Aku Bukan Pilihan.

Aku Bukan Pilihan.
Sefrustasi itu.


__ADS_3

Pagi itu selesai mandi dan berganti pakaian, Riyadh dan Icha memutuskan untuk sarapan di luar. Setelah selesai sarapan keduanya berziarah ke makam ayah Rifky.


Rutinitas bulan yang tidak pernah mereka lewatkan. Dan sudah tercantum dalam agenda Masing-masing.


Cukup lama Riyadh dan Icha berbicara di gundukan tanah itu, hingga terik matahari membuat keduanya sepakat untuk mengakhiri ziarah mereka hari ini.


"Setelah ini kita mau kemana?" Tanya Riyadh dengan sesekali melirik kepada Icha, sebab ia tetap harus fokus untuk menyetir.


"Kita langsung pulang aja." Jawab Icha.


Entah kenapa hari ini ia merasa lemas dan tidak berminat untuk melakukan apa-apa. "Sayang," panggil Riyadh selembut mungkin. Namun Icha tidak meresponnya, wanita itu hanya menatap lurus ke depan. " Gini aja! Gimana kalau kita makan terlebih dulu." Ucap Riyadh lagi.


" Nggak mas, aku masih kenyang aku mau pulang aja."Icha tetap pada pendiriannya.


Riyadh pun tidak memaksa, pria itu dengan sabar mencari jalan memutar untuk pulang ke rumah mereka.


Satu jam berkendara, akhirnya mobil itu terparkir di depan rumah mereka, Icha pun segera melepas sabuk pengaman yang ia gunakan, tanpa menunggu Riyadh membukakan pintu Icha langsung keluar dari dalam begitu saja dan berjalan masuk kedalam rumah.


Riyadh yang melihat hal itu hanya bisa mendesah pasrah. Jika Icha sudah seperti ini, mau tak mau Riyadh pun harus memberikan dia waktu sendiri.


...🥀🥀🥀🥀...


Malam harinya Icha tidak kunjung keluar dari kamar, wanita itu sejak pulang dari makam ayahnya, langsung mengurung diri di kamar tamu.

__ADS_1


Riyadh pun tidak mengusik istrinya itu, karena dia pikir, Icha masih terbawa masalah semalam. Andai Icha tahu, Riyadh sendiri juga tersiksa dengan situasi ini, dia juga ingin menyalurkan kebutuhannya dengan baik tapi selalu ia tahan demi kesembuhan Icha.


Seandainya posisi Riyadh berada pada orang lain, belum tentu mereka akan sanggup menahan selama ini. Hampir setahun loh mereka menikah! Tidur seranjang dengan tubuh yang saling bersentuhan tapi Riyadh tidak dapat melakukan apa. Jika kepalang tanggung dia akan berakhir dengan bersolo karir dan itu terjadi bukan hanya sekali dua kali.


Karena jika Riyadh mau bersikap egois, dia bisa membayar wanita mana saja! Untuk menyalurkan hasratnya tapi semua itu tidak dia lakukan karena rasa sayangnya kepada Icha. Dia tulus menjaga perasaan istrinya. Bahkan pesona seorang Nadine yang begitu seksi saja tidak dapat meruntuhkan ketulusannya untuk Icha.


Jika di pikir-pikir, Nadine juga punya hak tapi karena dia juga istri Iyad, tapi yang Iyad pikirkan hanya tentang Icha, Icha dan Icha saja.


Tok... Tok... Tok...


Riyadh mengetuk pintu kamar tamu, karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam namun Icha juga belum keluar kamar. Ia juga belum makan siang, membuat Riyadh cemas. " Sayang buka dong pintunya." Pinta Riyadh namun tidak ada suara sahutan dari dalam kamar itu.


Membuat Riyadh khawatir, apalagi sejak tadi hatinya tidak tenang." Sayang buka pintunya atau aku dobrak pintu ini. " Ancam Riyadh lagi namun. Lima menit menunggu belum ada sahut ataupun tanda-tanda pintu akan di buka, hingga Riyadh memutuskan untuk mendobrak pintu itu.


Dalam satu kali tendangan pintu itu langsung terlepas dari kusennya. " Icha." Teriak Riyadh begitu panik, saat melihat tubuh Icha yang terbaring tak berdaya di atas ranjang dengan busa yang keluar dari mulutnya.


Riyadh dengan panik langsung mengangkat tubuh istrinya itu kemudian membawanya ke rumah sakit. Riyadh juga sempat melihat botol obat yang dulu sering Icha minum tergeletak kosong di samping tubuh Icha.


Pria itu tidak tahu sejak kapan Icha kembali menkonsumsi obat-obat itu. Karena sejak di tangani oleh dokter Amanda. Semua obat-obat itu telah dia buang dan di ganti dengan obat pemberian Amanda, itu tidak sering seperti obat diminumnya.


Mobil Riyadh melaju dengan kecepatan tinggi, menyelip laju mobil di depannya iya tidak peduli akan keselamatan nyawanya. Bahkan suara sirine polisi di belakang sana yang mengejarnya tidak Riyadh Hiraukan.


Mobilnya baru berhenti di depan ruang UGD. Bahkan polisi yang Sempat mengejarnya ikut membantu Riyadh mengangkat tubuh Icha, keatas berangkar rumah sakit. Begitu mengetahui alasan pria itu sampai ugal-ugalan di jalan raya sampai tidak menghiraukan keselamatannya.

__ADS_1


" Maaf bapak tidak bisa masuk kedalam. Biarkan dokter yang menanganinya." Ucap seorang perawat, mencegah Riyadh yang hendak masuk kedalam ruangan itu.


" Sus tolong selamatkan istri Saya." Mohon Riyadh.


" Baik pak, dokter pasti akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan istri anda." Sahut sang Perawat dan pintu itu pun tertutup.


" Selamat malam pak." Belum selesai masalah satu, masalah lainnya muncul. Dua orang polisi yang sempat mengejar Riyadh dan membantu pria itu mengangkat tubuh Icha kini menghampirinya.


Sebab malam itu Riyadh telah melakukan pelanggaran yang berlapis-lapis. Selain ugal-ugalan di jalan dan membahayakan keselamatan pengguna jalan lain, ia juga menerobos lampu merah.


Dan Riyadh menyadari itu semua. " Saya siap menerima sangsi atas apa yang saya lakukan Pak, tapi saya mohon untuk saat ini, biar saya memastikan jika istri saya baik-baik saja. Ini kartu nama saya." Ucap Riyadh, sembari mengeluarkan kartu nama dari dompetnya dan memberikan kepada dua orang polisi itu.


Melihat nama Riyadh, kedua orang polisi itu langsung pamit pergi. Melihat kedua orang polisi itu telah pergi, Riyadh langsung menghubungi Rizky, meminta sepupunya itu untuk menghubungi pengacara pribadinya dan segera mengurus masalah yang baru saja terjadi.


Dia juga meminta Rizky untuk menyusulnya ke rumah sakit. Rizky yang bingung dengan apa yang terjadi kepada sepupu sekaligus atasannya itu. Langsung mengiyakan saja, Tanpa banyak bertanya.


Setelah menghubungi Rizky, Riyadh terus berjalan kesana-kemari di depan pintu ruangan UGD itu, berharap segera mendapatkan kabar baik dari dalam sana.


" Cha, kenapa kamu melakukan ini, bukankah kita terlihat baik-baik saja." Gumam Riyadh, pria itu tidak mengira Icha akan melakukan hal senekat ini.


Karena Riyadh tahu, Icha pasti sengaja meminum obat itu dalam jumlah yang banyak. Apa sefrustasi itu dia dengan hubungan mereka. " Sayang kamu harus sembuh, aku tidak akan memaafkan diri aku sendiri jika terjadi sesuatu kepada kamu." Ucap Riyadh lagi. Seakan ucapannya dapat di dengar oleh Riyadh di dalam sana.


Hampir satu jam dia menunggu tapi tidak ada satu orang dokter pun yang keluar untuk memberinya penjelasan untuk kondisi Icha, mereka tidak tahukah jika di luar sana, Riyadh sudah hampir mati kecemasan.

__ADS_1


Hingga pria itu teringat akan Amanda, dia belum mengabari sahabatnya itu. Riyadh pun memutuskan untuk segera menghubungi Amanda. Karena dia yakin kehadiran Amanda akan sangat membantu Icha nantinya.


__ADS_2