
" Aku tahu semua ini terasa begitu sulit untuk kamu jalani, tapi cobalah bersosialisasi dengan lingkungan yang baru ini. Orang-orang di lingkungan ini semua baik kok. tidak ada orang jahat yang perlu kamu takuti! kerena aku sudah menyelidiki daerah sini sebelum aku memilih untuk membeli rumah disini. Tapi, kalau pun masih berat juga untuk kamu lakukan, membalas sapaan orang lain dengan tersenyum, aku rasa bukan sebuah hal yang sulit kan." Ucap Riyadh. Mengingat bagaimana reaksi Icha saat ada beberapa tetangga yang menyapa mereka tadi.
Keduanya baru saja tiba di rumah baru mereka, setelah semalam dan pagi tadi terjadi sedikit drama antara Icha dirinya dan Rista. Apalagi kalau bukan Icha yang tak mau ikut bersama Riyadh dan menolak keras keinginan Riyadh untuk tinggal berdua dengannya.
Bukan tanpa sebab Riyadh berkata seperti itu kepada Icha, sebab istrinya itu langsung bereaksi dan menunjukkan ketakutannya saat mereka di sapa beberapa tetangga yang menghampiri mereka dan Riyadh tidak ingin Icha menunjukkan ketakutannya itu di depan siapapun agar tidak ada yang akan memanfaatkan kondisi Icha nantinya.
" Apa yang di katakan suami kamu itu benar? kakak juga yakin, kamu bisa melakukannya! dulu waktu ayah ingin menyekolahkan kamu lagi, kamu juga takut! lebih takut malah, tapi lihatlah sekarang kamu bisa kuliah dan mulai terbiasa dengan kehadiran orang lain, walaupun harus selalu di temani Kakak, Nadia dan Mimi." Rista turut menimpali ucapan Riyadh. Wanita itu terpaksa harus ikut mengantar adiknya ke rumah baru mereka, sebab Icha begitu keras kepala saat di bujuk. " Dan satu lagi Cha, kamu harus ingat akan status kamu, jangan sampai kondisi kamu membuat orang menilai ayah gagal dalam mendidik anak-anak perempuannya." Lanjutnya sedikit berbisik. Membuat Icha mendongak dan menatap tak percaya, wajah sang kakak.
Rista sama seperti ayah serta ibunya, mereka begitu menyayangi Icha, tapi cara mereka menghadapi kondisi Icha berbeda, Jika ibu dengan memberikan yang terbaik semampu dirinya dan memastikan Icha tetap mendapatkan pendidikannya. Ayahnya justru lebih mementingkan kenyamanan Icha dengan menurutinya. lain halnya dengan Rista yang sedikit keras dan tegas kepada sang Adik.
" Aku tahu, kakak tidak perlu khawatir! aku nggak akan mempermalukan kalian. Dan kakak tidak usah repot-repot untuk mengusir aku lagi, karena aku tahu kakak dari dulu emang tidak sayang sama Aku." Rista langsung memutar kedua bola matanya malas. Adiknya itu selalu seperti ini, Jika sedikit ia kerasi.
" Terserah kamu! mau berpikir seperti apa tentang kamu, kamu cukup tahu saja, kakak seperti ini bukan karena tidak sayang sama kamu,tapi kakak ingin kamu sembuh Cha! lupakan semua dan cobalah untuk bergantung dengan suamimu. Sekarang kakak harus pulang, mas Arga pasti sedang menunggu kakak." Wanita itu langsung berbalik untuk meninggalkan rumah itu, tanpa menghiraukan wajah sendu Icha.
__ADS_1
" Mari kak! Saya Antar." Sahut Riyadh.
" Nggak usah, kakak sendiri aja, kebetulan kakak udah pesan taksi! kamu temani dia dan tolong jaga dia yad. Kakak pulang dulu." Riyadh menganggukkan kepalanya kemudian mengantar Rista ke depan.
" Kak Riastaaa_" Teriak Icha, Wanita itu langsung berlari menyusul sang kakak." Kak Icha nggak mau tinggal disini, Icha mau pulang aja! Icha bisa jaga diri kok." Teriak Icha, dia sudah seperti anak TK yang akan di tinggal ibunya. Berharap sang kakak mau mendengar dan menurutinya.
" Tidak Icha, kamu tinggal disini sama suami kamu! Sejak malam itu kamu sudah menjadi tanggung jawab Riyadh." Rista berbalik memeluk tubuh Icha dan berbisik di telinganya." Ingat status kamu dan jangan mempermalukan nama baik ayah." Ulangnya lagi, sebelum Rista masuk kedalam taksi yang telah menunggunya dan taksi itu pun pergi setelah Rista memberitahu alamatnya. Sementara Icha hanya bisa melihat mobil yang di tumpangi sang kakak menghilang dari pandangannya.
" Sayang, Ayo kita masuk." Ajak Riyadh, lelaki itu sejak tadi bersandar pada kusen pintu dan melipat kedua tangannya di dada, memandang istri dan kakak iparnya itu.
......🥀🥀🥀🥀......
Cukup lama Icha beranda di teras rumah itu, ia berjalan kesana-kemari layaknya setrikaan rusak, jika bosan ia akan duduk, tetapi wanita itu belum terlihat akan masuk kedalam rumah, walaupun perutnya mulai berdemo minta di isi, karena waktu telah menunjukkan jam makan siang ditambah, pagi tadi dia belum sempat sarapan.
__ADS_1
Icha yang mulai lelah berusaha meyakinkan dirinya untuk masuk kedalam rumah itu, sembari meramas ujung bajunya. Saat melewati ruang tamu dan ruang keluarga, Riyadh tidak terlihat di sana! sehingga Icha berpikir suaminya itu tengah berada di kamar dan ia pun bergegas ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dia makan.
" Aaahkkk." Teriaknya begitu mendapati Riyadh keluar dari pantry dengan membawa mangkuk berisi sup ayam yang baru ia masak.
" Cha." Riyadh meletakkan sup itu di atas meja makan, kemudian menghampiri Icha." Ka_"
" Aku baik-baik saja." Icha langsung memotong ucapan Riyadh. Sebelum Riyadh melangkah lebih dekat padanya.
" Oh, oke! Kemari lah kita makan siang bersama." Sahut Riyadh sembari menarik salah satu kursi untuk Icha. " Cha." Panggil Riyadh lagi karena istrinya itu hanya bengong di tempatnya sambil menatap makanan yang telah ia siapkan untuk mereka berdua.
Sedangkan Icha yang merasa tidak enak dan tidak ingin membuat lelaki itu menunggu, Icha pun melangkah dengan perlahan Kearah Riyadh kemudian duduk kursi yang sudah disiapkan pria itu.
Meja makan yang di desain khusus untuk empat orang itu, membuat Icha sedikit tidak nyaman makan siang bersama Riyadh, karena mereka saling berhadapan.
__ADS_1
" Selesai makan, aku akan mengantarmu berkeliling rumah ini. Soal beres-beres kamu tidak perlu melakukannya, karena akan ada orang yang datang membersihkan rumah ini saat kamu tidak berada di rumah dan mereka akan pulang sebelum kamu datang. Jika kamu ingin memasak, kamu boleh melakukannya! aku sudah meminta Rizky untuk menyiapkan bahan makanan kita. Tapi jika kamu tidak ingin melakukannya, Kamu tidak perlu melakukannya cukup buat dirimu nyaman di rumah ini." Ucap Riyadh panjang kali lebar disela-sela makanya, sementara Icha tidak menyahutinya sama sekali.
Setelah makan siang mereka selesai, Riyadh mengantar Icha berkeliling rumah mereka, Tentunya dengan menjaga jarak sesuai ucapan Riyadh tadi.