Aku Bukan Pilihan.

Aku Bukan Pilihan.
Tingkah Icha.


__ADS_3

Riyadh begitu mencintai Icha dan pria itu tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Dan dia akan menyingkirkan siapapun yang berencana untuk menyakiti istrinya.


Rasa cintanya kepada wanita itu begitu besar saking besarnya ia mampu mentolerir semua perbuatan Icha kepadanya, walaupun sikap wanita itu terkadang sudah berada di luar batas kesabarannya, namun Riyadh sekali lagi dapat memaklumi hal itu dan menerimanya seolah itu bukan suatu masalah baginya, selama hal itu bisa membuat Icha nyaman. Lainnya tidak penting termasuk perasaannya sendiri.


Seperti malam ini misalnya Riyadh baru kembali dari perusahaannya pukul 11.00 malam. Riyadh pun langsung membersihkan dirinya, setelah itu dia menuju pantry mencari sesuatu di dalam lemari penyimpanan makanan mereka untuk mengganjal perutnya malam ini, karena sejak siang tadi ia belum makan sama sekali, pria itu terlalu fokus untuk berkerja. Hingga Riyadh melewatkan waktu makan siangnya.


Setelah selesai makan malam Lia pun memutuskan untuk tidur tepat, saat dia bersiap untuk tidur Riyadh sempat menengok jam dinding, waktu kini telah menunjukkan pukul dua belas lewat lima belas menit, Dan tidak butuh waktu lama untuk seorang Riyadh terlelap. Hal itu bisa terjadi, karena dia sudah sangat lelah dan membutuhkan istirahat.


Tapi siapa sangka baru setengah jam Riyadh tertidur, dering panjang dari ponselnya membuat dia kembali membuka kedua matanya.


Riyadh sudah mengabaikan panggilan itu sekali, hingga panggilan itu berakhir, namun ponselnya itu kembali berdering Lagi Dan Lagi membuat Riyadh mau tak mau harus menjawab panggilan itu.


" Hola, Halo." Ucap Riyadh begitu pria itu menjawab panggilan itu namun sayangnya tidak ada suara sahutan dari sebelah sana dan beberapa saat kemudian panggilan itu pun diakhiri begitu saja tanpa ada yang menyahutinya, Riyadh berpikir itu adalah orang iseng namun begitu dia melihat id penelepon pria itu hanya bisa menggeleng kepalanya sembari mengusap wajahnya.


Riyadh ingin marah namun pria itu tidak bisa melakukannya. Riyadh pun memutuskan untuk tidak tidur kembali, ia memilih menunggu dan berharap orang itu akan kembali menghubunginya lagi dan benar saja belum ada 5 menit ponselnya kembali berdering.


Tanpa menunggu lama Ria pun segera menjawab panggilan itu. "Halo sayang ada apa? kamu butuh sesuatu!"tanya lihat kepada ID penelpon yang sama siapa lagi kalau bukan Icha, istrinya. " Sayang ada apa." Tanya Riyadh lagi bukan begitu lembutnya, saat ia tidak kunjung menemukan jawaban dari seberang sana.

__ADS_1


Namun seperti sebelumnya Icha bukannya menjawab wanita itu justru mengakhiri panggilan itu begitu saja. membuat Riyadh kembali mende-sah pasrah dengan tingkah istrinya itu.


Di sisi lain Rista yang baru saja terbangun, karena merasa tenggorokannya kering. Terpaksa turun dari ranjangnya dan melangkah ke dapur untuk mengambil minuman, karena air yang ia siapkan di kamar sudah habis, saat melewati ruang keluarga begitu terkejut dengan kehadiran sang Adik di sana.


Icha duduk di sofa sembari menunggu kutubnya di tangannya terdapat gagang telepon rumah, tanpa menyalakan lampu di ruangan itu.


" Icha. "Pekik sang kakak, kemudian menghampiri Icha, wanita itu masih tak berbunyi dari tempat duduknya walaupun dia telah menyadari kehadiran sang kakak di sana. " Cha ngapain disini, Hmmm! Kenapa nggak tidur Icha butuh sesuatu, pengen apa?" Rista sembari mengusap rambut sang adik, wanita itu kini berdiri tepat di hadapan Icha.


" Nggak, aku nggak butuh apa-apa kok Kak, icha itu cuma nggak bisa tidur aja." Jawabnya tanpa melihat kepada kakaknya. Icha tidak ingin Rista melihat air mata di pipinya.


" Terus kamu pegang telepon gini, buat apa? mau telepon iya?"tanya Rista lagi namun kali ini Icha hanya menjawab dengan gelengan kepalanya. " Terus Maunya apa?" Rista masih saja bertanya namun, Icha bukannya menjawab, wanita itu justru meletakkan ganggang telepon yang sejak tadi ia pegang dengan kesal kemudian berlalu dari hadapan Rista tanpa mengatakan apapun.


Entah mengapa Rista merasa kemahalan adiknya ini membuat ia terlihat begitu menyebalkan sebab ada saja tingkahnya, Tanpa mereka tahu maunya apa. Rista pun meneruskan langkahnya mengambil air di dapur setelah itu ia kembali ke kamar untuk melanjutkan istirahatnya.


Sedangkan Icha yang berada di kamarnya wanita itu tidak langsung tidur ya masih terlihat mondar-mandir dengan gelisah kesana. Jika dia lelah wanita itu akan duduk atau berbaring sejenak di atas ranjangnya dan setelah itu ia akan kembali bangun lagi, begitu saja terus hingga waktu menunjukkan pukul 03.00 pagi.


Icha yang masih belum bisa untuk tidur, melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya, wanita itu kembali duduk di tempat semula di mana Rista mendapatinya.

__ADS_1


Setelah itu Icha kembali meraih gangguan telepon rumah, kemudian menghubungi nomor yang simpan dengan baik dalam ingatannya. Dering pertama hingga kedua dan ketiga panggilan itu belum juga dijawab sampai di dering terakhir baru lah terdengar suara. " Halo, sayang! kenapa belum tidur juga. " Tanya orang Dari seberang sana namun Icha tetap diam tak mengeluarkan suara apapun sebelum ia kembali mengakhiri panggilan itu dan mengulangnya lagi beberapa saat.


Buat orang yang berada di seberang sana tidak bisa untuk tertidur malam ini sama seperti dirinya, entah dia sengaja karena ingin menghukum atau memang rindu tapi ego yang membuatnya bersikap se-kanak-kanakkan ini.


Entah berapa kali Icha melakukan hal itu, karena pagi harinya Rista menemukan sang adik itu tertidur di sofa sembari menggenggam ganggang telepon rumah mereka.


"Kenapa bisa tidur di sini?" Tanya harga kepada istrinya.


" Entahlah."jawab Rista sembari menaikan kedua bahunya. " Semalam aku juga mendapati dia di situ, aku tanya maunya apa tapi dia hanya diam setelah itu masuk lagi ke dalam kamarnya dan sekarang malah ada di sini. " Lanjutnya diikuti desa-han yang keluar dari bibir wanita itu.


"Apa atau mungkin dia rindu dengan suaminya?" Tanya harga sekedar menebak, tapi sekali lagi Rista hanya menaikkan kedua bahunya tidak tahu, karena adiknya itu tidak mau mengatakan apa yang dia. inginkan.


Bunyi bel di pintu, mengalihkan perhatian keduanya. Rista menatap kepada arga sekedar menebak-nebak kira-kira Siapa yang datang dari jam sepagi ini.


Arga pun menaikkan kedua bahunya seakan tahu apa yang ingin ditanyakan oleh istrinya." Ayo kita lihat saja Siapa yang datang." Ajaknya kepada sang istri kemudian keduanya melangkah menuju pintu rumah mereka, untuk membuka kan pintu, karena bel rumah itu kembali terdengar tidak sabaran.


"Iyad." Ucap Rista begitu ia membukakan pintu kemudian mendapati adik iparnya disana.

__ADS_1


" Selamat pagi kak."


__ADS_2