
Gemilang pun mengangguk kepalanya, sembari tersenyum bahagia. " Ya! Karena menurut kabar yang papa dapatkan dari Riyadh kalau istrinya saat ini sedang hamil." Air mata Mega langsung jatuh tanpa bisa wanita itu cegah, saat mengingat kejadian Hari itu, Saat itu dia tahu Icha pendarahan tapi kebodohannya menutupi mata mata hatinya." Mama kenapa menangis, kandungan Icha sudah baik-baik saja, Sekarang juga dia sudah pulang ke rumah orang tuanya." Jelas pria paruh baya itu berharap hal itu dapat mengurangi rasa bersalah istrinya.
Namun, bukannya merasa lega, tangisan Megan, justru semakin menjadi. Rasa bersalah serta kebodohan yang dia lakukan membuatnya tidak dapat menghentikan tangisnya begitu saja.
"Apa yang harus mama lakukan pah?" Tanya wanita itu di sela-sela tangisannya.
Membuat gemilang segera beranjak dari tempat duduknya, kemudian memeluk tubuh istrinya itu. "Mama cukup temui mereka, minta maaf-lah kepada mereka berdua, tidak ada salahnya jika mama yang meminta maaf, karena mama disini yang salah, mama juga harus belajar untuk menerima menantu kita, sebagai bagian dari keluarga ini, karena dia adalah pilihan Riyadh, anak kita. Sama seperti mama menerima putri kita di bawah pergi suaminya." Ujar pria pada bayah itu.
Disini bukan hanya Megan yang merasa bersalah, tapi gemilang juga. Andai sejak awal pria paruh bayah itu dapat bersikap adil kepada istrinya, mungkin hal ini tidak akan terjadi, namun semua sudah terjadi, berandai-andai pun tidak akan membuat waktu berputar kembali, yang harus mereka lakukan untuk saat ini memperbaiki semuanya.
" Mama akan menemui Riyadh, di kantor untuk meminta maaf." Ucap Megan pada akhirnya, karena sudah seharusnya wanita itu menemui putranya, untuk memperbaiki semuanya, jika dia hanya berdiam diri saja, bukan Kah hal itu hanya akan membuat masalah mereka semakin berlarut-larut.
Dan Megan tidak ingin hal itu terjadi sebab untuk saat ini yang dia punya hanya putranya, walaupun mereka juga masih memiliki seorang putri, tapi Putri mereka itu berada jauh dari mereka. dia juga wanita yang bergitu patuh kepada suaminya. Wanita itu tidak akan berkunjung jika tidak di temani oleh suaminya, sehingga mereka begitu jarang untuk datang, bahkan di pernikahan Riyadh dan Nadine kemarin saja, Dia tidak sempat untuk datang karena suaminya begitu sibuk dengan pekerjaannya.
Megan pun melepaskan pelukan suaminya, kemudian beranjak dari tempat duduknya. " Mau kemana?" Tanya gemilang.
" Mama mau ganti baju, terus ke kantor Iyad pa." Jawabnya.
" Mau papa temani?" Tanya lelaki paruh baya itu lagi.
Megan pun menjawab dengan gelengan kepalanya seraya berkata," nggak usah pah ini masalah Mama dengan Iyad dan istrinya, biar mama yang menyelesaikan ini semua sendiri." Ujarnya. " Papa nggak perlu ragu, karena untuk yang kali ini mama janji akan bersungguh-sungguh menerima Icha sebagai bagian dari keluarga ini. Dan mama benaran tulus ingin minta maaf sama mereka." Lanjutnya lagi.
__ADS_1
Membuat gemilang yang awalnya memandang ragu kepada istrinya itu, kini melengkungkan bibirnya membentuk sebuah senyuman, seraya mengangguk kepalanya.
Megan pun meneruskan langkah ke kamar mereka untuk berganti pakaian, meninggalkan gemilang sendiri di sana. Pria itu terlihat kembali menikmati teh nya yang sudah mulai dingin sembari memandang punggung sang istri yang perlahan menjauh sebelum menghilang di balik tembok pembatas rumah itu.
Gemilang awalnya ingin menghubungi Riyadh untuk menyampaikan kedatangan mama-nya tapi pria itu kembali mengurungkan niatnya, membiarkan istri dan putranya itu menyelesaikan masalah mereka.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Ting..
Bunyi pintu lift yang terbuka, membuat Megan dengan ragu melangkahkan kakinya keluar dari kotak berjalan itu.
Saat melewati meja sekertaris putranya, yang dia bayar untuk menjadi mata-mata mereka atas saran menantu pilihannya, meja itu masih kosong. Tidak ada siapapun yang menepati tempat itu. Tanpa bertanya, Megan tahu wanita itu pasti di pecat oleh putranya.
Bukannya menjawab pertanyaan Rizky, Megan justru bertanya tentang wanita yang berada di samping keponakannya itu. " Siapa Ky?"
Rizky terlihat gelagapan dan bingung harus memperkenalkan wanita sebagai apanya. " Sayang rekan bisnis pa Rizky Bu, kebetulan ada pekerjaan yang harus kami bahas tapi sudah selesai." Jawab wanita itu begitu sopan tanpa menyebutkan namanya, " Kalau begitu, saya izin pamit Bu! Permisi." Wanita itu pun melangkah kearah lift dan masuk kedalam kotak berjalan itu begitu pintu terbuka.
Meninggalkan Rizky dan Megan yang masih berdiri di tempatnya sembari menatap kepergian wanita itu dengan ekspresi yang berbeda.
" Tante, mari aku temani ke ruang Iyad." Ajak Rizky, begitu pintu lift itu tertutup dan sosok wanita itu telah menghilang dari pandangan mereka.
__ADS_1
" Kamu kembali berkerja aja Ky! Biar Tante yang menemui Riyadh sendiri." Tolak wanita itu dengan halus. Karena dia ingin menyelesaikan masalahnya dengan putranya tanpa bantuan orang lain, termasuk Rizky keponakannya sendiri.
" Tante yakin?" Tanya Rizky, pria itu terlihat mengawatirkan dirinya.
Namun Megan hanya tersenyum, seraya meyakinkan keponakannya itu. " Kamu tidak perlu khawatir, Riyadh masih anak Tante dan kedatangan Tante ini bukan untuk membuat masalah dengannya Tante hanya ingin memperbaiki masalah, dia antara kita." Jelasnya.
Sama seperti Gemilang, Rizky pun terlihat ragu namun pada akhirnya ia membiarkan Megan untuk menemui Riyadh. Karena bagaimanapun mereka tetap ibu dan anak, se-marah apapun mereka kepada satu sama lain tidak mungkin saling menyakiti bukan.
"Baiklah." Ucap Rizky, pria itu mengetuk pintu ruang kerja Riyadh, setelah mendapatkan izin untuk masuk, Rizky pun membukakan pintu untuk Megan, setelah itu meninggalkan mereka dan menutup pintu itu kembali begitu Megan telah berada di dalam ruangan kerja Riyadh.
"Mama." Ucap Riyadh, pria itu sedikit terkejut dengan kehadiran sang mama.
" Mama ganggu kamu ya?" Tanya Megan, tanpa di persilahkan, wanita itu menarik kursi di hadapan putranya itu, kemudian mendaratkan bokongnya di sana.
" Nggak, ada apa mama?" Ucap Riyadh dengan begitu dinginnya, pria itu tidak membenci mamanya, lebih tepatnya tidak bisa membenci wanita yang telah bertarung nyawa untuk melahirkannya ke dunia ini, tapi tidak menutup kemungkinan dia juga kecewa dengan sikap mamanya, itu manusia bukan, karena Riyadh hanya manusia bisa.
" Maaf jika kehadiran mama sudah menganggu waktu kamu! Tapi mama datang kesini, karena ingin minta maaf dengan kamu juga menantu mama." Ucapnya dengan kepala yang menunduk, karena ia begitu malu menyebut Icha sebagai menantunya setelah apa yang dia lakukan kepada wanita itu.
Megan sadar apa yang dia dan Nadine lakukan itu, sudah sangat keterlaluan dan sulit untuk di maafkan, tapi tidak ada salah-nyakan jika dia ingin memperbaiki hubungannya dengan anak dan menantunya. Apalagi saat ini, menantu yang tidak pernah ia anggap itu sedang mengandung calon cucunya.
" Apa Iyad nggak salah dengar ma! Bukannya menantu Mama itu hanya Nadine ya." Sahut Riyadh, pria itu sengaja menyindir sang mama.
__ADS_1
" Maaf sayang, mama minta maaf! Mama salah." Ucap wanita paruh baya itu, mulai menitihkan air matanya, karena ucapan Riyadh membuatnya semakin merasa bersalah.