Aku Bukan Pilihan.

Aku Bukan Pilihan.
Merindukan Ayah!


__ADS_3

Setibanya Riyadh di rumah orang tuanya, dia langsung di sambut oleh Nadine, wanita itu meraih tangan Riyadh kemudian mencium punggung tangan pria itu seakan ingin menunjukkan kepada Megan bahwa dia adalah istri yang baik. Wanita paruh bayah itu ikut menemani Nadine menunggu putra tercintanya pulang, sesuai janjinya.


Dan tanpa disadari Megan juga Nadine, Riyadh langsung menggesek punggung tangannya pada celah yang ia pakai dengan perasaan tak suka. Apalagi saat tangan Nadine dengan berani melingkar di pinggangnya dengan tubuh menggeliat layaknya cacing kepanasan. Sengaja ingin menggoda Riyadh.


Nadine tidak sadar kalau apa yang dia lakukan itu bukannya membuat Riyadh tergoda, pria itu justru makin ilfil dengannya. Ingin sekali Riyadh kembali mendorong tubuh Nadine menjauh seperti waktu itu namun dia tidak dapat melakukan hal itu karena takut mendapat amukan sang mama.


" Nak, kamu sudah makan?" Tanya Megan. Pertanyaan itu harusnya di tanyakan oleh Nadine tapi wanita itu mana tahu basa-basi yang dia tahu cuma uang, uang serta rencana orang tuanya untuk mendapatkan harta Riyadh juga mempertahankan posisinya sebagai istri di keluarga itu. Tentunya dengan melahirkan anak Riyadh secepatnya.


" Sudah mah." Jawab Riyadh seadanya. " Ma, Iyad langsung ke kamar ya mah, soalnya Iyad capek banget nih, pengen istirahat." Lanjutnya, kemudian melepaskan tangan Nadine, Sebelum melangkah meninggalkan sang mama dan istri keduanya itu begitu saja tanpa menunggu tanggapan mereka.


Sementara di belakang sana, Megan langsung memberi isyarat kepada Nadine untuk segera menyusul langkah Iyad. Sebelum anaknya itu kembali tidur seperti sebelum-sebelumnya.


Nadine pun mengangguk kemudian berlari kecil menyusul langkah pria itu. " Mas, sampai kapan sih kamu kaya gini sama aku, kita ini sudah empat bulan menikah masa iya terus gini aku." Ucap Nadine saat keduanya sudah berada di dalam kamar Riyadh.


Ucapan Nadine barusan membuat Riyadh ingin tertawa. Pria itu beberapa kali bahkan mengeleng kepalanya ke kiri-kanan tak percaya, sembari tersenyum mengejek, rupanya menantu pilihan sang mama itu tidak ada apa-apanya jika banding kan dengan istrinya dari segi otak mereka, bahkan untuk berakting terlihat begitu memaksakan. Entah racun apa yang di berikan keluarga Nadine kepada mamanya sehingga, mama nya percaya-percaya saja jika wanita itu baik. " Huuufhh sungguh sangat menyebalkan. Sayang cepatlah sembuh dan bantu aku untuk mengakhiri semua ini." Gumam Riyadh dalam hatinya, mengingat senyum sang istri dirumahnya.


Entah sejak kapan tapi yang pasti istrinya itu kini mulai tersenyum kepadanya. Walaupun ia masih sering gugup dan takut jika di tatap lama-lama. " Aku harus memberikan sesuatu untuk Amanda. Sebagai ucapan terima kasih." Pria itu masih tenggelam dalam lamunannya, mengingat wajah Icha, dia tidak menghiraukan Nadine yang sedang menatapnya penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Mas, kamu dengar aku nggak sih?" Bentak Nadine membuat Riyadh tersadar dari lamunannya. Pria itu sempat kesal karena Nadine mengangguk kesenangannya.


" Apaan sih kamu teriak-teriak gitu, asal kamu tahu, aku nggak pernah meminta kamu untuk menikahi dengan aku. Jadi kalau kamu merasa tidak dihargai dan di perlakukan dengan adil disini. Silahkan ambil koper kamu, bawah semua pakaian yang ada di dalam lemari itu dan pulanglah ke rumah orang tua kamu, Alamatnya masih sama kan? Atau kamu sudah lupa jalan?" Ucap Riyadh begitu begitu kejam dan menusuk. " Menyingkir kamu, aku mau istirahat dan jangan ganggu aku." Tegas Riyadh, pria itu bahkan mendorong tubuh Nadine untuk menyingkir dari hadapannya. Kemudian berbaring di atas ranjang tanpa menghiraukan Nadine yang menatapnya tajam. Tangan wanita itu terkepal kuat.


Andai keuangan keluarganya tidak bermasalah karena ayahnya habis di tipu investasi bodong, dia juga tidak akan mau menikahi pria itu. Karena diluar sana banyak pria kaya yang mau memanjakannya dengan uang untuk menikmati tubuhnya tapi pria sia-alan itu justru mengabaikan dan merendahkannya dirinya.


" Sabar Nadine! Saham lima persen itu tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan elite keluarga kamu." Gumam Nadine pada dirinya. Karena saat ini, keluarganya bertahan hidup dari lima persen saham di perusahaan Riyadh, Sementara seluruh tabungan ayahnya raif oleh kang tipu berkedok investasi bodong.


Untuk orang kecil dan tau cara bersyukur, saham lima persen itu sudah lebih dari cukup. Tapi gimana keluarga Nadine tidak termasuk dalam katagori itu.


...🥀🥀🥀🥀...


" Cha, semalam kamu nangis ya?" Tanya Eva. Membuat Icha menarik kedua sudut bibirnya keatas, memaksa untuk tersenyum.


" Keliat banget ya." Icha balik bertanya, Eva dan Nadia kompak mengangguk.


" Kapan kamu nangis? Pas saat kita tidur ya, kamu teringat sama obrolan kita semalam iya kan! Kalau benar, berarti udah jatuh cinta kan sama pak Riyadh." Tanya Eva, sembari menebak-nebak.

__ADS_1


Membuat Icha membulatkan matanya, karena tebakan sahabatnya itu tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya salah juga. Sebab Icha sendiri tidak tahu perasaan apa yang dia rasakan untuk Riyadh, dibilang cinta kayanya ngga mungkin, toh semuanya terasa terlalu cepat untuknya dan sedikit mustahil. Icha lupa jika tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika tuhan sudah berkehendak.


" Aku menangis karena merindukan ayah! Jadi nggak usah berpikir macam-macam. Cinta, cinta memangnya aku pantas untuk itu untuk." Ucap Icha untuk menutupi rasa gugupnya dan tidak ingin membuat kedua sahabatnya khawatir.


Icha kemudian beranjak dari tempat tidur, Wanita itu hendak kembali ke kamarnya untuk mandi, ritual pagi yang tidak pernah Icha lewatkan.


Namun belum sempat wanita itu meraih handel pintu, Suara Nadia membuat gerakannya terhenti. " Kalau kamu kangen sama ayah! Nanti selesai kuliah, aku dan Eva akan menemanimu ke makam ayah."


Icha pun menengok kepada Eva dan Nadia dengan kedua sudut bibir yang melengkung sempurna, wanita itu mengangguk kepalanya seraya berkata. " Terima kasih ya Va, Nad." Nadia pun membalas senyuman Icha. " Aku mandi dulu ya, nanti setelah itu aku akan membuatkan sarapan untuk kita." Ucap Icha lagi.


Kedua wanita itupun hanya tersenyum mengiyakan saja, walaupun mereka merasa jika Icha sedang berusaha untuk menyembunyikan perasaannya sendiri, tapi Nadia dan Eva tidak ingin menyakiti hati Icha dengan bertanya lebih dalam lagi.


Sesuai ucapannya Sebelum meninggalkan kamar tamu itu. Begitu selesai mandi Icha langsung bergegas ke dapur, membuat sarapan untuk dirinya, Nadia dan Eva, karena suaminya itu sedang menginap di rumah orang tuanya. Dan biasanya dia akan pulang ke rumah mereka saat sore hari.


Setelah satu jam berkutat di dapur, akhirnya sarapan mereka siap. Pagi ini Icha menyiapkan dua menu utama mereka. Sandwich untuk bekal mereka dan nasi goreng untuk mereka makan sebelum berangkat ke kantor, karena hari ini mereka memiliki kelas siang.


Setelah menata makanan itu di meja Icha langsung memanggil Nadia dan Eva, yang sedang duduk menunggu di ruang keluarga karena Icha lah yang meminta mereka untuk menunggu disana dan tidak ingin kedua sahabatnya itu membantunya.

__ADS_1


" Wow, dari wanginya aja udah enak banget." Celoteh Eva, wanita itu menarik salah satu kursi, kemudian mendaratkan bokongnya di sana, begitu pun dengan Nadia dan Icha.


Eva terlihat tidak sabar untuk menikmati masakan sahabatnya. Walaupun hanya nasi goreng, tapi kalau di buat dengan cinta dan ketulusan, rasa pasti akan spesial. Tanpa berlama-lama ketiganya pun memulai sarapan mereka dalam diam.


__ADS_2