
Wajah Icha langsung berubah pucat saat berhadapan langsung dengan seorang wanita paruh bayah, yang baru saja mengebrak meja di hadapan mereka.
Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya yang tidak mudah lagi, tidak lain adalah mama mertuanya sendiri, Megan mamanya Riyadh.
"Riyadh, jawab mama siapa wanita ini?" Megan kembali mengulang pertanyaannya karena baik Riyadh maupun Icha tidak ada yang menjawab pertanyaannya.
" Ma, tenang dulu! Jangan teriak-teriak seperti itu! Malu di lihat orang." Tegur Riyadh, karena saat ini mereka telah menjadi tontonan pengunjung restoran itu.
"Kenapa mama harus malu! Yang harus malu itu dia. Kamu lupa ya, kamu sudah punya Nadine, kenapa kamu masih berduaan dengan wanita lain. Atau jangan-jangan wanita ini yang membuat kamu jarang pulang ke rumah, iya? Jawab mama." Megan mencoba untuk menghampiri Icha namun Riyadh dengan sigap menghadang mamanya.
Sebab kedua wanita itu begitu berarti untuknya, Icha adalah istrinya, wanita yang dia pilih untuk menemaninya hingga mau memisahkan mereka. Sedangkan megan adalah wanita yang telah memberinya kehidupan dengan melahirkan dia, merawat serta mendidiknya dengan penuh cinta.
Kedua wanita itu memilih tempat mereka tersendiri di hatinya, tempat yang di miliki Megan tidak bisa Riyadh berikan kepada Megan, sebab Icha akan mendapatkan tempat itu di hati anak-anaknya kelak, begitu pun dengan teman Icha, Megan tidak bisa menggantinya sebab sang ayah sudah memberikan tempat itu untuknya. Kedua wanita sama pentingnya, sama spesialnya tapi pada tempat mereka masing-masing. Dan Riyadh tidak akan menyakiti keduanya dan membiarkan keduanya saling menyakiti.
" Maaf Bu Saya hanya rekan bisnis pak Riyadh." Ucap Icha membuat ibu dan anak itu kompak menatap kepadanya. " Bukankah Ibu pernah datang kekantor saat kamu sedang melakukan meeting waktu itu, ibu juga mengajak calon menantu ibu, Bu Nadine kalau tidak salah." Sambung Icha lagi, saat melihat keraguan di wajah mertuanya.
" Iya benar dia Nadine, di itu bukan calon menantu saya, karena dia itu sud_"
" Ma, cukup! Bukankah mama sudah tahu kalau dia hanya rekan bisnis Iyad. Please ma! Tolong jangan permalukan Iyad." Tegur Riyadh Sebelum mamanya selesai berbicara. Karena dia tahu apa yang akan di katakan mamanya, bukan karena Riyadh tidak mau Icha tahu tentang Nadine, tapi jika sudah waktunya Icha tahu semuanya, itu harus dari mulutnya sendiri, bukan dari orang lainnya. Sekalipun itu mamanya.
" Maaf pak! Sepertinya maka siang ini bisa kita lakukan di lain waktu! Karena saya tidak ingin terjadi salah paham dengan ibu anda, saya permisi dulu." Icha pun beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan suami dan mertuanya. Berharap mertuanya percaya dengan kata-katanya, karena jujur saja Icha masih belum siap jika status mereka di ketahui oleh mama mertuanya.
__ADS_1
Begitu Icha pergi, Riyadh tidak langsung menyusulnya karena tidak ingin sang mama curiga ia justru membujuk sang mama dengan mengatakan besok dia akan pulang.
Awalnya Megan tidak mau, ia tetap ingin Riyadh untuk tetap pulang bersamanya, tapi bukan Riyadh namanya jika tidak bisa membujuk sang mama.
Pria itu bahkan meluangkan waktu untuk mengantar mamanya sampai parkiran menunggu sampai mobil mamanya menghilang dari sana barulah ia berlari kearah mobilnya untuk mencari Icha.
Sayangnya Icha tidak berada disana. Riyadh pun memutuskan untuk menghubungi Icha. " Sayang dimana?" Tanya Riyadh, begitu panggilan itu terhubung.
" Aku di restoran, membayar pesanan makanan kita, sekaligus meminta pelayan untuk membungkusnya. Nggak papa kan." Jawab Icha dari seberang sana sembari bertanya.
" Tentu sayang. tunggu aku di situ, aku akan menyusul kamu."
" Kamu tidak perlu menyusul kesini, tunggu aja di Depan foodmart, kita akan bertemu disana! Kamu lupa kita harus belanja kebutuhan kita." Sahut Icha dari seberang sana, membuat Iyad memijit pelipisnya sendiri, karena pria itu benar lupa akan tujuan awal mereka datang ke mall itu.
" Ya." Jawab Icha, setelah itu, mereka sepakat untuk mengakhiri panggilan itu.
Riyadh pun bergegas ke tempat janjian mereka, tapi begitu ia melewati sebuah toko yang menjual aneka boneka dari ukuran terkecil sampai terbesar dengan segala jenis dan warna. Riyadh pun teringat akan janjinya yang ingin membeli boneka untuk Icha, sebagai ganti boneka yang Icha beri kepada anak perempuan tadi.
Riyadh melangkah kedalam toko itu, melihat-lihat terlebih dulu. Hingga tatapannya jatuh pada sebuah boneka beruang berwarna putih. Boneka itu hampir setinggi Riyadh, jika Riyadh berdiri di belakang boneka itu, ia tidak akan terlihat saking besarnya boneka itu, belum lagi bulunya yang lembut itu akan sangat nyaman jika di peluk Icha.
Tanpa menanyakan harga dari boneka itu, Riyadh langsung meminta pelayan toko untuk mengemasi boneka itu dan tidak lupa untuk memberikan black card-nya.
__ADS_1
Boneka itupun langsung di kemas dan di berikan kepada Riyadh. Setelah mendapatkan boneka untuk Icha, Riyadh langsung kembali ke parkiran menyimpan boneka itu terlebih dulu di dalam mobilnya barulah iya kembali menemui Icha di tempat janjian mereka. Jangan di tanya seberapa kesal Icha di buat menunggu oleh Riyadh.
"Kalau tahu lama! Ngapain juga suruh aku cepat-cepat, aku udah kaya anak ilang tahu nggak, berdiri disini." Ucap Icha dengan bibir yang sengaja ia manyun-manyun kan. Saat melihat Riyadh semakin dekat kepadanya.
Entah kenapa wajah cemberut Icha itu terlihat sangat mengemaskan untuk Iyad dan yang membuat Iyad semakin bahagia. Icha sudah mau menunjukkan ekspresi nya kepada Riyadh. Tidak hanya takut dan gugup saja. Tapi marah dan cemberut Seperti ini juga. Karena dengan begitu Riyadh akan tahu apa yang di rasakan Icha.
" Maaf sayang jangan marah gitu dong!tadi aku harus membeli sesuatu untuk kamu dulu dan aku sudah menyimpannya di mobil."
" Kamu membeli apa sampai tega buat aku menunggu kaya gini. " Tanya Icha penasaran.
" Lihat aja di mobil." Sahut Riyadh, Icha pun memutar bola matanya malas, kemudian berbalik masuk kedalam foodmart itu setelah menitipkan makanan yang dia ambil di restoran tadi dan membiarkan Riyadh menyusulnya.
Kedua pun belanja kebutuhan sehari-hari mereka, dengan Iyad yang terus membujuk Icha agar tidak marah lagi kepadanya. Namun wanita itu justru berpura-pura mengabaikan keberadaan Iyad.
Dan begitu mereka selesai berbelanja Iyad membawa belanjaan mereka mengunakan troli menuju parkiran di mana mobil mereka terparkir disana.
Saat Riyadh sedang menyusun belanjaan mereka di bagasi mobil. Icha tiba-tiba keluar dari dalam mobil dan memeluknya dari belakang. " Terima kasih." Ucap Icha.
" Sama-sama sayang! Boneka itu untuk mengantikan boneka boneka kamu tadi. Apa kamu suka?" Sahut Riyadh sembari bertanya.
" Tentu saja. Aku sangat menyukai boneka."
__ADS_1
" Kamu akan mendapatkannya tiap hari sayang."