
"Rizky." Teriak Riyadh begitu menggelegar, ketika pria itu melangkah keluar ruangan kerjanya sambil menggendong Icha yang tidak sadarkan diri.
Teriak Riyadh barusan, sampai pada telinga Nadia dan Riyadh yang berada di ruang Riyadh.
Dengan panik, Nadia dan Riyadh berlari keluar, keduanya begitu terkejut saat mendapati Icha tidak sadarkan. " Icha kenapa, pak!" Tanya Nadia. Saat melihat sahabatnya itu dalam keadaan yang cukup mengenaskan, rambut acak-acakan, belum lagi darah segar yang terus mengalir di antara kedua pahanya.
" Siapkan mobil! Cari rumah sakit yang paling dekat dari sini." Riyadh tak menjawab, pertanyaan Nadia, pria itu justru memerintahkan Rizky untuk menyiapkan mobil, sembari berlari kearah lift khusus itu.
Riyadh segera masuk kedalamnya begitu pintu lift terbuka, setelah Rizky menekan tombol buka. Nadia yang masih ingin bertanya, terpaksa mengurungkan niatnya. Wanita itu hanya diam sembari mengikuti langkah mereka.
Lift itu membawa mereka langsung ke basmane dimana mobil Riyadh terparkir di sana.
Begitu pintu lift itu kembali terbuka, mereka langsung menuju mobil Riyadd, Rizky membukakan pintu untuk icha, kemudian membantu Riyadh membaringkan tubuh Icha di jok belakang, setelah itu Riyadh ikut bergabung bersama Icha, dengan memangku kepala istrinya dan menggenggam tangannya.
Bibir Riyadh tidak biasa henti-hentinya mengucapkan kata maaf dan mencium punggung tangan Icha.
Riyadh sangat mencintai Icha, tapi kebodohan dan keteledorannya membuat Icha berakhir seperti ini.
" Ya Tuhan, aku sangat mencintainya aku sanggup menukar apapun yang aku punya untuknya, tolong selamatkan dia, biarkan dia kembali bersama ku." Ucap Riyadh dalam hatinya. Pria itu kembali mencium punggung tangan istrinya. Ia bahkan tidak peduli jika Nadia akan melihatnya menangis, karena hati pria itu benar-benar sakit, melihat Icha seperti ini.
__ADS_1
Mobil yang di kemudikan Rizky berhenti di depan UGD, salah satu rumah sakit umum yang letaknya tidak jauh dari perusahaan Riyadh.
Rizky pun turun dari mobilnya, memanggil perawat dan para mantri yang sedang bertugas untuk membantu membawa Icha kedalam.
Tubuh Icha , kemudian di pindahkan ke atas brangkar rumah sakit, setelah itu di dorong masuk ke ruang UGD untuk mendapatkan tindakan dari tim medis. Tak lama, seorang perawat keluar meminta Riyadh untuk mengurusi administrasi serta rekam medik Icha.
Rizky pun dengan sigap mengurus semuanya mengantikan Riyadh, sementara Riyadh di biarkan untuk menunggu Icha bersama Nadia. " Pak ada darah di baju bapak." Ucap Nadia saat melihat darah di kemeja Yang di gunakan Riyadh.
Tanpa banyak bicara, Riyadh langsung melepaskan kemejanya, menyisakan t-shirt putih di tubuh Riyadh.
Pria itu duduk dengan gelisah, sembari menggenggam kemejanya. Tak lama setelah itu, Rizky kembali membawa rekam medik yang di minta.
" Iyad, ini ada apa sih?" Tanya Rizky, sembari mendaratkan bokongnya di samping Riyadh." Kok Icha bisa sampai seperti itu, bukannya ta_"
" Mama dan Nadine tiba-tiba datang dan menemukan kita di ruangan aku. Di saat Icha sedang ingin bermanja-manja sama aku! Dia manja banget Ky, Dia juga belum sempat makan, makanan yang kamu pesan, Sedang kita berdua cuma sarapan dengan roti hari ini." Jawab Riyadh, begitu melow, sengaja memotong ucapan Rizky. Dan sedetik kemudian Riyadh kembali menangis karena takut terjadi sesuatu sama Icha.
Melihat hal itu, Rizky tertegun, pasalnya Sejak mereka kecil sampai se-dewasa ini, ini adalah kali pertamanya, Rizky melihat sahabatnya Riyadh menangis. " Mama menjambak rambutnya, mengatainya murahan, aku sudah berusaha menahan tangan mama dan memeluk Icha, tapi posisi Icha yang berada di atas pangkuan aku membuka pergerakan aku terbatas, mama mendorongnya hingga tersungkur, tidak hanya itu, Nadine juga menamparnya..." Riyadh terus menceritakan semua yang terjadi di ruang itu tanpa terlewatkan satu pun. " Ky, penjarakan Nadine, lakukan apapun dan berapapun yang harus aku keluarkan, tak masalah! Tapi kamu harus mendapatkan sisa saham Ayahnya Nadine, kalau perlu sebarkan scandal Nadine dan beberapa pengusaha yang pernah menjadikan dia simpanan. Papanya juga! Aku ingin mama melihat keburukan mereka sekarang, aku ingin mereka menjadi gelandangan dan aku ingin Nadine membusuk di penjara hari ini juga." Ucap Riyadh dengan menggebu-gebu, pria itu seakan diliputi api amarah.
" Kamu, yakin! Bukannya kamu ingin menyiapkan semuanya untuk nanti." Ya Riyadh memang sudah tahu, kebusukan Nadine dan orang tuanya, tapi pria itu menahan semuanya untuk nanti, ia ingin memanfaatkan hal itu untuk memperkenalkan Icha, karena banyak dari rekan bisnis mereka yang tahu akan status mereka.
__ADS_1
Pria itu sengaja melakukan hal itu agar tidak ada yang memojokkan Icha atau menuduh istrinya itu. Ia sungguh ingin memberikan kehidupan yang nyaman dan aman untuk Icha tapi siapa sangka, hari ini semuanya harus terbongkar dengan seperti ini, bahkan dia belum tahu bagaimana kondisi Icha didalam sana.
Andai dia bisa memutar waktu, dia akan mengajak istrinya itu, untuk makan di luar atau berlama-lama di ruang meeting sehingga kejadian seperti ini tidak terjadi, tapi apa mau di kata, semuanya telah terjadi, berandai-andai pun rasanya percuma.
Sementara Nadia yang masih berada di ruang itu, hanya diam! Wanita itu tidak mengatakan apa-apa. Karena dia tidak tahu harus berkata apa, marah tentu saja dia marah kepada Nadine dan mamanya Riyadh. Tapi untuk saat ini, kondisi Icha-lah yang lebih penting di atas segala-galanya.
Kreek
Pintu Ruang UGD itu terbuka, Dokter yang menangani Icha keluar. Untuk mengabari kondisi Icha saat ini.
" Dok bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Riyadh, pria itu segera berdiri dari tempat duduknya, menghampiri dokter itu, begitu juga dengan Nadia dan Rizky. " Dokter Icha baik-baik saja kan dok." Tanya Riyadh lagi, pria itu semakin tidak sabaran Menunggu dokter untuk mulai berbicara.
" Tenang pak! Tenang istri dan calon anak anda baik-baik saja! Pendarahannya pun sudah berhasil dihentikan. Bersyukurnya anda segera membawanya di saat yang tepat. Untuk kedepannya biarkan istri Anda beristirahat dan Jangan membuatnya pikiran. Pesan sang dokter, ketiganya pun kompak mengucapkan syukur, karena Icha baik-baik saja.
Ketiga orang itu belum ngeh dengan ucapan dokter, tentang calon anak mereka. Begitu Dokter telah pergi, Nadia baru teringat akan sesuatu.
"Pak, bukannya dokter mengatakan Icha dan calon anak ya pak?" Tanya Nadia, memastikan jika ia tidak salah dengar. Riyadh dan Rizky pun kompak mengangguk." Itu tandanya, Icha sedang hamil kan?" Tanya Nadia lagi, ketiganya pun kembali dia sebelum kembali melirik satu sama lain, seperti orang linglung.
"Hamil ya!" Ulang Riyadh, Nadia dan Rizky pun kompak mengangguk.
__ADS_1