Aku Bukan Pilihan.

Aku Bukan Pilihan.
Ambillah


__ADS_3

Begitu Nadia telah pergi, Riyadh melangkah semakin dekat kepada Icha, hingga ia berdiri tepat di hadapan wanita dengan memberi sedikit jarak di antara di antara mereka berdua.


"Bagaimana perasaan kamu?" Tanya Riyadh. memecah keheningan diruang itu, sekaligus mencoba untuk mendekatkan diri dengan Icha, walaupun ia tahu wanita yang telah menjadi istrinya itu ketakutan serta tidak nyaman dengan kehadirannya.


" Aku baik-baik saja." Jawab Icha Sambil menunduk kepalanya, tak berani menatap kepada Riyadh.


" Yang aku lihat, tidak begitu." Sahut Riyadh, membuat Icha sedikit mengangkat wajahnya, untuk melirik Riyadh.


" Aku tidak tahu, apa tujuan Anda ingin menikah wanita kotor dan Hina seperti aku, Sementara diluar sana masih banyak wanita baik yang mau menjadi istri Anda pak." Icha tidak menghiraukan ucapan Riyadh, ia justru mengeluarkan rasa ingin tahu, kenapa Riyadh mau menikahinya.


" Aku tidak punya alasan untuk itu! tapi jika kamu benar ingin tahu, cukup ketahui aku melakukan itu karena mengikuti kata hatiku." Tentu saja Icha tidak percaya, karena dia memegang tidak semudah itu percaya kepada lelaki, setelah apa yang di alami.


" Terserah anda saja, mau ngomong apa, tapi tolong keluar dari kamar saya, saya tidak terbiasa dengan orang asing! sebab saya ingin sendiri."


Riyadh tersenyum seraya mengangguk kepalanya. " Ya, Aku tahu kita masih berduka! tetapi kamu harus ingat, aku tidak ingin kamu hanya mengurung diri di kamar ini dan larut dalam duka kamu, keluar dan berbagilah dengan yang lain karena hal itu dapat mengurangi beban kamu" Ucap Riyadh, menasehati Icha dan hal itu membuat ia sukses mendapatkan tatapan tidak suka dari Icha. " Jangan menatap aku seperti itu, aku mengatakan hal ini karena khawatir kepadamu, kamu sekarang adalah istriku, apapun tentangmu akan menjadi urusanku dan jangan memangil aku pak." lanjutnya, sembari menatap kata per kata yang ia ucapkan.


Tetapi Icha kembali membisu serta menunduk kepalanya." Jangan lupa keluar untuk makan, aku ada di luar jika kamu ingin sesuatu." Setelah itu, Riyadh pun meninggalkan Icha sendiri.


Dan begitu Riyadh keluar dari kamarnya. Icha seakan kembali mendapatkan energinya tidak segugup tadi, ia juga dapat menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, seakan semua oksigen telah di hirup pria itu darinya, selama dia berada dalam kamar Icha.


......🥀🥀🥀🥀......

__ADS_1


Sepanjang malam, mata Icha engan terpejam , ia terus bergelut dengan pikiran serta rasa takutnya. Takut jika Riyadh tiba-tiba datang, Takut jika ia harus berada satu ruangan dengan pria itu. Takut jika Riyadh akan melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan pamannya dan masih banyak ketakutan lainnya.


Itu sebabnya, begitu dia selesai makan malam bersama yang lain, Icha langsung buru-buru masuk kedalam kamarnya serta mengunci pintu kamar itu, takut Riyadh akan mengikutinya. Tapi sampai selarut ini Riyadh maupun yang lainnya tidak ada yang mengganggunya.


Icha pun perlahan turun dari tempat tidur, ia membuka satu demi satu laci nakas, yang terletak di kedua sisi tempat tidurnya. " Dimana ya." Tanyanya pada di sendiri, saat tidak menemukan apa yang dia cari.


Icha menatap jam Beker yang ada di atas nakas, waktu telah menunjukkan pukul tiga lewat. "Apa ka Rista yang menyimpannya. Ya mungkin saja! Sebaiknya aku tanya Kepadanya." Gumamnya kemudian melangkah keluar kamar, untuk menemui Rista di kamarnya.


Saat kakinya menapaki anak tangga terakhir, ia sedikit terkejut, melihat Riyadh yang masih terjaga di ruangan keluarga dengan televisi yang menyala. Menampilkan permainan sepak bola, yang begitu di gemari kaum Adam itu.


" Mau kemana?" Tanya Riyadh tanpa mengalihkan pandangannya dari tayangan yang ia tonton.


" Ke kamar ka ista." Jawab Icha dengan gugup, sambil memilin jari jari tangannya sendiri.


"Ini sudah hampir pagi! Apa kamu ingin menganggu waktu istirahat ka ista dan suaminya?"  Ucap Riyadh Sekaligus bertanya. Posisinya pun masih sama, bukan ia tidak ingin menatap wajah istrinya, hanya saja Riyadh sadar kalau saat ini, istrinya tidak baik-baik saja dan ia tidak ingin memperburuk keadaannya. Sebab Icha tidak sama seperti wanita-wanita di luar sana, ketika mereka takut atau gugup maka sebuah pelukan dapat menenangkan mereka. Sayangnya hal itu tidak berlaku kepada wanita yang belum genap dua hari menjadi istrinya ini.


" Kembali ke kamarmu dan tidurlah."


" Aku tidak bisa tidur tanpa obatku! Untuk itu aku harus bertanya kepada ka ista, dimana obat-obatku aku tidak bisa menemukannya di tempat biasanya aku simpan." Jelas Icha.


Sementara Riyadh hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia memperbaiki posisi duduknya dan menengok ke arah Icha." Aku yang menyimpan obat-obatmu." Mendengar hal itu, Icha langsung mendongak keatas dan membalas tatapan Riyadh. " Mulai hari ini, belajarlah untuk tanpa bergantung pada obat-obatan." Lanjutannya, tentu saja hal itu membuat Icha shock dan Histeris.

__ADS_1


" Kamu siapa? Kamu tidak bisa seenaknya mengatur hidupku, Ini hidupku dan kamu bukan siapa-siapa disini." Teriak Icha dengan begitu lantang, ia lupa jika lelaki yang baru saja ia Katai adalah suaminya, tentu saja lelaki itu berhak atas dirinya dan kebaikan untuk dia di masa mendatang.


Riyadh tersenyum, walaupun tatapan matanya begitu tajam, jelas sekali ia tidak suka dengan kata-kata yang keluar dari mulut Icha.


" Jika kamu lupa akan aku ingatkan lagi, aku suamimu dan kamu adalah istriku, semua urusan dan masalahmu, aku berhak tahu begitu pun sebaliknya suka atau tidak suka inilah kenyataannya dan mulai sekarang belajarlah untuk terbiasa dengan kehadiranku." Balas Riyadh.


Tubuh Icha menegang dan bergetar, saat ia tidak mampu mengendalikan perasaan gugup, takut serta marah yang mulai menguasai dirinya. " Aku mohon, aku butuh obat-obat itu." Lirihnya dengan air mata yang mulai menetes dari kedua manik indah milik icha Nafas mulai tersendat-sendat.


Riyadh mengusap wajahnya dengan begitu kasar, melihat hal itu. Jika dia menolak permintaan Icha itu sama saja dia memperburuk keadaan istrinya, mau tidak mau Riyadh harus memberikan apa yang Icha inginkan.


" Hanya satu butir per obat, tidak lebih." Icha mengangguk dengan cepat." Icha pun dengan cepat mengangguk kepalanya dadanya semakin sesek dengan wajah yang mulus memucat.


Riyadh menyadari hal itu tapi dia seakan acuh dan justru memanfaatkan situasi. "Mana obatku." pintanya, karena Riyadh hanya mengiyakan tapi tak kunjung memberikan apa yang dia inginkan.


Pria itu kemudian mengeluarkan satu persatu butiran obat itu pada telapak tangannya. Kemudian menyodorkannya pada Icha." Ambillah."


Melihat obat di telapak tangan Riyadh, Icha mulai ragu untuk mengambilnya, tangannya terulur untuk mengambil obat itu namun sedetik kemudian ia kembali menarik tangannya lagi. Beberapa kali Icha terus menarik ulur tangannya ." Ambil atau tidak sama sekali." Tegas Riyadh, membuat Icha memberanikan diri, untuk meraih butiran obat itu.


" Aaaeekk, Lepas." Teriaknya saat Riyadh menggenggam tangannya sebelum Icha sempat untuk meraih obat itu.


Bruuk.

__ADS_1


Icha jatuh tak sadarkan diri.


__ADS_2