Aku Bukan Pilihan.

Aku Bukan Pilihan.
Tujuan Nadine.


__ADS_3

Tidak terasa sepuluh hari sudah Icha dan Rista ditinggalkan mendiang ayah Rifky, Kini saatnya mereka kembali untuk menjalani kehidupan masing-masing.


Selama sepuluh hari ini Riyadh selalu menemani Icha. Walaupun mereka kerap kali, terlihat seperti orang asing dalam satu rumah, tetapi Riyadh! Selalu berusaha untuk dekat dengan Icha, mulai dari mengajaknya berbicara sampai tidur dalam ruangan yang sama. Sekali pun Icha tidur di ranjang dan Riyadh tidur di sofa, lebih tepatnya Riyadh yang tidur sementara Icha terjaga sepanjang malam.


Dan sejauh ini usaha, Riyadh sedikit berhasil, karena Icha mulai terbiasa dengan kehadirannya, Namun dengan jarak yang membuat Icha nyaman. Sama halnya seperti sekarang ini, baik Icha mau Riyadh kini tengah berada di kamar icha.


Karena beberapa menit yang lalu, mereka baru pulang berziarah ke makam ayah Rifky, bersama Rista dan Arga. sampainya di rumah Riyadh langsung mengajak Icha ke kamar, karena ada yang harus ia bicarakan dengan istrinya itu! Untuk Nadia dan Mimi, kedua gadis itu telah kembali ke apartemen mereka setelah selesai tahlilan hari ketujuh.


" Cha." Panggil Riyadh. Icha menengok sekilas ke arah Riyadh seraya bertanya.


" Apa?" Tanpa menatap wajah Suaminya itu. Ia lebih suka menatap jari-jari tangannya, ketimbang wajah tampan suaminya, yang berada satu meter darinya.


" Aku sudah menyiapkan rumah untuk kita tinggal." Ucap Riyadh. Ia terus menatap kepada istrinya itu, wanita itu masih terlihat gelisah dan ketakutan tapi dia berusaha untuk menahannya.


" Kita." Tanya Icha dengan polosnya.


" Iya, kita berdua! Aku dan kamu." Jelas Riyadh, sementara Icha hanya diam." Nanti saat makan malam aku akan membicarakan hal ini dengan kak Rista dan bang Arga."Sambung nya lagi saat tidak mendapatkan respon apa-apa dari istrinya itu.


Melihat Icha masih diam saja, Riyadh berpikir jika Icha setuju dengan keputusannya." Ya sudah aku mau mandi Dulu. " Serunya dan melangkah menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar Icha, tak lupa mengambil pakaiannya, karena dia tidak mau Istrinya sampai histeris lagi.


Saat tangan Riyadh akan meraih handel pintu, suara Icha menghentikan gerakkannya. " Kenapa kita harus tinggal berdua?" Riyadh terdiam sejenak, Sebelum membalikkan tubuhnya menatap kepada istrinya yang masih saja menunduk sambil memainkan jari-jari tangannya sendiri.

__ADS_1


Andai saja kondisi Icha sama seperti wanita-wanita lain diluar sana, Riyadh pasti sudah mendekatinya dan mengangkat wajah itu, agar mau menatap padanya saat mereka berbicara.


" Karena kamu adalah istri ku dan aku suami kamu cha, kita sudah menikah, bukankah sudah seharusnya kita tinggal bersama, Aku rasa kamu juga tahu akan hal ini." Ucap Riyadh. Dia yang memiliki ego tinggi dan biasanya di takuti lawan bisnisnya, kini harus menurunkan ego, di depan wanita ini, wanita yang dia pilih untuk menjadi istrinya, walaupun di luar sana banyak wanita yang jauh lebih cantik dan sempurna dari Icha, tetapi hatinya sudah menentukan pilihan untuk Icha, Riyadh pun siap menerima kekurangan wanita itu. dan akan saling menyempurnakan. Bukankah mereka di takdir kan untuk saling melengkapi.


" Kenapa! Kenapa harus aku yang kamu pilih." Tanya Icha lagi. Membuat Riyadh menautkan keningnya. Untuk beberapa saat Riyadh terlihat berpikir sebelum Menjawab pertanyaan istrinya.


" Karena hatiku dan aku sendiri yang menginginkan kamu! Jika kamu bertanya kenapa! Aku sendiri pun tidak tahu jawabannya, semua mengalir begitu saja." Ucap Riyadh. Dalam hatinya ia berharap Icha mengerti apa dia maksud.


" Tapi aku tidak menginginkan semua ini. Karena Baik aku maupun kamu tahu, bahwa aku tidak pantas untuk siapapun, Aku seorang wanita hina, aku sudah ternoda tidak pantas untuk kamu. Masih banyak wanita baik di luar sana, kenapa tidak mereka kenapa harus aku? Aku tuh nggak pantas untuk kamu. "


" Pantas atau tidak, itu bukan kamu yang menentukan cha, tapi aku. Aku yang memilih kamu tandanya kamu memang pantas untuk aku, Lagian wanita-wanita di luar sana, belum tentu lebih baik dari kamu. Jangan terlalu menyalahkan diri kam_"


" Cukup_ aku nggak mau tinggal sama kamu! Ini rumah aku, aku akan tinggal disini. " Sahut Icha lagi.


.....🥀🥀🥀🥀......


Disisi lain Megan begitu marah dengan putranya Riyadh. Bagaimana tidak! Sudah seminggu lebih! Putra semata wayangnya itu, tidak pernah pulang. Bahkan di kantornya saja tidak ada, hanya Rizky yang terlihat dan setiap kali Megan bertanya, keponakannya itu selalu mengatakan jika Riyadh sedang keluar kota. Entahlah, Megan merasa seperti ada yang di sembunyikan anak dan keponakannya itu.


" Papa! Papa nggak tahu Dimana Riyadh." Tanya Megan kepada suaminya yang tengah duduk, sambil membaca koran ditemani secangkir kopi yang berada di atas meja.


" MA, Riyadh itu bukan anak kecil, kalau dia mau pulang, pasti dia akan pulang." Ucap papanya Riyadh, tanpa mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


" Tapi ini udah seminggu, dia nggak pulang! Nggak biasanya dia seperti ini." Riyadh yang sudah terbiasa tinggal sendiri selama kuliah di luar negeri, memilih untuk tetap tinggal sendiri setelah kembali ke tanah air. Dan dia hanya mengunjungi orang tuanya dua kali seminggu, terkecuali ada perjalanan bisnis keluar kota maupun keluar negeri, tetapi tidak sampai lewat sepuluh hari seperti ini.


" Ma! Jika dia ingin pulang, dia pasti akan pulang. Mama tidak perlu berlebihan seperti ini."


" Mama tidak berlebihan kok, hanya saja riyadh itu sudah menikah pa, Dia punya istri pa! Apa papa tidak kasihan dengan Nadine."


" Ma, pernikahan ini mama yang mau, bukan Riyadh! Jadi jangan salah kan dia jika pada akhirnya semua seperti ini. "


" Jadi maksud papa, ini salah mama gitu?" Tanya Megan, yang mulai tersulut emosinya.


" Memang salah mama kan! Sudah tahu Riyadh tidak mau, kenapa mama masih memaksakan kehendak mama! Ma Riyadh itu sudah dewasa, sudah tahu mana yang baik dan tidak untuk dirinya." Ucap papanya Riyadh, Lelaki paruh baya itu menyesap kopi yang mulai dingin itu sebelum berjalan meninggalkan Megan , tak lupa membawa cangkir kopi dan korannya


Sebab ia tahu, istri nya itu memang susah kalau di bilang. Walaupun wanita paruh baya itu jelas salah dalam hal ini.


Tanpa mereka sadari, pembicara mereka di dengar oleh nadine, wanita itu mengepal tangannya, andai saja keluar Riyadh bukanlah orang kaya, wanita itu mungkin sudah pergi dari rumah itu dan tidak akan merendahkan Dirinya seperti ini.


Nadine dengan kesal melangkah kembali ke kamar Riyadh, di dalam kamar dia terus saja mengumpat lelaki, yang telah menjadi suaminya itu, tidak tahu sudah berada jenis anggota ragunan yang ia sebutkan.


Setelah lelah mengatai Riyadh, Nadine mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja rias, kemudian membuka kunci pada layar ponselnya, setelah itu mencari kontak sang ayah, sebelum menempelkan benda pipi itu pada telinganya.


Begitu panggilan itu di jawab, nadine langsung mengadukan sikap riyadh yang tidak pernah pulang atau pun menanyakan kabarnya.

__ADS_1


" Jangan menangis! Kamu ingat tujuan kamu di rumah itu, untuk menguras harta mereka bukan karena cinta, tidak usaha pedulikan lelaki itu. Cukup ambil hati mertua kamu dan jadilah menantu yang baik dengan begitu kamu bisa meminta apapun dari Megan."


Mendengar ucapan Ayahnya, Nadine langsung mengusap kedua pipinya yang basah, sembari mengiyakan apa yang di katakan ayah nya. Karena memang itu tujuannya untuk menikah dengan Riyadh.


__ADS_2