
" Pa, tunggu." Teriak Megan, wanita paruh baya itu segera menyusul langkah suaminya, begitu berada satu langkah tempat di belakang suaminya itu, Megan langsung menarik pergelangan tangan gemilang dengan begitu kasarnya. " Kenapa Papa sembunyiin masalah ini dari mama! Harusnya papa kasih tau mama kalau Riyadh itu sudah menikah bukan ikut-ikutan menyembunyikan semuanya seperti ini. " Teriaknya, wanita itu tidak habis pikir dengan jalan pikiran anak dan suaminya.
" Bagaimana papa mau menceritakannya kepada Mama, Mama terlalu sibuk mengurus pernikahan Riyadh dengan Nadine. meskipun mama tahu dengan jelas bahwa Riyadh tidak setuju menikahi wanita itu. Mama juga Tidak pernah bertanya apa, papa setuju dengan rencana Mama atau tidak, Mama melakukan semuanya sendiri, melakukan semua yang mama anggap benar. Tanpa memikirkan perasaan anak kita." Sudah cukup gemilang diam selama ini dan hanya melihat semua yang dilakukan istrinya selama ini. Mengingat apa yang dilakukan Megan dan Nadine kepada sungguh sangat keterlaluan, Gemilang yang hanya mendengar dari cerita anaknya saja marah kepada istrinya itu.
Bagaimana dengan Riyadh yang menyaksikan itu secara langsung! Ada perasaan bersalah yang terus mengetuk hatinya membuat ia berani memarahi istrinya itu.
"Sekarang Mama jawab pertanyaan papa, apa yang sudah diberikan keluarga Nadine sampai Mama sebegini ngototnya ingin Nadine menjadi bagian dari keluarga kita, apa hebatnya Nadine sampai dia mama anggap lebih layak dari pada Icha. Apa mah kalau cuma perkara bibit bebet bobot Icha masih lebih baik. Dia berasal dari keluarga baik-baik papanya seorang polisi dan mamanya seorang guru. Pintar Icha juga pintar, dia mempunyai usaha sendiri, pekerja keras dan yang pasti dia wanita mandiri, tidak seperti Nadine! Sekarang coba mama katakan di mana kelebihan Nadine selain menghabiskan uang untuk shopping dan segala macam yang tidak penting. Wanita itu hanya ingin memuaskan egonya di kalangan sosialita dengan menunjukkan dia hebat karena berhasil menjadi parasit di rumah ini, mama sadar tidak." Lanjutnya, Ucap pria paruh baya itu begitu menusuk, Dan semua yang dia katakan tentang Nadine memang benar adanya.
Membuat Megan bungkam dan tidak dapat berkata-kata. " Dulu, apa yang Mama katakan, mama tidak peduli siapapun wanita itu dan mana asalnya, karena yang terpenting mama bisa melihat Riyadh menikah. Tapi kenapa sekarang begini?" Ucap gumilan lagi. " Intinya sekarang semua terserah pada mama, mama ingin menganggap Icha sebagai menantu kita atau tidak itu hak Mama. Tapi pesan papa cuma satu jangan merusak kebahagiaan anak kita."
" Papa, ngancam mama."
"Tidak, papa cuma ingin mengingatkan mama saja, karena jika Mama sampai melakukan itu. Mama tahu yang hancur bukan cuma Riyadh, mama juga akan ikut hancur melihat Riyadh dalam keadaan terpuruk dan papa tidak ingin, mama menyesali hal itu." Kali ini, gemilang benar-benar meninggalkan istrinya itu.
Dan Mega juga tidak mengejarnya lagi, dia membiarkan suaminya pergi entah kemana.
__ADS_1
Wanita itu kini terduduk, sambil memikirkan ucapan suaminya. Sesekali ia pun akan teringat pada kegigihannya mencari calon istri untuk Riyadh. Yah karena apa yang diucapkan gemilang itu benar Megan tidak peduli siapa wanita yang menjadi istri Riyad nanti yang terpenting untuknya,putranya itu menikah.
Hal itu yang selalu dia pikirkan dulu entah kenapa sekarang semua berubah semenjak bertemu dengan Nadine dan keluarganya.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Di tempat lain tepatnya di sebuah kantor polisi, Nadine diproses dengan sebagaimana mestinya hasil visum dari dokter dan rekaman yang ada di ruangan kerja Riyadh membuktikan jika wanita itu bersalah, hingga ia pun mendapatkan kurungan sementara sampai proses itu di bawah ke meja hijau untuk diadili dengan sebenar-benarnya.
Orang tua Nadine sendiri sudah datang untuk menjenguk Nadine, Tapi karena keuangan serta lawan yang mereka punya terlalu berat mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Nadine. Ayahnya Nadine tidak ingin mengeluarkan uang sebesar pun untuk membayar pengacara yang nantinya akan membelah Nadine. Pria paruh baya itu tahu, usahanya hanya akan membuang-buang waktu.
Dia ingin Nadine merasakan perbuatannya kepada Icha tentunya dalam jangka waktu yang panjang. " Bagaimana? Sudah selesai." Tanya Riyadh begitu Rizki kembali ke rumah sakit.
"Sudah semua sesuai dengan keinginan kita besok skandal itu akan tersebar hingga tidak ada yang dapat menolongnya keluar dari sana. Jangankan keluar mengangkat wajahnya saja aku rasa dia tidak akan sanggup untuk melakukannya kalau memang dia masih memiliki rasa malu." Jawab Rizki dengan serinyai tipisnya.
Hanya keduanya, keduanya yang tahu apa yang akan mereka lakukan kepada Nadine. "Terima kasih Ky." Ucap riat sembari menepuk-nepuk pundak sepupunya itu. Keduanya saat ini tengah duduk didepan ruang rawat.
__ADS_1
" Santai aja kayak sama siapa aja kamu." Sahut Rizky. " Oh iya gimana keadaan Icha dia masih marah." Tanya istrinya lagi, saat mengingat Icha, yang beberapa kali harus mendapatkan perawatan, berulang-ulang karena wanita itu begitu marah kepada Riyadh.
" Entahlah, aku belum berani menunjukkan wajahku lagi, dihadapannya, aku takut, jika aku masuk akan membahayakan mereka, tapi kak sudah ada untuk menemaninya." Jelas Riyadh, wajah pria itu terlihat sendu, saat membicarakan Icha. " Aku tidak ingin apapun Ky, kalau boleh minta, aku hanya ingin bersama istri dan anakku, aku ingi membuat mereka bahagia, aku ingin memastikan keamanan mereka bersamaku, aku ingin membuat Icha tersenyum. Banyak rencana yang ingin aku gapai bersama dengan Icha dan calon anak kita Ky."
Rizky mengangguk paham, semalam ini dia tidak pernah melihat Riyadh se-cinta dan seingin ini bersama seorang wanita, tapi dengan Icha. Riyadh mampu menurunkan egonya untuk wanita itu. Apa boleh dia simpulkan itu sebagai cinta.
...\=\=\=\=\=\=\=...
Setelah dua Minggu di rawat di rumah sakit, keadaan Icha pun perlahan-lahan membaik. Dia juga telah di izinkan dokter untuk pulang kerumahnya. hal itu membuat Riyadh merasa bersyukur.
Namun wanita itu juga belum ingin menatap kepadanya, bahkan saat Riyadh menyapanya pun, dia terlihat begitu enggan menatap kepadanya, jangankan menatap, membalas sapaannya saja Icha tak mau.
Dan anak kecil pun dapat menyadarinya, jika saat ini, Icha tengah sangat marah kepada-nya.
" Cha, bagaimana kalau kamu pulang terlebih dulu ke rumah ayah. Nanti selama di sana, kakak temani kamu." Bujuk Rista.
__ADS_1
Bukan tanpa sebab ia membujuk adiknya, seperti itu, karena Rista tahu, jika Riyadh dan Icha masih terlibat perang dingin, lebih tepatnya Icha-lah yang memperpanjang masalahnya dengan Riyadh, dengan mendiamkan pria itu