
Setelah hari itu, Riyadh tidak pernah mencoba lagi untuk meminta lebih dari Icha walaupun Amanda selalu mendesaknya hingga kesal. Namun Riyadh tetap tidak menghiraukan ucapan sahabatnya itu. Ia berusaha untuk membuat Icha tetap nyaman.
Walaupun di terpaksa harus puas dengan tidur memeluk istrinya tanpa bisa melakukan apa-apa, tapi bagi Riyadh itu sudah lebih baik untuknya. Bahkan untuk membuat dia tidak kelewatan lagi seperti malam itu, Riyadh sengaja pulang malam dan mendapati Icha tertidur di sofa karena menunggunya. Terkadang juga ia mendapati Icha belum tidur dan jika di tanya jawabnya ia sedang sibuk-sibuknya di kantor.
Pria itu tidak tahu jika apa yang dia lakukan justru membuat Icha semakin tertekan dan terus berpikir yang tidak-tidak
Apalagi sekarang Riyadh sering pulang malam dengan alasan pekerjaan. Membuatnya tidak dapat menyangkal pikiran-pikiran buruk itu. Dan saat Riyadh akan menginap di rumah orang tuanya, dia tidak pernah pulang lagi ke rumah seperti sebelum-sebelumnya pria itu hanya mengirim pesan, jika dia akan pulang ke rumah orang tuanya.
Perasaan wanita mana yang bisa tenang jika berada di posisi Icha, Hati wanita mana yang tidak akan sakit jika merasa di abaikan.
Walaupun dia sakit dan mungkin tidak bisa seperti wanita-wanita lain di luar sana tetap saja. Dia punya hati. Dia juga bisa marah, curiga, kecewa dan cemburu.
Bersyukurnya beberapa Minggu ini ia di sibukkan dengan mengajuan judul dan segala *****-bengeknya. Belum lagi pekerjaannya, sehingga Icha masih bisa mengalihkan semua itu dengan memikirkan kuliahnya dan pekerjaannya.
Tapi rasanya Icha sudah sampai pada batas kesabarannya ia tidak mau hanya duduk diam dan menunggu saja. Dia juga ingin terbebas dari semua ini. Untuk itu sudah ia putuskan untuk berbicara dengan Riyadh.
~Mas pulang jam berapa?~
Tanya Icha saat mengirim pesan kepada Riyadh. Tanpa menunggu lama pesan itupun dia balas oleh Riyadh.
~ Sepertinya malam ini aku akan pulang malam lagi sayang! Kerjaan aku masih banyak dan harus segera di selesaikan hari ini juga~
__ADS_1
Membaca pesan yang di kirim Riyadh, membuat hati Icha kembali sakit, seakan ada tangan tidak kasat yang mencubit tepat di ulu hatinya.
~ Bisakah mas pulang lebih cepat, ada yang ingin aku bicarakan.~
Icha kembali mengirim pesan lagi kepada suaminya itu kali ini memintanya untuk pulang lebih awal. Namun tidak seperti tadi, kali ini Riyadh sedikit lama, membalas pesan Icha. Membuat Icha semakin cemas di buatnya.
~Maaf sayang, aku janji besok aku akan mendengar kamu. Lagian besok-kan jadi kita memiliki waktu untuk berbicara seharian.~
Tanpa pikir panjang Icha langsung membalas.
~ Ya sudah aku ke kantor mas sekarang! Aku tungguin mas sampai selesai disana.~
Tak sampai satu menit Icha langsung mendapat balasan.
Dan benar saja, lima menit kurang dari waktu setengah jam yang di janjikan Riyadh, mobil pria itu sudah terparkir di depan rumah mereka.
Dari dalam mobil, Riyadh bisa melihat Icha sedang duduk menunggunya di teras rumah mereka." Sayang kenapa menunggu disini, kenapa tidak di dalam saja?" Tanya Riyadh. Sembari menghampiri istrinya itu.
Riyadh memberikan punggung tangannya untuk di cium Icha. Setelah itu giliran dia yang mencium punggung tangan dan telapak tangan Icha, Kebiasaan itu tidak pernah terlewatkan.
" Sayang kamu mau ngomong apa?" Tanya Riyadh, sembari melepas kancing lengan bajunya kemudian mengulangnya sampai ke siku. Pria itu mengikuti langkah istrinya masuk kedalam rumah sembari membawa tas kerjanya. " Sayang." Panggil Riyadh, karena Icha tidak kunjung menghentikan langkahnya, ia terus saja berjalan hingga masuk kedalam kamar mereka. Riyadh pun mau tidak mau, menyusul istrinya itu.
__ADS_1
Setibanya di dalam kamar, Icha meletakkan barang-barang suaminya ke tempatnya. Wanita itu tidak berbalik sedikit pun untuk menatap Riyadh. Karena jika dia melakukannya air mata yang sejak tadi ia tahan pasti akan menetes tanpa bisa ia cegah lagi.
" Icha." Panggil Riyadh, pria itu menarik lengan Icha dengan lembut, hingga tubuh Icha menabrak dada bidangnya. " Kenapa?" Tanya pria itu, sembari menatap jauh kedalam mata icha yang telah berkaca-kaca, sekali kedipan saja. Air matanya akan langsung menetes seketika itu juga.
" Harus aku yang tanya! Mas kenapa? Mas sadar nggak sih, mas itu Hindari aku." Ucapnya di ikuti cairan bening yang menetes membasahi kedua pipinya . " Aku bukan anak kecil, mas! aku juga tidak bodoh, aku tahu mas itu Hindari aku." Sambungnya sembari menunjuk-nunjuk dada bidang suaminya itu.
"Sayang, maaf aku tidak bermaksud untuk melakukan itu, aku pun tersiksa melakukan ini tapi aku bisa apa! Sekarang kesini aku semakin tidak bisa menahan diri untuk menyentuh kamu! Aku nggak mau egois, sayang aku nggak mau lihat kamu ketakutan seperti malam itu lagi." Jelas Riyadh. Pria itu tidak ingin istrinya sampai salah paham kepalanya. " Maaf, maaf sayang. Maaf karena sudah menyakiti kamu dengan sikap aku." Riyadh memeluk tubuh Icha dengan begitu erat, berulang kali iya mengutarakan kata maaf untuk istrinya itu.
"Jangan menghindari aku lagi, aku nggak suka, kalau mas mau kita bisa mencobanya lagi. " Icha terlihat begitu frustasi. Saking takutnya ditinggalkan Riyadh. " Ayo mas, kita bisa mencobanya sekarang Icha sudah siap kok. " Desaknya sembari mendongak keatas, menarik tengkuk Riyadh untuk menciumnya.
" Sayang. " Panggil Riyadh, Pria itu ingin mencegah Icha namun melihat istrinya yang begitu menggebu-gebu. Riyadh tidak sanggup untuk menyakitinya lagi.
Pria itu menahan Tengkuk Icha kemudian mencium bibir Istrinya itu dan sejauh ini semua berjalan baik-baik saja. Icha merespon ciumannya hingga keduanya saling membalas ciuman satu sama tanpa memutuskan pandangan mereka.
Merasa Tubuh Icha tidak menunjukkan respon reaksi seperti biasanya. Riyadh langsung membaringkan tubuh Icha di atas tempat tidur dan Saat Ciuman itu turun pada Tengkuk Icha, Wanita itu spontan menutup matanya, merasakan sensasi yang di berikan oleh Riyadh, bersamaan dengan bayangan kelam itu. Namun Icha berusaha untuk tidak berteriak namun, respon yang di tunjukkan tubuh-tubuh membuat Riyadh berhenti. Bagaimana tidak Icha sampai kejang.
Riyadh yang sudah berada pada mode siap bertempur harus sebisa mungkin memendam rasanya, untuk kebaikan sang itu. Membuatnya tenang hingga tubuhnya kembali rileks Seperti semula.
Dan begitu ia telah kembali tenang, Icha langsung menangis. " Mas ceraikan aku." Pinta Icha membuat Riyadh terkejut. Icha tidak mau egois lagi.
" Apa yang kamu katakan?"
__ADS_1
" Ceraikan aku." Pintanya, " Aku tidak akan bisa menjadi istri seutuhnya, aku nggak_" Icha tidak dapat meneruskan ucapannya dan Hanya bisa menangis.