
"Mau kemana?" Tanya Riyadh, pria itu baru pulang kerja dan mendapati istrinya, sudah rapi, gaun malam panjang formal, menempel pas di tubuhnya, gaun berwarna putih itu semakin cantik di tubuh Icha dengan make up natural, rambut yang di gerai dengan sedikit gelombang di bawahnya membuat Icha nampak berbeda sore itu.
" Mas kamu sudah pulang?" Bukannya menjawab pertanyaan Riyadh, icha justru balik bertanya, sembari menghampiri suaminya untuk mencium punggung tangannya.
"Sayang, aku tanya mau kemana?" Ulang Riyadh lagi, setelah membalas dengan mencium tangan Icha.
"Hari ini, teman aku mengadakan pesta pernikahan di sebuah hotel bintang lima, Aku ingin mengajak mas, tapi mas kan tahu sendiri, itu pesta untuk kalangan atas, rekan bisnis mas, sama orang tua juga pasti akan di undang ke acara itu dan aku nggak mungkinkan datang sama mas ke acara itu." Jawab Icha sembari menjelaskan panjang kali lebar.
Membuat tiga kerutan tergambar jelas di dahi pria itu. " Kenapa tidak mungkin." Tanya Riyadh, pria itu masih berdiri di tempatnya sambil memasukkan keduanya tangannya, kedalam saku celananya.
"Mas, kok masih tanya sih! Gimana kalau orang tanya apa hubungan kita? Mas mau jawab apa? Suami istri, itu hanya akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lain, kapan kita nikah dan bla bla bla." Sahut Icha dengan begitu santainya, seakan pernikahan mereka adalah sesuatu yang sangat memalukan jika di ketahui, hal itu membuat Rahang Riyadh mengeras seketika, Marah, kecewa sudah pasti pria itu rasakan.
Kenapa setelah semua pengorbanan yang di lakukan, Icha masih juga malu untuk mengakui hubungan mereka. Mau sampai kapan semuanya harus seperti ini.
Icha yang tidak pernah siap di ajak bertemu orang tuanya, kenapa sekarang membuat semuanya menjadi semakin rumit.
"Tapi, kenyataannya seperti itu! Kita ini suami istri sayang."
" Iya mas Icha tahu tapikan_"
" Sayang tunggu sebentar aku akan ikut dengan kamu." Riyadh langsung, memotong ucapan Icha.
"Nggak aku pergi sama Nadia dan Mimi aja." Tolak Icha.
"Sama aku nggak sama sekali." Tegas Riyadh membuat Icha terdiam.
__ADS_1
"Kok mas jadi maksa kaya gini sih."
"Cha_"
"Mending aku nggak usah perginya." Icha langsung berbalik masuk kedalam kamarnya. Membuat Riyadh hanya bisa menarik nafas berat. Namun pada akhirnya, dia kembali mengalah untuk Icha.
Riyadh masuk kedalam kamar mereka, menghampiri Icha yang sedang duduk di tepi ranjang.
Lihat kembali menarik nafasnya, saat melihat tingkah istrinya itu. Icha terlihat seperti anak kecil yang tidak diizinkan ibunya untuk membeli es krim. Duduk di tepi ranjang dengan kaki berayun serta memasang wajah cemberutnya.
Wanita itu bahkan tidak menengok ke arah lihat saat mendengar pintu kamarnya dibuka dan ditutup kembali.
" Cha," panggil Riyadh dengan suara yang terdengar begitu lembut seperti biasanya. " Hei, sayang jangan ngambek gitu dong. Kalau kamu mau pergi ya udah nggak apa-apa pergi. Tapi ingat harus hati-hati dan pulangnya nggak boleh telat." Mendengar ucapan Riyad Icha yang sejak tadi menunduk langsung mengangkat wajahnya menetap tepat di kedua mata pria itu mencari keseriusan di sana.
" Yah kamu boleh pergi. " Sahut iat sembari menggangguk-gangguk kepalanya. Membuat kedua sudut bibir wanita itu tertarik ke atas.
" Terima kasih." Icha lalu beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Riyadh. " Aku janji bakalan hati-hati dan pulang lebih cepat." Lanjutnya setelah mengurai pelukan mereka, bersamaan dengan itu terdengar bunyi klakson mobil.
Icha pun bergegas pamit kepada Riyadh tidak lupa mengambil tasnya kemudian berjalan keluar menghampiri Nadia dan Mimi, wanita itu yakin yang baru saja membunyikan klakson mobilnya. Mimi dan data untuk menjemputnya.
Benar saja begitu langkah kaki Icha berada di luar rumah, Wanita itu dapat melihat Nadia dan Mimi yang sedang melambaikan tangan mereka kepadanya, meminta ia untuk segera mempercepat langkahnya.
"Cha! Sumpah cantik banget kamu." Puji Nadia, namun tidak di hiraukan oleh Icha.
" Apa sih! Biasa aja." Sahut Icha. Wanita itu kemudian masuk kedalam mobil Nadia, ia memilih duduk di jok belakang. Sementara Nadia di temani Mimi di depan.
__ADS_1
Nadia dan Mimi tahu, Icha nggak suka di puji seperti itu. Memilih untuk tidak melanjutkannya. Mobil Nadia pun melaju meninggalkan kediaman Icha, sementara di belakang sana Riyadh hanya melihat kepergian istrinya dan kedua sahabatnya itu.
Ada sisi baiknya untuk Riyadh, karena Icha mau berbaur dengan acara-acara seperti ini. Hal ini menunjukkan jika kondisi Icha semakin membaik.
Setelah mobil sahabat istrinya itu sudah tidak terlihat lagi, Riyadh melangkah masuk kedalam rumahnya, ketika mendengar suara dering ponselnya.
Pria itu berjalan menghampiri jasnya yang tadi sempat ia letakkan di atas sofa, mencari ponselnya di dalam saku jasnya.
Setelah menemukan benda dia cari, Riyadh pun melihat id penelepon yang tertera pada layar ponselnya. Pria itu ragu untuk menjawab panggilan dari ibunya itu, hingga panggilan itu berakhir.
Tapi semenit kemudian ponsel itu kembali berdering dan hal itu kembali berulang, ia membiarkan ponselnya begitu saja. Setelah ia melangkah masuk kedalam kamar untuk membersihkan tubuhnya, di ruang keluarga ponselnya terus saja berdering.
Hingga pada akhirnya, dia yang baru selesai mandi, memutuskan untuk menjawab panggilan itu.
"Kemana kamu, kenapa lama sekali jawab telpon mama." Omel sang mama sehingga Riyadh harus menjauhkan sedikit ponsel itu dari telinganya.
"Maaf ma! ponsel Iyad dalam mode dia. Untuk itu Iyad tidak mendengar panggilan mama." Jawab Riyadh berbohong. Karena jelas pria itu mendengar panggilan mamanya tapi sengaja mengabaikan panggilan itu. " Ada apa ma?" Tanya pria itu.
"Hari ini jadwal kamu pulang, mama tidak mau tahu, kamu harus pulang malam ini tidak ada alasan keluar kota seperti Minggu lalu, mama tidak akan menerima alasan itu." Tegas wanita paruh baya itu dari seberang sana.
Karena Minggu lalu, Riyadh tidak pulang ke rumah orang tuanya, semenjak pria itu berhasil memasuki Icha, dia jadi malas untuk pulang ke rumah orang tuanya. Karena pria itu tidak ingin melewatkan satu malam pun untuk mengambil jatahnya. Begitu pun dengan malam ini tapi dia tidak tahu harus bagaimana menolak mamanya.
"Ma_"
"Riyadh, mama tahu kamu memiliki wanita lain hingga kamu bisa bersikap seperti ini sama Nadine dan jarang pulang ke rumah. Walaupun mama belum tahu seperti apa wanita itu jangan sampai mama membuat dia sadar dengan mengumumkan pernikahan kamu dan Nadine. Ingat Riyadh jika dalam satu jam kamu tidak sampai di rumah. Jangan salahkan mama jika mengumumkan pernikahan kamu dan membuat malu jala-ng kamu itu. " Ancam sang mama dari seberang sana. Setelah itu ia mengakhiri panggilan itu begitu saja tanpa menunggu jawaban Riyadh.
__ADS_1