Aku Bukan Pilihan.

Aku Bukan Pilihan.
Berani bercerita.


__ADS_3

Pertemuan Icha dan Amanda siang itu, tidak hanya berhenti sampai di situ. Karena Amanda dapat dengan mudah membuat Icha percaya, jika dia bukanlah orang yang harus Icha takut, mungkin saja karena mereka sama-sama wanita, sehingga Icha gampang akrab dengannya atau mungkin ini yang di sebut kelebihan dari seorang psikiater, ia dapat membuat pasiennya merasa nyaman dan perlahan-lahan mau terbuka kepada, bercerita layaknya teman.


Entahlah, sulit untuk di jelaskan, namun kenyataannya Disinilah Icha sekarang, di sebuah taman yang tidak begitu ramai, bersama Amanda. Setelah dua hari yang lalu, mereka bertemu di sebuah restoran untuk makan siang.


" Kamu gugup." Tanya Amanda saat menyadari Icha, yang terlihat begitu gelisah. Disebuah bangku taman siang hari.


" Tidak, hanya saja ini pertama kalinya aku berkunjung ketempat Seperti ini bersama orang lain?" Jawab Icha, wanita itu terus saja menengok kesana-kemari waspada, seakan ada yang mengintai mereka. Namu Amanda mengerti akan hal itu.


"Jangan khawatir, disini kita aman kok. Apa kamu tidak pernah ke taman Sebelumnya." Icha mengeleng kepalanya. Bukan karena dia belum pernah pergi. Namum wanita itu sudah sering mengunjungi taman, bersama mendiang sangat ayah dan Mimi juga Eva, walaupun


" Aku beberapa kali pernah ke taman di temani ayah." Ucapnya, sembari tersenyum kepada Amanda dan wanita itu mengangguk paham.


Amanda berharap dengan keterbukaan Icha pada dirinya, bisa menjadi sesuatu yang baik untuk wanita itu kedepannya, karena Sayang rasanya orang sepintar Icha harus membatasi dirinya dari dunia luar dan lawan jenis, walaupun Amanda tahu, hal itu dikarenakan trauma akibat apa yang pernah terjadi padanya di masa lalu.

__ADS_1


Namun terlalu sayang rasanya jika dia harus hidup selama seperti itu, karena manusia adalah makhluk sosial di mana kita harus bersosialisasi dengan lingkungan dimana pun kita berada.


" Oh iya, kamu udah beritahu Riyadh belum kalau aku ngajak kamu bertemu disini! Takutnya dia cariin kamu terus nyalahin aku karena udah bawa pergi istrinya tanpa izin lagi." Tanya Amanda dengan nada bercanda. Sikapnya kepada Icha, terlihat seperti sahabat, yang mana membuat Icha semakin nyaman berlama-lama di tempat itu bersama Amanda.


" Aku sudah memberitahunya, bahkan dia yang terus mengingatkan aku untuk menemanimu." Jawab Icha.


" Sepertinya dia sayang banget ya sama kamu." Sahut Amanda, membuat Icha menengok untuk menatap wajah psikiater cantik itu. " Kenapa? Kamu nggak percaya?wajar sih. Kamu belum mengenal dia dengan baik, jadi kamu nggak mungkin percaya dengan yang aku katakan. Tapi satu yang harus kamu tahu. Riyadh itu bukanlah orang yang hangat loh, dia nggak akan sepeduli ini kepada orang lain, terkecuali keluarganya, orang yang dia sayangi. Aku aja dekat sama dia butuh waktu setahun, itupun karena kita berdua sering di pasangkan untuk acara cerdas-cermat dan olimpiade." Ucap Amanda saat menceritakan masa lalu mereka kepada Icha. Sengaja dia melakukan hal itu, agar Icha mau menceritakan tentang pertemuan mereka atau penilaiannya tentang riyadh.


"Ya mungkin yang kamu katakan itu benar? Tapi wanita seperti aku tidak pantas untuk pria seperti dia, dia terlalu baik dan sempurna untuk aku yang hina." Amanda mengerutkan keningnya. Iya menunggu Icha untuk meneruskan ucapannya namun Icha tidak kunjung berbicara lagi, ia menatap kearah lain dengan tatapan kosong.


" Tapi kamu tidak tahu apa yang terjadi kepadaku! Kamu tidak tahu bagaimana aku di sakiti." Sahut Icha, wanita itu kini menunduk, tanpa sadar air matanya mulai menetes. Ia selama ini tidak pernah menceritakan apapun kepada orang lain, bahkan keluarga dan sahabat-sahabatnya. Tapi kepada wanita ini ia tiba-tiba ingin bercerita, entah sihir apa yang Amanda punya hingga Icha mau bercerita kepadanya.


" Iya kamu benar aku tidak tahu, apa yang kamu alami, tapi aku akan tahu jika kamu mau menceritakannya." Icha yang sejak tadi diam dengan menunduk kini mengangkat pandangannya untuk menatap wajah wanita cantik disampingnya. " Aku adalah sahabat Riyadh, dan kamu adalah istrinya. Apa salah jika aku menganggap kamu sahabat juga dan ingin membagi suka duka denganmu." Ucap Amanda begitu manis hingga Icha tiba-tiba memikirkan sesuatu.

__ADS_1


" Kamu cantik, baik juga pintar! Kalian lebih terlihat serasi sebagai pasangan dari pada sahabat." Sela Icha membuat Amanda tertawa. Membuat Icha mengerutkan keningnya bingung.


" Astaga Icha, kamu menawarkan suamimu kepadaku! Kamu tahu seganteng-gantengnya suami kamu sehebat apapun dia. Sayangnya dia bukan tipe aku, aku tidak suka pria sedingin itu, ngomong jika dia mau dan selebihnya dia hanya diam. Hidupku yang berwarna dan ramai ini akan langsung berubah jika benar aku menikahinya. Untuk itu aku memilih pria lain untuk menemaniku. "Ucapnya sembari menunjuk cincin pernikahan di jari manisnya.


" Astaga, maaf aku pikir kamu belum menikah. Sungguh aku benar-benar tidak tahu." Icha sungguh merasa tak enak hati kepada Amanda.


"Tak apa, kamu tidak perlu minta maaf Seperti itu, lagian ini bukan sebuah masalah. Mending kamu ceritain apa yang terjadi sama kamu sampai kamu berkata seperti itu." Amanda kembali mengingatkan Icha. Namun wanita itu terlihat bingung dan ragu.


Bingung harus mulai bercerita dari mana, dengan apa yang dia lakukan ini. Apa sudah benar atau tidak. Namun Amanda terus meyakinkan dirinya, hingga Icha mau bercerita.


Wanita itu bercerita mulai dari perubahan sang paman di sekolah, sehari setelah di tinggal calon istrinya, uang yang pamannya simpan untuk pernikahan mereka turut di bawah pergi tanpa sisa. Membuat pamannya depresi dan sering kali marah-marah tidak jelas kepada siswa-siswi disekolah. Icha mengetahui hal itu karena mamanya sering mengajaknya untuk menemui sang paman saat pulang sekolah dan mendengar pembicaraan mereka. Terkadang mamanya juga sering meminjamkan pamannya uang karena kasihan kepada pamannya itu.


Icha sendiri pun kasih, tapi Icha tidak menyangka pamannya akan melakukan hal itu kepadanya, memperkaosa dirinya dan membunuh sang kakak tanpa belas kasih.

__ADS_1


Pamannya malam itu terlihat menyeramkan, sampai-sampai Icha begitu takut dan selalu membayangkan tatapan matanya dan cara dia menyiksanya. Sungguh tak berperikemanusiaan.


__ADS_2