Aku Bukan Pilihan.

Aku Bukan Pilihan.
Aku butuh waktu.


__ADS_3

"Sayang nanti malam ini mau nggak kita ke rumah aku. "Ucap pria itu begitu selesai menemani istrinya makan siang. Keduanya saat ini tengah duduk di ruang keluarga sambil menonton TV.


Icha menengok kepada Riyadh, " Kenapa harus sekarang sih nggak bisa ya nanti aja. Jujur aja ya Mas, aku belum berani bertemu sama mama." Akunya.


Bukan tanpa sebab Icha berkata seperti itu. Wanita itu masih teringat saat dilabrak oleh Mama mertuanya. Hal itu terjadi bukan hanya sekali tapi sudah lebih dari sekali pertama saat dia sedang meeting bersama Riyadh dan kedua saat keduanya makan siang di mall.


Icha takut pertemuan kali ini, ia akan dilabrak lagi mengingat Mama mertuanya itu memiliki menantu pilihannya sendiri, yang pasti itu bukan Icha tapi Nadine.


"Tapi sayang mau sampai kapan, kamu itu istri aku sudah sepatutnya keluarga aku tahu tentang kamu." Ucap Riyadh, pria itu masih mencoba untuk membujuk istrinya.


Karena dia ingin menunjukkan Icha di hadapan orang lain, dia ingin dunia tahu inilah istrinya adalah icha, bukan Nadine, dia tidak ingin menyembunyikan Icha lagi dan lagi.


Apalagi dari keluarganya, walaupun sang papa sudah tahu tentang perikanan mereka tapi mamanya belum mengetahui hal itu, apalagi ada Nadine di antara mereka.


Sejauh ini Nadine tidak bisa mengetahui Icha begitu pun sebaliknya karena dia menutup rapat hanya hubungan mereka. Tapi entah mengapa semakin lama, Riya Tidak dapat menahan semua ini lebih lama lagi, toh istrinya itu sudah dapat melakukan kewajibannya.


"Mas aku minta maaf, bukannya aku nggak mau! Tapi aku benar-benar belum siap ketemu sama mama kamu. Kasih aku waktu ya mas! Paling nggak sampai aku benar-benar siap." Ucap Riyadh membuat Riyadh menarik nafas berat.


"Baiklah, terserah kamu mana baiknya aja! Tapi hanya seminggu, kamu harus menyiapkan diri dalam seminggu ini." Tegas Riyadh tak ingin di bantah.


"Itu sama aja mas maksa aku! Aku memang butuh waktu, tapi seminggu rasanya, terlalu cepat ." Sahut Icha membuat Riyad kembali menarik nafas panjang.


Pria itu mencoba untuk memaklumi istrinya kali ini dengan bertanya, "terus kamu bisanya kapan sayang? "


"Aku nggak tahu Mas yang pasti aku butuh waktu."


Andai Riyadh tidak memikirkan kondisi Icha dia pasti akan menyeret wanita itu ke rumah orang tuanya malam ini juga dan memperkenalkan dia dengan mamanya. Tapi semua itu hanya sebatas kata andai, sebab Riyad tidak akan mungkin bisa berbuat seperti itu kepada Icha.

__ADS_1


"Baiklah, terserah kamu saja sayang." Riyadh pada akhirnya mengalah.


Setelah mengatakan hal itu, jangan itu kembali hening. Baik Icha maupun riyad keduanya sama-sama tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


...🥀🥀🥀🥀...


Satu minggu telah berlalu nyatanya selama satu minggu ini Riyad belum juga berhasil membujuk Icha, tidak hanya itu dia bahkan belum mengulang kembali malam panas mereka. bukan karena Riyadh tak mau tapi pria itu, mengikuti saran dari Dokter Amanda, dimana dia harus mencari momen yang pas dan melakukan hal itu sesering mungkin untuk saat ini, sehingga Icha tidak tertekan dan berpikir ia harus terus-menerus seperti itu. Yang mana hal itu bisa saja akan mempengaruhinya lagi, karena bisa saja dia dalam keadaan tidak siap untuk melakukan hal. Tapi pikirannya justru mengharuskan selalu, walaupun kemungkinan itu sangat kecil.


Namun alangkah lebih baik mencegah dari pada mengobati bukan. Dokter Amanda juga masih harus memastikan Icha jika telah benar-benar sembuh sepenuhnya.


Untuk itu Dokter Amanda mengatur jadwal pertemuannya dengan Icha siang itu setelah wanita itu selesai dengan aktivitas kuliahnya sebentar lagi akan berakhir.


"Hai Icha udah lama nunggu ya. "Sapa Dokter Amanda ketika menghampiri wanita itu, di sebuah cafe tempat mereka membuat janji bertemu.


" Hai, nggak kok kak aku juga belum lama! ini aja pesanan aku belum diantar." Sahut Icha, wanita itu pun beranjak dari tempat duduknya, memeluk Amanda sembari cium pipi kanan cium pipi kiri.


"Kabar Aku baik seperti yang kak Amanda lihat. Kabar kak Amanda sendiri gimana?" Jawab Icha sembari balik bertanya.


Amanda pun tersenyum sambil mengangguk-angguk kan kepalanya. " Aku juga baik." Setelah berbasa-basi tentang kabar satu sama lain Amanda pun memanggil pelayan untuk memesan.


Lama pelayan pun datang dan mencatat semua pesanan Amanda setelah itu pelayan itu pun pergi dan tidak lama setelahnya ia kembali dengan membawa pesanan Amanda. Untuk pesanan Icha sudah di antara lebih dulu.


Keduanya pun menikmati pesanan mereka sambil berbicara mengenai kondisi Icha. Karena icha sendiri sudah tahu siapa dokter Amanda, tentu saja Riyad dan Amanda yang memberitahunya awalnya Icha menolak Tapi setelah diyakinkan Dokter Amanda ia pun mau melanjutkan pengobatannya kepada wanita itu dan hasilnya Icha bisa seperti sekarang.


Siang itu Amanda bertanya tentang perasaan Icha setelah melakukan hal itu dengan Riyadh. Iya juga menjelaskan agar Icha tidak tertekan dengan apa yang mereka lakukan, jika kedepannya aktivitas itu akan semakin sering, karena semua itu memang kewajiban serta kebutuhan satu sama lain.


Dan masih banyak hal lain yang Amanda sugesti-kan kepada Icha. Begitu pembicaraan mereka selesai Amanda dan Icha pun sepakat untuk meninggalkan cafe. Amanda pun tak lupa berpesan kepada Icha jika dia merasakan sesuatu, dia bisa langsung menghubunginya. Icha pun mengiyakan apa yang di katakan Dokter Amanda.

__ADS_1


Setelah itu keduanya benar-benar meninggalkan kafe itu.


Icha memilih untuk langsung pulang ke rumah dan wanita itu sedikit terkejut saat mendapati Riyad sudah berada di rumah. Pria itu sudah pulang bekerja, tidak seperti biasanya. Karena biasanya waktu pulangnya masih ada dua jam lagi.


"Mas kok udah pulang." Tanya Icha, sembari menghampiri suaminya itu kemudian duduk di sampingnya. Menyandarkan kepalanya pada Bahu Riyadh.


"Kenapa? Emang mas nggak boleh pulang cepat?" Tanya Riyadh. Sembari mencium kening Icha. Pria itu juga tidak lupa, memberi punggung tangannya untuk di cium istrinya itu sebelum ia membalas ciuman Icha di punggung tangannya juga.


" Bukan nggak boleh! Tapi tumben aja gitu." Jawabnya, melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Riyadh. " Tadi aku ketemu sama dokter Amanda." Lanjutnya memberitahu.


Walaupun Icha tahu pertemuannya dengan Dokter Amanda diketahui oleh Riyad, tapi wanita itu pasti akan menceritakan lagi kepada Riyadh. Tentu saja pria itu dengan senang hati akan mendengar cerita istrinya itu.


" Ngobrol apa aja sama Amanda." Tanya Riyadh ingin tahu. Icha pun dengan senang hati menceritakan semuanya, kepada suaminya itu." Terus kamu mau! Jika kita melakukan lebih sering." Tanya Riyadh lagi, dari sekian banyak cerita Icha, hanya itu yang dia tanyakan.


" Entahlah, Icha juga nggak tahu! Icha mau mandi dulu mas, gerah banget." Icha pun beranjak dari tempat duduknya. Meninggalkan Riyadh.


" Sayang aku ikut." Riyadh, segera mematikan TV yang sejak tadi ia tonton, kemudian menyusul langkah Icha, masuk kedalam kamar mereka.


"Nggak Icha nggak mau." Icha langsung berlari masuk kedalam kamar mandi, kemudian mengunci pintu kamar mandi itu. Sementara Riyadh mendaratkan tubuhnya di sofa menunggu Icha selesai.


Lima belas menit kemudian, Icha keluar dengan wajah yang sudah jauh lebih segar dari sebelumnya dan mendapati Riyadh sudah tertidur di sofa, karena terlalu lama menunggunya.


Wanita itu pun menghampiri suaminya, untuk membangunkannya." Mas bangun mas! Mandi dulu, nanti lanjut tidur lagi." Ucap Icha, sembari menepuk-nepuk pundak suaminya.


Tak lama Riyadh pun terbangun." Maaf ya sayang, aku ketiduran." sahut Riyadh sembari mengusap wajahnya.


"Iya nggak papa, sekarang mending mas mandi biar lebih segar." Riyadh mengangguk, pria itupun beranjak dari tempat duduknya. lalu mencium pipi Icha sebelum melangkah masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. meninggalkan Icha yang hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah Riyadh.

__ADS_1


__ADS_2