Aku Bukan Pilihan.

Aku Bukan Pilihan.
Bertemu dr Amanda.


__ADS_3

Hari ini Riyadh terlihat begitu sibuk di ruang kerjanya, tumpukan pekerjaan itu seakan tak ada habisnya, mengingat dia baru masuk kantor lagi setelah lebih dari sepuluh hari ia tidak menginjakkan kakinya kantornya itu.


Ting.


Riyadh yang sedang serius menyelesaikan pekerjaannya langsung menyudahi hal itu, begitu mendapatkan notip pesan dari Amanda, dimana wanita itu mengatakan kalau dia sudah akan segera menuju tempat pertemuan mereka.


Tak ingin membuat sahabat lamanya itu menunggu, dia pun segera rapikan meja kerjanya tak lupa berpesan kepada Rizky, untuk menyelesaikan pekerjaan yang masih bisa ia handel. Setelah itu, ia bergegas ke kampus icha untuk menjemput istrinya itu.


Disaat jam makan siang seperti ini, jalan tidak begitu ramai, sehingga tidak butuh waktu lama untuk Riyadh sampai di depan kampus Icha, pria itu memarkirkan mobilnya di parkiran kampus, kemudian menguarkan ponsel dari saku celananya. Kemudian menghubungi Nadia, menanyakan keberadaan mereka.


Syukurnya saat dia telpon, Nadia, Mimi dan Icha baru saja keluar kelas, sehingga dia tidak sampai menganggu kelas mereka. Riyadh pun meminta Nadia untuk mengantar Icha ke parkiran dimana dia sedang menunggu saat ini.


Nadia pun mengiyakan, setelah ia mereka pun mengakhiri panggilan itu. Dia yang teringat, belum membalas pesan Amanda, langsung mengirim pesan kepadanya, jika ia dan Icha segera menyusulnya.


Setelah itu Riyadh mengotak-atik ponselnya, sembari menunggu kedatangan tidak gadis itu. Tak sampai lima menit, kaca mobilnya di ketuk dari luar dan dari dalam mobil itu, Riyadh bisa melihat ketiga gadis itu sedang menunggunya membuka pintu.


Riyadh pun segera keluar dari mobil dengan senyum terbaik nya untuk Icha. " Hai apa kabar?" Sapa Riyadh kepada ketiga wanita itu.


" Kabar kita baik, pak." Jawab Nadia sembari menunduk, membuat Riyadh mengerutkan keningnya. " Sorry, maksudnya mas." Nadia langsung meralat ucapannya, saat menyadari ekspresi Riyadh.


" Kabar aku juga baik, Seperti yang mas lihat." Sahut Mimi.

__ADS_1


" Syukurlah kalau begitu! Oh iya aku dan Icha mau makan siang sekaligus ketemu teman aku, kalian berdua ikut ya." Ajak Riyadh.


Namun mimi dan Nadia kompak mengeleng kepala mereka." Nggak deh mas, lain kali aja! Pekerjaan kita di kantor lagi banyak, kita nanti pesan aja buat makan dia kantor. Ya udah mas kita dulu ya." Tolak Nadia, langsung pamit kepada Riyadh.


" Baiklah, aku nggak bisa memaksa! Hati-hati ya di jalan." Kedua wanita itu hanya mengangguk sembari melambaikan tangan mereka, meninggalkan Riyadh dan Icha. " Ayo sayang, kita sudah di tungguin." Ajak Riyadh, sembari membuka pintu mobil untuk Icha, begitu kedua gadis itu sudah tak terlihat lagi.


Icha terlihat ragu untuk masuk kedalam mobil Riyadh, walaupun ini bukan pertama kalinya mereka berdua berada dalam mobil. Tapi tetap saja Icha tidak dapat mengendalikan dirinya.


" Sayang," panggil Riyadh lagi, sebab Icha hanya diam dan tak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Sikap Icha ini membuat mereka menjadi tontonan mahasiswa lain, karena mereka mengira Icha dan Riyadh adalah pasangan yang sedang perang dingin, dimana Icha ngambek dan Riyadh sedang membujuknya.


Hingga suasana parkiran yang awalnya sepi itu, kini sudah mulai di penuhi para mahasiswa yang kepo dengan hubungan mereka. Membuat Icha semakin tidak nyaman dan langsung masuk kedalam mobil Riyadh, melupakan rasa takutnya.


Setelah itu, Riyadh menutup pintu mobilnya, berlari kecil mengitari mobil itu sebelum masuk kedalam untuk bergabung bersama Icha.


" Gimana kuliah kamu?" Tanya Riyadh, memecah kesunyian dia antara mereka.


" Lancar seperti biasanya." Jawab Icha, ingin rasanya dia mengabaikan pria itu, namun pada akhirnya ia menyahutinya juga.


" Kamu sudah makan?" Tanya Riyadh lagi, kali ini Icha hanya menjawab sambil menggeleng kepalanya." Nanti kita makan sama-sama! Aku juga belum makan, sengaja ingin makan bareng kamu." Ucapnya lagi, membuat Icha langsung menengok kearahnya dengan ekspresi bingung ada perasaan tak percaya, karena seorang Seperti Riyadh sengaja melewatkan makan siangnya, agar dapat makan bersamanya.


" Kenapa? Salahkah Jika aku ingin makan bersama istriku."

__ADS_1


' Tidak salah sih, tapi kenapa harus wanita seperti aku yang mendapatkan perlakuan sespesial ini, disaat masih banyak wanita lain di luar sana yang lebih pantas untuk mendapatkan itu semua.'ucapnya dalam hati sembari memalingkan wajahnya, menatap jalanan dari balik kaca mobil itu. Tanpa menjawab pertanyaan Riyadh.


Riyadh sendiri pun tidak mempermasalahkan sikap Icha, sebab dia mengerti kondisi Icha seperti apa sebelum menikah. Jadi tak pantas rasanya jika dia harus memaksa Icha untuk menjawab semua pertanyaannya.


Dan setelah itu, keadaan di dalam mobil itu kembali hening, baik Icha maupun Riyadh, keduanya hanya diam dengan pikiran masing-masing. Hingga mobil Riyadh tiba di restoran, dimana dia membuat janji bertemu dengan Amanda.


Riyadh memarkirkan mobilnya, kemudian melepaskan sabuk pengamannya Sebelum keluar dari mobilnya. Berjalan mengitari mobilnya, lalu membuka pintu untuk Icha. " Sayang ayo." Ajaknya, namun Icha justru mengeleng kepalanya, seraya menggenggam sabun pengaman itu dengan begitu kuatnya.


" Sayang, ada aku disini, kamu nggak perlu khawatir, kalau kamu takut! Kamu bisa menggenggam tangan aku." Riyadh kembali meyakinkan Icha, sambil mengulurkan tangannya untuk wanita itu. " Anggap saja kamu sedang berada di kampus." Lanjutnya lagi.


Hingga Icha pun memberanikan dirinya untuk melepaskan sabuk pengaman itu, ia dengan takut-takut meraih tangan Riyadh, terlihat dari beberapa kali ia menarik ulurkan tangannya.


Riyadh yang tahu jika semua ini tidak akan pernah selesai jika dia membiarkan Icha melakukannya lebih, meraih tangan wanita itu, kemudian menariknya dengan lembut keluar dari mobilnya setelah itu ia menutup kembali pintu mobilnya.


Tanpa menatap kepada Icha, pria itu melangkah masuk kedalam restoran itu, tanpa melepaskan genggaman tangan Icha.


" Hai Iyad! Sebelah sini." Teriak Amanda, begitu keduanya berada di dalam restoran itu. Amanda sengaja mengambil meja pojokan untuk kenyamanan Icha, mengingat trauma dari calon pasiennya itu.


" Sorry ya Manda! Aku tadi jemput Icha dulu, kamu tahu lah_"


" Iya-iya ngerti kok! Jadi ini Icha." Tanya Amanda.

__ADS_1


" Ya! Dia Icha, istri aku. Cha dia Amanda sahabat aku sewaktu sekolah." Ucap Riyadh memperkenalkan kedua wanita itu, membuat Icha bingung, untuk apa Riyadh mempertemukan dia dengan wanita itu. Namun Icha menyimpan rasa penasarannya dan mencoba untuk bersikap tenang. Namun usahanya itu justru membuatnya semakin terlihat gugup. Tumbuhnya kembali bergetar, dengan bola mata yang bergerak liar, melirik kesana kemarin.


Amanda yang menyadari hal itu, karena ini bukan pertama kalinya ia bertemu dengan pasien seperti Icha, langsung menggenggam tangannya." Tenang, tarik nafas dalam-dalam kemudian hembuskan."


__ADS_2