
Riyadh yang baru pulang kerja usai lembur di kantor! langsung bergegas membersihkan dirinya, tapi sebelum itu ia memilih berendam di Bathtub dengan di temani segelas wine, cukup untuk menenangkan pikiran dan menghangatkan tubuhnya!
Drrrttt... Drrrttt...
Dering disertai getaran dari ponselnya yang berada di kamar tidur, membuat Riyadh menyudahi berendamnya. pria itu melangkah keluar kamar mandi setelah membersihkan dirinya di bawah guyuran shower.
Tanpa melihat layar ponselnya Riyadh langsung menjawab panggilan itu," Apa kamu, ingin menjadi anak durhaka dengan terus mengacuhkan telpon dari mamamu! mau mama sumpahin, jadi ulekan cobek." Mendengar ucapan mamanya dari seberang telepon, membuat Riyadh mendesah sambil memijit pelipisnya.
" Ma."
" Jangan menghindar mama lagi, karena mama sudah putuskan untuk menjodohkan Kamu dengan Nadine."
" Tapi ma, ak_"
" Cukup mama tidak mau dibantah! Besok temui dia di Restoran langganan kita, Jam 11 tepat kamu sudah harus di sana, kalau sampai kamu tidak datang. Mama akan menceraikan papa kamu."
Panggilan itu pun berakhir secara sepihak, tentu saja, mamanya yang mengakhiri tanpa mau mendengar ucapan Riyadh.
" Arrrrgggghh! Dasar tua Bangka, Akan ku buat kamu dan putri tercintamu itu, menyesal karena sudah mengusik kehidupanku." Riyadh bermonolog. Karena dia sudah tahu semua ia pasti ulah salah satu pemegang sahamnya yang menginginkan pernikahan mereka terjadi untuk menguasai perusahaan mereka, melalui sang mama.
......🥀🥀🥀🥀......
Siangnya tepat jam sebelas Riyadh sudah tiba di restoran, sesuai permintaan Mamanya. Riyadh masuk kedalam restoran, mencari keberadaan Wanita yang bernama Nadine itu.
" Kak Riyadh ya?" Seorang wanita tiba-tiba menepuk pundak Riyadh. " Aku Nadine."
" Nggak penting." Ucap Riyadh, ia menatap Nadine dari atas sampai kebawah, begitupun sebaliknya. Tanpa ba bi bu Riyadh, melangkah meninggalkan wanita yang bernama Nadine itu.
" Kak Riyadh mau kemana! kita belum ngobrol." Teriak Nadine karena Riyadh sudah menjauh dari pandangannya.
Riyadh kembali ke perusahan, Bagi Riyadh bertemu dengan wanita yang bernama Nadine itu hanya membuang-buang waktu.
Tok tok tok.
" Masuk." Ucap Riyadh.
" Ceklek."
Pintu ruangannya terbuka, masuklah sang mama diikuti wanita yang ia jumpai sejam yang lalu.
" Kenapa kamu tinggalin Nadine." Tanya Mamanya.
__ADS_1
" Ma, aku sudah ikuti mau mama! untuk menemui wanita itu." Tunjuk nya pada Nadine. " Kenapa mama masih datang ke kantorku."
" Dasar bocah tengil! apa kamu lupa! kantor kamu ini milik suami saya."
" Dan Nyonya Mega yang terhormat, perusahaan ini juga milik ayah saya."
" Mama tidak mau tahu! kamu temani Nadine makan siang sekarang."
" Maaf mamaku tercinta, anakmu ini ada meeting lima belas menit lagi."
" Kamu bisa minta Rizky untuk mengantikan kamu! apa susahnya sih, temani calon istri kamu."
" Ma! aku tidak setuju dengan pilihan mama."
" Mama tidak membutuhkan persetujuan kamu! mama yang akan mengatur semuanya! Ayo sayang biar mama yang temani kamu makan siang." Mega mengandeng tangan Nadine keluar dari ruangan Riyadh, karena percuma berdebat dengan putranya itu.
" Sekalian saja mama nikahi dia." Ucap Riyadh begitu mamanya telah pergi, karena Riyadh yakin jika dia mengucapkannya pada saat mamanya masih ada di ruangannya, perdebatan keduanya pasti tidak akan ada akhirnya.
......🥀🥀🥀🥀......
Setelah pertemuan pertamanya dengan Wanita yang di perkenalkan Mamanya itu, hari-hari yang di lalui Riyadh bagaikan di neraka! bagaimana tidak, dalam sehari bisa tiga sampai lima kali, mamanya dan Nadine datang menemuinya, entah itu di kantor maupun di apartemen.
Seperti sekarang ini. Nadine dan mamanya, Kembali menyelonong masuk keruang meeting disaat Riyadh, Nadia, Mimi Rizky dan Icha sedang melakukan meeting.
" Kamu boleh pergi." Usir Riyadh pada Sekertaris Nya. " Ma_"
" Mama akan terus melakukan hal ini sampai kamu setuju untuk menikah." Belum juga Riyadh menyelesaikan ucapannya, Mega sudah lebih dulu membuka mulutnya.
" Ma, tolong jangan mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan aku." Bentak Riyadh, yang merasa sangat-sangat terganggu dengan sikap mama nya itu.
" Mama nggak peduli." Riyadh yang sudah mulai jengah dengan ulah mamanya, langsung menarik tangan mamanya keluar ruangan meeting.
" Apa yang harus Riyadh lakukan! untuk menghentikan kegilaan mama dan wanita sialan itu." Tanya Riyadh kepada mega begitu keduanya tiba di ruangan kerja Riyadh.
" Jaga mulut kamu! wanita yang kamu sebut sialan itu calon menantu mama. Iyad, Mama melakukan semua ini untuk kamu! Apa salahnya kamu mengabulkan permintaan mama untuk menikahi dia." Ucap Mega mulai wanita itu mulai menitihkan air matanya. Tentu saja itu membuat perasaan bersalah menyelimuti hati Riyadh.
" Baiklah! Riyadh akan menikah sesuai permintaan mama! tapi mama harus berjanji Setelah ini jangan mencampur urusan Riyadh lagi apa pun itu."
" Tapi_"
" Ya sudah kalau mama nggak mau, Riyadh juga nggak mau menikah."
__ADS_1
" Iya mama janji, tapi mama ingin kamu menikah Minggu depan! Kamu tidak perlu cemas semua mama yang atur."
" Terserah mama saja." Aleta langsung memeluk tubuh Riyadh. ia begitu bahagia dengan keputusan Riyadh. Wanita paruh baya itu bahkan sengaja mempercepat pernikahan anaknya karena takut putranya itu berubah pikiran dan mencari cara untuk menggagalkan rencana.
Sedangkan di ruangan meeting, Nadine menatap secara bergantian kearah, tiga sahabat itu. " Kalian siapa? Kenapa kalian di sini." Ucap Nadine sambil menunjuk wajah mereka.
" Mereka klaen kita! lagian kamu siapa sih, punya hak apa kamu di perusahaan ini." Sahut Rizky, tidak suka dengan sikap ingin tahu wanita yang menjadi pilihan tantenya untuk di jodohkan dengan Riyadh.
" Eeh jongos, jangan belagu deh! kamu di perusahaan ini cuma pesuruh sedangkan aku anak dari pemegang saham dan akan menjadi istri pemilik perusahaan! Jadi jangan macam-macam kalau kamu tidak mau dipecat." Ucap Nadine dengan tidak tahu malunya.
" Hahahhah." Rizky tertawa mengejek. " Kalau mimpi itu jangan ketinggian, Nanti jatuh, Kasian bokong silikon kamu." Ucap Rizky Setelah tawanya Redah.
Hal itu membuat Mimi dan Nadia cekikikan, lain halnya dengan Icha yang merasa tidak nyaman.
" Kamu." Nadine Mengangkat tangannya, seakan ingin mencakar wajah Rizky. " Iiihhhhh." Desisnya, Sebelum melangkah keluar ruangan Sambil menghentakkan kakinya kesal.
Setelah sang mama dan wanita bernama Nadine itu pergi, Riyadh langsung meminta Rizky untuk menunda rapat mereka sampai besok.
......🥀🥀🥀🥀......
Malam harinya, Riyadh menghubungi Nadia, ia memintanya untuk bertemu di taman yang tidak jauh dari Apartemen Nadia.
" Ada apa ya pak! kenapa bapak meminta saya untuk bertemu." Tanya Nadia, begitu ia dan Riyadh duduk di salah satu bangku taman tak jauh dari gedung apartemen Nadia.
" Tidak perlu memanggilku seperti itu, kita sedang tidak di kantor! lagian aku tidak setua itu, sampai kamu harus memanggil aku pak." Pinta Riyadh, tak nyaman dengan panggilan pak.
" Baik pak, Eeh mas." sahut Nadia sedikit sungkan.
" Kamu pasti bingung kenapa saya memanggil kamu kan?" Nadia mengangguk. " Aku ingin mengenal teman kamu." Ucap Riyadh langsung pada intinya.
" Siapa? Mimi?"
" Bukan."
Nadia membekap mulutnya dengan tangan kanannya, saat tahu siapa yang ingin dia kenal " Tidak mungkin kan pak."Ucap Nadia spontan.
" Apa yang tidak mungkin?" Tanya Riyadh.
" Mas tidak mungkin bersama dengan Icha."
" Kenapa! apa alasannya Sampai kamu berkata seperti itu."
__ADS_1
" Aku nggak bisa kasih tahu, Aku permisi." Nadia langsung meninggalkan Riyadh, membuat Riyadh bertanya-tanya. Apa dia salah jika tertarik kepada seorang wanita?