Aku Bukan Pilihan.

Aku Bukan Pilihan.
akhirnya.


__ADS_3

Pagi itu kediaman gemilang terlihat begitu ramai, sebuah tenda besar berhias bunga berwarna putih serta hiasan berwarna biru muda menghiasi tenda itu.


Membuatnya terlihat begitu meriah. Megan sengaja memilih nuansa biru putih, karena menurut wanita paruh bayah itu, karena warna biru adalah warna yang paling netral, dengan warna putih.


Sebab sampai detik ini mereka belum tahu jenis kelamin anak Icha dan Riyadh. Mereka semua kontak untuk tidak mengetahuinya saat ini. Dan akan menjadi kejutan saat anak Icha lahir nanti.


Para Tamu undangan pun mulai berdatangan, ibu-ibu pengajian serta anak-anak panti asuhan, di undang undang menghadiri acara 7 bulanan Icha.


Acara itu sengaja digelar kediaman gemilang mengingat, kondisi Icha saat ini yang tengah hamil besar serta Rista kakaknya Icha juga tengah hamil muda saat ini, mereka mau tak mau harus melakukan acara itu di rumah orang tua, Riyadh sebab wanita itulah yang paling siap untuk acara ini.


"Sayang sarapan dulu." Megan masuk ke dalam kamar menantunya itu, membawakan sarapan untuknya." Nanti aja mah Icha belum lapar."


"Nggak Sayang! nggak boleh nanti-nanti acara ini bakalan lama! Mama nggak mau kamu sama calon cucu mama kelaparan, makan dulu. Sini Mama yang suapin kamu," tegas Megan, Icha pun mau tak mau, menikmati sarapan yang dibawa kan oleh mertuanya.


Megan dengan sabar menyuapi menantunya itu hingga makanan yang ia bawa Habis tak tersisa. " Sekarang kamu mandi sebentar lagi akan ada yang untuk kamu berdandan." Wanita itu mengusap kepala menantunya kemudian meninggalkan ia sendiri.


Setelah Mama mertuanya pergi Icha pun bergegas untuk mandi. Seperti yang diminta oleh mamanya Riyadh.


Benar saja begitu wanita itu keluar dari kamar mandi sudah ada dua orang MUA yang menunggunya, untuk bersiap-siap.


Acara 7 bulanan ini Megan tidak hanya memanggil MUA untuk merias wajah menantunya wanita itu juga sengaja meminta Desainer terkenal untuk menyiapkan kebaya untuk Icha dan masih banyak Megan lakukan untuk acara 7 bulanan. Semuanya dia sendiri yang menyiapkan.


Karena ini Megan ingin memastikan yang terbaik untuk anak dan cucunya. Dia bahkan tidak tanggung-tanggung merogoh kocek dalam-dalam, untuk acara Hari ini.


Tepat jam 09.00 pagi acara itu pun dimulai, Megan menjemput menantunya itu di kamarnya. Ketika MC bersiap-siap membuka Acara itu.


Serangkaian acara pun dilakukan menggunakan adat yang dianut kedua orang tua Riyadh. Pengajian, siraman, pecah kelapa dan masih banyak serangkaian acara lainnya yang harus dijalani Icha termasuk berbagi dengan anak yatim yang sengaja mereka undang.


" Ma, sudah selesai kan?" Tanya Icha begitu tamu undangan yang datang beranjak untuk pulang.


" Iya sayang, kamu sudah lelah?" Icha pun dengan cepat mengganggu kepalanya. " Iyad, antar Icha ke kamar." Megan memanggil putranya itu untuk mengantar Icha ke kamar karena ia masih harus menemani tamu yang masih belum beranjak dari tempat mereka.

__ADS_1


" Sini sayang." Ajak Riyadh, sembari mengulurkan tangannya kepada Icha. Tanpa menunggu lama Icha pun membalas uluran tangan Riyadh, karena wanita itu sudah benar-benar lelah.


Setibanya di kamar mereka Ica langsung berganti pakaian kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Tidak butuh waktu lama Ica pun terlelap, setelah memastikan istrinya itu telah tertidur Riyadh ikut bergabung bersama orang tuanya, untuk menemani tamu yang tersisa. Yang tidak lain adalah rekan bisnis mereka.


Acara 7 bulanan ini sengaja Megan lakukan, sekaligus untuk memperkenalkan Icha sebagai menantunya. Karena banyaknya rekan bisnis mereka yang diundang di acara itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tiga hari setelah acara 7 bulanan Icha dan Riyadh kembali ke rumah mereka. " Sayang kamu yakin mau sendiri di rumah?" Tanya Riyadh, karena pria itu sudah harus kembali bekerja.


" Iya mas, Icha nggak papa kok! Kalau Icha merasakan sesuatu, Icha akan langsung menghubungi mas, Icha janji." Sahutnya untuk meyakinkan Riyadh.


" Baiklah, tapi ingat langsung hubungi aku." Tekan pria itu sembari mencium kening istrinya, berulang-ulang, seolah tidak ada bosannya dia melakukan hal itu kepada Icha. " Sayang, gimana kalau kamu ikut aku kerja aja! Kamu bisa istirahat di kamar, setidaknya aku bisa memastikan keadaan kamu setiap saat." Ucapnya lagi, mencoba memberi penawaran.


"Mas, usia kandungan aku itu baru tujuh bulan lebih, masih ada satu bulan lebih lagi, jadi mas nggak perlu khawatir. Nanti kalau sudah dekat-dekat taksiran hari lahir, barulah aku akan mengikuti mas kemana saja, apa mas puas." Sahut Icha, sebab suaminya itu, khawatirnya terlalu berlebihan sama seperti mertuanya,


"Baiklah, tapi ingat hubungi mas." Ulangnya lagi.


" Hmmm." Gumam Icha sebagai jawaban. Dan Riyadh pun meninggalkannya.


Setelah mesti kan suaminya telah pergi berkerja Icha, akan seharian, rebahan dan berbaring di rumah menikmati apa yang dia ingin nikmati. Hari-hari Icha di lalui memang seperti, itu. Tidak ada yang spesial, karena wanita itu tidak menginginkannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Waktu berlalu dengan begitu cepat, kini usia kandungan Icha telah genap sembilan bulan sepuluh hari, karena wanita itu kini sedang bertarung melawan kontraksinya, Saat Icha di larikan ke rumah sakit, wanita itu sudah pembukaan empat dan menunggu pembukaan lengkap untuk menyambut buah hatinya.


Saat kontraksi itu datang, Rasanya benar-benar sakit tapi tidak sedikitpun ia mengeluarkan suara, wanita itu hanya menggenggam tangan Riyadh, kemudian mengatur nafasnya. Dengan menghirup nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Dan hal itu mampu membuat Icha lebih tenang. " Sayang, kamu harus kuat ya! Setelah dia lahir nanti rasa sakitnya akan langsung hilang." Ucap Megan untuk menyakinkan Icha, sebab apa yang dia rasakan juga seperti itu saat kontraksi, rasanya begitu sangat menyakiti, hingga tak dapat di Jabarkan dengan kata-kata, namun begitu anak mereka lahir, semuanya langsung menghilang begitu saja.


Sungguh, sebuah sakit yang membuat mereka ingin, menyerah tapi dorong dalam diri mereka, membuat setiap wanita yang pernah melewati saat-saat seperti ini dapat melewatinya dengan baik.

__ADS_1


Setelah berjuang melewati rasa sakitnya, akhirnya! Bayi dengan jenis kelamin pria itu terlahir dengan selamat tanpa kurang satu apapun.


Jangan ditanya seberapa bahagianya Riyadh saat menyaksikan proses kelahiran putra pertama, walaupun ia berulang kali, harus meneteskan air matanya saat melihat Icha menahan sakit dan dia tidak dapat melakukan apa-apa untuk membantu istrinya itu.


Namun semua itu tergantikan, dengan tangisan malaikat kecil mereka. " Terima kasih, sayang! Terima sudah mau berjuang untuk anak kita. Aku mencintai kamu. " Ucap Riyadh sembari mencium kening istrinya itu. Pria itu dapat melihat dengan jelas, wajah putra, saat dokter membungkus dengan selimut kemudian meletakkannya di atas Dada Icha. Sungguh, itu adalah pemandangan yang paling indah, yang pernah Riyadh lihat, melihat anak dan Istrinya baik-baik saja.


" Hai, sayang selama datang anak papa? Terima kasih sudah mau berjuang bersama mama." Ucap Riyadh kepada Malaikat kecilnya. Saat tangan mungil itu, menggenggam jari telunjuknya.


" Dia anak kita mas?" Ucap Icha, Riyadh pun mengangguk kepalanya.


" Iya sayang! Akhirnya kita bertemu dan melihatnya." Sahut Riyadh, sembari memeluk istri dan anaknya sekaligus.


\=\=\=\=\=\=\=\=


"Dia ganteng banget sayang, Sama seperti kamu." Ucap Megan sembari mentoel-toel dengan lembut hidung mancung cucunya itu.


"Siapa namanya?" Tanya Gemilang, pria paruh baya itu ikut melihat wajah sang cucu.


"Kalau boleh, aku ingin memberikan nama aku di belakang namanya? " Ucap Riyadh sembari melirik kepada Icha juga papanya.


"Tak masalah, itu hak kamu, mau dia pakai nama kamu atau nama papa di belakang namanya, tidak akan merubah apapun! Dia tetap cucu papa yang akan meneruskan perusahan papa, nantinya." Riyadh mengangguk membenarkan apa yang di ucapkan papa. " Siapa namanya?" Tanya gemilang lagi. Pria paruh baya itu sendiri tidak sabaran mendengar nama yang akan di berikan Riyadh kepada cucu laki-lakinya yang belum genap sehari itu.


" Namanya, Inder Radika Abraham. Suka nggak?" Ucapnya, sembari menanyakan pendapat Icha.


Wanita itu dengan cepat mengangguk kepalanya, karena Riyadh sengaja menyelipkan nama ayah, di awalan nama Anaknya, nama Inder. Itu adalah Nama Ayah Rifky, yang sengaja ia selipkan di tengah-tengah nama-nama anaknya. Berbeda dengan orang tua lain yang mengunakan nama mereka di belakang nama orang tuanya.


Icha Indrawati, Risti Indriyani dan Rehan Indrawan . Ketiga Awal nama mereka sama, sengaja di ambil dari nama Inder.


" Nama yang bagus, kita bisa memanggil nya Dika." Sahut Megan.


Hari ini mereka begitu bahagia dengan kelahiran Dika. Cucu yang sudah lama di nanti-nanti Megan dan gemilang untuk menemani masa tua mereka.

__ADS_1


__ADS_2