
Ayah Rifky kembali harus di larikan ke rumah sakit. Begitu tiba di rumah sakit, ayah Rifky langsung mendapatkan penanganan di ruangan ICU. Icha, Rista, Nadia, Mimi dan Arga, suami Rista menunggu di depan ruangan itu sambil berharap harap cemas di depan ruang ICU.
" Sejak kapan ayah sakit?" Tanya Icha, ia kini sedang duduk disalah satu bangku besi yang berhadapan langsung dengan bangku yang sama yang di duduki kakaknya.
" Selama ini Ayah tidak pernah dapat tugas keluar kota. Aku mengatakan hal itu agar kamu tidak khawatir." Jawab Rista. Yang ditanya apa, yang di jawab apa, tetapi Icha tidak langsung memprotes hal.
" Terus Selama ini ayah dimana?" Tanya Icha lagi.
" Ayah di rawat.."
" Dan kalian tidak ada yang memberitahukan aku?"
" Ssssttthh,, Cha ini rumah sakit." Tegur Mimi, saat suara Icha mulai meninggi.
" Kakak melakukan ini atas permintaan ayah yang tidak ingin kamu khawatir."
" Ini juga alasan kenapa ayah ingin segera menikahkan kamu! Agar ada yang menjaga kamu, kecuali kamu ingin tinggal bersama kakak dan Rista." Sahut Arga, Seketika itu tubuh Icha mulai lemas dan keringat dingin mulai memenuhi dahinya.
Menyadari perubahan pada Icha, Rista berpindah tempat duduk tepat di samping adiknya. mengusap punggung Icha, begitu Icha tenang, Rista kembali berkata. " Kami tidak bermaksud untuk memaksamu, tetapi tolong, pikirkan kondisi ayah Cha. Bisa jadi ini permintaannya yang terakhir." Icha ingin protes dengan ucapan sang kakak, tetapi ia urungkan karena pintu ruang ICU yang tiba-tiba terbuka.
" Bagaimana kondisi Ayah saya dok?" Tanya Rista dan Icha, secara bersamaan.
Dokter pun menjelaskan kondisi Ayah Rifky dan meminta Icha juga Rista berdoa untuk kesembuhan ayah mereka, karena kondisinya sudah sangat parah.
Arga yang mendengar hal itu, perlahan mundur dan berjalan sedikit meninggalkan mereka. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. kemudian Mendeal no seseorang disana, sebelum menempelkan benda itu ke telinga nya. Tak butuh waktu lama panggilan itu langsung di jawab.
__ADS_1
Begitu adia selesai berbicara, Arga pun menghampiri Istri dan adik iparnya lagi, mereka kembali duduk di tempat semula, usai berbicara dengan dokter yang menangani ayah Rifky.
Sementara itu di tempat lain dengan waktu yang sama. Riyadh yang baru saja pulang dari acara perjamuan salah satu kolega ayahnya, tiba-tiba mendapat telpon dari Arga, Lelaki itu memberi tahu keadaan mertuanya kepada Riyadh tanpa pikir panjang, Riyadh pun langsung meminta Rizky untuk mengantarnya ke rumah sakit, begitu telponnya berakhir.
" Pa, Iky antara aku dulu ya! setelah itu baru ngantar papa." Ucap Riyadh Kepada papanya, yang kini tengah duduk di jok belakang. sedangkan ia duduk bersama Rizky di depan. Karena papanya sengaja mengajak Riyadh untuk ikut dengannya, sekaligus ingin memperkenalkan putranya itu, kepada beberapa rekan bisnisnya yang juga hadir disana.
" Mau kemana yadh?" Tanya sang papa.
" Rumah sakit pa! Nanti Aku cerita." Ucap Riyadh, tak ingin papanya terlalu bertanya untuk saat ini. papanya pun hanya mengangguk pertanda setuju, karena tahu seperti apa putranya itu, jika dia ingin menjelaskan dia pasti akan menjelaskan.
Tak butuh waktu lama, Mobil Riyadh kini sudah tiba di rumah sakit, setelah pamit kepada papanya ia langsung bergegas menuju ruangan ICU, seperti yang di katakan Arga di telepon.
Sementara itu di belakang sana, papanya dan Rizky tidak langsung pergi, keduanya keluar dari mobil, kemudian mengikuti langkah Riyadh yang telah lebih dulu pergi, Karena Sebelumnya Riyadh tidak pernah sepeduli itu kepada orang lain, wajar jika papanya curiga dan ingin tahu siapa yang di kunjungi putranya itu, Apalagi setelah menerima telpon di mobil tadi Riyadh tidak banyak bicara.
......🥀🥀🥀🥀......
" Apa aku menganggu waktumu." Tanya Arga, kepada Riyadh, seketika itu pandangan Icha langsung berpindah kepada kakak iparnya, menatap silih berganti keduanya, rasa ingin tahu membuat ia melupakan kebiasaannya. Sementara itu Mimi dan Nadia yang sudah tahu rencana perjodohan Riyadh dan Icha, hanya bersikap biasa saja, seolah mereka tidak tahu apa-apa dan membiarkan Rista dan Arga yang mengurus semuanya.
Sedang Arga tersenyum samar saat, menangkap tatapan penuh tanya dari Adik iparnya. " Dia teman kakak." Ucapnya lagi, seolah tahu apa yang ingin di tanyakan adik iparnya itu.
Sebelum Arga menarik tangan Riyadh, untuk duduk sedikit jauh dari mereka.
" Teman, sejak kapan mereka berteman?" Pertanyaan itu kembali terlintas di benak Icha, namun wanita itu tidak berani menanyakan hal itu secara langsung, toh dia tidak begitu dekat dengan kakak iparnya itu.
Ceklek.
__ADS_1
Pintu ruangan itu kembali terbuka, dokter yang tadi sempat berbicara dengan mereka, Keluar. " Pasien sudah sadar, kalian bisa menemuinya secara bergantian dan jangan terlalu mengajaknya berbicara, pasien masih terlalu lemah! satu lagi, tolong jaga emosinya." Pesan dokter sebelum berlalu meninggalkan mereka.
" Siapa yang bernama Rista disini." Tanya seorang perawat. yang berdiri di depan pintu ruangan ICU, yang setengah terbuka, setelah dokter pergi.
" Saya sus." tanpa menunggu lama, Rista langsung berdiri dari duduknya, ia berjalan masuk kedalam ruangan itu mengikuti langkah sang suster.
Sementara Icha masih duduk diam di tempatnya, ia tidak ingin membuat masalah lagi, ayahnya seperti ini karena dirinya. Beruntung ayahnya masih membuka kedua matanya, kalau tidak! entah apa yang akan terjadi, mungkin Icha tidak akan memaafkan dirinya sendiri.
Tak lama berselang, pintu ruang itu kembali terbuka, Rista melangkah keluar untuk menemui Riyadh dan Arga, meminta kedua lelaki itu masuk sesuai permintaan Ayah.
Begitu punggung Arga dan Riyadh menghilang di balik pintu itu. Icha langsung bertanya kepada Mimi dan Nadia. " Kenapa Pak Riyadh ada disini?"
" Itu.."
" Dialah lelaki yang di pilih ayah untuk menjagamu." Mata Icha membola Seketika, mendengar jawaban Kakaknya.
" Apa Kak_"
" Dialah lelaki yang di pilih ayah untuk menjagamu." Rista kembali mengulang Jawabnya.
" kak, kakak tahu sendiri aku seperti ap_"
" Cukup Icha, Jika kamu ingin membunuh ayah maka teruslah menolak! Apa kamu lupa, apa yang di katakan dokter barusan." Potong Rista Sebelum Icha sempat menyelesaikan ucapannya.
" Tapi kak, Icha harus apa kak? Icha itu tidak pantas untuk dia, harus berapa kali Icha bilang."
__ADS_1
" Icha, pantas atau tidaknya, hanya dia yang dapat menilai hal itu, jika dia memilih kamu. Itu tandanya kamu memang pantas untuk dia." Balas Rista, ia sudah cukup kehilangan kesabaran untuk adiknya itu.