Aku Bukan Pilihan.

Aku Bukan Pilihan.
Siapa wanita itu?


__ADS_3

"Kalau nggak cemburu kenapa nangis?" Goda Riyadh, setelah melepas pelukan mereka.


"Aku nangis karena sakit." Sahut Icha. Membuat Riyadh berpikir jika luka di tangan istrinya itu benar-benar sakit, hingga membuat istrinya itu sampai tersedu-sedu seperti ini.


Riyadh tidak tahu saja, jika Icha tidak merasakan sakit di tangannya, karena sakit hatinya, membuat ia tidak dapat merasakan sakit di tempat lain.


" Ya udah kita pulang sekarang. Nanti kita obati lukanya. " Sahut Riyadh, pria itu kemudian memasangkan sabuk pengaman pada Icha, menutup pintu mobil itu terlebih dulu sebelum berlari kecil mengitari mobilnya, setelah itu ia ikut masuk kedalam mobilnya, duduk di belakang stir mobil tepat di samping Icha. " Sayang udah dong nangisnya. Kan kamu sendiri nggak mau aku temani." Ucap Riyadh lagi, pria itu dengan perlahan menjalankan mobilnya keluar dari Area hotel, sembari memasang earphone di telinga kanannya.


"Oh jadi mas sengaja, pergi sama Nadine, karena Icha menolak mas pergi sama Icha, mas sebenarnya udah lihat Icha kan tapi sengaja nggak peduli, karena ingin membalas Icha, iya kan?" Riyadh yang sedang mengotak-atik ponselnya, langsung menatap tak percaya dengan apa yang baru dia dengar. Kenapa sekarang kesalahan duduk padanya.


" Halo ky! Dimana?" Ucap Riyadh kepada Rizky yang berada di seberang sana, pria itu memang mengotak-atik ponselnya untuk mencari nomor ponsel sepupu sekaligus asistennya itu. " Tolong jemput mama dan papa dong Ky." Lanjutnya.


Mendengar Riyadh sedang menelepon, Icha memilih untuk diam sesaat, membiarkan Riyadh, berbicara dengan pria yang Icha tahu adalah sepupu sekaligus asisten suaminya itu.


" Sayang aku itu pergi sama Nadine nggak sengaja, mama minta tolong buat temani ke undangan, karena kamu juga nggak ada di rumah, aku terpaksa iya in mama. Mana aku tahu kalau Nadine juga bakalan ikut." Ucap Riyadh setelah mengakhiri panggilannya dengan Rizky. Pria itu sengaja berbohong, agar istrinya tidak semakin terluka, walaupun kebohongan itu tidak sepenuhnya salah.


Kenyataannya, dia memang tidak tahu akan pergi ke pesta itu bersama Nadine." Ah Mas bohong kan! Kalau nggak sengaja kenapa baju bisa sama-sama gitu. Itu yang di sebut nggak sengaja! Mas nggak sengaja pergi sama Nadine atau nggak sengaja ketemu aku di sana. " Dalam hati Riyadh, bertanya-tanya kenapa Icha bisa sampai se-jeli itu mencari letak salahnya dimana.

__ADS_1


" Cha_"


" Udah nggak usah beralasan lagi, aku nggak mau mendengarnya! mas itu sama aja." Selanya sebelum Riyadh sempat untuk berbicara, Riyadh pun terdiam.


'Semoga saat kamu tahu semua! Marah kamu hanya seperti ini, jika masih kurang lakukan apapun padaku sayang tapi jangan pernah berpikir untuk pergi dari hidupku karena bagi aku kamu itu segalanya! Aku akan mendengar dan menerima kemarahan kamu, tapi aku tidak akan bisa menerima jika kamu ingin pergi dari aku.'Ucap Riyadh dalam hatinya, sembari melirik kepada Icha. Wanita itu sudah tidak mengoceh lagi, tapi air matanya tidak mau berhenti, membuat hati Riyadh ikut sakit.


" Sayang." Panggil Riyadh saat mobilnya, berhenti di lampu merah, pria itu mencoba untuk menghapus air mata Icha, tapi Icha dengan cepat menepis tangannya. Membuat Riyadh hanya bisa menarik nafas berat.


Sisa perjalanan keduanya hanya ditemani keheningan walaupun sesekali terdengar isak-kan kecil dari Icha.


"Mam, kayanya Nadine pernah lihat wanita itu deh?" Ucap Nadine membuyarkan lamunan mama mertuanya. Sementara papanya Riyadh Hanya diam, pria paruh baya itu bersikap layaknya orang yang tidak peduli dan tidak ingin tahu, tapi kenyataannya dia tahu siapa wanita yang di gendong oleh putranya itu. Dia itu adalah menantu sebenarnya mereka dan seharusnya berada di tengah-tengah keluarga mereka, bukan menantu yang penuh dengan tipu muslihat seperti Nadine ini.


"Lihat dimana?" Tanya Megan, ingin tahu! Seraya menatap kepada Nadine dengan sedikit tidak sabaran, Menunggu Nadine melanjutkan ucapannya.


"Dia itu rekan bisnis Riyadh ma! Kayanya mereka punya hubungan yang spesial deh ma! Soalnya menurut yang Nadine dengar perusahaan dia kayanya baru deh! Tapi herannya perusahaan itu bisa kerja sama dengan perusahaan kita. Sementara perusahaan besar lainnya tidak mudah loh untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan kita. Nadine yakin dia pasti udah berhasil menggoda mas Riyadh sampai mau berkerja sama dengan mereka." Jawabnya.


"Jangan asal kalau bicara, kamu tahu apa soal kerja sama sebuah perusahaan. Memangnya kamu pernah berkerja?" Papanya Riyadh yang tidak suka Nadine menjelekkan Icha, tanpa sadar menyahuti ucapan wanita itu. " Kerja sama sebuah perusahaan itu, bukan dilihat dari besar kecilnya sebuah perusahaan, tapi keuntungan dalam kerjasama itu yang menjadi bahan pertimbangan, selain itu pekerjaan yang mereka tawarkan hasilnya selalu memuaskan. " Lanjutnya. Membuat Nadine terdiam.

__ADS_1


"Papa apa-apaan sih! Bisa saja yang di ucapkan Nadine itu memang benar! Memangnya papa tahu perusahaan seperti apa yang berkerja sama dengan perusahaan kita? Nggak kan." Ucap mamanya Riyadh. " Papa sih terlalu ikuti maunya dia, jadikan gini. punya istri tapi nggak di urus main asal sepakati kerja sama! Entar kalau udah rugi kita juga yang report. Makanya pa jadi orang tua itu, sedikit tegas ke anak.


"Ma_"


"Udah papa nggak usah belain anak terus." Tegur Megan.


Perdebatan itu baru benar-benar berakhir setelah Rizky datang untuk menjemput mereka. Membuat Megan semakin kesal. Bagaimana tidak, putranya lebih peduli kepada wanita lain, wanita yang tidak tahu dari mana datangnya tiba-tiba merebut perhatian putranya itu.


"Ky, kamu tahu siapa wanita yang di antar sama Iyad?" Tanya Megan saat ini mereka tengah berada dalam mobil dan akan di antar pulang oleh Rizky.


"Nggak tahu Tante, ini aja iky, baru datang." Jawabnya.


"Maksudnya Riyadh bilang ke kamu nggak, kalau di pulang sama siapa?" Rizky dengan cepat menggeleng kepalanya. Pria itu, tentunya tahu Riyadh pulang bersama siapa, tapi dia tidak mungkin memberi hal itu kepada Tantenya dan juga Nadine.


Megan yang mengerti jika Rizky tidak lagi bertanya, wanita lain sudah bertekad untuk mencari tahu semuanya sendiri, kalau perlu dia akan membayar sekertaris Riyadh untuk melaporkan apa saja yang di lakukan putranya itu dan siapa saja yang datang ke ruang Riyadh untuk menemuinya.


Megan tidak boleh lengah, bagaimana pun dia sudah memiliki Nadine sebagai menantu di keluarga. Belum tentu wanita itu memiliki bibir, bebet, bobot yang sama dengan menantu pilihannya itu. Bagaimana kalau menantu itu hanya ingin memeras harta mereka. Tau sendiri di jaman sekarang ini, wanita-wanita diluar sana akan melakukan segala cara untuk memuaskan gengsi mereka dan ia tidak ingin putranya itu menjadi korban wanita-wanita seperti itu. Tanpa wanita paruh baya itu sadari, dia sendirilah yang memilih wanita seperti itu untuk putranya.

__ADS_1


__ADS_2