Aku Bukan Pilihan.

Aku Bukan Pilihan.
Dimana mereka?


__ADS_3

Jam sembilan kurang lima belas menit, Icha dan nadia tiba di perusahaan suaminya itu. Icha sengaja datang lebih awal agar tidak terlambat.


Walaupun sang suami adalah pimpinan perusahaan ini, tetap saja, ia sebagai rekan kerja yang baik harus profesional.


" Selamat pagi Mbak kami dari..." Sapa Icha kepada resepsionis yang bertugas sekaligus mengatakan tujuan kedatangannya ke perusahaan itu.


Resepsionis yang sama yang pernah menyambut Icha satu tahu yang lalu, menatap tak percaya kepada-nya, seakan ada sesuatu yang berbeda hingga membuat wanita itu kehilangan fokus.


Bagaimana tidak, satu tahun yang lalu Icha seperti orang hilang ingatan, tatapannya kosong dan wanita itu terlihat begitu gugup saat menyampaikan tujuan kedatangannya. Sungguh sangat berbeda dengan wanita yang berdiri di hadapannya saat. Hanya saja wajahnya masih sama dengan rambut yang sedikit lebih panjang, wajah wanita itu nampak lebih segar tatapannya juga terlihat hidup dan tegas saat menatap lawan bicaranya.


"Mbak." Ucap Icha lagi sembari melambaikan tangannya di hadapan sang resepsionis, membuatnya tersadar.


"Ohh, maaf saya akan mengkonfirmasi kedatangan mbak terlebih dulu, dengan mbak Icha kan?." Tanya Sang resepsionis, langsung meminta maaf sekaligus mengkonfirmasi ulang nama Icha, takut ia salah dan membuatnya kena teguran.


Wanita itu kemudian meraih ganggang telpon untuk menghubungi sekertaris Riyadh, tak lama setelah itu, sang resepsionis mengantar Icha dan nadia keruangan meeting, walaupun Nadia sudah sering berkunjung ke perusahaan itu tapi tetap, mengantar klien adalah sebuah formalitas yang tidak pernah meraka lewatkan.


Icha, Nadia dan sang resepsionis itu, berdiri di depan lift menuju angka yang tertera di atas lift itu berhitung mundur, sebelum berakhir di angka satu dan pintu lift itupun terbuka.


Meraka pun melangkah masuk kedalam lift itu, lift itupun membawa mereka menuju lantai yang dituju.

__ADS_1


Dan begitu mereka, tiba di lantai yang di yang di tuju. Icha di buat terkejut saat pintu lift itu terbuka, bagaimana tidak, Riyadh sudah menunggu kedatangannya.


"Selamat pagi, pak." Ucap Nadia sedikit menunduk. Icha pun ingin melakukan hal yang sama tapi di cegat oleh oleh Riyadh, sementara Resepsionis yang mengantar mereka telah turun kembali mengunakan lift yang mereka gunakan barusan.


Silahkan kita sudah di tunggu ruang meeting. " Nadia mengangguk kemudian melangkah lebih dulu ke ruangan meeting, sementara Riyadh, mencari kesempatan dengan melingkarkan tangannya pada pinggang Icha. Keduanya melangkah bersama. Dan setibanya mereka di depan ruang meeting itu. Riyadh langsung melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Icha, karena meeting ini tidak hanya ada dia, Rizky dan sekretaris Riyadh. Ada beberapa rekan petinggi perusahaan lainnya yang ikut serta. Itulah sebabnya, Riyadh harus menjaga sikap dan tidak ingin membuat orang lain menilai buruk istrinya.


Begitu, Icha, Nadia dan Riyadh duduk di tempat mereka Masing-masing. Meeting itu pun di mulai.


Tidak seperti seperti pertama kalinya, wanita itu itu datang untuk menjelaskan hasil desain. Kali ini dia menjelaskan semua desain serta hasil yang mereka dapat dalam kerja sama ini dengan begitu yakin, ia berani menatap lawan bicaranya.


Melihat hal itu Riyadh menyunggingkan senyum samar! Pria itu begitu bahagia setelah kesabaran dan usaha dia dan Amanda selama ini. Membuahkan hasil, Icha tidak takut-takut atau gugup saat berada di antara banyak orang baru seperti sekarang ini.


Setelah berjabat tangan dengan Riyadh, Icha dan nadia juga berjabat tangan dengan petinggi perusahaan lain, sebelum mereka melangkah keluar ruang itu. Menyisakan Riyadh, Nadia, Icha dan Rizky yang masih berada di ruang meeting itu.


" Mau makan siang bersama?" Tawar Riyadh, sembari melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu telah menunjukkan pukul satu siang.


Ternyata meeting kali ini cukup memakan waktu. "Aku udah pesan makan siang untuk aku dan nadia, karena masih ada kerjaan yang harus kita berdua urusan di ruang aku." Ucapnya seraya memohon undur diri dari ruangan itu sembari mengajak Nadia. " Oh iya, aku juga sudah meminta ob untuk membeli kalian makan siang, mungkin sudah ada di ruangan kamu tadi." Ucapannya lagi, begitu iya teringat, jika dia sudah memesan makan siang untuk sepupunya itu dan Icha. Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu, di ikuti oleh, Nadia.


" Sayang ayo kita keruangan aku." Ajak Riyadh. Icha pun mengangguk, kemudian mengikuti langkah suaminya itu.

__ADS_1


Sementara itu di tempat Megan dan Nadine, masih menunggu mobil Riyadh keluar dari perusahaan. Karena menurut informasi yang mereka dapatkan dari sekertaris Riyadh, pria itu akan melakukan meeting di luar, tapi siapa sangka, waktu dan tempatnya di ubah oleh Riyadh.


Dia baru mengetahui hal itu, saat Nadia dan Icha berada di perusahaan. Wanita itu ingin cepat-cepat memberitahu Megan tapi Riyadh justru mengajaknya untuk ikut meeting, hingga ia tidak sempat mengabari mereka.


Meeting itu baru selesai hampir pukul satu siang. Begitu keluar ruang meeting, wanita itu langsung menuju kantin untuk mengisi perutnya ia lupa mengabari Megan dan nadia.


Hingga kedua wanita itu memutuskan untuk menghubunginya lebih dulu. " Hola, kamu dimana? Kenapa Riyadh belum Keluar juga." Bentak Nadine begitu panggilan itu di jawab oleh sekertarisnya Riyadh.


"Maaf Bu, saya lupa memberi tahu, jika tempat meeting dan waktunya di ubah." Ucap wanita itu kepada Nadine diseberang sana.


" Sia-lan kamu kenapa kamu baru memberi tahu sekarang! Aku dan mama sudah di sini dari setengah sepuluh dan kamu baru mengatakan hal ini." Hardik Nadine tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Bagaimana tidak, jadwal meeting yang mereka ketahui jam sepuluh, tapi meeting itu sudah mulai satu jam lebih awal dan sialnya mereka baru mengetahui hal ini sekarang.


"Maaf Bu! Pak Riyadh tadi memaksa saya untuk ikut, meeting saya tidak punya kesempatan untuk memberitahu Bu Nadine." ucapannya dengan takut-takut.


"Sekarang katakan dimana mereka?" Tanya Nadine.


" Masih di ruang meeting, Bu! Mungkin sebentar lagi mereka akan pulang, soalnya saya berada di kantin." Jawabnya, makin emosi saja, Nadine mendengar hal itu.


Wanita itu langsung mengakhiri panggilannya dan sekertaris Riyadh begitu saja, kemudian memberi tahu Megan mertuanya. Keduanya pun segera turun dari mobil dan menuju lobby perusahaan, bersyukur mereka masih menunggu Riyadh di parkiran perusahaan. Sehingga mereka bisa langsung menemui mereka dan mengetahui seperti apa wanita itu sampai Riyadh berani mengubah jadwal meeting seenak jidatnya.

__ADS_1


"Apa pak Riyadh dan klien wanitanya masih ada?" Tanya Nadine, kepada resepsionis dengan tidak sabaran, sementara Megan hanya menarik tangan menantunya itu untuk langsung ke ruangan Riyadh. Karena wanita paruh baya itu tidak ingin mereka membuang waktu dengan bertanya pada resepsionis.


__ADS_2