
" Tapi aku nggak mau." Icha terus menolak, sementara pria yang bernama Reno itu tidak mau menyerah begitu saja. Pria itu tidak sadar jika sikapnya ini hanya akan membuat Icha semakin takut kepadanya belum lagi suasana hati Icha yang sedang tidak baik-baik saja, melihat pemandangan yang membuatnya semakin terluka.
Namun pria itu mana mengerti yang dia tahu dia ingin mengenal wanita di hadapannya itu. Pria itu berpikir sikap gugup Icha adalah hal biasa, dimana pada umumnya semua wanita merasakan hal itu saat di dekati oleh Seorang pria setampan dirinya.
"Kamu teman kampus, Revi ya?" Tanya Reno lagi, sembari menyebut nama adik perempuannya yang tengah berbahagia hari ini. Pria itu sepertinya belum juga ingin menyerah untuk mendekati Icha! Walaupun wanita tidak pernah menghiraukannya.
"Menurut kamu gimana! Kita ada disini, duduk di kursi yang sengaja di siapkan untuk teman-teman adik kamu. Terus kenapa masih tanya Hmmm." Makin sewot sih Mimi.
Entah muncul dari mana. Datang-datang so dekat so kenal sama mereka. Keliatan sekali belangnya. " Udah mending stop gangguin teman aku! Dia itu udah punya suami." Lanjutnya. Membuat pria itu tertawa.
"Memangnya kenapa kalau dia punya suaminya? Suaminya juga nggak ada disini kan." Nekad sekali pria yang bernama Reno itu. Saking nekadnya membuat Icha menatapnya dengan geleng-geleng kepala. Bukan suka di gombali, wanita itu justru semakin takut kepadanya.
"Ciih nggak tahu malu banget, Yuk Cha, kita kasih ucapan selamat, udah giliran kita tuh." Nadia menarik tangan Icha untuk berdiri, saat mendengar MC mempersilahkan teman-teman Revi untuk memberikan ucapan selamat, dan ketiga wanita itu termasuk diantaranya.
Mereka pun beranjak dari tempat duduk masing-masing, meninggalkan Reno yang masih diam di tempatnya. Ketiga wanita itu naik ke pelaminan bersama teman mereka yang lain untuk memberi ucapan selamat.
"Eeehh Cha, jangan turun dulu. Kita harus foto bareng dulu." Ucap salah satu teman mereka. Sembari mencegat Icha untuk turun.
Icha pun mengurungkan niatnya dan mereka berfoto bersama kedua mempelai! Setelah itu barulah mereka turun.
Sementara itu, Riyadh terlihat begitu serius berbicara dengan rekan bisnis papanya, hingga ia tidak menyadari keberadaan Icha.
__ADS_1
Begitu sesi foto dan ucapan selamat selesai, Icha, Nadia dan Mimi berjalan menuju aneka menu yang telah tersedia.
Nadia dan Mimi telah mengambil menu pilihan mereka dan kembali ke tempat duduk mereka sebelumnya. Sedangkan Icha, wanita itu belum mengambil apapun. Ia hanya berdiri diam di tempatnya sembari menatap kepada Riyadh dan Nadine.
Hingga seseorang yang sejak tadi mengganggunya, menghampiri Icha. " Kenapa cuma bengong." Bisik pria itu dari arah belakang, membuat Icha terkejut, ia pun segera menghindarinya dan_
PRAAANNG..
Tubuh Icha tidak sengaja menabrak meja dimana gelas-gelas tersusun tinggi di atas meja itu. Bersamaan dengan tubuh Icha yang kehilangan keseimbangan.
Suara nyaring dari pecahan gelas itu. Membuat semua mata kini tertuju kepadanya, termasuk Riyadh.
Icha mencoba untuk berdiri namun lengannya yang ia gunakan untuk menopang tubuhnya tertancap pecahan gelas. Reno pun menghampiri Icha, bermaksud untuk membantunya, tapi Icha justru menjerit tidak ingin di sentuh.
"Jangan Aaaeekkhh. Jangan sentuh aku pergi." Teriaknya. Membuatnya semakin menjadi pusat perhatian, Mimi dan nadia yang mendengar suara Icha langsung menghampirinya, untuk membantunya. Begitu pun dengan Riyadh, walaupun sang mama dan Nadine mencoba menahannya! Tapi suara yang begitu familiar itu, membuatnya mengabaikan ucap mamanya.
Riyadh melewati tamu undangan yang hadir dan mendapati Icha terduduk sambil menangis di sekitarnya banyak pecahan gelas yang berserakan. Nadia dan Mimi juga berusaha untuk membantunya begitu pun dengan Reno, pria yang dia kenal sebagai anak tertua rekan bisnis papanya. Sedang berusaha untuk menyentuh tubuh istrinya tanpa melihat sebagai mana takutnya Icha.
"Jangan menyentuhnya." Ucap Riyadh, pria itu menepuk pundak Reno dengan sedikit mencengangkan pundak lelaki itu, kemudian menariknya hingga tubuh Reno, mundur beberapa langkah dari Icha.
Setelah itu, Riyadh membungkuk untuk mengangkat tubuh Icha. Walaupun wanita itu sempat meraung dan menolak di bantu oleh Riyadh, tapi pada akhirnya Riyadh berhasil membawanya pergi dari sana, sebelum Nadine dan mamanya melihat Icha.
__ADS_1
"Turunin aku, biarkan aku pulang sama Mimi dan nadia. Mas temani aja! Tunangan mas itu." Ucap Icha, begitu mereka meninggalkan ballroom hotel di pesta itu di gelar.
"Pulang sama aku Cha! Jangan membantah." Tegas Riyadh.
"Nggak mau."
"Aku sedang tidak bertanya, Icha." Tegas Riyadh.
Icha pun terdiam membiarkan Riyadh menggendongnya sampai ke parkiran. Pria itu kemudian membuka pintu mobilnya dengan sedikit kesusahan karena sedang menggendong Icha, setelah mendudukkan dalam mobilnya, Riyadh sengaja berjongkok untuk melihat luka Icha pada lengannya.
Begitu yakin luka itu tidak terlalu para Riyadh pun mengajak Icha pulang ke rumah, Dia akan mengobati istrinya itu di rumah. " Kita pulang ke rumah sekarang." Ucap Riyadh.
"Aku pulang ke rumah ayah aja." Sahut Icha membuat Riyadh mengerutkan keningnya bingung.
"Kenapa Hmmm? kangen ya sama rumah ayah." Tanya Riyadh.Namun Icha tetap diam. " Ya udah, kalau mau pulang ke rumah ayah kita pulang ke rumah ayah! Malam ini kita akan menginap disan_"
"Nggak, mas nggak usah ikut aku nginap ke rumah Ayah! Mas nginap aja di rumah mas, bawa itu si Nadine, tinggal aja sama dia, nggak usah pedulikan aku. Mas suka kan sama dia, karena dia itu wanita pilihan mama mas, dia lebih baik dari aku, lebih cantik. Mas senang-kan dia menempel sama mas, kaya linta. Iya kan." Sahut Icha panjang kali lebar, dengan air mata yang menetes dari kedua sudut matanya tanpa permisi." Udah balik aja kedalam, temani tunangan mas itu, biarkan Icha sendiri. Mas senang-kan bisa berduaan seperti itu. Iyalah mas senang, saking senangnya mas nggak menyadari keberadaan Icha, sementara Icha sudah melihat kalian dari pertama masuk. Mas terlalu fokus sama keindahan di hingga mas nggak bisa lihat Icha. Kenapa nggak mas nikahin aja sekalian, kenapa harus nikahin aku sih." Lanjutnya semakin sewot sendiri.
Sementara Riyadh hanya diam mendengarkan, walaupun pria itu tidak tega mendengar istrinya berbicara dengan terisak seperti itu.
Riyadh memejamkan matanya. Pria itu takut untuk membayangkan sesakit apa istrinya itu, jika tahu dia telah menikahi Nadine, mengetahui dia pergi sama Nadine saja, dia bisa se-marah dan sesedih ini apalagi mengetahui jika Nadine juga istrinya.
__ADS_1
"Maaf, aku minta maaf sayang! Aku punya alasan. Maaf ya sayang aku udah buat kamu cemburu." Riyadh menarik tubuh Icha kemudian memeluknya, tidak peduli jika ia harus membungkuk lebih lama lagi.
" Siapa yang cemburu? Memangnya aku punya hak apa untuk cemburu."