Aku Bukan Pilihan.

Aku Bukan Pilihan.
Hukuman.


__ADS_3

" Cha, bagaimana kalau kamu pulang terlebih dulu ke rumah ayah. Nanti selama di sana, kakak temani kamu." Bujuk Rista.


Bukan tanpa sebab ia membujuk adiknya, seperti itu, karena Rista tahu, jika Riyadh dan Icha masih terlibat perang dingin, lebih tepatnya Icha-lah yang memperpanjang masalahnya dengan Riyadh, dengan mendiamkan pria itu.


Mendengar tawaran sang Kakak Icha pun langsung mengiyakannya, tanpa berpikir terlebih dahulu, sementara Riyadh yang mendengar jawaban itu, Hanya bisa menarik nafas berat tanpa bisa mencegah keinginan Icha.


Riyadh pun dengan perasaan sedikit kecewa mengantar Icha dan kakak iparnya menuju rumah mertuanya.


Begitu setibanya mereka di rumah ayah Rifki, Icha langsung melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menjalani Riyad seperti biasanya yang ia lakukan kepada pria itu. Membuat Riyadh kembali menarik nafasnya panjang sembari mengeleng-geleng kepalanya.


" Iyad, sabar ya." Ucap Rista yang merasa kasihan pada adik iparnya." Iya ingin menegur sang adik tapi takut hal itu akan membuat mood sang adik berubah, sebab dia tahu mood ibu hamil itu seperti apa, walaupun dia sendiri belum pernah merasakan hal itu, namun dia pernah mendengar cerita dari teman-temannya yang pernah mengalaminya. " Iyad Kamu harus banyak-banyak bersabar ya menghadapi Icha, apalagi saat ini dia sedang hamil. Pasti banyak tingkahnya itu." Lanjutnya lagi ingatkan sang adik ipar.


" Iya kak, Aku paham kok! Dulu Kakak aku juga gitu bahkan lebih parah." Sahut Riyad pria itu tiba-tiba teringat akan Kakak perempuannya yang kini telah ikut bersama sang suami tinggal di negara asal suaminya itu, sehingga kakaknya itu jarang sekali datang.


Riyad ingat betul dulu ketika kakaknya hamil, dia ingin sekali minta ini dan itu. Riyadh juga sering sekali menolaknya karena merasa kakaknya itu terlalu berlebihan dan permintaannya terlalu mengada-ngada. Tapi melihat Icha seperti ini. Membuatnya merasa bersalah kepada sang kakak yang kini jauh disana.


"Syukurlah kalau begitu, ya udah kita masuk yuk." Ajak Rista. Pria itu pun menganggukkan kepalanya Sebelum melepaskan sabuk pengaman yang terpasang di tubuhnya, kemudian melangkah keluar mengikuti langkah kakak iparnya.


" Ngapain Masih di sini, mendingan kamu pulang deh." Ucap Icha begitu Iya melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah Ayah mertuanya itu.


"Icha." Tegur Rista. "Jaga ucapan kamu Icha, se-marah apapun kamu sama Iyad, kamu nggak boleh bersikap seperti itu kepadanya, karena Riyad itu suami kamu, kamu harus tetap menghargai dia dalam keadaan apapun." Rista tak sungkan-sungkan menegur Icha, sebab adiknya itu sudah sangat keterlaluan, nada suaranya mungkin pelan tapi tujuan berbicara itu yang tidak di sukai oleh Rista.


"Aku cuma nyuruh dia pulang! Salahnya di mana kak?" Sahut Icha, wanita itu terlihat begitu kesal, saat di tegur Seperti itu oleh sang, kakak.

__ADS_1


" Kamu nyuruh apa ngusir, haah? Dia itu suami kamu loh Cha! Dia ada disini karena ikuti kamu." Ucap pesta yang tak habis pikir dengan sikap adiknya.


"Jangan sering ngebelah Ini dia dong kak, adik Kaka di sini itu aku bukan dia." Sahut Icha tak suka.


" Justru karena kamu adik kakak, makanya ngingetin kamu. Ingat Cha, jangan sampai sikap kamu ini membuat kamu menyesal di kemudian hari sesalah apapun ia tidak begitu cara kamu memperlakukannya." Icha kembali mengingatkan sang adik, sembari menatap riyadh dan Icha secara bergantian."kamu_"


" Sudah Kak, aku nggak papa kok mungkin, sebaiknya aku pulang." Ujar Riyad sengaja memotong ucapan kakak iparnya itu, saat menyadari wajah istrinya, semakin ditekuk. " Sayang aku pulang ya, kalau butuh sesuatu jangan sungkan untuk hubungi aku, marahnya juga jangan lama-lama ya." Ucap Riyadh lagi, pria itu maju selangkah untuk menghampiri istrinya, mengusap lembut kepala Icha dengan begitu sayangnya dan memberanikan dirinya untuk mengecup kuning icha walaupun Icha terlihat ogah-ogahan menerima perlakuan manis dari suaminya sendiri.


" Pulang sana pulang, sekalian ke rumah istri mudanya, memang maunya gitu kan aku marah-marahin terus bisa seenaknya ke rumah Nadine. Iya kan." Rista langsung membulatkan kedua matanya mendengar respon sang adik.


Bukannya tadi adiknya itu yang ngebet banget agar Riyadh cepat pergi, lah kenapa sekarang jadi Riyadh yang salah juga.


Sementara lihat sendiri Hanya bisa menarik nafas panjang, istrinya mulai berulah lagi, sebentar-sebentar merajuk, nanti setelahnya lihat pula yang disalahkan, tidak hanya sampai di situ karena Riyadh yakin Setelah menyalahkan dirinya habis ini pasti nangis dan ujung-ujungnya, manja-manja lagi pada Riyadh.


Sementara Rista hanya bisa menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan apa yang di lakukan adiknya itu. Sungguh manja nya Icha terlalu berlebihan di mata Rista, namun wanita itu tidak dapat berbuat apa-apa, dia tidak ingin menegur adiknya itu dan membuat suasana hati Adiknya semakin buruk, Rista pun memilih meninggalkan Icha dan Riyadh, karena wanita itu tahu keduanya membutuhkan waktu untuk berbicara dari hati ke hati.


"Tuh kak ista udah masuk, kamu juga masuk gih. Biar bisa istirahat. Jangan terlalu di bawa cape ya calon anak kita." Ucap Riyadh sembari mengusap perut icha yang datar. " Aku pamit ya sayang." Riyadh kembali mencium keningnya Icha, Setelah itu dia berbalik, meninggalkan icha yang masih terdiam di tempatnya, pria itu membuat pintu mobilnya, kemudian duduk dengan tenang di dalam sana. Riyadh tidak langsung menyalakan mesin mobilnya, pria itu masih berdiam diri di dalam mobilnya sambil menatap kepada Icha, berharap wanita itu akan menahannya, sebab Icha belum juga beranjak pergi dari tempatnya.


Namun belum ada lima menit, Icha sudah berbalik kemudian melangkah masuk ke dalam rumahnya, wanita itu sempat menutup pintu rumahnya dengan begitu kasar, membuat Riyadh yang mendengarnya hanya bisa memejamkan matanya.


Tidak ingin membuat suasana hati istrinya semakin buruk Riyadh pun memutuskan untuk menyalakan mesin mobilnya kemudian meninggalkan halaman rumah mertuanya itu, dengan perasaan cemas.


Riyadh berharap dalam hatinya semoga perubahan mood istrinya itu, tidak akan berpengaruh kepada calon anak mereka. Mengingat istrinya itu mudah sekali mengalami pendarahan, jika dia merasa tertekan atau terabaikan.

__ADS_1


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Begitu selesai mengantar icha pulang ke rumahnya, Riyadh pun tidak langsung pulang ke rumahnya dan Icha, pria itu memutuskan untuk menyibukkan diri dengan kembali ke perusahaan menyelesaikan, tumpukan pekerjaannya yang sempat tertunda,


Selama beberapa hari ini.


Kehadiran pria di kantor membuat Rizky sempat terkejut, bagaimana tidak istri dari sahabat sekaligus sepupunya. Baru saja keluar dari rumah sakit namun pria itu, kini sudah berada di sini untuk menyelesaikan pekerjaannya, bukannya menemani icha yang sedang berada di rumah dan membutuhkan perhatian lebih darinya juga menyelesaikan masalah mereka.


"Jangan menatapku seperti itu Ky, karena aku juga tidak mau melakukan ini, tapi Icha tidak mau aku berada disekitarnya untuk saat ini dia masih marah kepadaku." Jelas Riyadh, tanpa ditanya oleh rizky pria itu, seakan dapat mengartikan tatapan yang ditunjukkan sepupunya.


Dan Rizky pun hanya bisa terdiam, sembari menatap punggung Riyadh yang perlahan menghilang di balik pintu Ruang kerjanya, tanpa memberinya kesempatan untuk menyahuti ucapan Riyadh.


Rizky begitu kagum sekaligus kasihan kepada sepupunya itu, bagaimana tidak Seorang Riyadh mampu menurunkan ego nya demi Icha dan berkorban sejauh ini demi wanita itu, sungguh suatu hal yang mustahil untuk ia lakukan dulu. Ia bahkan tidak suka saat ada yang menajamkan Padang serta meningkatkan suaranya di hadapannya. Tapi semuanya itu hilang di hadapan Icha, seorang gadis biasa, tapi mampu membuatnya melupakan segalanya termasuk melawan mamanya sendiri, sosok wanita yang selalu ia dengar kata-kata, kecuali perihal pernikahan.


Rizky mengikuti langkah Riyadh, pria itu masuk ke dalam ruangan kerja sahabatnya itu kemudian duduk di hadapannya tanpa banyak bicara." Ada apa ky?" Tanya Riyadh, karena Rizky hanya duduk diam di tempatnya Seraya menatap kepada, membuat Riyadh Risih sendiri.


"Kamu hebat Iyad, aku senang bisa menjadi salah satu orang yang melihat semua perubahan kamu ini." Ucap Rizky membuat Riyadh tersenyum simpul.


Pria itu kemudian menghentikan pekerjaannya, kemudian menatap kepada sepupunya itu. " aku berubah seperti ini hanya untuk satu orang serta orang-orang terdekatnya, bukan untuk semua orang. Karena jika ada yang ingin menyinggung atau menyentuh orang-orang terdekat ku terlebih untuk Icha mereka mungkin akan bernasib sama seperti nadine atau bisa lebih dari itu tergantung keberanian mereka sampai di mana." Sahut Riyadh membuat Rezky menganggukkan kepalanya, lelaki itu tentu saja percaya dengan apa yang diucapkan oleh Riyadh karena bukan sekali dia melihat hal itu. Riyadh juga bersikap seperti itu kepada nadine. Dimana wanita itu harus setiap hari menerima hukuman dari narapidana lain yang telah lebih dulu berada disana.


Para shipir yang bertugas pun hanya membiarkan saja, Mereka sengaja menulihkan telinga dan pura-pura tidak melihat atas apa yang terjadi kepada Nadine.


Tidak hanya Nadine, pamannya Icha, yang rencananya akan keluar tahun ini karena ia mendapatkan remisi serta berkelakuan baik selama berada di dalam Tahanan, harus kembali merasakan waktu yang lebih lama, didalam penjara, karena kedapatan memiliki bubuk terlarang dengan jumlah yang besar. Dan semua itu bisa terjadi karena Riyadh, pria itu tidak senggan-senggan mengeluarkan uang hingga ratusan juta, untuk membuat pria itu berada lebih lama di dalam penjara, kalau perlu, dia akan membuatnya berakhir seumur hidup di sana.

__ADS_1


Hukumnya, bukan Hanya itu, Riyadh juga sengaja membayar narapidana lain untuk menyiksanya sama seperti yang dia lakukan kepada Nadine. Mantan istrinya itu, karena Riyadh sudah sempat menjenguk


__ADS_2