
Sesuai saran yang di berikan Amanda, Riyadh terus melakukan apa yang di katakan sahabatnya itu, tentu saja! Atas seizin Icha, pria itu tidak pernah melewati batasan walaupun terkadang ia hampir terbawa suasana. Namun sejauh ini kewarasannya masih berkerja dengan baik.
Tekadnya untuk menyembuhkan Icha jauh lebih besar dari pada keinginannya untuk mendapatkan haknya sebagai seorang suami, walaupun tidak jarang hal itu membuatnya sering merasa sakit kepala. Dia masih pria normal, setiap pagi terbangun di ranjang yang sama dengan Icha, sungguh suatu penyiksaan untuknya. Apalagi penampilan istri itu saat pagi hari, terlihat sangat menggoda imannya.
"Kenapa?" Tanya Icha, wanita itu baru saja membuka matanya dan mendapati Riyadh masih berbaring, mata pria itu terpejam namun tangannya terus bergerak memijit pangkal hidungnya.
Mendengar suara sang istri, membuat Riyadh menengok dan mendapati istrinya itu kini telah duduk di sampingnya. Wajar terlihat khawatir namun ia tidak juga melakukan apapun. Hanya diam dan menatap apa yang dilakukan suaminya itu.
"Nggak papa sayang, hanya sakit kepala." Jawab Riyadh, tanpa membuka kedua matanya.
" Terus Icha harus melakukan apa?" Tanya Icha, sungguh dia kasihan kepada suaminya, tapi dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa." Bagaimana kalau minum obat aku." Ucap Icha lagi menawarkan obat yang sering dia minum dulu kalau sakit kepala.
Membuat Riyadh menyerah! Rasanya percuma mengharapkan istrinya itu akan melakukan sesuatu kepadanya. " Tidak perlu Sayang, masih bisa aku tahan kok! Aku yakin setelah mandi air dingin aku akan merasa lebih baik." Sahut Riyadh, pria itu kemudian beranjak dari tempat tidur mereka dan melangkah masuk kedalam kamar mandi, meninggalkan Icha yang hanya bisa menatap bingung punggung suaminya, yang telah menghilang di balik pintu kamar mandi.
Icha dulu sering merasakan sakit kepala namun sakit itu tidak akan hilang sekalipun dia mandi air dingin. Apa mungkin suaminya itu sengaja berbohong untuk membuatnya tidak khawatir.
Icha terus berpikir keras, namun ia tidak kunjung menemukan jawaban apapun, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menelpon sang kakak dan menanyakan kepada sang kakak, siapa tahu Rista punya rekomendasi obat yang aman dan dapat mengobati sakit kepala Riyadh.
__ADS_1
Rista pun hanya memberikan saran untuk membeli obat sakit kepala biaya untuk Riyadh. Rista pikir Riyadh hanya sakit kepala biasa karena pekerjaannya.
Icha pun mengangguk paham walaupun sang kakak tidak dapat melihatnya dari seberang sana. Setelah mengakhiri panggilan dengan sang kakak, Icha langsung bergegas untuk membasuh wajahnya dan menyikat gigi di kamar mandi, yang ada di kamar tamu, kemudian mengambil kardigan dan dompet. Setelah itu ia melangkah keluar rumah untuk membeli obat di apotek dan sarapan untuk mereka berdua tanpa menunggu Riyadh selesai dengan ritualnya di kamar mandi.
🥀🥀🥀🥀
Riyadh yang baru keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar tidak mendapati Icha di kamar mereka, pria itu berpikir istrinya itu sedang memasak di dapur sehingga ia memutuskan untuk berganti pakaian dan akan menyusul Icha untuk membantunya.
Tak butuh waktu lama, kini Riyadh sudah selesai berganti pakaian, pria itu kemudian menyusul Icha di dapur. Tapi sayang ia tidak menemukan Icha disana. " Sayang.," Panggil Riyadh, pria itu mulai berkeliling rumahnya untuk mencari Icha, namun ia tak kunjung menemukan istrinya itu." Sayang kamu dimana sih." Tanya Riyadh pada dirinya sendiri, sembari melangkah kembali kedalam kamar untuk menghubungi Icha dan seperti biasanya, lagi-lagi istrinya itu lupa membawa ponselnya.
Membuat Riyadh mulai panik sendiri, pria itu berjalan kearah garasi mobil untuk mengecek motor yang biasa Icha gunakan jika ia akan ke supermarket dekat-dekat sini dan benar saja, motornya tidak ada.
Disaat dia sedang gusar dan mondar-mandir kesana-kemari layaknya setrikaan Icha pun datang, wanita itu membawa beberapa bungkusan plastik, yang ia gantung di motornya.
"Ngapain disini." Tanya Icha. Membuat Riyadh menarik nafas panjang! Sungguh bersama istrinya ini ia memiliki begitu banyak stok kesabaran, emosi yang selalu meluap-luap itu, entah hilang kemana sejak bersama wanita ini.
" Sayang, harusnya aku yang tanya kamu dari mana? kamu tahu nggak, Aku tuh khawatir nyariin kamu." Ucap Riyadh sembari menarik pelan tangan Icha kemudian memeluknya. " Kalau mau pergi, kasih tahu aku dulu, biar aku nggak cemas! Terus ponsel kamu juga di bawa." Lanjutnya, sembari mengusap kepala Icha dengan begitu sayangnya.
__ADS_1
" Sayang kamu dengar-in aku nggak." Riyadh mengurangi pelukannya kemudian menahan kedua pipi Icha, membuat istrinya itu menatap kepadanya.
" Hmmm." Gumam Icha sembari mengangguk-anggukan kepalanya. " Maaf ya! Aku nggak bermaksud untuk membuat kamu khawatir, aku tadi nggak sempat izin, soalnya ingin cepat-cepat membeli obat sakit kepala dan bubur untuk sarapan kita. Nih." Ucap Icha begitu Riyadh melepaskannya.
" Iya, nggak papa! Tapi Jangan di ulang lagi ya." Icha pun hanya mengiyakan saja, entah benar atau tidak, biar waktu yang membuktikannya.
" Ya udah, kita serapan yuk, terus minum obat biar sakit kepalanya cepat hilang." Ucap Icha, tanpa sadar wanita itu menarik pergelangan tangan Riyadh untuk masuk kedalam rumah. " Tunggu disini biar aku siapkan sarapannya. " Lanjutnya menyuruh Riyadh untuk duduk di ruang makan, sementara ia masuk ke dapur memindahkan bubur ayam kedalam mangkuk, tak lupa mengambil air putih dan sendok setelah itu ia membawa bubur itu kepada Riyadh.
" Kenapa nggak masak aja sih, yank." Tanya Riyadh, pria itu terlihat enggan untuk menikmati bubur itu, karena sejujurnya ia kurang suka makanan pinggiran jalan. Selama ini jika mereka memesan makan, dia selalu memesan makanan dari restoran-restoran mahal Yang terjamin kebersihan. Itu menurut Riyadh.
" Kamu kan harus cepat-cepat minum obat, kalau nunggu aku masak dulu lama." Jawab Icha. " Ya udah di makan, jangan di lihatin gitu, tempat makanannya bersih kok aku berani jamin, enak." Sambung Icha lagi.
" Iya," Hanya iya tapi Riyadh tidak kunjung memakannya.
" Cobain deh." Icha menyendok sedikit bubur dari piring Riyadh, kemudian menyodorkan pada bibir suaminya. " Ayo buka mulutnya." Entah sihir dari mana, Riyadh pun hanya menurut saja, ketika Icha menyuapinya. Ada perasaan bahagia serta tak percaya dengan perlakuan yang ia dapatkan hari ini. Bolehkah dia percaya jika Istrinya itu sudah sembuh. " Gimana, enak kan." Tanya Icha lagi.
" Iya, enak! Terima kasih ya sayang."
__ADS_1
" Sama-sama. Nih lanjut makan lagi." Ucap Icha seraya memberikan sendok yang ia gunakan untuk menyuapi Riyadh kepada suaminya itu.
Setelah itu keduanya makan dalam diam. Sesekali Riyadh akan melirik kepada Icha sambil tersenyum, atas perlakuan manis istrinya itu hari ini.