Aku Bukan Pilihan.

Aku Bukan Pilihan.
Mama senang!


__ADS_3

Begitu Icha setuju untuk tinggal di rumah orang tuanya, Riyadh pun tidak langsung membawanya ke sana.


Dia juga belum memberitahukan kabar bahagia ini kepada mamanya, sengaja untuk memberi kejutan kepada megan. Begitu Rista memperbolehkan Icha untuk pergi.


Sebab wanita itu masih ingin menemani icha, Dia pun tidak pernah keberatan saat Icha menuntutnya untuk melakukan ini dan itu.


Sehingga Icha maupun Riyadh masih menempati Rumah ayah Rifky, begitu pun dengan Arga juga Rista.


Dan rencananya, Hari ini Riyadh akan mencoba untuk berbicara dengan Rista lagi. Walaupun dia berhak membawa icha ke mana saja, Namun Riyadh tetap menghargai ista selaku kakak dari istrinya.


"Mas kalau aku sudah tinggal di rumah mama aku boleh kerja lagi ya." Izin Icha saat membentuk Riyadh menggunakan dasi.


"Sayang_"


"Mas, aku janji nggak akan kerja yang berat-berat. Please boleh yang mas." Rengek-nya sembari melingkarkan tangannya pada pinggang Riyadh dengan sedikit menggoyang-goyang tubuh Riyadh layaknya anak kecil.


Walaupun apa yang dia lakukan itu tidak membuat tubuh Riyadh bergoyang sama sekali, justru tubuhnya-lah yang bergerak ke kiri dan ke kanan.


"Kamu istirahat dulu ya sayang, nanti kalau anak gitu udah lahir kamu boleh kerja lagi." Ucap pria itu dengan begitu lembut sembari mengusap pipi. " Mas melakukan semua ini untuk kebaikan kamu mas tidak ingin kamu kecapean. Mas ingin memastikan kamu dan anak kita tetap baik-baik saja sampai dia lahir nanti." Pria itu terus berbicara sembari musik istrinya.


Nada suaranya terdengar begitu lembut, namun tatapan pria itu menyiratkan akan kesungguhan nya. Sehingga membuat Icha pun luluh dengan ucapan suaminya.


"Baiklah tapi mas nggak boleh ingkar ya! Begitu Icha selesai melahirkan Icha boleh kerja lagi." Riyadh pun hanya bisa mengangguk sembari tersenyum simpul.


Pria itu yakin begitu icha selesai melahirkan nanti wanita itu tidak akan berpikir untuk bekerja lagi, sebab Riyadh yakin, setelah ini, Icha akan fokuskan dengan kehadiran anak mereka nanti.


"Semua keputusan ada di tangan kamu sayang kalau kamu ingin kembali bekerja mas akan mendukung kamu, kalau kamu ingin bekerja dari rumah pun mas juga akan melakukan hal sama yaitu mendukung kamu, tapi itu nanti setelah anak kita lahir, untuk saat ini kamu mau nurut kan! Hanya sampai anak kita lahir." Icha pun mengangguk sembari memaksa bibirnya untuk tersenyum, membuat Riyadh berpikir jika hari ini wanita itu berada dalam mood yang bagus sehingga, Membuatnya tidak merengek seperti biasanya yang dia lakukan.


"Terus kapan kita akan ke rumah mama." Tanya Icha, sengaja mengalihkan pembicaraan mereka, karena sesungguhnya dia sudah sangat ingin berkerja tapi dia tidak ingin memaksakan kehendaknya walaupun hal itu membuat dadanya sesak sendiri.


Hatinya menolak tapi bibirnya terpaksa mengiyakan, permintaan suaminya itu. " Nanti kita ngomong sama kak Ista dulu ya, kapan pastinya kita akan pergi, lagian aku juga belum memberitahu mama, kalau kamu setuju untuk pindah ke sana."


"Mas yang aturlah! Aku cukup ikut saja." Ucapnya kemudian melangkah lebih dulu, meninggalkan Riyadh.


Pria itu pun tidak mempersoalkannya, karena dia berpikir jika, istrinya itu sudah tidak sabar untuk menikmati masakan sang kakak.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Begitu waktu makan siang tiba, Icha mengajak Nadia dan Mimi untuk makan siang di rumahnya, karena dia sudah sangat merindukan kedua sahabatnya itu.

__ADS_1


Akhir-akhir ini mereka jarang bertemu, karena kesibukan mereka di kantor, semenjak Icha bekerja dari rumah pekerjaan mereka menjadi berkali-kali lipat, bahkan pekerjaan Icha yang biasanya mengunjungi gedung baru yang akan mereka desain, kini di alihkan kepada Nadia. Jika Mimi jangan tanya, karena wanita itu juga sama sibuknya dengan Nadia. Tapi bonus yang mereka dapatkan pun semakin besar.


"Hai kak apa kabar!" Sapa Nadia begitu Rista membukakan pintu untuk mereka.


"Kabar kakak baik, seperti yang kalian lihat. " Ucap Rista sambil memeluk secara bergantian kedua sahabat adiknya, yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. " masuk yuk, Icha udah nunggu kalian tuh. " Ajaknya, keduanya pun mengangguk setelah itu mengikuti langkah Rista yang telah lebih dulu masuk ke dalam.


Siang itu suasana di rumah itu begitu hangat dan meriah karena kehadiran Nadia dan Mimi.


Mereka tidak hanya makan siang bersama, karena banyak hal yang dapat mereka lakukan, seperti ngobrol, nonton bareng, masak juga jalan-jalan walaupun hanya di taman sekitaran Rumah mereka.


"Jadi kamu akan pindah ke rumah orang tuanya pak Riyadh." Tanya Nadia, begitu Icha menceritakan tentang, rencana ke pindahannya nanti ke rumah orang tua suaminya itu.


"Gimana lagi, aku nggak mungkin bilang nggak kan?" Nadia dan Rista kok mende-sah mendengar alasan Icha.


"Iya, juga sih! Namanya kita kalau sudah Nikah gitu yah! Harus ngikutin keinginan suami. " Sahut Mimi membuat ketiga wanita itu kompak melihat ke arahnya.


"Kamu ini sedang mengiyakan ucapan icha apa bertanya?" Tanya Rista, sembari menggeleng-geleng kepalanya. Disaat mereka lagi serius masih sempat-sempatnya wanita itu mengunakan Kalimat ambigu seperti tadi kak.


"Saran aku sih kalau kamu belum siap jangan maksa buat ke sana, tunggu sampai hati kamu bener-bener siap untuk berada di antara mereka. Dari pada kamu tersiksa karena ngebatin." Ucapan Nadia, wanita itu tidak menghiraukan kata-kata mimi barusan.


"Tapi aku udah terlanjur mengiyakan permintaan mas Riyadh, gimana dong?" Mendengar ucapan sahabat-sahabat nya membuat Icha menyesali keputusannya.


"Ya gimana lagi, kamu harus ikut lah! Masa iya mau berubah pikirannya sekarang."


"Kalau itu juga aku tahu." Ucap Icha sedikit sewot.


" Hehe kita juga, cuma bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu, semoga mertua kamu sudah benar-benar berubah." Ucap Mimi.


Dan obrolan itu berakhir dengan candaan mereka. Begitulah mereka, saat berbicara serius pasti akan terselip candaan di antara mereka.


Namun hal itulah yang membuat hubungan mereka semakin erat dari waktu ke waktu.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Setelah Rista berusaha untuk menahan mereka selama seminggu lebih di rumah orang tuanya, namun kini wanita , wanita itu suka tidak memiliki alasan lagi untuk menahan yang adik dan suaminya,


Hingga akhirnya, dia hanya bisa mengizinkan Riyadh untuk membawa Icha ke rumah orang tuanya.


Dan disinilah mereka saat, berdiri depan bangunan rumah mewah, yang lebih pantas di sebut istana ketimbang rumah itu.

__ADS_1


"Sayang ayo!" Ajak Riyadh membuyarkan lamunan icha.


"Mas aku_." Sayang bukannya kita sudah membahas soal ini." Tegur Riyadh seakan tahu apa yang ingin diucapkan istrinya itu. " Ayo, sayang." Riyadh menarik tangan Icha dengan lembut untuk masuk ke rumah orang tuanya.


Megan dan Gemilang yang tengah bersantai bersama seperti biasa langsung dibuat, terkejut ketika melihat Riyadh datang bersama dengan lcha.


"Sayang akhirnya kalian mau pulang juga, mama senang banget liatnya. Padahal Mama sudah khawatir, takut kalian nggak mau kalian nggak mau pindah kesini. " Ucap Megan.


Wanita paru baya itu beranjak dari tempat duduknya kemudian menghampiri Icha dan Riyadh, memeluk anak dan menantunya itu secara bergantian.


Icha tersenyum memandang mertuanya itu sembari mengangguk kepalanya, walaupun dia merasa agak gimana gitu, di itu tapi sebisa mungkin Icha hanya bersikap biasa-biasa saja.


Dia tidak ingin mengecewakan suaminya dan mertuanya, jika mereka sampai tahu, bawah dia tidak nyaman berada di sana.


"Icha sendiri sudah setuju untuk pindah ke sini sejak dua Minggu yang lalu, cuman kakaknya masih ingin tinggal lebih lama lagi bersama dia. " Jelas Riyadh, Megan pun hanya bisa tersenyum sembari mengangguk-anggukkan kepalanya paham.


"Iya nggak papa, yang penting kalian sudah berada di sini. Besok-besok kalau kamu kangen sama kakak kamu, kamu boleh kok nginap di sana." Ujar Megan sembari memeluk menantunya itu lagi dan mengusap punggungnya.


" Iya mah." Icha mengiyakan Ucapan mertuanya, sembari memaksa bibirnya untuk tatap tersenyum.


Setelah sapa singkat itu, Megan mengajak Icha dan Riyadh ke kamar mereka. Kamar yang akan di tempati Icha dan Riyadh. Adalah kamar yang berbeda. Dari kamar yang pernah di tempati Nadine dulu. Kali ini Megan sengaja menyiapkan kamar yang lebih luas dan semua yang ada di dalam kamar itu adalah perabotan baru dan sangat mewah.


Tidak Hanya Kamar Riyadh dan Icha. Karena kamar calon anak mereka pun, sudah wanita itu siap kan.


Megan memang, seantusias itu menyambut kedatangan icha. Dan satu kelebihan wanita itu, dia akan sangat loyal jika dia suami sangat menyukai orang itu, Nadine contohnya dan Icha pun sedang menikmati hal itu sekarang.


"Bagaimana kamarnya, suka nggak?" Tanya Megan, Begitu mereka berada di kamar Riyadh dan Icha.


"Mah apa ini tidak terlihat berlebihan?" Tanya Icha.


"Nggak dong sayang, mama bahkan akan menyiapkan yang lebih dari ini lagi kalau kamu kurang suka."


"Sayang apa yang mama lakukan ini, karena mama sedang berusaha untuk menyenangkan kamu," bisik Riyadh. Icha pun hanya menampilkan senyum kikuknya.


Semakin Icha mencoba bersikap santai wanita itu justru semakin merasa tidak nyaman untuk berada di sana! Tapi demi menyenangkan Hati suami dan. Mertuanya, Icha tetap bersikap tenang dan berusaha untuk terbiasa dengan tempat tinggalnya yang baru.


" Ya sudah mama tinggal ya! Kalau butuh sesuatu panggilan aja, pelayan di rumah ini."Pamitnya. Kemudian Meninggalkan Riyadh dan Icha.


Setelah Mamanya pergi, Riyadh langsung mengajak Icha untuk duduk Di sofa yang ada di sana, karena pria itu tahu, istrinya saat ini sedang gugup.

__ADS_1


Pria itu menarik Icha untuk duduk di pangkuannya, membawa wajah Icha untuk menatap kepadanya " Sayang, jangan gugup! Anggap saja ini rumah kamu." Ucapannya sembari menacup kedua pipi Icha sebelum mendaratkan sebuah ciuman di bibir Icha. " Terima kasih, karena sudah mau menuruti keinginan mama! Aku yakin lama kelamaan kamu juga akan terbiasa. " Sambungnya lagi, kemudian memeluk tubuh Icha dengan begitu posesifnya. Karena Riyadh memang se-posesif itu untuk seorang Icha.


__ADS_2