
Nadia kini duduk di ranjang bersama Mimi, wanita itu menceritakan pertemuannya dengan Riyadh beberapa saat yang lalu kepada Mimi.
Mimi yang mendengar cerita Nadia, tentu saja ikut Terkejut. Entah apa yang membuat mereka terkejut dan tidak yakin dengan pernyataan Riyadh, alasannya hanya mereka yang tahu." Kenapa pak Riyadh ingin mengenal Icha." Tanya Mimi. Nadia hanya menaikkan bahunya, karena dia sendiri pun tidak tahu alasannya. " Bukannya wanita yang tadi siang itu calon istrinya." Lanjutnya lagi, mengutarakan rasa penasarannya kepada Nadia.
" Tahu dari mana kamu."Tanya Nadia, wanita itu tadi tidak begitu memperhatikan Nadine dan mama nya Riyadh, berbeda dengan Mimi yang sedikit kepo-an.
" Bukannya tadi siang wanita itu bilang Sendiri, kalau dia anak pemegang saham sekaligus calon istri dari pemilik perusahaan! Siapa lagi pemilik perusahaan kalau bukan pak Riyadh, lagian ibunya juga datang bersama wanita itu."Jelas Mimi.
" Ntahlah aku juga tidak tahu! Kita berdoa saja, semoga pak Riyadh tidak mempunyai maksud buruk untuk Icha."Sahut Nadia, wanita itu masih mencoba berpikir positif.
" Iya aku harap juga begitu."
" Apa sebaiknya kita kasih tahu Ayah saja."Usul Nadia, setelah beberapa saat wanita itu terdiam.
" Iya, Nad! sebaiknya kita kasih tahu Ayah. Biar ayah yang mengurus pak Riyadh."Mimi pun setuju dengan usulan sahabatnya itu.
" Baiklah aku akan menghubungi ayah sekarang." Nadia kemudian mengambil ponsel yang sedang ia cas, setelah itu mengotak-atik ponselnya mencari nomor telpon ayah Icha! begitu mendapatkan apa yang ia cari Nadia langsung menekan ikon berwarna hijau.
Tut... tut.. Tut...
Tak butuh waktu lama panggilan pun di jawab." Hallo." Suara seorang wanita menyahuti, panggilan Nadia.
" Ka Ista" Ucap Nadia begitu mendengar suara yang begitu Familiar di telinganya.
" Iya ini kak Ista Nad! ada apa tumben malam-malam gini kamu telpon ayah."
" Nggak papa kak! hehehe." Ucap Nadia cengengesan tidak jelas, Ia sedikit ragu untuk bercerita dengan Rista kakak dari sahabatnya itu.
" Ada apa cerita saja! jangan sungkan, lagian tidak mungkin kamu menelpon Ayah malam-malam gini hanya untuk sekedar say hello, say goodbye ajakan." Ucap Rista, tetapi Nadia masih menimbang-nimbang untuk bercerita atau tidak.
" Nad ada apa." Tanya Rista lagi, wanita itu sedikit mendesak.
" Hmmm." Nadia terdengar menarik Nafasnya panjang, sebelum memutuskan untuk bercerita, " Begini kak..." Ucap Nadia mulai menjelaskan semuanya kepada Ista. Ista yang mengerti hanya mengangguk Kepala walaupun Nadia tidak dapat melihatnya.
" Nanti kak itsa bicara dulu sama ayah! setelah itu kakak kabarin kamu ya! kakak minta tolong jaga Icha disaat ayah atau kakak tidak bersamanya."
__ADS_1
" Pasti kak, tanpa kakak minta pun aku akan melakukannya, Icha bukan hanya sahabat ku! ia sudah sudah seperti saudara bagiku, jadi kakak dan ayah tidak perlu Khawatir." Ucap Nadia begitu, meyakinkan Rista di seberang sana.
" Makasih ya Nad, sampaikan makasih juga buat Mimi."
" Iya kak! sama-sama." Panggilan itu pun berakhir.
......🥀🥀🥀🥀......
Esoknya usai meeting, Nadia meminta Mimi dan Icha pulang lebih dulu, ia beralasan jika dia ada masalah yang harus di bahas dengan Riyadh. Mimi dan Icha pun pulang tanpa mempersoalkannya, Kemana Nadia pergi dan Keduanya memutuskan untuk pulang ke rumah Icha.
Sedangkan Nadia bersama dengan Riyadh menemui, kak Ista di rumah sakit! Sesuai permintaan kak Ista di telpon pagi tadi, ya sebelum berangkat meeting Ista menghubungi Nadia untuk menemuinya dan ayah, Ista juga berpesan agar Nadia mengajak Riyadh bersamanya.
Setelah menempuh perjalanan empat puluh menit, Akhirnya mereka tiba di rumah sakit, sebenarnya Nadia bingung kenapa Ista mengajaknya bertemu di rumah sakit. tetapi ia menyimpan rasa penasarannya itu, toh sebentar lagi dia juga akan tahu alasannya.
" Sepertinya, ini ruangannya." Ucap Nadia tepat di salah satu ruangan yang bertuliskan Kelas 1.
" Kamu yakin." Sahut Riyadh.
" Sesuai pesan yang dikirimkan, Kak Ista pak."
" Maaf pak lupa! Ayok Mas." Riyadh mengangguk, Sementara Nadia mengulurkan tangannya untuk membuka pintu ruangan rawat ayah Icha.
Dan Nadia sedikit terkejut ketika mendapati ayah sahabatnya itu dirawat, Rasa penasarannya akhirnya terjawab sudah.
" Ayah sakit apa? kenapa nggak kasih tahu Nadia dan Mimi?" Tanya Nadia sambil mencium punggung tangan lelaki paruh baya yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
" Ayah sudah tidak apa-apa ko nak! kamu nggak usah khawatir gitu."
" Iya, NAD! lagian bukan hanya kamu dan mimi aja, yang kakak Nggak kasih tahu, Icha juga." Sahut Rista sambil membulak balik majalah di tangannya.
" Pantas Icha nggak pernah cerita kalau ayah sakit."
" Eehhmmm." Suara Barito milik Riyadh Membuat ketiga orang yang ada di ruangan itu langsung menoleh kepadanya.
Membuat Nadia langsung menepuk jidatnya Sendiri, Saking asyiknya bercerita dia sampai melupakan tujuannya datang kesini bersama Riyadh.
__ADS_1
" Aku lupa, ini kak orang yang aku ceritakan ke kakak itu loh." Ucap Nadia Sambil menunjuk Riyadh.
" Selamat siang pak! Kita berjumpa lagi." seru Riyadh kepada ayah Rifky sambil sedikit nunduk hormat.
" Loh, emangnya pak Riyadh kenal sama ayah?" Tanya Nadia di angguki keduanya. Riyadh menghampiri Rista berjabat tangan dengannya.
" Ada hal apa yang membawa orang sesibuk anda untuk menemui kami." Rista Kembali bertanya padahal dia sendiri tahu alasan kedatangan Riyadh.
" Ini kak! Pak Riyadh ini adalah orang yang semalam aku ceritain itu loh kak." Jelas Nadia Sebelum Riyadh membuka suaranya.
" Oh dia."
"Kenapa." Tanya Ayah Rifky.
Nadia memberi isyarat kepada Riyadh dan Nadia melalui tatapannya, " Biar aku saja yang menjelaskan." Begitulah kira kira.
Ia berjalan menghampiri ranjang sang ayah, duduk tepat di samping lelaki paruh baya itu, tangannya menyusup diantara jari-jemari ayahnya, membawa tangan ayah Rifky pada sebelah pipi kanannya.
" Yah dia datang kesini, karena ingin mengenal Icha, dia sengaja ingin bertemu dengan ayah untuk meminta izin sama ayah." Ucap Rista dengan hati-hati agar sakit jantung yang di derita ayahnya tidak kumat lagi.
" Untuk Apa." Tanya Ayah Rifky, membuat Ketiganya bingung . " Untuk apa! kamu ingin mengenal putri ku?" Lanjutnya.
Pertanyaan yang begitu sederhana tetapi mampu membuat seorang Riyadh terdiam! bukan tanpa sebab Riyadh diam. Karena sesungguhnya ia sediri pun tidak tahu jawaban dari pertanyaan itu.
Riyadh berada di ruangan ini karena sebuah dorongan aneh dari dalam dirinya untuk mengetahui seperti apa sosok Icha itu.
" Apa kamu mencintai putri ku." Suara lelaki paruh baya itu, menyadarkan ia dari lamunannya. Beberapa detik berikutnya Riyadh mengangguk kepalanya, entah sadar atau tidak, padahal dia sendiri tidak tahu perasaan apa yang dia rasakan untuk Icha, benar cinta kah atau hanya sekedar rasa penasaran semata.
" Apa buktinya kalau kamu mencintai Putriku?"
" Apa yang bapak inginkan akan saya lakukan untuk membuktikan kesungguhan saya." Sebenarnya Riyadh sendiri ragu mengatakan hal itu, tetapi untuk mundur atau meluruskan nya ia tidak bisa, lidahnya terlalu berat hanya untuk mengatakan jika ia hanya penasaran dengan wanita yang bernama Icha itu.
" Jangan terlalu yakin, jika kamu tidak tahu seperti apa Putriku! aku takut kamu akan menyesal bila mengetahui bahwa Icha bukanlah seorang gadis walaupun di berstatus gadis."
Riyadh begitu kaget mendengar ucapan ayah Rifky, pikiran yang tidak-tidak tentang Icha mulai memenuhi Kepalanya.
__ADS_1
" Buang pikiran buruk mu tentang putriku! karena apa yang ada di pikiranmu itu salah besar." Ucap Ayah Rifky lagi, seolah pria paruh baya itu tahu apa yang sedang di pikirkan pemuda yang berdiri di hadapannya itu. " Kalian keluarlah ayah ingin berbicara berdua dengannya." Pintanya kepada Nadia dan Rista, kedua wanita itu pun keluar, memberikan waktu untuk ayah Rifky dan Riyadh berbicara, seperti yang di inginkan ayahnya.