
Setibanya mereka di rumah, Riyadh langsung mengambil kotak obat, air hangat dan handuk kecil untuk membersihkan luka Icha.
Sementara Icha sendiri langsung masuk ke dalam kamar untuk membersihkan dirinya serta berganti pakaian.
Begitu selesai, Icha langsung berbaring di ranjang tanpa mempedulikan lukanya. Hatinya terlalu sesak untuk mengurus lukanya sendiri. "Sayang jangan tidur dulu, luka kamu belum di obati." Ucap Riyadh. pria itu menghampiri Icha sembari membawa kotak obat untuk mengobati luka Icha.
Namun Icha justru menolak, dengan menyelimuti seluruh tubuhnya, sikapnya sungguh kekanakan-kanakan. Tapi Wanita mana yang bisa tahan jika melihat suaminya di sosor wanita lain dan lebih menyesakan dadanya suaminya itu tidak menolak, dia membiarkan wanita itu berbuat sesukanya.
Walaupun Icha tahu mereka telah bertunangan, tetap saja dia tidak terima dengan kemesraan mereka.
"Sayang, jangan gini dong! Kamu kalau mau marah, marah sama aku, marah aja aku terima, aku tahu aku salah, aku minta maaf sama kamu! Tapi jangan nyakitin diri kamu sendiri. Aku nggak suka." Ucap Riyadh.
" Ya udah kalau mas nggak suka, nggak usah repot-repot ngurusin aku, biarin aku sendiri. Cuma luka kecilkan, paling juga sembuh sendiri." Sahut Icha, tanpa menurunkan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
" Aku bukan nggak suka sama kamu! Aku tidak pernah merasa direpotkan sama sekali sayang, kamu itu istri aku! Tanggung jawab aku, sekecil apapun luka yang kamu punya, aku juga ikut sakit."
" Terus hati Icha juga sakit mas, mas tahu nggak sih! Mas enak-enakan sama wanita itu, nggak pedulikan Icha. Karena mas dan tunangan mas itu, Icha di gangguin, Icha sampai jatuh, tapi mas tetap nggak pedulikan."
" Sayang, maaf! Aku minta maaf, Tolong maafkan aku sayang, aku salah."Entah berapa kali Riyadh telah mengucapkan kata maaf hari ini.
Dan dia tidak akan pernah lelah untuk minta maaf sampai Icha mau memaafkan dirinya." Katakan aku harus apa? Agar kamu mau memaafkan aku, katakan sayang aku harus apa?" Mohon Riyadh, pria itu tidak pernah memohon sebelumnya kepada wanita manapun, baru Icha seorang yang membuat dia melakukan hal itu. " Apa aku harus mencari orang yang mmengganggu kamu dan membunuhnya atau kamu mau apa? Aku jauhi Nadine, aku akan menjauhinya, sayang. Aku akan menjauhinya untuk kamu." Sahut Riyadh penuh penekanan di setiap kata-katanya.
__ADS_1
" Aku lelah, aku mau tidur." Ucap Icha.
" Boleh, tapi setelah luka kamu di obati." Icha pun mengalah, ia menurunkan selimutnya, membiarkan Riyadh mengobati lukanya.
Pria itu dengan penuh kelembutan membersihkan luka Icha kemudian mengobatinya.
Begitu selesai Riyadh mengembalikan kotak obat ke tempatnya. Kemudian berganti pakaian, sebelum berbaring di samping istrinya itu dengan memeluknya.
...🥀🥀🥀🥀...
Keesokan paginya, Megan dan Nadine datang ke perusahaan Riyadh, sebelum Riyadh datang. Kedua wanita itu menemui sekertaris Riyadh.
Megan dan Nadine sengaja datang lebih awal sengaja ingin menemui wanita itu, wanita yang mereka tugaskan untuk menjadi mata-mata pribadi. Walaupun wanita itu enggan untuk melakukannya,tapi ancaman Megan membuatnya tidak bisa untuk menolak.
Pada akhirnya, ia pun setuju melakukan apa yang di suruh Megan. Dan sejak hari itu semua jadwal pertemuan Riyadh dengan klien wanitanya. Entah di perusahaan maupun di luar perusahaan di ketahui oleh Megan dan Nadine.
Wanita itu dan menantunya sudah seperti orang kurang kerjaan yang mengikuti Riyadh setiap kali ia memiliki pertemuan.
Dan perlahan namun pasti Riyadh mengetahui hal itu. Dari mobil yang selalu di gunakan Megan dan Nadine, saat membuntuti Riyadh.
Seperti sekarang ini, mobil Riyadh kembali di ikuti saat pria itu meninggalkan pelataran parkir perusahannya.
__ADS_1
Membuat dia yang sedang di buru waktu harus menghentikan laju mobilnya tepat di sebuah gang sempit, sengaja Agar orang yang mengikutinya itu tidak bisa menghindar lagi.
Riyadh keluar dari mobilnya, kemudian menghampiri mobil di belakangnya. " Keluar." Pintanya sambil mengetuk kaca jendela mobil itu.
Membuat Megan dan Nadine yang sudah terpojok pun terpaksa keluar dari dalam mobil dengan senyum tanpa dosa. Karena sudah menganggu waktu Riyadh, beberapa hari terakhir ini.
"Katakan, kenapa mama dan wanita itu selalu mengikuti Riyadh ma! Apa mama se-kurang kerjaan itu, sampai terus mengikuti Iyad, Ma." Tanya Riyadh, sembari menunjuk kepada Nadine. " Mama sadar nggak sih, semenjak wanita ini masuk di keluarga kita, mama jadi banyak berubah, mama yang dulunya, tidak pernah melakukan hal bodoh, jadi melakukan hal itu karena terpengaruh oleh wanita itu." Lanjutnya, Riyadh terlihat begitu marah tapi sebisa mungkin dia menahan ucapannya, agar tidak menyakiti hati mamanya.
" Riyadh jangan keterlaluan kamu! Dia itu istri kamu?" Bentak Megan, wanita itu tidak suka, Riyadh selalu memojokkan Nadine.
" Mama dan wanita itu, yang sudah keterlaluan! Kenapa kalian selalu mengikuti aku haah , kenapa?" Tanya Riyadh tak habis pikir.
" Itu semua karena salah kamu, siapa suruh kamu nggak pernah mau pulang ke rumah! Kamu juga nggak pernah ke apartemen lagi, mama dan Nadine beberapa kali ke sana tapi tidak pernah ketemu sama kamu! Katakan kamu tinggal di mana? Pasti wanita iblis itu yang menghasut kamu untuk menjauhi kita." Sahut Megan." Jadi Jangan salahkan mama atau Nadine, Jika kita terus mengikuti kamu. Mama dan Nadine akan berhenti mengikuti kamu, kalau kamu mau pulang tinggal di rumah." Lanjutnya, memberi ancaman.
" Oh, tentu saja! Riyadh pasti akan pulang ke rumah, jika menantu mama sudah siap untuk pulang tapi sebelum itu, wanita ini harus pergi dari rumah kita. Karena wanitaku tidak suka berbagi dengan wanita manapun." Lanjutnya, kemudian meninggalkan Megan dan Nadine yang terdiam dengan mulut yang sedikit terbuka. Ucap Riyadh barusan membuat mereka tidak dapat berpikir. Menantu, wanitanya. Sungguh dua kata itu, bagaikan tamparan untuk Nadine dan kejutan dahsyat untuk Megan.
Hingga bunyi mesin mobil Riyadh yang perlahan menjauh menyadarkan keduanya. " Mama, apa maksud mas Riyadh ma? Apa mas Riyadh akan menceraikan Nadine dan menikahi wanita itu. Bagaimana ini ma! Nadine nggak mau di ceraikan ma." Wanita itu mulai merengek kepada Megan.
"Sayang kamu tenang ya! Mama nggak akan membiarkan wanita itu mengantikan posisi kamu." Ucap Megan untuk meyakinkan menantunya itu.
" Tapi ma_"
__ADS_1
" Sudah kamu tenang, kita pikirkan dulu rencana untuk mengetahui siapa wanita itu." Ucap Megan. Sengaja memotong ucapan menantu pilihannya itu.