
Tanpa Icha sadari kedua sudut bibirnya tertarik ke atas dengan begitu sempurnanya. " Mbak Nadine cantik tapi kenapa kamu pilih aku sih mas! Harusnya kamu tinggalin aku dan tetap bersama Nadine sehingga hubungan kamu dengan mama pun tidak akan Riwut sekarang. Icha sayang sama mas tapi Icha nggak mau sampai hubungan mas dan mama sampai seperti ini karena Icha." Ucapnya sembari mengusap kepala Riyad dengan begitu lembutnya.
"Aku janji hubungan aku dan Mama akan kembali membaik seperti dulu lagi, papa sudah janji untuk membantu kita, untuk meyakinkan mama bahkan menantunya ini jauh lebih baik dari Nadine dan alasan aku memilih kamu karena aku mencintai kamu." Ucap Riyadh dua mata pria itu masih terpejam.
" Kamu nggak tidur?" Tanya Icha, kita itu mencoba untuk melepaskan pelukan pria namun Riyad tidak menurutinya begitu saja.
"Jika aku tertidur maka aku akan melewatkan pertanyaan ini, dan aku yakin selamanya hanya akan ada kesalahpahaman di antara kita berdua aku nggak mau itu terjadi sayang. Aku sungguh mencintai kamu." Ucap Riyadh sembari membuka kedua matanya Kemudian mendongak untuk menatap kepada istrinya, saat itu tatapan keduanya terkunci, keduanya saling mendiam untuk mendalami perasaan satu sama lain melalui tatapan mata itu.
" Aku sungguh mencintai kamu, sayang. Nadine hanyalah sebuah keterpaksaan di mana aku harus menikahinya karena tidak ingin terjadi sesuatu kepada Mama, Aku harap kamu mau mengerti dan mau memaafkan aku, jika tidak bisa sekarang lakukan itu nanti tapi jangan pernah menjauh dariku! Sungguh tidak bisa jika harus menjauh dari kamu." Lanjutnya.
" Tapi_"
" Sstthhtt, sayang percaya sama aku genggam tangan aku dan kita dapat melewati ini bersama-sama kamu cukup percaya dan tulus berada di samping aku dan selebihnya biar aku yang melakukannya untuk hubungan ini." Riyadh meletakkan telunjuknya pada bibir Icha, meminta wanita itu untuk diam dan mendengar ucapannya. " Buang jauh-jauh semua keraguan kamu, karena aku akan melakukan apapun untuk kamu dan anak kita nanti, percaya ya sama aku." Ucapnya lagi penuh harap. Karena Riyadh Sungguh menginginkan yang terbaik untuk pernikahan mereka.
Icha terlihat ragu namun wanita itu mengangguk mengiyakan Apa yang diucapkan Riyad padanya. " Tapi aku masih marah loh sama mas." Ucapnya menegaskan suasana hatinya saat ini.
"Boleh, marah aja tapi nggak boleh menjauh ya."
"Hmmm." Lihat langsung memeluk Icha dan memicu pipi serta kening wanita itu berulang-ulang kali.
" Iihhh mas, aku ini masih marah loh."
__ADS_1
" Iya-iya." Ucap Riyadh semakin mengeratkan pelukannya pada Icha. Membuat bibir wanita itu semakin maju saja.
Tok... Tok ..
Disaat keduanya tengah larut dalam Suasana hati yang baik, pintu kamar Icha tiba-tiba di ketuk dari luar.
" Cha, Iyad. Jam berapa ini! Bangun dulu, kasihan calon anak kalian, Icha belum makan dari pagi itu." Teriaknya.
Membuat Riyadh langsung melihat kearah jam di dinding yang tergabung pada dinding kamar Icha," Sayang, kamu belum makan, udah jam Tiga, ayo makan dulu." Riyadh langsung melompat dari tempat tidur kemudian mengendong Icha.
" Mas, turunin aku! Nggak enak di lihat kak Ista." Ucap wanita itu, memaksa sembari menepuk pundak Riyadh, membuat pria itu mau tidak mau menurunkannya.
Setelah itu keduanya melangkah keluar kamar, sambil berpegangan tangan layaknya orang mau nyebrang. " Ngapain aja sih, sampai lupa makan." Tanya Rista sembari mengeleng-geleng kepalanya, melihat tingkah pasangan yang katanya lagi marahan itu, tapi kenyataannya tidak demikian.
Dulu sebelum mengenal Icha, mana pernah pria itu salah tingkah seperti ini, tapi semenjak memperistri wanita itu, Riyadh mampu bersikap konyol seperti ini.
" Ya sudah kalian makan dulu sana, Kakak udah siapin makan siang kalian. Kasihan kan calon keponakan Kakak ikutan lapar karena kalian Hmmm." Wanita itu kemudian beranjak menuruni anak tangga meninggalkan sang adik dan suaminya.
Riyadh dan Icha pun segera mengikuti langkah Rista, Dan setibanya mereka di bawah Rista berbelok menuju kamarnya sementara kedua pasangan itu menuju ruang makan, untuk menikmati menu makan siang yang telah disiapkan oleh Rista.
Seperti biasa sebelum makan keduanya mencuci tangan terlebih dahulu kemudian duduk di tempat masing-masing dan mulai menyantap hidangan yang ada di sana setelah melantunkan doa tentunya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam harinya begitu selesai makan malam mereka berempat duduk di ruang keluarga, mengobrol sambil menyaksikan film aksi, yang menjadi favorit Riyadh dan Arga.
Lebih tepatnya cuma Arga, Riyadh dan Rista yang menonton film itu karena Icha saat itu sedang berbaring bukan berbaring, kepalanya yang ia letakkan di atas paha Riyadh sambil membalas pesan dari kedua sahabatnya, juga Dokter Amanda.
Tiga wanita itu mengkhawatirkan kondisi Icha, untuk itu mereka selalu mengirim kabar dan menanyakan keadaan icha juga janin dalam kandungannya, walaupun calon dede bayi itu baru berusia dua bulan, namun ia sudah mendapatkan perhatian dari orang-orang terdekat Icha, seperti sekarang ini.
" Kamu lagi kirim pesan sama siapa?" Tanya Rista begitu melihat adiknya yang terus saja cekikikan setiap kali membaca pesan yang masuk di ponselnya.
" Hah." Icha yang tidak mendengar pertanyaan sang kakak dengan baik, merespon seperti itu, untuk memastikan kembali apa yang di ucapkan Rista barusan.
"Kak Ista tanya kamu lagi kirim pesan sama siapa?" Karena Rista tidak kunjung berbicara, Riyadh-lah, yang menjelaskannya.
Tangan pria itu terus bergerak merusak kepala Icha sesekali turun ke perut wanita itu untuk mengusapnya. Seolah tidak ada bosannya dia melakukan hal itu kepada Icha.
" Oh, ini sama, Nadia, Mimi dan dokter Amanda." Jawab Icha pada akhirnya. Membuat Riyadh tersenyum, pria itu begitu bersyukur karena hubungan Icha dan Amanda semakin ke sini semakin dekat saja.
Riyadh sengaja mendekatkan Amanda dengan Icha bukan tanpa sebab, karena pria itu ingin agar Amanda selalu membantu Icha, membuatnya lebih percaya diri lagi dari sekarang. Membuat mental Icha lebih siapa lagi menghadapi kenyataan yang ada, karena dunia ini terlalu kejam untuk orang yang memiliki mental seperti Icha dulu, jadinya dia ingin menciptakan sosok Icha yang lebih kuat Sebelum dunia mengetahui dia sebagai wanitanya seorang Riyadh.
Riyadh juga tidak ingin kehadiran Icha dijadikan kelemahannya, karena bagi seorang Riyad Icha itu adalah kekuatan bukan kelemahan, terlepas dari masa lalunya dan segala hal buruk yang pernah menimpa wanita itu, dia tetap sumber kekuatan serta kebahagiaan Riyadh begitu juga dengan calon anak-anak mereka nanti.
__ADS_1
" Kamu, ngomong apa aja sama mereka. Sayang?" Tanya Riyadh ingin tahu.
Icha mengeleng kepalanya seraya berkata. " Nggak ada yang spesial, cuma salin bertukar kabar dan bercanda aja." Riyadh dan Rista pun kompak mengangguk, kemudian mereka kembali fokus menonton film itu lagi, membiarkan Icha dengan kesenangannya dan tidak ingin menganggu-nya.