
"Aku tahu kak, aku pasti akan menemui dia! Tapi tidak untuk sekarang, karena aku sendiri masih ragu dengan keputusanku." Ucap Riyadh dengan sejujurnya.
Hatinya terlalu sayang untuk melepaskan Icha, karena seorang Riyadh, tidak mudah membuka hati untuk seorang wanita dan tidak mudah juga untuk melepaskannya! Terkecuali keadaan yang mengharuskan.
Pria itu begitu tulus mencintai dan setia hanya untuk satu wanita, tapi dia juga bukan pria yang mudah memberi maaf. Jika sekali kamu berkhianat tidak ada kesempatan kedua, se-cinta apa pria itu kepada wanitanya.
Dia bisa mentolerir kesalahan apapun tapi tidak dengan pengkhianatan , itulah alasannya mengapa beberapa wanita yang pernah dekat dengannya tidak ada yang bertahan sampai menjadi istrinya, mungkin karena Riyadh yang terlalu posesif atau para wanita-wanita yang pernah bersamanya, terlalu liar untuk berada disisinya. Kalau di bilang alim dia jauh dari kata itu, sebab ada beberapa kali ia pernah bersenang-senang dengan wanita-wanitanya dulu.
Namun Riyadh bukan penikmat jala-ng. Itulah mengapa ia mampu bertahan selama ini, walaupun dia beberapa kali harus bersolo karir karena penampilan Icha saat di rumah mulai membuatnya sakit kepala.
Harap jangan salah menilai Icha-nya, karena istrinya itu tidak memiliki satupun baju dinas istri. Satu-satu hal yang membuat Riyadh pusing adalah daster istrinya. Dulu masih di bawah lutut, tapi makin kesini makin kurang panjangnya.
"Kakak, tapi jangan lama-lama! Kakak sudah kehabisan kata untuk menjawab pertanyaan, setiap kali dia mencari kamu." Sahut Rista, Riyadh pun hanya tersenyum sembari mengangguk kepalanya. " Itu saja yang ingin kakak sampaikan kepada kamu? Kakak pulang dulu, takutnya Icha mencari kakak." Pamit Rista.
Wanita itu pun beranjak dari tempat duduknya di ikuti oleh Riyadh. " Secepatnya aku akan menemuinya. Aku titip dia." Ucap Riyadh saat mengantar Rista sampai depan pintu lift.
" Pasti, tanpa kamu minta pun Kakak tetap akan menjaganya." Riyadh mengangguk, setelah itu Rista pun masuk kedalam lift khusus itu, begitu pintunya terbuka dan saat pintu lift itu kembali tertutup Riyadh langsung kembali ke ruangannya, memikirkan ucapan Rista dan kepuasannya nanti.
Disisi lain, Rista yang telah sampai di lobby perusahaan adik iparnya itu, Rista tidak sengaja mendengar dua orang wanita yang ingin menemui Adik iparnya.
Mereka saat ini sedang bertanya pada resepsionis. Rista yang penasaran langsung menengok kebelakang untuk mengenali wanita-wanita itu.
Bibir Rista sedikit melengkung saat mengenali salah satu di antara kedua wanita itu. " Dokter Amanda." Panggil Rista.
" Hai, kakaknya Icha ya." Rista pun mengangguk. " Habis ketemu Riyadh juga." Lagi-lagi, Rista hanya menjawab dengan mengangguk kepalanya saja.
__ADS_1
" Kamu mau ketemu Riyadh juga?" Tanya Rista.
" Iya, ada yang harus aku bicarakan tentang metode penyembuhan Dia, bersama Riyadh nanti."
" Maaf mbak Amanda sudah di tungguin sama pak Riyadh di ruangannya. " Ucap resepsionis, begitu selesai mengabari Riyadh akan kehadiran kedua wanita itu.
" ENAK AJA NGGAK BISA GITU DONG AKU YANG DULUAN DATANG, KAMU NGGAK TAHU SIAPA AKU HAAAH."
" Maaf Bu Nadine! Tapi pak Riyadh tidak ing_"
" KAMU_"
" Sudah-sudah, biarkan dia yang menemui menemui pak Riyadh lebih dulu, saya masih ingin berbicara dengan mbak Ista.
Setelah mengatakan hal itu, Amanda langsung menarik tangan Rista untuk duduk di lobby sambil bercerita.
Memangnya mereka bisa apa? Tidak ada yang bisa menegurnya di sini karena dia adalah istri dari Riyadh.
" Sial, sombong sekali mereka." Umpat Nadine, wanita itu kini berada dalam lift.
Dan begitu lift itu terbuka Nadine langsung keluar dari sana, melangkah dengan anggun menuju ruangan suaminya! Tidak peduli berapa banyak penolakan pria itu dia tetap akan terus menempel kepadanya seperti lintah.
"Huuuffhh, Ayo Nadine dia suami kamu, tidak apa jika terlihat murahan di hadapan suami kamu. Ingat kamu hanya perlu sekali dan semua beres. " Ucap wanita itu dalam hatinya, saat ia berada di depan pintu ruang kerja Riyadh.
Setelah itu dia langsung melangkah masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Membuat Riyadh yang sedang sibuk dengan tumpukan pekerjaan di dalam sana, mengangkat wajahnya. Senyum yang tadinya akan dia persembahan untuk sahabatnya langsung hilang seketika saat menyadari siapa yang masuk ke ruangannya.
__ADS_1
"Siapa yang memberimu izin untuk datang ke perusahaan ini, kamu pikir kamu siapa seenaknya masuk ke dalam. Ruangan kerja ku." Ucap Riyadh dengan begitu dinginnya dengan wajah yang tidak bersahabat sama sekali.
"Aku adalah istrimu tentu saja aku berhak datang ke tempat ini kapanpun aku mau." Jawab Nadine tidak kalah angkuhnya. " Kamu memberi akses kepada wanita lain untuk datang, kenapa kepada istrimu kamu membatasinya." Sambung Nadine lagi, wanita itu terlihat sungguh berani. Disaat pria di hadapannya itu hanya diam dan membiarkan dia berbicara.
Tidak hanya lancang dalam berbicara wanita itu juga dengan lancang menyingkirkan tumpukan pekerjaan Riyadh kemudian duduk di atas meja kerja pria yang berstatus suaminya itu.
Bermaksud ingin mengangkang dan membuat pria itu tergoda.
Sayangnya, bukannya tergoda Riyadh justru beranjak dari tempat duduknya, kemudian menarik lengan Nadine, menyeret wanita itu keluar dari ruangannya. Tanpa banyak bicara.
" Aaekkhh." Jerit Nadine, saat Riyadh mendorongnya begitu saja hingga terjatuh tepat di hadapan Amanda. Wanita itu telah selesai berbicara dengan Rista.
Dia bermaksud menunggu Nadine sambil bercerita dengan sekertaris Riyadh untuk mengetahui siapa wanita itu. Karena dari gayanya sangat arogan sekali, seakan dia pemilik perusahaan saja. Dengan seenaknya membentak karyawan dan bertingkah seperti nyonya dan kenyataannya wanita itu adalah istri Riyadh, yang lain.
"Panggil security dan usir dia dari sini." Titah Riyadh kepada sekretarisnya. Setelah memberi perintah kepada sekretarisnya, Riyadh langsung masuk kembali kedalam ruangannya sembari menutup pintu ruang kerjanya dengan begitu kuat, sakit kuatnya. Membuat sekretaris Riyadh dan Nadine terkejut.
Sementara Amanda yang melihat itu semua, tersenyum mengejek. Seraya mengusap dadanya. Karena dia sendiri pun sama terkejutnya dengan kedua wanita itu," Hmmm, Wanita ini sepertinya tidak mengenal suaminya dengan baik hingga dia bisa di usir seperti ini." Gumam Amanda dalam hatinya, sembari berjalan melewati Nadine.
" Wow, hebat sekali kamu? Punya dua istri, dia yang pertama atau Icha." Ucap Amanda saat berada di ruang kerja sahabatnya itu.
"Jangan membuat mood aku semakin buruk dengan membahas wanita itu. Dan Icha adalah satu-satunya." Sahut Riyadh, namun tidak di hiraukan oleh Amanda, wanita itu sengaja bertanya lagi.
"Icha tau?"
Riyadh menggeleng kepalanya." Jangan sampai dia tahu, kalau pun dia harus tahu, itu hanya boleh dari aku." Amanda hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
Melihat wajah tak bersahabat Riyadh, Amanda memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan mereka.