Aku Bukan Pilihan.

Aku Bukan Pilihan.
Saran Rista


__ADS_3

"Sayang." Panggil Riyadh dengan begitu lembutnya sambil mengusap pipi Icha. " Sayang bangun dulu." Ucapnya lagi, ketika Icha hanya menggeliat sebentar, semakin mengeratkan selimut di tubuhnya, setelah itu dia kembali melanjutkan tidurnya.


" Sayang, bangun udah jam sepuluh! Kak Ista dan yang lainnya sedang menunggu kamu di luar." Bisik Riyadh lagi membuat kedua mata Icha langsung terbuka sempurna.


Rasa kantuknya entah telah hilang kemana! Wanita itu menatap wajah suaminya, sembari mengerutkan keningnya. Seakan Meminta jawaban atas ucapan Riyadh barusan, " Sungguh?" Tanyanya.


"Ya, mereka sudah sejam nungguin kamu loh." Jawab Riyadh.


" Terus kenapa nggak bangunin aku sih mas." Wanita itu tidak tahu saja jika suaminya itu sudah bolak-balik kamar mereka untuk membangunkan dia, bahkan sebelum kakak ipar dan sahabat-sahabat istrinya itu datang. Tapi dasarnya Icha-nya aja yang susah di bangunkan.


Riyadh bahkan sampai bingung dengan Icha pagi ini, pasalnya Icha tidak pernah tidur seperti itu. Dia memiliki masalah tidur yang cukup serius.


Apa mungkin ini ada hubungannya dengan apa yang mereka lakukan semalam, Jika ya! Masa Icha bisa sampai selelap ini tidurnya, Padahal semalam hanya sekali, apa jadinya jika dia melakukan itu lebih dari sekali.


" Mas, iih di tanya kok malah bengong." kesal Icha. Wanita itu kemudian beranjak dari turun dari ranjangnya. Icha belum sadar jika saat ini dia tidak menggunakan apapun di tubuhnya dan Riyadh pun tidak mengingatnya dia hanya membiarkan Icha melangkah dengan keadaan polos masuk kedalam kamar mandi.


Bukan karena dia suka melihat Icha seperti itu, tapi dia tidak ingin istrinya itu terlihat salah tingkah.


" Aekkh, Mas." Teriak Icha dari dalam kamar dan Riyadh dapat menebaknya alasan di balik teriakkan itu.


" Sayang kamu baik-baik saja?" Tanya Riyadh dari balik pintu kamar mandi yang masih tertutup itu.


"Mas nyebelin."


"Cepatlah, jangan buat kak Ista dan yang lainnya menunggu lebih Lama lagi." Ucap Riyadh sengaja tidak menangani kekesalan Icha barusan. " Mas tunggu kamu di luar." Lanjutnya, setelah itu ia melangkah meninggalkan kamar mereka dan bergabung bersama yang lainnya di ruang keluarga.


" Loh Icha mana?" Tanya Ista saat melihat Riyadh hanya sendiri.


" Icha-nya lagi mandi kak." Jawab Riyadh seadanya, kemudian mendapatkan bokongnya di sofa single. Sedangkan Rista, Nadia dan Mimi kompak mengangguk-anggukan kepala, saja.


"Oh iya, kenapa kamu nggak kerja." Tanya Rista lagi, begitu teringat jika hari ini bukanlah hari libur.

__ADS_1


" Sengaja kak! Hari ini aku mau mengajak Icha ke rumah orang tua aku." Jawab Riyadh.


Karena semalam, pria itu sudah yakin untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Icha, sekaligus mengajaknya ke rumah orang tuanya. Tapi karena kedatangan Rista dan yang lainnya, Sepertinya rencana itu harus dia tunda dulu.


"Memangnya Icha sudah setuju mau ke sana?" Tanya Mimi, karena setahu dia, Icha belum siap untuk bertemu mamanya Riyadh.


"Belum, Rencananya mau aku ketemukan dia dulu sama mama! Aku takut kalau aku ngomong, dia nggak mau." Jawab Riyadh.


Pria itu sudah memiliki rencana yang telah ia susun rapi. Dimana ia mempertemukan Icha dan mengatakan siapa wanita itu kepada mamanya. Setelah itu barulah ia menjatuhkan talaknya untuk Nadine, toh dia cuma menikahi Nadine begitu saja.


" Saran kakak, kalau boleh kamu ngomong dulu sana dia! Kalau dia nggak mau kamu bujuk, jangan langsung mempertemukan mereka dan mengatakan status kalian. Bukankah mama kamu juga memiliki wanita pilihannya sendiri. Takutnya mama kamu akan mengatai-ngatai Icha atau membandingkan dia dengan wanita. Kamu tahu kan kondisi mental istri kamu seperti apa! Jangan sampai karena hal ini. Hubungan yang sudah susah payah kamu bangun jadi berantakan. Hanya karena masalah ini." Ucap Rista memberi saran. Sebab Nadia dan Mimi sudah cerita kepadanya jika Riyadh memiliki tunangan yang bernama Nadine, mereka tidak tahu saja jika Nadine telah menjadi istrinya Riyadh walaupun hanya istri siri. " Tapi semua terserah kamu! Baiknya kaya gimana, kakak cuma memberi pendapat saja." Lanjutnya lagi.


Riyadh pun mengangguk. " Terima kasih kak! Yang kakak katakan memang benar. Sebaiknya aku berbicara dulu dengan Icha."


"Mas ingin ngomong apa sama aku." Tanya Icha yang baru saja datang. Wanita itu langsung duduk di samping Rista.


Sementara Rista hanya menatap bingung kepada Icha, bukannya apa! Dress yang di gunakan Icha terlalu pendek.


"Hanya di rumah aja! Nggak aku pakai keluar." Jawab Icha membuat Rista menatap kasihan kepada Riyadh.


Karena wanita itu tahu, Secara tidak sengaja Icha telah menyiksa suaminya sendiri. " Memangnya kenapa kak? Nggak bagus ya di Icha?" Tanya nya lagi.


"Bukan nggak bagus, tapi kamu pakai pakaian kaya gini, Udah bisa jalani kewajiban kamu sebagai istri belum." Sahut Rista , nada suaranya mulai naik satu oktaf.


Wanita itu tidak menyadari, jika wajah sang adik kini sudah seperti tomat matang, ia begitu malu! Ketika mengingat apa yang dia dan Riyadh lakukan semalam.


" Nggak papa kok kak, dia berpenampilan seperti itu untuk menyenangkan aku." Sahut Riyadh.


"Kak Ista sih, jarang kesini! Jadi nggak tahu kalau penampilan Icha di rumah itu seperti apa." Sahut Mimi di angguki oleh Nadia.


Sebab sudah menjadi rutinitas mereka, seminggu dua kali akan menginap di rumah Icha untuk menemaninya saat Riyadh pulang ke rumah orang tuanya.

__ADS_1


"Kamu ini." Ucap Rista sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara Icha hanya menyengir tanpa dosa.


"Oh iya, tadi mas bilang mau ngomong sama aku! Mas mau ngomong apa?" Tanya Icha begitu dia ingat suaminya itu belum menjawab pertanyaannya.


"Nanti, kita ngomong berdua ya."


"Kenapa nggak sekarang aja." Sahut Icha tak sabar.


"Nanti aja sayang." Icha pun mengalah saja. Di paksa pun suaminya itu tidak akan bicara sekarang. " Oh, iya! Karena ini sudah waktunya jam makan siang, kita makan di luar aja ya. Soalnya kita belum sempat masak." Lanjutnya.


" Nggak usah repot-repot. Lain kali aja! Soalnya, Kaka Udah terlanjur janji sama bang Arga mau makan siang di luar, paling bentar lagi bang arga jemput kakak."


Dan benar saja, setelah wanita selesai berbicara, terdengar suara klakson panjang dari luar.


Rista pun langsung beranjak dari tempat duduknya. Mencium kedua pipi adiknya itu. " Nanti kakak kesini lagi ya! Jadi istri yang benar, pintar-pintar ngurus suami." Pesan Ista pada Icha. " Iyad, kakak titip Icha ya! Kalau dia berulah langsung kabarin kakak. Biar kasih dia pelajaran."


" Apaan sih, kaya guru aja." Sahut Icha.


" Tenang aja kak! Istri aku ini nggak akan berulah percaya deh. Iya nggak sayang." Sahut Riyadh meminta dukungan Icha, namun wanita itu justru menggeleng kepalanya saja.


Melihat hal itu, Nadia dan Mimi pun ikut pamit pulang. " Kita juga pamit pulang deh, nggak mau jadi raket nyamuk kita." Ucap Mimi, Riyadh dan Icha pun kompak tertawa, setelah itu mereka berdua pun mengatakan Rista, Nadia dan Mimi ke depan. Mereka baru kembali ke dalam rumah begitu mobil Nadia dan bang Arga telah menjauh dari pandangan mereka.


"Mas Aku lapar."


" Mau pesan atau makan diluar?" Tanya Riyadh.


" Aku malas keluar. Tapi udah lapar banget ini." Ujar Icha sembari mengusap perutnya.


"Ada nasi goreng! Tapi kayanya udah dingin, tunggu sebentar mas panaskan."


" Nggak usah aku langsung makan aja." Icha langsung menuju ruangan makan dan benar saja. Dia meja makan ada nasi goreng dan telur dadar. Icha pun langsung menyantap makanan itu. Sekali pun udah dingin tapi masih lumayan enak.

__ADS_1


__ADS_2