
"Iyad." Ucap Rista begitu ia membukakan pintu dan mendapati adik iparnya disana.
" Selamat pagi kak." Sapa Riyadh kepada kedua iparnya, yang kini sedang menatap bingung akan kehadirannya sepagi ini." Kak, Icha_"
" Tuh, istri kamu ketiduran di ruang keluarga, kayanya pengen nelpon kamu, tapi gensi kali, sampai tidurnya sambil memegang gagang telepon gitu." Jelas Rista panjang kali lebar Sebelum Riyadh menyelesaikan ucapannya.
Sedangkan Riyadh yang mendengar hal itu hanya bisa tersenyum simpul, Sebab Icha bukan hanya ingin lagi, tapi Icha sudah berulang kali menghubunginya tanpa mengatakan apapun.
Kalau dipikir-pikir istrinya itu memegang keterlaluan iseng, sebab isengnya Icha sudah tidak mengenal waktu istirahatnya tapi giman, Riyadh hanya bisa mengerti keadaannya Icha saat ini. " Kak Aku izin masuk untuk melihatnya."
" Oh iya, Maaf Kakak sampai lupa untuk mengizinkan kamu masuk. "Rista yang masih berdiri di depan pintu langsung mundur, memberikan jalan kepada adik iparnya itu untuk lewat. "Iyat sekaliannya dibawa ke kamar. "Ucap Rista lagi begitu Riyadh telah melewatinya.
Pria itu kemudian berbalik tersenyum kepada kakak iparnya itu sembari mengangguk kepalanya, mengiyakan apa yang baru saja dikatakan oleh kakak iparnya.
Setelah itu dia pun masuk ke dalam rumah dan benar saja Icha masih tertidur di sofa sama persis
seperti yang diceritakan Rista kepadanya.
Riyadh pun berjalan menghampiri istrinya itu mengambil keanggon telepon dari tangannya kemudian meletakkan benda itu di tempat semula setelah itu ia menyisipkan tangannya di bawah tubuh Icha dan menggendongnya kembali ke kamar Icha dengan begitu hati-hati.
__ADS_1
Setibanya di kamar Icha lihat langsung membaringkan tubuh istrinya itu di atas ranjangnya dengan perlahan-lahan, agar tidak membuat istrinya terbangun. " Untung sayang banget sama kamu. " Ucapnya saat teringat semua kelakuan Icha akhir-akhir ini. Sembari menyelimuti tubuh Icha kemudian mengucap kuningnya.
Tangan kiri lihat kini turun ke bawah mengusap perut dengan penuh kasih sayang Seraya berkata."sayang sehat-sehat ya disana, sampai kita berjumpa! jangan terlalu sering buat mama marah-marah kasihan kasihan mamanya nggak bisa ditinggal sendiri lama-lama, pap_"
" Ngapain kamu di sini pulang ke sana." Riyadh tidak sempat meneruskan ucapannya hingga selesai, Karena Wanita itu sudah membuka kedua matanya dan menatap sinis kepada pria yang masih berstatus suaminya itu.
Walaupun jauh dilubuk hatinya Icha begitu senang mengetahui suaminya ada di dekatnya tapi gengsi serta kemarahannya untuk pria itu membuat dia kembali bersikap seperti itu kepada Riyadh.
"Jengukin istri aku apalagi, bukannya istri aku ini yang dari semalam terus saja menghubungi aku tanpa mengatakan apapun. Kenapa sayang hmmm, nggak bisa tidur kalau nggak di peluk kan, geser dikit! Biar aku peluk." Ucapan seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Dia bahkan tidak mempersoalkan tatapan istrinya itu, yang kini semakin tajam kepada dirinya.
Toh Icha hanya menatapnya tidak akan membunuhnya." Mas aku ini masih marah loh sama kamu." Kesel Icha, sengaja mengingatkan Riyadh akan kemarahannya, kepada pria itu.
Hingga pada akhirnya Icha mengalah dan membiarkan Riyadh memeluknya hingga ia kembali tertidur dalam pelukan pria itu.
Setelah memastikan Icha telah tertidur Riyadh pun meraih ponsel dalam celananya kemudian menghubungi Rizky. Riyadh ingin mengabarkan kepada sahabatnya itu jika dia tidak bisa masuk kerja hari ini dan meminta Rezky untuk menunda semua jadwal meeting, terkecuali meeting itu bisa diwakilkan maka Rezky-lah yang diperbolehkan untuk menghadiri meeting itu selebihnya tunggu sampai Riyadh kembali bekerja seperti sebelumnya.
Bukan tanpa sebab Riyadh menghubungi Rizki untuk mengabarkan hal ini sekaligus kreena sekretaris yang biasanya menghandle pekerjaannya telah dia pecat semuanya karena insiden Icha kemarin dia baru mengetahui jika sekretarisnya itu adalah orang yang memata-matai gerak-geriknya selama berada di kantornya, kemudian mengabarkannya kepada mamanya.
Riyadh tidak hanya memecat sekretarisnya itu ia juga meblacklist-nya hingga tidak ada yang berani mempekerjakan wanita itu lagi, anggap saja itu adalah hukuman atas rencanannya selama ini.
__ADS_1
Setelah menghubungi Rizky Riyadh pun ikut memejamkan matanya, karena pria itu juga sangat lelah dan membutuhkan istirahat, sebab dia belum tidur sama sekali semenjak ditelepon Icha pukul 01.00 malam tadi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Daring panjang panjang dari ponsel Icha membuat tidur lihat juga Icha terganggu. Riyad mengeluarkan tangannya untuk mengambil ponsel milik istrinya yang berada di atas nakas kemudian melihat id peneleponnya setelah itu dia menggeser icon berwarna hijau kemudian meletakkan ponsel itu pada telinga Icha.
" Hallo Cha, kamu lagi ngapain? Kita ganggu nggak sih." Tanya sang penelpon dari seberang sana, membuat kedua mata Icha yang setengah tertutup itu langsung terbuka sepenuhnya terbuka, wanita itu itu menarik ponsel yang dipegang Riyadh untuk melihat Siapa yang menelponnya.
" Mimi?" Ucapnya begitu menyadari Siapa yang menelpon.
" Hmmm," lihat berdehem kemudian memejamkan matanya kembali dan memeluk erat tubuh Icha, pria itu masih sangat mengantuk dan belum ini terlepas dari tempat ternyamannya yaitu di sisi Icha.
Icha pun hanya membiarkan Apa yang dilakukan Riyadh, sambil terus berbicara dengan Mimi yang berada di sebelah sana. Tanpa sadar tangan Icha terulur untuk mengusap rambut Riyadh hingga pria itu semakin nyaman berada di samping Icha.
" Oke Mi, nanti aku hubungin lagi ya kabarin aja kalau kalian butuh sesuatu dari aku." Icha pun mengakhiri obrolan mereka begitu Mimi mengiyakan ucapannya.
Wanita itu meletakkan ponselnya dengan asal kemudian menatap kepada sang suami yang kini sudah kembali tertidur lelap, Icha tahu hal itu dari bunyi nafas suaminya yang terdengar halus dan teratur.
Jika tadi dia yang menenggelamkan wajahnya pada dada di bidang Riyad, maka kini berbanding terbalik Riyadh-lah yang menenggelamkan wajahnya pada Gundukan da-da Icha, sembari melingkarkan kedua tangannya pada pinggang wanita itu.
__ADS_1
Tanpa Icha sadari kedua sudut bibirnya tertarik ke atas dengan begitu sempurnanya. " Mbak Nadine cantik tapi kenapa kamu pilih aku sih mas! Harusnya kamu tinggalin aku dan tetap bersama Nadine sehingga hubungan kamu dengan mama pun tidak akan Riwut sekarang. Icha sayang sama mas tapi Icha nggak mau sampai hubungan mas dan mama sampai seperti ini karena Icha." Ucapnya sembari mengusap kepala Riyad dengan begitu lembutnya.