namum pada akhirnya ia kembali tenang dalam pelukan Riyadh bahkan sampai tertidur Seperti sekarang ini.
Melihat Hal itu, Riyadh pun mengangkat tubuh Icha, kemudian membaringkannya di atas ranjang mereka tak lupa menyelimuti tubuh istrinya itu.
__ADS_1
Setelah itu, ia keluar untuk merapikan makanan yang telah dia tata di atas meja untuk makan malam mereka, kemudian menyimpannya kedalam kulkas, setelah itu dia mengambil sebotol air putih dan membawanya ke kamar, untuk berjaga-jaga jika Icha terbangun dan membutuhkan itu.
Riyadh meletakkan minuman itu di atas nakas samping tempat tidur, kemudian ia keluar meninggalkan Icha yang tertidur untuk menelpon Amanda, ia harus mempertemukan Icha dan Amanda segera.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan harinya, Icha terbangun dan mendapatkan dirinya berbaring di atas ranjang itu seorang diri, Sementara riyadh tidak terlihat dimana pun.
Icha pun beranjak dari ranjang, mengambil minuman yang telah di siapkan Riyadh, kemudian meneguknya hingga tersisa setengah.
Setelah itu dia beranjak dari ranjang itu, melangkah keluar kamar itu untuk mencari keberadaan suaminya, sebab Icha ingat betul apa yang terjadi semalam.
" Selamat pagi Sayang." Sapa Riyadh, saat menyadari kehadiran Istrinya itu. Pria itu kini sedang menata nasi goreng buatannya di atas meja makan, lengkap dengan minumnya. Disana ada jus dan air untuknya, begitupun dengan untuk Icha. " Kemari-lah sayang kita sarapan, Kamu ada kelas hari ini." Ajak Riyadh sekaligus menanyakan jadwal kuliah Icha.
Ichal mengangguk. Kemudian berbalik untuk pergi dari sana sebab dia belum mencuci wajahnya dan sikap gigi, Sehingga dia harus melakukan hal itu terlebih dulu sebelum kembali untuk menemani suaminya itu sarapan.
Kalau boleh dia jujur ada sedikit rasa bersalah di hatinya, karena disini status sebagai istri tapi dia justru di layani oleh suaminya itu. Sekeras apapun Icha mendorongnya Riyadh akan tetap pada pendiriannya itu. Membuat dia kasihan tapi untuk melawan ketakutannya itu begitu sulit.
__ADS_1
Selesai mencuci wajahnya dan sikap gigi Icha kembali keruang makan untuk sarapan bersama Riyadh. " Sayang, sore nanti temani aku ketemu sahabat lama aku ya." Ucap Riyadh di sela-sela waktu makannya, membuat kening Icha mengerut. " Kamu nggak perlu khawatir, dia teman perempuan wanitaku." Icha pun hanya mengangguk saja. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih dia atas bantuan Riyadh semalam.