
Riyadh membawa Icha, ke ruangannya. Di sana sudah sudah tersedia makan siang seperti yang di katakan Rizky, office boy yang dimintai tolong sama Rizky, meletakan makanan itu, di atas meja sofa.
"Ayo sayang sini duduk."ucap Riyadh sembari menepuk-nepuk sisi sofa yang dia duduki.
Sebab istrinya itu hanya berdiri diam di tempatnya sembari menelisik seisi ruang kerjanya seakan ada sesuatu yang dia cari. "Sayang kamu liat apa sih," tanya Riyadh, namu wanita itu dengan cepat menggeleng kepalanya.
Padahal hati kecilnya sedang menyelidiki ruangan keja suaminya itu, siapa tahu Riyadh, memasang foto pertunangannya dengan Nadine di ruangan itu.
Lagian sebagai istri tak ada salahnya bukan jika Icha curiga, mengingat pertunangan Nadine dan Riyadh di setujui oleh mertuanya, sementara dia udah setahun menjadi istri riyadh tapi berasa seperti simpanan.
Semua ini memang sepenuhnya bukan salah Riyadh, dia sendiri pun menginginkan agar pernikahan ini untuk sementara tidak di ketahui oleh mamanya Riyadh, karena kondisinya saat itu tidak baik-baik saja, bahkan di saat dia sudah bisa di bilang baik, Icha tetap belum siap untuk bertemu dengan mertuanya.
Suaminya sendiri sudah sering mengajaknya, tapi Icha selalu menolak hal itu. Kini dia sendiri yang di buat uring-uringan tak jelas, cemburu untuk sesuatu yang belum tentu menang melawannya. Tapi namanya manusia apalagi wanita mahluk paling rapuh. Pasti punya ketakutan sendiri.
Antara suami di ambil pelakor atau di ambil tuhan." Sayang kenapa masih bengong sih." Riyadh kembali menegur Icha. " Kamu mikir apa sih, sayang?" Tanya Riyadh lagi. Dan seperti sebelumnya, Icha kembali menjawab dengan menggeleng kepalanya.
Tak ingin istrinya itu kembali bengong seperti tadi, Riyadh pun menarik tangannya dengan lembut, untuk duduk tepat di sampingnya. Namun belum juga Icha duduk, wanita itu sudah menarik dirinya kembali, berdiri seperti sebelumnya. Membuat Riyadh mengerutkan keningnya bingung dengan sikap Icha.
"Aku harus cuci tangan dulu." Ucapannya, membuat Riyadh mende-sah. Seraya menunjuk kearah pintu lain yang berada di ruang itu.
Icha pun melangkah ke sana, memutar handel pintu itu, saat pintu itu ia dorong kedalam, mata Icha langsung di buat basah dengan pemandangan di hadapannya. Baru saja ia memikirkan hal itu, Dan yang terjadi justru membuat jantungnya di pompa lebih cepat.
Bagaimana tidak, di dalam ruangan pribadi itu, terpasang foto Icha dalam bingkai besar Tidak hanya ada satu foto di sana, karena hampir setiap sudut ruangan itu ada fotonya.
Se-sayang inikah Riyadh sama dia, lalu kenapa, dia masih menunduh-nya yang bukan-bukan. Padahal sudah jelas, malam itu, Riyadh rela meninggalkan Nadine dan orang tuanya,. Hanya untuk memastikan jika dia baik-baik saja. Tapi kenapa dia selalu kenapa, semakin hari dia semakin serakah dengan Riyadh.
Icha, menutup kembali pintu itu, niatnya untuk mencuci tangan dia urungkan. Icha berbalik menghampiri Riyadh kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas pangkuan suaminya, memeluknya tanpa mengatakan apa-apa.
"Sayang kenapa nangis hmm?" Tanya Riyadh sembari mengusap punggung istrinya itu. Karena wanita itu kini sedang menangis dalam pelukan, tanpa Riyadh tahu sebabnya apa.
Yang dia tahu, istrinya itu memang sering sekali menangis akhir-akhir ini. Semenjak bertemu dia dengan Nadine waktu itu. Tapi Riyadh dapat memastikan jika didalam ruangan pribadinya itu, tidak ada sesuatu apapun yang berhubungan dengan Nadine di dalam sana.
__ADS_1
"Mas, kenapa pasang foto Icha di dalam sana?" Tanya Icha, suaranya terdengar sedikit serak.
" Karena aku sayang sama kamu, Icha! Kamu itu istri aku, kesayangan aku! Sudah sewajarnya jika aku memasang foto kamu, sayang. Memangnya aku harus masang foto siapa?"
" Nadine." Jawab Icha, membuat Riyadh menarik nafas berat. Dalam hatinya pria itu menjerit kenapa harus Nadine lagi, Nadine lagi. Yang buat istrinya itu kembali menangis, bagaimana kalau Icha tahu akan hal ini.
Ah memikirkan semua itu, membuat Riyadh hampir gila. Dimana-mana, orang mengatakan memiliki dua istri itu enak. Tapi kenapa yang Riyadh rasakan hanya tekanan dan rasa bersalah.
"Dia tidak lebih penting ucap aku letakkan di ruang pribadiku. Di ruangan ini saja dia tidak ada apalagi di sini." Ucap Riyadh sembari menunjukkan dadanya. Orang lain yang melihat dan mendengar hal itu, mungkin akan berpikir jika Riyadh sedang menggombal tapi kenyataannya memang begini adanya. " Udah sayang nggak usah di pikiran lagi, sekarang kita maka ya."
Lanjutnya.
Namun Icha menggelengkan kepalanya. " Nanti aja makannya, Icha mau kaya gini dulu." Jawabnya sedikit manja.
Riyadh pun tidak ingin memperburuk mood Icha, ia memilih membiarkan saja, Icha dengan senangnya. mengingat beberapa hari terakhir ini, Icha rada aneh, terkadang dia tiba-tiba marah nggak jelas, nangis dan sedetik kemudian ia sudah bermanja-manja seperti ini. Suasana hati Icha sulit untuk di tebak. Karena terlalu cepat berubah untuk sesuatu yang tidak perlu ia ratapi.
Cukup lama keduanya berada dalam posisi itu, hingga pintu ruang kerja Riyadh terbuka dengan begitu kasarnya.
" Riyadh, apa-apaan ini! Siapa wanita murahan ini." Tanya sang mama dengan begitu marahnya.
Akhirnya, setelah sekian lama ia mengikuti anaknya itu, sebentar lagi dia akan tahu siapa yang sia-lan yang sudah berani membuat anaknya menjadi pembangkang dan tak mau mengurus istrinya.
Sementara Icha, yang mendengar ucapan mama mertua nya, langsung melepaskan pelukannya pada leher Riyadh, ia hendak beranjak dari pangkuan Riyadh, tapi pria itu memeluk pinggangnya dengan begitu eratnya.
" Maaf ma dia bukan wanita murahan seperti yang mama pikiran kan! Dia istri aku." Ucap Riyadh penuh penekanan di setiap kata-katanya.
" Jangan gila kamu Riyadh, apa yang kamu katakan barusan, istri kamu bilang! Padahal disini ada Nadine, istri kamu?" Sahut Megan, membuat kepala Icha yang menunduk langsung terangkat, wanita itu mendongak untuk menatap wajah suaminya.
Berharap Riyadh membalas tatapannya dan menyangkal hal itu, namun pria itu tidak berani membalas tatapan mata Icha, ia hanya menunduk dan berbisik." Kamu tenang, aku akan menjelaskan semuanya."
Dan dibelakang sana, Nadine mengambil peran istri yang dikhianati dengan baik, wanita itu menjerit sejadi-jadinya. " Apa kurangnya aku mas sampai kamu tega melakukan ini, apa salah aku sampai kamu duakan aku! Aku selalu mengerti kamu saat kamu ingin datang dan pergi sesuka hatimu, satu tahun belakangan ini. Apa ini balasan yang harus aku terima. Tega kamu mas, kamu jahat." Nadiane tahu jeritan dan ucapannya tidak akan membuat seorang Riyadh peduli kepadanya, satu-satunya alasan, wanita itu melakukan hal itu. Hanya untuk menanamkan perasaan bersalah di hati Icha.
__ADS_1
Dan benar saja! Wanita itu langsung memberontak untuk melepaskan diri dari Riyadh, hal itu membuat Nadine tersenyum tipis sangat tipis, sehingga mereka tidak menyadari kepura-puraan Nadine.
Megan yang tidak terima, Nadine di sakit oleh wanita yang tidak tahu asal-usulnya itu. Langsung menghampiri, Icha kemudian menarik rambut wanita itu, untuk turun dari pangkuan putranya.
"Aaaeekkhh." Jerit Icha, sembari memegang pangkal rambut yang di tarik mertuanya, sungguh kepalanya benar-benar sakit di perlakukan seperti itu. Sementara Nadine tidak dapat melakukan apapun untuk Icha, karena tatapan tajam yang di berikan Riyadh padanya. Tapi wanita itu cukup puas karena mertuanya mengambil perannya dengan sangat baik. Keinginannya untuk menjambak rambut Icha, kini sudah di lakukan mertuanya, tinggal menunggu kesempatan ia akan mendaratkan beberapa tamparan pada pipi wanita untuk membuatnya sadar dan berhenti mengangguk rumah tangga orang lain.
Tidak peduli wanita itu telah dinikahi Riyadh atau hanya buwalan saja. Toh yang jadi pemenang adalah dirinya. Karena Megan berada di pihaknya.
Riyadh yang tidak tahan melihat Icha di perlakukan seperti itu, langsung melepaskan pelukan wanitanya, membuat Icha langsung beranjak dari tempat duduknya, Megan dengan berperasaan mendorong Icha hingga tersungkur di lantai, wanita paruh baya itu ingin menghampirinya untuk memberi Icha pelajaran lagi, tapi Riyadh segera menahannya dengan memeluk tubuh sang mama, kemudian membawa menjauh dari Icha.
Dan kesempatan itu dimanfaatkan oleh Nadine, wanita itu berjalan kearah Icha. Kemudian menginjak tangan wanita itu, mengunakan ujung higls yang dia pakai.
" Aaaeekkhh." Jerit Icha, saat merasakan ujung higls yang tajam itu menyentuh kulit tangannya, tidak hanya menginjak tangan Icha saja, iya juga menjambak rambut wanita itu dan memberi dua tamparan di pipi kanan dan kiri Icha, tanpa mengangkat kakinya dari tangan Icha. Tidak hanya itu Nadine bahkan dengan sengaja menendang pinggang Icha dengan kakinya yang satu lagi, posisi icha yang terduduk di lantai, membuat Nadine dengan mudah menyakitinya.
Icha sendiri tidak menyangka, hari ini akan datang padanya, kenyataan status Nadine, serta kekerasan pisik yang harus dia terima dari wanita-wanita terdekat suaminya.
Orang yang dia anggap sebagai sandaran, justru membuatnya, tersungkur tak berdaya, dia yang telah mengobati justru kembali melukai dengan begitu dalamnya.
Jika semua orang yang datang padanya berakhir seperti ini, kepada siapa Icha harus mengantungkan harapan.
Jika orang-orang yang di percaya selalu menghancurkan kepercayaannya, lalu kepada siapa lagi ia harus memupuk rasa percaya itu.
Tidak peduli sekeras apapun Riyadh membelanya, Icha sudah tidak peduli, karena dunianya saat ini telah benar-benar, hancur.
Apa artinya Riyadh menyembuhkannya selama ini Jika pada akhirnya, ia tidak bisa mencegah datangnya hari Hani.
Shock dan sakit yang ia rasakan membuat wanita itu mematung, ia terdiam menatap pada darah yang entah keluar dari mana, hingga pandangan itu berangsur-angsur memudar sebelum ia terbaring tak sadarkan diri.
Melihat hal Riyadh panik, pria itu bahkan tidak sadar mendorong tubuh mamanya, karena wanita itu sengaja menahannya saat Icha akan menolong Icha, dari Nadine.
"Jika sampai terjadi sesuatu kepada istriku, aku akan membunuhmu dan akan aku pastikan keluargamu berakhir menjadi gelandangan." Ancam Riyadh sembari menatap tajam kepada Nadine, sebelum pria itu mengangkat tubuh Icha, membawanya pergi dari ruangan itu.
__ADS_1