Aku Bukan Pilihan.

Aku Bukan Pilihan.
Seperti pasangan lainnya.


__ADS_3

Waktu terus berlalu, tidak terasa enam bulan sudah Icha menjalani pengobatan dengan dokter Amanda. Dan perubahan itu jelas terlihat namun Riyadh belum berani untuk mencoba mencoba lebih dari sentuhan-sentuhan sewajarnya. Walaupun sering kali pria itu terbawa perasaan dan tiba-tiba memeluk Icha.


"Tumben, kamu aja aku bertemu di kantor! Biasanya juga di luar." Tanya Dokter Amanda. Wanita itu saat ini berada di ruangan kerja Riyadh. Duduk berhadapan dengan pria itu dan hanya di batasi meja kerja Riyadh saja." Mana bayaran ku." Ucapnya lagi, ketika ia teringat akan tujuan kedatangannya ke perusahaan pria itu.


Tanpa banyak bertanya, Riyadh langsung membuka laci meja kerjanya dan memberikan amplop berwarna coklat yang cukup tebal karena Wanita itu. " Kenapa tidak memberikan no rekening saja sih, ribet banget." Sungut Riyadh. Sahabatnya itu sungguh aneh, disaat orang berbondong-bondong main transferan di justru lebih senang menerima uang dalam bentuk cash. Alasannya karena transferan itu ia hanya bisa melihat angka saja! Sedangkan cash dia dapat mencium bau uangnya langsung. Dan di nggak suka jika harus ke ATM dulu untuk melihat hasil kerja kerasnya. " Aku sengaja mengundang kamu kesini karena untuk beberapa hari kedepannya aku akan sangat sibuk, jadi tidak bisa keluar untuk mengunjungi siapa pun, termasuk kamu. Karena aku tidak ingin pekerjaanku menunda waktu pulang aku." Ucap Riyadh, mengingat apa yang di tanyakan Amanda tadi.


" Terserah kamu saja yang terpenting kamu tidak telat dalam membayar upahku." Sahut Amanda, tidak peduli, wanita itu justru memasukkan amplop yang baru saja di berikan Riyadh kedalam tas-nya.


" Syukurlah kalau begitu. Oh iya, dalam amplop itu sudah termasuk gaji kamu tiga bulan ke depan. Aku ingin istriku cepat sembuh tapi jangan sampai dia tidak nyaman." Ucap Riyadh lagi mengingatkan dokter cantik itu.


" Iya-iya aku tahu."


" Lalu bagaimana keadaan Icha, apa aku bisa semakin dekat dengannya." Tanya Riyadh.


" Bisa, tapi kamu harus melakukan segala sesuatu atas izinnya, jangan memaksa jika dia tidak mau. Dan mulailah untuk mencoba mendekatinya karena percuma saja jika dia menjalani pengobatan tapi kamu hanya duduk dan menunggu dia yang datang untuk menghampirimu. Itu tidak akan mungkin." Jawab dokter Amanda panjang kali lebar.


" Baiklah aku mengerti dan aku akan mencoba saran dari kamu, apa itu akan cukup membantu."Sahut Riyadh sembari balik bertanya. Membuat Amanda memutar bola matanya malas.


Dalam hatinya wanita itu bertanya, ini karena Riyadh takut menyakiti Icha atau karena dia benar-benar tidak tahu. " Lakukan itu dan kita akan melihat hasilnya nanti."

__ADS_1


"Baiklah, Nanti aku akan mencobanya."


" Jangan lupa untuk mengabari aku jika terjadi sesuatu. Aku harus pulang sekarang, sampai ketemu lagi. " Ucap Amanda kemudian beranjak meninggalkan Ruangan kerja sahabatnya itu tanpa menunggu sahutan dari Riyadh.


Setelah kepergian dokter Amanda, Riyadh kembali bergulat dengan perkerjaan, yang telah menunggu untuk di selesaikan.


🥀🥀🥀🥀


Waktu menunjukan pukul lima sore saat Riyadh beranjak dari kursi kebesarannya, meninggalkan kantornya itu dan pulang ke rumah.


Hampir sejam berkendara akhir mobil Riyadh tiba juga di depan rumahnya dan seperti biasanya, Icha sedang membuat makan malam untuk mereka berdua."Hai sayang, bagaimana hari mu hari ini." Tanya Riyadh sembari menghampiri Icha. Untuk melihat lebih dekat menu apa yang di siapkan Icha untuk makan malam mereka.


" Seperti biasa selalu di penuhi dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya, kecuali bersama kamu, hariku begitu menyenangkan." Jawab Riyadh, membuat Icha geleng-geleng kepala, suaminya itu selalu saja memuji yang berlebihan jika itu tentangnya. " Kamu tak percaya lagi. Baiklah aku tidak akan memaksa lagi, aku akan pergi mandi, setelah itu kita akan makan malam sama-sama." Lanjutnya Setelah itu beranjak meninggalkan Icha.


Sementara itu di belakang sana, Icha semakin tenggelam dengan semua perlakuan baik Riyadh, wanita mana yang tidak akan jatuh hati jika selalu di perlakukan selembut dan setulus itu dan hal itu juga berlaku kepada Icha.


•


•

__ADS_1


Usai makan malam kedua duduk di ruang keluarga seperti biasanya, tapi malam ini Riyadh sengaja tidak membawa pekerjaannya, pria itu hanya melihat istrinya itu menyelesaikan tugas kampusnya.


Sementara dirinya sibuk mengonta-ganti Chanel tv sambil menunggu Icha selesai dengan tugasnya. Hingga satu jam menunggu Icha pun selesai dengan tugas kampusnya. Melihat hal itu. Riyadh meletakkan remote tv yg sejak tadi dia pegang, kemudian memanggil Icha.


Tentu saja icha langsung menengok kepadanya. " Ada yang ingin aku. Bicarakan dengan kamu." Ucap Riyadh lagi, membuat Icha mengerutkan keningnya bingung. Namun dia tetap menunggu hingga Riyadh selesai dengan ucapannya. " Kita sudah menikah enam bulan Sayang! Bukankah sudah seharusnya jika hubungan kita naik satu tingkat?" Ucap Riyadh lagi, namun Icha masih membisu.


"Jujur saja Cha, aku ingin hubungan kita sama seperti pasangan pada umumnya, tidak hanya sekedar pegang tangan dan tidur di atas ranjang yang sama, aku ingin lebih dari itu."


" Tapi aku nggak bisa."


" Sayang jangan memberi jawaban, disaat kita belum mencobanya." Sela Riyadh.


" Tapi_"


"Begini saja Sayang, kamu dengar kata hati kamu, kalau kamu yakin untuk kita mencobanya sama-sama, Sambutlah uluran tanganku, jika tidak kamu boleh kembali ke kamar dan aku janji tidak akan marah! Aku akan tetap menunggu sampai kamu benar-benar siap." Ucap Riyadh sembari mengulurkan tangannya kepada Icha.


Namun cukup lama, wanita itu tidak memberi respon apa-apa, antara ingin pergi tapi hatinya menolak, hingga pada Akhirnya Icha menarik nafas dalam-dalam kemudian menyambut uluran tangan Riyadh. Pria itu memberanikan diri menarik tangan Icha, kemudian membawa Icha untuk duduk pada pangkuannya, memeluknya dari belakang dan dari Jarak sedekat ini, Riyadh dapat merasakan tubuh Icha yang guguk serta sedikit bergetar, namun tidak sehebat dulu. bahkan suhu tangan Icha juga sudah tidak dingin lagi.


" Sayang, tarik nafas dalam-dalam kemudian hembuskan dengan perlahan setelah itu lihatlah aku." Pinta Riyadh, Icha pun melakukan apa yang dikatakan Riyadh,

__ADS_1


satu menit dua menit tiga menit sampai sepuluh menit, keduanya masih di posisi yang sama dan Icha tidak lagi sehisteris dulu, hanya saja wanitanya itu begitu sangat gugup hingga membuat Riyadh menyudahinya. ia akan mencoba lagi besok, toh waktu dia masih banyak. " Ayo sayang kita tidur." Keduanya kemudian beranjak dari sana dan masuk kedalam kamar tidur mereka untuk beristirahat.


__ADS_2