
Besoknya Icha Kembali kuliah seperti biasanya, Ayah Rifky begitu senang melihat Icha keluar kamar untuk melakukan aktivitas seperti biasa.
Hari ini Ayah Rifky akan menjemput Icha sesuai janjinya pagi tadi. Saat Ayah Rifky sampai di cafe yang menjadi tempat dimana putri dan kedua sahabatnya itu biasa duduk sekedar bercerita atau mengerjakan pekerjaan dan tugas kuliah mereka. Netra hitamnya tidak sengaja menangkap sosok pemuda yang terus menatap ke arah ketiga gadis yang tengah Asyik bercerita itu.
Lelaki paruh bayah yang memakai seragam Sabhara itu sudah lebih dari 2 jam berada di cafe itu untuk memantau pemuda yang terus menatap kearah Icha, Mimi, dan Nadia.
Niat untuk menjemput sang putri ia urungkan, karena tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa putrinya lagi, cukup kejadian kelam yang memberikan efeknya sampai hari ini jangan ada kejadian yang memiluh kan lagi. Kegagalannya dalam menjaga anak-anaknya 10 tahun yang lalu, tidak akan Ayah Rifky ulang lagi.
Icha, Mimi dan Nadia berdiri dari tempat duduk mereka sebelum melangkah meninggalkan Cafe itu. Setelah memastikan kepergian gadis-gadis itu, pemuda itu pun berdiri dari tempat duduknya, ia merapikan Jasnya terlebih dahulu sebelum melangkah keluar dari cafe.
Dan saat kakinya berada di parkiran cafe, pundaknya di tepuk dari belakang, pemuda itu memutar tubuhnya untuk melihat sang pelaku. Dia sedikit terkejut serta mengerutkan keningnya saat berhadapan dengan seorang pria paruh baya, yang tidak lain adalah seorang polisi, di lihat dari seragam yang pria itu gunakan.
" Maaf, Ada apa ya Pak." Tanya pemuda itu sopan, ia merasa tidak membuat salah sedikitpun tetapi kenapa ia di hampiri polisi ini.
" Boleh minta waktu anda sebentar." Suaranya begitu tegas dan tanpa basa-basi.
Walaupun bingung , pemuda itu tetap mengangguk, Sehingga kedua lelaki berbeda usia itu kembali melangkah ke dalam Cafe. Kursi pojokan dimana Icha, Mimi dan Nadia biasa duduk menjadi pilihan keduanya. Pelayan datang mengantarkan minuman yang di pesan pemuda yang tidak lain adalah Riyadh.
"Apa anda mengenal ketiga gadis yang duduk di meja ini, beberapa menit lalu?" Tanya Ayah Rifky begitu to the point.
" Hanya partner bisnis."
" Tapi dari yang saya lihat tatapan ada tidak seperti itu."
" Apa maksud anda." Bentak Riyadh, Untuk menutupi rasa malunya, karena ketahuan oleh polisi di hadapannya, " Jangan pikir karena seragam yang anda punya saya takut dengan anda." Lanjutnya. Ia pikir ayah Rifky seperti oknum lainnya yang ingin memanfaatkan dirinya.
" Saya tidak berharap anda takut kepada saya, saya hanya ingin tahu kenapa anda melihat ketiga putri saya seperti itu." Ucap Ayah Rifky membuat Riyadh langsung bungkam dengan jantung yang berdetak lebih cepat dari yang seharusnya," Jangan mengelak karena saya sudah berada di Cafe ini dua jam lamanya." Lanjutnya lagi, emosi Riyadh yang sempat naik perlahan padam dengan sendirinya.
" Maaf." Ucap Riyadh begitu pelan hampir tak terdengar di telinga ayah Rifky, Dia merasa sangat bersalah karena telah membentak pria itu.
" Kamu tidak salah, semua orang berhak melihat, bukan."
__ADS_1
" Sekali lagi maaf, saya tidak bermaksud buruk dengan putri-putri anda." Riyadh menjeda ucapannya " Saya hanya penasaran dengan salah satu putri bapak." Ayah Rifky mengerutkan keningnya.
" Penasaran! penasaran seperti apa?"
" Iya, Saya penasaran dengan salah satu putri bapak yang begitu takut kepada say_ " Ayah Rifky Tersenyum ia tahu siapa yang di bicarakan pemuda yang duduk di hadapannya ini.
"Bukan hanya kamu yang dia takuti! sebab siapa saja yang menatap intens dan mengintimidasinya ia akan takut kepada mereka mau itu laki laki ataupun perempuan." Jelas Ayah Rifky.
" Kenapa begitu."
" Ya karena setiap orang memiliki masalah dalam hidupnya, dan setiap masalah pasti meninggalkan perubahan sekecil atau besar." Jawab ayah Rifky lagi. Dan sebelum riyadh kembali membuka mulutnya untuk bertanya, Ayah Rifky Kembali bersuara. " Jika kamu tidak bermaksud buruk dengan putri saya, jangan mengikuti dan menatapnya lagi seperti itu, karena hal itu hanya akan memperburuk keadaannya! tolong jangan buat usaha kami selama sepuluh tahun ini berakhir sia-sia. "
Kata-kata pria paruh bayah itu bukannya menghilangkan rasa pernapasan Riyadh, justru membuat dia semakin penasaran dengan sosok icha. Sementara Ayah Rifky sudah berdiri dari duduknya. Sebelum meninggalkan cafe itu, ia tersenyum kepada Riyadh. " Terima kasih atas minuman dan waktunya anak muda."
......🥀🥀🥀🥀🥀......
Teguran serta peringatan dari ayah Rifky tidak diindahkan oleh Riyadh sedikitpun. Lelaki itu terus mendekati putrinya. Apalagi ia memiliki kerjasama dengan mereka.
Kesepakatan bersama dalam pekerjaan membuat Riyadh selalu mencuri waktu untuk mendekati Icha, Walaupun wanita itu terlihat begitu tak nyaman dengan kehadirannya, Riyadh seolah menutup kedua matanya dengan bersikap masa bodoh. toh hanya Icha wanita satu-satunya yang tidak tertarik dan bahkan takut kepadanya.
" Ka kampus pak." Jawab Icha sedikit terbata.
" Terus pekerjaan kamu bagaimana? dan bisakah kamu tidak memanggilku seperti itu."
" Semua pekerjaan saya telah selesai disini dan semua sesuai permintaan! Permisi pak." Ucap Icha dalam satu tarikan nafas, ia hanya menjawab pertanyaan Riyadh yang penting-penting saja, sebelum berlari keluar Tanpa menunggu sahutan dari Riyadh.
" Dasar wanita aneh! nggak sopan banget, orang lagi ngomong main pergi aja." Dumel Riyadh.
" Kenapa Yadh." Tanya Rizky assisten Sekaligus Sepupunya.
" Tuh Cewek langkah! main pergi aja."
__ADS_1
" Biarin aja! lagian pekerjaannya disini juga sudah beres semua."
" Kamu yakin."
" Hmmm." Riyadh menatap Rizky. " Jangan liatin aku kaya gitu, Tenang aja aku udah cek semua pekerjaan dia! Semua oke." Rizky menaikkan keduanya jempolnya, memuji kinerja Icha.
" Ya udah yuk! balik kantor, kamu ada meeting satu jam lagi dengan para pemegang saham." Ucap Rizky lagi.
" Mau apalagi sih, parah tua Bangka itu." Sahut Riyadh begitu malas, jika harus berurusan dengan beberapa pemegang saham yang bertingkah dan suka mengatur tanpa tahu usaha Riyadh dalam memajukan perusahaan seperti apa.
Riyadh dan Rizky Kembali ke perusahan, Sedangkan Icha pergi ke kampus, sebab siang ini, dia ada mata kuliah.
Selesai Kuliah Icha Kembali ke rumah mengunakan motor metic nya. Sedangkan Nadia dan Mimi Kembali ke kantor mereka.
Begitu tiba di rumah Icha langsung memarkirkan motornya di garasi setelah itu ia masuk kedalam rumah.
Begitu masuk kedalam kamarnya, Icha langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur Queen size-nya, Hari ini terasa begitu melelahkan bagi Icha dan untuk pertama kalinya ia melakukan aktivitas diluar rumah tanpa di dampingi kedua sahabatnya itu.
Karena merasa nyaman kedua mata Icha pun perlahan lahan mulai tertutup dilanda rasa kantuknya. Icha Tertidur tanpa mengisi perutnya, padahal waktu makan siang telah lewat 2 jam.
Disisi lain Ayah Rifky yang baru saja pulang, langsung mencari keberadaan putri bungsunya itu.
" Bi Icha belum pulang?" Tanya Ayah Rifky kepada Bi lila.
" Sudah pak, tapi belum keluar kamar lagi sejak tadi. Apa mungkin non Icha_"
" Biar saya lihat Bi." Sahut ayah Rifky cepat Sebelum bi Lila menyelesaikan ucapannya.
Ayah Rifky berjalan menuju kamar icha, ia cemas putrinya itu akan kembali mengurung diri di kamarnya lagi. Begitu sampai di depan pintu kamar Icha, Ayah Rifky memutar handel pintu begitu pelan, berharap semua baik-baik saja.
" Ceklek."
__ADS_1
Begitu pintu itu terbuka, Ayah Rifky langsung menghirup oksigen sebanyak-banyaknya seakan pasokan oksigen itu akan habis saat itu juga dia merasa begitu bersyukur putrinya baik-baik saja.
Ayah Rifky pun kembali menutup pintu kamar Icha, membiarkan Icha beristirahat dan dia sendiri kembali ke kamarnya.