Aku Bukan Pilihan.

Aku Bukan Pilihan.
Maaf!


__ADS_3

"Hamil ya!" Ulang Riyadh, Nadia dan Rizky pun kompak mengangguk.


Ketiganya masih saling menatap, mencerna apa yang di ucapkan dokter barusan padahal ucapan dokter itu sudah sangat jelas. Dokter sendiri sudah menghilang entah kemana. Mungkin ini yang dinamakan terlalu bahagia dengan kabar itu.


Tapi yang jelas, berita kehamilan itu merupakan sebuah kejutan yang sangat membahagiakan untuk Riyadh, bukan hanya Riyadh saja, Nadia pun sangat bahagia mendengarnya dan dia yakin, Mimi dan kak Ista pun pasti akan sangat bahagia mendengar berita ini, sama sepertinya. Kebahagiaan itu akan terasa semakin lengkap, saat mereka tahu fisik Icha baik-baik saja.


Setelah di pindahkan ke ruangannya, icha pun perlahan mulai membuka kedua matanya namun wanita itu tidak memberikan respon apa-apa. Tatapannya kosong, Air mata yang menetes dari kedua sudut matanya dapat menggambarkan se-hancur apa dia saat ini.


Ketika di panggil Icha tidak merespon sama sekali, wanita itu seperti raga tanpa nyawa.


Melihat kondisi Icha yang sekarang membuat kabar bahagia yang baru saja mereka dengar seolah tak memiliki arti apa-apa.


"Cha, kenapa Diam! Kamu marah ya sama aku! Karena nggak bantu kamu." Tanya Nadia, menyalakan dirinya sendiri, berharap icha mau meresponnya. tapi yang terjadi icha tetap saja diam, tidak ada yang tahu apa yang di rasakan wanita itu, ingin bertanya pun rasanya sulit, karena icha tidak akan merespon sama sekali.


Kejadian hari ini sungguh berpengaruh besar kepada kondisi mentalnya yang sejak awal memang sudah tak baik-baik saja, seandainya sejak awal Riyadh berani untuk berkata jujur dan menceritakan semuanya, mungkin hal seburuk ini tidak akan terjadi, tapi semua hanya kata mungkin bisa saja yang terjadi jauh lebih buruk dari ini, entahlah. toh semuanya sudah terjadi.


Pintu ruang rawat Icha terbuka dan masuklah dokter yang menangani Icha tadi, di ikuti seorang dokter wanita lagi, wanita itu adalah dokter spesialis obgyn.

__ADS_1


mereka pun menghampiri Icha untuk mengecek kondisinya.


Dari segi fisik, wanita itu baik-baik saja. Lalu apa yang menyebabkan Icha seperti, mereka bahkan telah melakukan beberapakali kali tes pada Icha dan hasilnya masih tetap sama. Semua orang Icha berfungsi dengan sangat baik.


Hingga dokter memutuskan untuk berbicara dengan Riyadh, mungkin saja pasien memiliki Riyadh medis yang menyebabkan hal ini terjadi dan benar saja tebakan dokter itu. " Kami akan mengusahakan psikiater terbaik untuk membantunya." Ucap sang dokter namun Riyadh menolak hal itu.


Bukan tanpa alasan ia melakukannya, sebab ada Amanda yang selalu siap membantu Icha. Dokter pun hanya mengangguk setuju dengan psikiater pilihan Riyadh.


Setelah berbicara dengan dokter, Riyadh melangkah keluar dari ruangan sang dokter. Meminjam telpon seorang perawat yang berpapasan dengannya. Karena Riyadh tidak sempat membawa ponselnya.


Tapi semenit kemudian, Riyadh mengembalikan ponsel yang baru saja dia pinjam karena tidak menghafal nomor ponsel Amanda.


Rizky, mengangguk, kemudian beranjak dari tempat duduknya, sementara Nadia masih terus berusaha mengajak Icha untuk berbicara dengannya. "Ky, jangan lama-lama ya!" Pesan Riyadh, Rizky pun kembali mengangguk kepalanya.


"Nad, bisa tinggalkan aku dan dia sebentar?" Pinta Riyadh pada sahabat istrinya itu.


" Tentu pak! Saya akan menunggu di luar. " Riyadh mengangguk.

__ADS_1


Keadaan Icha yang tidak baik-baik saja, membuat, Riyadh tak peduli dengan panggilan Mas, atau pak.


Seandainya Icha baik-baik saja, mungkin pria itu sudah protes dengan panggilan pak di luar kantor itu.


Riyadh duduk di tepi ranjang, sembari menatap menatap dalam kedua mata Icha, satu menit, dua menit, Lima sampai sepuluh menit, Riyadh tidak memutuskan pandangannya dari Icha, ia hanya diam dan menatap dalam kedua mata Icha.


Hingga Wanita itu menyerah dengan meneteskan kembali air matanya sebelum memalingkan wajahnya. Ada sedikit kelegaan di hati Riyadh saat melihat hal itu. Karena dia tahu icha-nya baik-baik saja.


Icha bersikap seperti itu karena marah kepadanya. Mau itu ingin menunjukkan aksi protesnya, ia ingin bersikap layaknya orang mati, kalau bisa dia ingin mati saja! Tapi rasa didalam sana terlalu kuat untuk membuatnya lemah! Rasa yang Riyadh tanamkan, siram dan pupuk setiap hari dengan cinta, kasih sayang serta ketulusan yang pria itu punya, membuat kekuatan tersendiri pada dirinya.


Membuat Icha, mampu bertahan walaupun kenyataan itu jauh lebih menyakitkan dari apa yang menimpanya belasan tahun lalu.


"Maaf, maaf karena telah membuat kamu seperti ini. Maaf karena tidak jujur, maaf karena aku kembali menyakiti kamu, maaf untuk semua kebodohan aku. Maaf, maaf, maaf jika aku tidak bisa menjagamu seperti janjiku pada ayah." Tidak ada bosan-bosannya Riyadh mengucapkan kata maaf pada Icha.


"Istri ke berapa aku ini." Tanya Icha, begitu pelan, sangat pelan! Hampir saja Riyadh tak mendengarnya.


"Kamu adalah istri pertama dan satu-satunya, pernikahan kita sah secara hukum dan agama. Kamu satu-satunya yang aku anggap istri." Jawab Riyadh dengan begitu yakinnya. " Seperti yang kamu tahu, Nadine adalah tunangan ku, wanita yang di pilih mama untukku, tapi Hatiku memilih kamu. Mama telah mengatur pernikahan aku dan Nadine di lakukan di hari kedua meninggalnya ayah. Sejak jauh-jauh hari. Tapi kata hatiku, membawa langkahku padamu, sayang! Hingga malam itu kita bisa menikah. Setelah kita menikah aku sudah bertekad untuk membatalkan pernikahanku dengan Nadine, aku bahkan datang ke pesta pernikahan yang di siapkan mama untuk membatalkan pernikahan aku dan Nadine, tidak peduli nama keluarga, karena yang aku pikirkan saat itu hanya kamu dan janjiku pada ayah." Riyadh mengjeda ucapannya, sembari menarik nafas sejenak.

__ADS_1


Dia ingin menceritakan semuanya kepada Icha dan berharap hal itu dapat mengurangi beban di dadanya. " Pernikahan itu memang di batalkan, tapi mama tidak habis akal untuk memaksa aku menikahi Nadine, dengan mengiris pergelangan tangannya sendiri. Mama bahkan tidak mau di bawa ke rumah sakit sebelum aku menikahi Nadine. Sungguh sayang, aku nggak punya pilihan, aku nggak bisa nyakitin kamu dan mengingkari janji aku sama ayah! Tapi juga belum siap kehilangan mama, aku benar-benar terpojok dengan keadaan sayang. Hingga aku memutuskan untuk mengingkari janji aku sama ayah dengan menikahi Nadine untuk menolong mama! Aku tidak bermaksud menutupi semua ini dari kamu, hanya saja aku belum menemukan waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya sama kamu." Jelas Riyadh panjang kali lebar.


" Tapi jika kamu tetap ingin menghukum aku untuk masalah ini, nggak papa sayang! Aku terima, karena aku memang salah, tidak jujur sejak awal sama kamu." Lanjutnya lagi.


__ADS_2