
Setelah Iyad pergi, Icha menawarkan kedua sahabatnya untuk makan malam terlebih dulu. Hari ini dia sengaja masak lebih, mengingat kedua gadis itu akan menginap di rumah mereka untuk menemani Icha.
Tanpa malu-malu, Nadia juga Eva langsung bergegas ke kdapur, mengambil piring dan gelas yang Icha tata rapi di lemari piringnya. Setelah itu menyendok makanan sesuai porsi masing-masing. Mengisi gelas mereka dengan air putih, setelah itu keduanya kembali keruang keluarga, menghampiri Icha sambil membawa makanan dan minum mereka. Kedua gadis itu sudah sering seperti ini, sejak di rumah Icha yang lama.
" Desain baru lagi?" Tanya Nadia, wanita itu duduk bersila di hadapan Icha, sembari menikmati makanannya, Disusul Eva yang duduk di sisi kanannya.
" Iya! Aku pengen buat sesuatu yang baru, bertema klasik modern." Jawab Icha. Nadia pun mengangguk paham, ia sempat melirik sekilas gambar Icha.
Setelah itu Tidak ada yang berbicara lagi, baik Icha maupun kedua temannya, lebih memilih diam sambil menikmati aktivitas mereka masing-masing.
Begitu selesai, Icha , Eva dan Nadia berpindah ke kamar tamu. Karena Riyadh sengaja menyiapkan dua kamar lagi, untuk berjaga-jaga jika Rista maupun Kedua sahabat istrinya itu ingin menginap di rumah mereka, seperti sekarang ini.
Didalam kamar itu, ketiganya tidak langsung tidur dan memilih bercerita seperti biasanya mereka lakukan saat berkumpul Seperti sekarang ini. " Cha, kenapa sih pak Riyadh tidak pernah mengajak kamu ke rumah orang tuanya, apa jangan pak Riyadh_"
" Husttss, kamu nggak boleh, ngomong begitu." Tegur Nadia, sengaja memotong ucapan Eva, walaupun dia sendiri juga merasa aneh dengan hal itu.
Jika di hitung-hitung sudah empat bulan lebih, Icha dan Riyadh menikah tapi kenapa Riyadh tidak pernah membawa Icha, ke rumah orang tuanya. Jika alasannya karena takut, orang tuanya mengetahui pernikahan mereka. Rasanya terlalu aneh untuk di terima akal sehat mereka, mengingat ayah Riyadh sudah mengetahui pernikahan mereka, ia juga menjadi wali untuk Riyadh di rumah sakit waktu itu. Masa iya sampai sekarang mama Riyadh tidak tahu akan hal itu, kecuali papanya Riyadh dan Riyadh sendiri yang sengaja menutupinya atau mungkin saja Riyadh punya wanita lainnya.
__ADS_1
Bisa aja kan, mengingat akhir-akhir ini meeting yang mereka lakukan sering di luar atau di gedung kantor sederhana mereka, tidak pernah lagi di perusahaan MEGAGEMILANG crop. Seperti di awal-awal kerja sama mereka.
Namun Icha, justru mematahkan dugaan-dugaan itu. " Aku yang meminta dia, untuk tidak memberi tahu mamanya, karena aku belum siap bertemu dengan mamanya, kalian ingatkan bagaimana mamanya datang dan langsung marah-marah waktu itu." Ucap Icha mengingatkan kedua sahabatnya, akan meeting mereka yang terganggu Karena kedatangan mamanya Riyadh dan wanita yang mengaku-ngaku sebagai tunangan Riyadh.
" Kamu ingat juga, berarti kamu tahu dong siapa Nadine." Icha tersenyum kecut sembari mengangguk kecil. "Apa kamu tidak takut, pak Riyadh akan menikahinya, mengingat kamu yang belum siap di kenalkan sebagai istrinya dan pernikahan kalian pun hanya di ketahui kita, pak Rizky sama papanya Riyadh." Ucap Nadia lagi. Wanita itu juga merasakan ketakutan yang sama dengan Eva.
" Aku bisa apa kalau memang hal itu sampai terjadi, aku dan Bu Nadine aja bandingan nya jauh bagaikan bumi dan langit! dari segi apapun dia jauh lebih unggul dari aku. Kalian tahu itu." Sahut Icha suaranya terdengar begitu lemas, kalau boleh jujur dia sudah terbiasa dengan kehadiran Riyadh. Tapi jika suatu saat pria itu datang dan meminta izin untuk menikahi Nadine, Icha pasti akan berbesar hati untuk merelakan semuanya, mengingat dia tidak dapat memenuhi kebutuhan Riyadh sebagai istri yang baik.
Rasanya terlalu egois jika Icha tetap menginginkan dirinya sebagai istri satu-satunya, Sementara dia sendiri tidak dapat melayani pria itu. Karena Icha sadar dan tahu betul sebagai seorang pria dewasa, suaminya itu membutuhkan pelepasan dengan teratur.
"Terus kamu gimana Cha?" Tanya Eva, wanita itu menatap iba sahabatnya.
" Cha_" Nadia tidak dapat meneruskan kata-katanya. Wanita itu seakan kehabisan kata untuk proses. Bahkan Tanpa dia sadari, Air matanya jatuh menetes membasahi pipi. Dia tidak menyangka Icha bisa seikhlas ini. Dan mengapa dia pantas untuk menerima ketidakadilan ini, padahal disini dia yang korban. Tapi kenapa takdirnya harus serumit ini. " Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu Cha! Aku akan terus berada disisi kamu untuk menemani kamu hingga kita mendapatkan kebahagiaan kita. Kamu harus ingat disaat pak Riyadh pergi kamu masih punya kita sahabat yang akan selalu menunggu kedatangan kamu. pundak aku juga cukup kuat untuk kamu bersandar, Cha." Ucap Nadia lagi, sembari memeluk Icha dan mengusap punggungnya penuh sayang.
Melihat hal itu Eva pun ikut memeluk Mereka berdua sambil terisak. " Kamu juga punya aku Cha jangan lupakan itu." Tegas Eva, Wanita itu mengeratkan pelukannya sambil menggoyang-goyang tubuh kedua Sahabatnya itu.
" Eva." Teriak Nadia dan Icha, membuat tangis itu berubah menjadi tawa.
__ADS_1
" Kalian ngapain sih! Sampai nangis-nangis segala, lagian itu cuma seandainya belum tentu juga benar." Ucap Icha sembari mengeleng-geleng kepalanya, wanita itu kini telah berbaring di antara Eva dan Nadia, membiarkan kedua wanita itu menjadikan tubuhnya sebagai guling.
"Nggak papa, kita pengen aja! Anggap aja kita sedang gladi resik." Sahut Eva, membuat Icha dan Nadia kompak menatap kepadanya.
" Apa nggak salah, kaya pentas aja." Ucap Nadia sambil geleng-geleng kepala.
" Yeeah, memangnya mau pentas aja yang harus gladi resik. Kamu tahu nggak tujuan gladi resik di lakukan untuk mengukur kesiapan kita, jadi kalau sekarang kita sudah melakukan gladi resik, begitu kejadian kita nggak akan kaku lagi." Mulai oleng si Eva.
" Va sayang yang kita bicarakan ini seandainya dan seandainya itu belum tentu kejadian. Karena aku yakin dia tidak akan melakukan hal itu." Ucap Icha dengan yakin walaupun tatapannya menunjukkan keraguan disana.
" Tau nih semangat banget. Mending kita tidur udah larut banget nih." Sela Nadia sembari menunjuk jam pada layar ponselnya dimana waktu telah menunjukkan pukul setengah dua malam.
Memang beginilah mereka, kalau lagi seru-serunya ngobrol, kadang mereka bisa sampai lupa waktu, seperti sekarang ini.
Nadia dan Eva yang kebetulan sudah sangat mengantuk langsung memejamkan mata mereka. Dan tak butuh waktu lama untuk kedua wanita itu terlelap.
Sementara Icha masih terjaga. Wanita itu kembali mengingat ucapan Nadia dan Eva barusan. Walaupun semuanya hanya perumpamaan tapi hatinya begitu nyeri seakan rasa itu nyata bukan sesuatu yang di andai-andai.
__ADS_1
bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi, apa dia siap menanggungnya seperti yang dia katakan barusan. apa dia siap untuk terluka lagi. Mengingat semua itu membuat kedua sudut matanya basah. Mau seperti apa dia dengan masa lalunya, ia tetaplah seorang wanita yang memiliki sisi egois, Jauh di lubuk hatinya dia juga menginginkan Riyadh untuk dirinya sendiri.
Icha segera mengusap cairan yang terus menetes dari kedua sudah matanya, semakin lama semakin deras. " Aku kenapa?" Tanya Icha pada dirinya sendiri, wanita itu mencoba untuk memejamkan matanya, berharap dengan begitu air matanya berhenti menetes tapi sama saja. Hatinya ingin menangis dan menjerit sepuasnya Tapi dia tidak ingin membuat Eva dan Nadia khawatir. Hingga akhirnya ia hanya bisa menangis sambil membekap mulutnya dengan telapak tangannya sendiri, Sehingga tangisannya tidak menganggu tidur Eva juga Nadia. Icha terus menangis tanpa alasan, hingga ia lelah dan terlelap.