Aku Bukan Pilihan.

Aku Bukan Pilihan.
Tinggal bersama


__ADS_3

"Nggak papa, saya yang salah! Datang tanpa memberi tahu Icha terlebih dulu hingga membuatnya terkejut seperti ini." Sela wanita paruh baya itu, sengaja memotong ucapan Rista sembari menatap iba pada menantunya itu.


Mendengar ucapan mertua adik, Rista hanya tersenyum kikuk, bagaimana tidak wanita itu harus minta maaf untuk kecerobohan sang adik.


Rista sudah tahu persoalan yang terjadi antara adiknya dan wanita paruh bayah itu, namun dia tidak menyangka icha akan terkejut se-terkejut segitunya, melihat kedatangan mertuanya sendiri.


"Maaf ya sayang, mama buat kamu terkejut ya." Ucap Megan, wanita itu sedikit melangkah maju dan ikut mengusap punggung Icha.


Icha pun hanya tersenyum, seraya mengangguk kepalanya, wanita itu sudah terlihat sedikit lebih baik, setelah minum! Walaupun tenggorokan masih terasa sang sakit.


"Iyad, ajak mama duduk dulu." Titah Rista kepada kepada adik iparnya itu.


Rista meraih gelas bekas minum Icha dan mangkuk berisi rujak buah yang manis tersisa setengah dari tangan Icha, namun wanita itu justru menahannya. " Icha masih pengen kak." Mohonnya kepada sang kakak.


Wajah tengang saat melihat sang mertua kini telah berubah sendu, ia bahkan melupakan keberadaan mertuanya, hanya karena tidak ingin berpisah dengan setengah mangkuk rujak buahnya.


"Cha, nanti makan lagi, ada mertua kamu itu." Bisik sang kakak, membuat Icha langsung mengalihkan pandangannya dari sang kakak kepada wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik dan elegan itu.


Dari ujung rambut hingga ujung kaki terpasang barang-barang bermerek semua berbeda dengan yang Icha kenakan. Dress-nya saja di beli karena diskon lima puluh persen dan yang lainnya, sudahlah baik-kan bumi dan langit jika di bandingkan dengan wanita itu, " jangan bengong, suruh mertua kamu duduk." Bisik Rista lagi, sembari menepuk pelan pundak Adiknya.


Karena wanita paruh bayah itu, masih berdiri di tempatnya, sembari tersenyum hangat kepada Icha. " Tante, ayo duduk dulu." Ucap Icha kemudian. Wanita itu dengan gugup menuntun sang mertua untuk duduk di sofa lusuh mereka! Maklum saja, sofa itu sudah sepuluh tahun menghiasi ruangan tamu rumah mereka, tapi masih bisa di gunakan untuk duduk.


"Nggak usah di bersihkan." Tegur Megan saat melihat, menantunya itu! Membersihkan sofa di mana mereka akan duduk menggunakan tangan dengan menepuk-nepuk sofa itu.


Megan tahu apa yang dilakukan icha saat ini hanya untuk menutupi rasa gugupnya. " Silahkan Tante." Ucapnya lagi mempersilahkan wanita itu untuk duduk.


Sedangkan rista sendiri sudah kembali ke dapur, meninggalkan Riyadh, Icha dan Megan. " Maaf Tante hanya seadanya." Rista kembali lagi, dengan membawa tiga cangkir teh, serta kue bolu pisang request sang adik siang tadi, untuk di buatkan. Tapi sama seperti roti bakar semalam begitu, bolu itu jadi! Icha sudah tidak berselera lagi untuk mencicipinya.


Sungguh menyebalkan bukan, karena bukan kue bolu saja! Masih banyak lagi request sang adik sejak pagi tadi, seperti sup ayam! Undang goreng, bakwan. Dan tidak ada satupun yang masuk kedalam mulut sang Adik, hanya rujak buah itu saja yang di makan.


"Terima kasih ya nak! Ini saja sudah lebih dari cukup." Ucap Megan begitu tulus.


Rista pun tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, setelah itu ia pamit ke belakang.

__ADS_1


"Sayang, mama datang kesini untuk bertemu kamu, sekaligus ingin minta maaf." Jelas Riyadh. Memulai pembicaraan di antara mereka.


"Iya sayang, mama ingin minta maaf sama kamu, mama ingin kita memulai hubungan baik sama kamu." Ucap Megan, wanita itu sejujurnya! Malu sekali mengatakan hal ini, karena apa yang dia lakukan kepada menantunya itu.


" Icha sudah memaafkan Tante kok! Jadi Tante nggak perlu merasa bersalah kepada Icha lagi, Icha juga salah, harus waktu di cafe itu Icha, jujur sama Tante! Tapi karena Icha terlalu takut, Tante tidak dapat menerima Icha nantinya." Jawab Icha, wanita itu tidak sungkan untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan.


" Kalau kamu sudah memaafkan mama! Kenapa kamu masih memanggil mama, Tante?" Tanya Megan, dari semua yang Icha katakan, wanita itu justru mempersoalkan panggilan Icha kepada.


Pertanyaan wanita itu membuat Icha semakin gugup! Dia bukan tidak mau memanggil Megan mama, tapi semuanya terasa seperti kejutan untuknya yang mana membuatnya semakin gugup saja.


" Sayang, mama kesini, karena benar-benar ingin minta maaf sama kamu! Mama juga akan menerima kamu sebagai menantunya dan aku berharap kamu mau memberikan mama kesempatan." Ucap Riyadh.


Pria itu dan Megan berusaha untuk meyakinkan Icha, padahal tanpa mereka berusaha keras pun Icha sudah memaafkan Megan dan menganggap wanita itu sebagai mertuanya.


Hanya saja, ia sedikit merasa minder! Karena gadis biasa seperti dia, bisa berada di antara orang terpandang seperti Suami dan keluarga suami nya itu.


Walaupun Icha sendiri juga berasal dari keluarga yang terhormat, namun masa lalu membuatnya tidak dapat mengangkat wajahnya.


Icha, pun tersenyum, wanita itu sedikit ragu untuk mengangguk, tapi pada akhirnya, ia tetap mengangguk dan mengiyakan permintaan Megan. " Iya, mah." Ucapannya kemudian memeluk tubuh Megan seperti yang di inginkan wanita itu.


Riyadh tersenyum melihat semua itu, sungguh dua sudah lama memimpikan hal ini, dan bersyukurnya tuhan sedikit melembutkan hati mamanya, karena sang mama bukanlah orang yang jahat, mamanya itu penyayang walaupun sedikit cerewet dan banyak maunya tapi sejauh ia mengenal mama nya itu, mama tidak pernah merugikan orang lain, terkecuali saat terlalu lama di biarkan bersama Nadine.


" Tante, Iyad, Cha. Ayo kita makan dulu, nanti obrolannya di lanjutkan lagi." Ajak Rista, wanita itu kembali menghadirkan mereka setelah selesai menghindangkan makan malam untuk mereka di atas meja. " Ayo tante." Desak Rista, membuat Megan mau tak mau, ikut bergabung bersama mereka di ruang makan. Menikmati hidangan ala kadarnya tapi tidak mengecewakan lidah mereka yang menikmatinya.


Bahkan Megan beberapa kali memuji dengan tulus masakan Rista karena wanita itu begitu pandai memasak, Icha pun demikian tapi masih unggul sang kakak.


Begitu selesai makan malam, Riyadh meminta izin kepada Icha untuk mengantar Megan pulang, karena tidak mungkin untuknya membiarkan sang mama pulang mengunakan taksi. Rista pun mengiyakan permintaan suaminya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Satu minggu telah berlalu hubungan icha dan mertuanya pun semakin hari semakin membaik, tak jarang Megan datang untuk menjemput icha, wanita itu membawa menantunya jalan-jalan atau sekedar belanja bersama.


Tapi sebelum itu Megan akan mendatangi Riyadh untuk meminta izin dari putranya itu terlebih dulu seperti sekarang ini.

__ADS_1


" Temani mama jalan-jalan lagi?" Ucap Riyadh begitu wanita yang telah melahirkannya itu, melangkah masuk kedalam ruang kerjanya." Nggak mah." Riyadh langsung menolaknya, sebelum sang mama mengatakan maksudnya.


Pasalnya setiap kali, Icha pergi dengan mamanya, istrinya itu tidak akan mengatakan keinginan saat bersama dengan mamanya, wanita itu selalu menyimpannya, menunggu Riyadh pulang barulah dia mengatakan ingin ini dan itu. Tahu sendiri kalau sudah begitu tentu saja harus di turuti, syukur-syukur ketika mereka tiba di sana apa yang di inginkan Icha masih ada! Jika tidak, uring-uringan itu istrinya sepanjang malam dan dampaknya kepada Riyadh, Rista dan Arga.


Sampai-sampai Riyadh jadi tidak enak sendiri kepada, kedua iparnya yang ikut di buat report karena permintaan istrinya yang ini dan itu.


"Kenapa? Mama nggak jahat kok sama Icha! Mama cuma mau ngajak dia jalan-jalan." Penolakan riyadh membuat Megan tersinggung.


Wanita itu berpikir, jika putranya itu masih takut megan akan melakukan yang tidak-tidak kepada Icha dan kembali menyakiti menantunya itu, seperti waktu itu.


Megan tidak tahu saja jika Riyadh melarangnya, karena permintaan aneh-aneh istrinya itu, Riyadh khawatir jika tidak dituruti akan berakibat panjang baginya dan kedua iparnya.


" Iya maria tahu kok tapi_"


" Tapi apa?" Wanita itu langsung menyela ucap putranya.


" Tapi Icha pasti akan banyak menuntut ini dan itu setelah pergi dengan mama."


" Nggak kok! Selama pergi sama mama Icha nggak pernah nuntut ini dan itu, bahkan mama tawarin dia ini itu akan dia nggak pernah mau." Jelas wanita paruh baya itu.


Dan apa yang dia katakan wanita itu memang benar adanya, karena selama Icha pergi bersamanya wanita itu tidak pernah menuntut ini dan itu. Saat ditanya pun and jawabannya hanya mengangguk-angguk sama geleng-geleng.


Megan tidak tahu saja, jika Icha masih sangat terlalu sungkan kepadanya. Sehingga wanita itu hanya menjawabnya seperti itu, jika di tanya.


Berbeda sekali dengan nadine. Saat wanita itu ditanya maunya apa langsung sederet benda bermerek langsung keluar berbaris Indah dari bibir wanita itu, dia bahkan tidak memikirkan rasa malu karena secara tidak langsung telah menjadi parasit, yang menggerogoti Megan dengan perlahan.


"Icha itu bukan Nadine ma! Dia bukan wanita yang suka meminta, ini dan itu bahkan sama Riyadh pun nggak mah! Paling yang dia minta itu seputar makanan dan Sesuat yang pastinya sangat sederhana tidak sampai membuat Riyadh harus mengesek kartu kredit maupun Debit Iyad. Jika mama ingin dekat dengan dia, lakukan sesuatu yang tidak harus membuang-buang duit, waktu dan tenaga." Jelas Riyadh panjang Lebar, berharap sang mama dapat mengerti dengan apa yang dia katakan barusan.


"Mama harus melakukan apa agar Icha bisa dekat sama mama?" Tanya Megan, namun pria itu hanya menjawab dengan menaikkan kedua bahunya, sebab dia sendiri pun tidak punya ide untuk hal itu. " Bagaimana jika kamu dan Icha pindah ke rumah kita?" Usul sang mama, membuat Riyadh mendesah panjang. Berharap keputusan mamanya itu belum bulat.


"Ma, nggak tinggal bareng juga dong."


"Lah Kenapa, Kamu nggak suka ya?" Tuduh Megan, namun Riyadh kembali menggeleng kepalanya, dengan cara apa dia harus membuat mamanya mengerti jika semua tidak harus secepat ini juga.

__ADS_1


__ADS_2