
Waktu berlalu dengan begitu cepat dari menit ke jam, jam ke hari, hari ke Minggu dan Minggu ke bulan. Semua di lalui Icha dan Riyadh, penuh dengan tekad, dimana Riyadh dengan tekad dan kesabarannya menghadapi serta mengusahakan kesembuhan Icha dan Icha dengan tekad untuk sembuh karena dorongan dari orang-orang terdekatnya serta bantuan dari Amanda.
Walaupun hal itu bukan sesuatu yang instan, tapi setiap proses memiliki sedikit hasil yang baik. Seperti sekarang ini misalnya, Setelah tiga bulan menjalani terapi dengan Amanda, wanita itu perlahan mulai membaik. Tubuhnya sudah tidak segemetar dulu saat berada di keramaian. Ia yang dulunya hampir tidak pernah mengunjungi bioskop setelah kejadian itu. Kini sudah bisa mengunjungi tempat itu, walaupun masih harus di dampingi. Tidak hanya itu, ia pun mulai membalas sapaan tetangga dengan tersenyum ramah kepada mereka.
Bahkan dia sudah bisa belanja di mini market tak jauh dari rumahnya seorang diri, sesuatu hal yang tidak pernah di lakukan Icha Sebelumnya. Karena sang ayah selalu memenuhi keperluannya dan membiarkan ia tetap berada pada zona nyamannya.
Hanya saja wanita itu masih memerlukan lebih banyak waktu untuk benar-benar sembuh sepenuhnya. Sebab terkadang ia masih sering terjaga dimalam hari dan masih sering mimpi buruk. Interaksi dengan Riyadh pun masih sebatas pegangan tangan dan usapan lembut di kepala wanita itu. Tapi jarak mereka sedikit demi sedikit mulai terkikis, Seperti saat ini misalnya.
"Hai sayang kamu masak apa hari ini?" Tanya Riyadh, pria itu baru pulang kerja dan langsung menghampiri Icha di dapur, karena dia tahu di jam seperti ini Icha akan menghabiskan waktu untuk memasak makan malam mereka, barulah setelah itu. Ia akan melakukan pekerjaan serta tugasnya di ruang keluarga di temani, Riyadh.
" Hari ini aku pengen makan ini, nggak papa kan?" Ucap Icha sembari menunjuk menu yang telah ia siapkan. menu makan yang tidak seperti biasanya. Dimana ada lauk-pauk spesial sesuai selera Iyad.
" Apapun yang kamu buat pasti aku akan makan." Sahut Iyad sembari mengelus kepala Icha, Seperti biasanya," Ya udah! yuk kita makan." Ajak Riyadh membuat wanita itu mengerutkan keningnya.
"Nggak mau mandi dulu. Biasanya juga mandi dulu, baru kita makan malam sama-sama." Tanya Icha, karena biasanya suaminya itu akan mandi terlebih baru mereka makan malam bersama.
" Nanti aja sayang, aku udah lapar banget nih, soalnya tadi nggak sempat makan siang juga. Boleh kan?" Icha dengan ragu mengangguk kepalanya..
__ADS_1
Setelah mendapat anggukan kepala dari Icha, riyadh langsung menuju wastafel untuk mencuci tangan, setelah menyerahkan tas kerja dan jas serta dasi yang telah ia lepaskan kepada Icha, untuk di bawah ke kamar dan di simpan ke tempatnya masing-masing.
Setelah itu dia kembali keruang makan untuk makan bersama Riyadh. Wanita itu menjalani perannya sebagai istri dengan baik, tidak seperti awal-awalnya di mana Riyadh yang melayani. Karena kini pria itukah yang Icha layani, di meja makan, Seperti menyendok nasi dan lauk ke piring Iyad, hal sederhana namun Icha sudah bisa melakukan, sungguh itu sebuah pencapaian banget mengingat tiga bulan sebelumnya dia seperti apa.
" Malam ini, Nadia dan Eva jadi nginap kan, disini?" Tanya Riyadh, disela-sela makan malam mereka.
" Iya, mungkin sebentar lagi mereka akan datang." Jawab Icha.
" Syukurlah kalau begitu, aku sangat khawatir meninggalkan kamu sendiri di rumah." Ucap Riyadh. Malam ini, pria itu akan kembali menginap di rumah orang tuanya, atas permintaan Megan, karena jika tidak mamanya itu dan Nadine akan terus mendatanginya di kantor. Hingga Riyadh mau pulang ke rumah, jika ia tetap tidak mau, setidaknya dia membawa Nadine sebagai istrinya untuk tinggal bersamanya karena sebagai suami istri sudah seharusnya mereka tinggal bersama. .
Itu sebabnya dia menyetujui keinginan mamanya, untuk pulang ke rumah seminggu dua kali, awalnya Mega menolak hal itu namun Riyadh cukup tegas dalam mengambil keputusan kali ini. ' Seminggu dua kali aku pulang ke rumah atau tidak sama sekali dan jangan salahkan aku jika aku sampai menceraikannya, Kalau mama dan dia masih saja menganggu waktu kerja aku.' Itulah Ancaman Riyadh pada Megan, ibunya dan Nadine istri lainnya. Dan sejak saat itu Riyadh selalu pulang ke rumah orang tuanya seminggu dua kali, sesuai janjinya.
Karena mereka terus saja ke kantor! Dan buat masalah disana. Sebenarnya Ria ingin mengabaikan mereka berdua tapi dia takut, Mimi atau Eva mengetahui hal itu. Mengingat mereka punya kerja sama dan kedua wanita itu selalu ke perusahaan untuk mendiskusikan desain setra hasil dari pekerjaan mereka.
" Aku nggak papa. Lagian aku belum siap juga buat ketemu mama kamu. Jangan paksa aku ya untuk kesana. Aku nggak takut." Sahut Icha membuat Riyadh semakin merasa bersalah, bagaimana tidak ia sudah dengan sengaja memanfaatkan kondisi istrinya itu untuk menutupi hubungannya dengan Nadine.
" Maaf ya." Ucap Riyadh dengan perasaan bersalah.
__ADS_1
Icha pun mengangkat pandangannya dan memusatkan kepada Riyadh sesaat, Sebelum kembali menunduk lagi. " Jangan minta maaf, harusnya aku yang minta maaf karena belum siap menemui orang tuamu, Dan aku juga nggak tahu kapan aku siap untuk bertemu dengan mereka. Maaf harus kamu tidak menikahi ak_"
" Sayang, jangan ngomong seperti itu. Aku nggak pernah menyesal menikahi kamu, aku harap kamu juga tidak menyesali penikahan ini." Selanya sebelum Icha selesai dengan ucapannya." Kita jalani semua pelan-pelan saja, jangan terlalu di paksakan."Ucap Riyadh lagi, sedangkan Icha hanya mengangguk ragu. Setelah itu tidak ada lagi obrolan di antara mereka, Hanya keheningan hingga makan malam itu berakhir.
Selesai makan malam, Riyadh langsung kembali ke kamar untuk mandi, Sementara Icha mencuci piring bekas makanan.
Begitu selesai, wanita itu duduk di ruang keluarga, untuk meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda, karena dia harus menyiapkan makan malam mereka.
Satu jam berlalu, Riyadh telah bersiap untuk pulang ke rumahnya dan namun pria itu tidak langsung pergi ia duduk di sofa ruang tamu, melihat Icha yang sedang fokus dengan pekerjaannya.
" Kenapa belum pergi." Tanya Icha tanpa menatap kepada suaminya itu.
" Nungguin Nadia dan Eva datang dulu sayang." Jawab Riyadh. " Aku nggak tega ninggalin kamu sendiri."
"Pergi aja, aku nggak papa kok send_" belum sempat Icha menyelesaikan ucapannya, suara bel rumah sudah berbunyi.
" Itu mereka sudah ada! Biar aku yang membukakan pintu." Ucap pria itu, tanpa menunggu jawaban Icha, pria itu langsung beranjak dari tempat duduknya membukakan pintu untuk tamunya itu. Dan sesuai tebakan Riyadh, Eva dan Nadia lah yang datang. " Karena kalian sudah datang, aku tinggal ya. Nad, va, titip Icha." Pamit Iyad. Lalu meninggalkan mereka begitu mendapat anggukan kepala dari Ketiga wanita itu.
__ADS_1