
" Ayah! apa yang ayah bicarakan dengan pemuda tadi." Tanya Rista begitu Riyadh telah pergi.
" Sama seperti pemuda-pemuda yang datang sebelum dia." Jawab Ayah Rifky. Ternyata bukan hanya Riyadh saja, setiap pemuda yang mencoba untuk mendekati Icha, Ayah Rifky pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan kepada Riyadh barusan. semua itu dia karena dia tidak ingin Icha tersikiti lagi dengan harapan setiap pemuda yang datang bisa menerima Icha apa adanya.
" Apa dia mau menerima Icha ya?" Tanya Rista lagi. Sedangkan Nadia hanya diam membisu tanpa berkomentar apa-apa, bukan karena dia tidak tahu apa yang di bahas ayah Rifky dengan Riyadh, tetapi ia meragukan kesungguhan Riyadh, Karena Nadia tahu Riyadh memiliki calon istri yang bernama Nadine.
" Entahlah kita lihat saja nanti." jawab ayah Rifky seadanya, ia tidak terlalu berharap kepada Riyadh.
" Kalau, seandainya dia serius dengan ucapannya bagaimana yah."
" Kalau dia serius dan bisa memberikan apa yang ayah minta untuk Icha, ayah akan menjodohkan dia dengan Icha."
" Bagaimana jika Icha menolaknya, Ayah tahu sendiri kan kondisi Icha seperti apa?"
" Ayah tahu betul kondisi adikmu, tapi kamu juga tahu kondisi ayah seperti apa! Kalau pun dia menolak kita bisa membujuknya, setidaknya ada yang menjaga Icha jika ayah sudah tidak ada."
" Ayah jangan berbicara seperti itu, ayah harus kuat untuk aku dan Icha." Rista langsung memeluk ayahnya, ia tidak suka mendengar ucapan sang ayah.
" Ayah juga menginginkan hal itu nak, Tetapi apa yang bisa ayah harap dari kondisi ayah yang seperti, sekarang ini."Ucap Ayah Rifky, sembari mengusap kepala putrinya dengan begitu lembut.
" Nadia yakin ayah akan baik-baik saja, kita akan selalu berdoa untuk kesembuhan ayah." Nadia yang sejak tadi diam, langsung membuka suaranya.
" Terima kasih nak! Ayah harap kalian akan terus menjaga Icha jika suatu saat Ayah sudah tidak ada."
" Ayyaah." Ucap Nadia dan Rista bersama. Nadia kini ikut berhamburan ke dalam pelukkan ayah Rifky. Pria itu telah menganggap Nadia dan Mimi seperti anaknya sendiri sehingga keduanya tidak sungkan-sungkan untuk bermanja-manja pada Ayah Rifky seperti sekarang ini.
......🥀🥀🥀🥀......
Disisi lain, Riyadh yang baru saja tiba di perusahaan langsung di sambut sang mama dan calon istri yang tidak dia inginkan itu. Keduanya telah menunggu kedatangan Riyadh sejak dua jam yang lalu.
__ADS_1
" Dari mana kamu! Kamu tahu sudah dua jam mama dan Nadine menunggu kamu disini." Tanya Megan Kepada putra semata wayangnya.
" Aku ada urusan penting yang harus aku bahas di luar, Ma."Jawab Riyadh Tanpa menatap kedua wanita itu.
" Sepenting itukah urusan kamu, sampai mama telpon berulang kali kamu sengaja tidak menjawabnya." Tanya wanita paruh baya itu lagi, ia tidak suka saat putranya itu mengabaikan dirinya.
Sementara Riyadh tetap berusaha tenang menghadapi sikap sang mama." Bukan begitu ma! hanya saja ponsel aku, aku silent, jadi aku tidak mendengar saat mama menelpon." Apa yang di ucapkan Riyadh memang benar, dia sengaja mengatur ponselnya dalam mode diam agar tidak ada yang menganggu nya! mengingat hari ini dia tidak ada jadwal meeting atau kunjungan ke anak cabang perusahaanya yang lain.
Wanita paruh bayah itu menelisik wajah putranya, untuk mencari kebohongan di sana, sayang ia tidak menemukan kebohongan di wajah anaknya." Ya sudah kali ini mama percaya sama kamu, sekarang mama minta kamu temani Nadine buat Fitting gaun pengantin sekaligus cari cincin pernikahan kalian." Titah Megan, tak ingin di bantah, karena wanita itu malas berdebat dengan sang putra, sebab ia tahu hal itu hanya akan membuang-buang waktu mereka.
"Tapi ma."
" Tidak ada tapi-tapi, temani Nadine sekarang mama mau ketempat MUA langganan mama Sekaligus mengecek Undangan pernikahan kalian." Tegas wanita itu.
Sayangnya Riyadh kembali menolak." Maaf ma! Riyadh tidak bisa, pekerjaan Riyadh masih banyak dan tidak bisa di tinggal ma."
Dan pada Akhirnya Riyadh mengalah untuk sang mama." Baiklah." Ucap Riyadh, pria itu kemudian keluar dari ruangannya di ikuti Nadine, sedangkan megan tersenyum bahagia melihat kepergian Nadine dan Putranya.
Megan sangat berharap Nadine bisa menjadi menantunya, mengingat gadis itu adalah gadis dari keluarga terpandang tentu saja ia memiliki bibit, bebet dan bobot yang baik untuk menjadi bagian dari keluarga mereka.
......🥀🥀🥀🥀......
Sudah tiga hari setelah pembicaraan serius antara ayah Rifky dan Riyadh hari itu, Esoknya Riyadh benar-benar menunjukkan keseriusannya dengan datang mengunjungi ayah Rifky lagi, bahkan malam harinya ia juga mengajak Rizky untuk ikut menemaninya menunggu Ayah Rifky di rumah sakit bersama Arga suaminya Rista. Dan hal itu bukan hanya sekali tetapi sudah beberapa kali ia datang.
" Terima kasih sudah mau! menemani saya di rumah sakit." Ucap Ayah Rifky begitu formal.
" Tidak usah berterima kasih seperti itu om! Aku Cuma berharap om percaya dengan kesungguhan ku kepada Icha." Sahut Riyadh.
" Om akan percaya jika kamu siap menikahi putri om?"
__ADS_1
" Kalau Icha siap! Riyadh juga siap."
" Baiklah, jika kamu sudah seyakin itu dengan keputusan mu! Nanti setelah om sampai di rumah, om akan langsung membicarakan hal ini dengannya." Ucap Ayah Rifky.
" Apa tidak terlalu cepat yah?" Tanya Rista.
" Nggak kok nak!! lagian sesuatu yang baik itu nggak baik loh kalau di tunda-tunda."
" Tapi yah! Kalau Icha nggak mau gimana?" Tanya Nadia, ia masih meragukan kesungguhan Riyadh.
" Kan Ada kalian bertiga, yang bisa membujuknya." Kalian bertiga yang dimaksud ayah, Adalah Nadia, Mimi dan Rista.
" Tapi yah..."
" Udah kalian Tenang aja! Ayah yakin nak Riyadh adalah pemuda yang baik untuk Icha." sambar ayah Rifki Sebelum Nadia protes lagi.
" Terima kasih om, om sudah mau percaya sama aku, aku janji nggak akan menyia-nyiakan kesempatan yang om berikan." Riyadh mencium punggung tangan Ayah Rifky sebagai ungkapan terima kasihnya.
" Om juga berharap kamu dapat memegang ucap kamu! sebab lelaki sejati yang di pegang omongannya Bukan penampilan atau hartanya." Sahut Ayah Rifky sambil menepuk nepuk pundak Riyadh.
" Iya, om."
Ceklek, pintu ruang rawat Ayah Rifky terbuka, Arga masuk kedalam ruangan mertuanya.
" Ayah, aku sudah urus semua administrasinya dan menebus obat untuk ayah. Kata dokter ayah sudah bisa pulang.". Ucap Arga.
" Iya nak! ayah juga sudah tidak sanggup berlama lama disini."
" Ya udah kalian, beres-beres gih." Pinta Arga kepada sang istri dan sahabat dari Adik iparnya itu, sedangkan Arga, Riyadh dan mertuanya memilih berbincang-bincang! sambil menunggu Nadia dan Rista selesai.
__ADS_1