Aku Bukan Pilihan.

Aku Bukan Pilihan.
Terima kasih!


__ADS_3

"Lah Kenapa, Kamu nggak suka ya?" Tuduh Megan, namun Riyadh kembali menggeleng kepalanya, dengan cara apa dia harus membuat mamanya mengerti jika semua tidak harus secepat ini juga.


"Mah aku aja butuh waktu setahun baru , Icha mau dekat-dekat sama aku, mau percaya dan membuka hatinya buat aku." Ucap riyadh berharap sang mama mengerti dari pengalamannya. " harus berapa kali Iyad bilang sama mama, kalau Icha itu berbeda mah, dia tidak akan semudah itu didekati. Bukankah aku sudah pernah mengatakan mengenai masa lalu icha." Ucap Riyadh lagi.


"Bukannya kata kamu dia udah sembuh." Wanita itu tetap saja nyesel. Membuat Riyadh benar-benar kehabisan akal.


"Terserah mama saja! Jangan paksa jika dia tidak mau." Pria itu terlalu lelah! Jika harus terus-menerus berdebat dengan ibunya, karena pada akhirnya dia tidak akan pernah menang melawan Megan.


Mama nya itu selalu mempunyai seribu satu alasan untuk membuatnya mengalah seperti sekarang ini.


"Biar mama yang bicara sama Icha, mama pergi dulu." Wanita itu berbalik untuk meninggalkan ruangan kerja anaknya.


"Mah," panggil Riyadh membuat, Megan kembali menengok kebelakang. " Apa yang ingin mama katakan sama Icha?" Tanyanya.


Riyadh harus memastikan, jika pembicaraan, mamanya dan Icha tidak akan membuat istri itu tertekan apalagi sampai stress. Karena hal itu mungkin saja akan mempengaruhi janin dalam kandungannya.


"Jika kandungan Icha yang kamu khawatirkan, kamu tenang saja mama tahu apa yang harus mama lakukan." ujarnya, Megan terus berusaha untuk meyakinkan Putranya itu.


"Mah."


"Riyadh, mama tidak akan membuat Icha maupun cucu mama dalam masalah! Tapi kalau kamu berat untuk mama berbicara dengan istri kamu, kamu saja yang berbicara dengannya mama akan nunggu kabar dari kamu." Putus Megan, membuat Riyadh merasa lega. "Mama pulang dulu." Pamitnya, niatnya untuk menemui sang menantu dia urungkan , karena karena putranya itu terlalu merengek.


"Hati-hati mah." Ucap Riyadh, sembari menarik dua sudut bibirnya ke atas, membentuk sebuah senyuman.


Setelah megan meninggalkan ruang kerjanya Riyadh kembali disibukkan dengan tumpukkan pekerjaan yang tak pernah ada habis-habisnya.


Jika di luar sana orang beranggapan bahwa seorang CEO bisa berlenggang-lenggang ria kemudian mendapat gaji. Maka pemikiran mereka itu salah karena seorang CEO tetaplah seorang pekerja, berbeda dengan pemilik perusahaan itu sendiri yaitu ayahnya.


Kecuali jika gemilang sudah tidak ada maka Riyadh berhak atas perusahaan ayahnya itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Waktu menunjukkan pukul 05.00 sore ketika Riyadh bersiap-siap untuk pulang seperti biasanya, Namun.


Ting..


Sebuah notif pesan masuk di ponsel nya, seperti hari-hari sebelumnya dan Riyadh dapat menebak siapa yang mengirim nya pesan itu.

__ADS_1


Bener saja, seperti dugaan Riyadh nama sang istri tertera di layar ponselnya. Wanita itu kembali meminta untuk dibelikan makanan yang dia ingin, kali ini tidak hanya satu macam yang dia inginkan. Karena di daftar itu, Ada Es krim rasa vanilla dan coklat. Dessert box, batagor dan martabat.


Membaca daratan pesanan sang istri membuat Riyadh hanya bisa mende-sah pendek. Karena pria itu yakin yang akan masuk ke dalam mulut istrinya cuma es krim, sisanya akan menjadi daratan penghuni kulkas seperti yang sebelum-sebelumnya.


Walaupun begitu Riyadh tetap akan mampir untuk membeli semua yang diinginkan icha terlepas dari wanita itu memakannya atau tidak.


Bukan karena Riyadh percaya dengan mitos, jika keinginan ibu hamil tidak di turuti, anaknya akan ileran. Riyadh tidak percaya sama sekali dengan mitos itu, tapi sebagai seorang suami yang mencintai anak dan istrinya, dia hanya ingin memastikan semua yang diinginkan anak dan istrinya terpenuhi terlepas dari mereka menikmatinya atau tidak.


Lagian dia bekerja juga untuk memenuhi kebutuhan mereka serta memastikan anak dan istrinya tidak akan kekurangan satu apapun.


Riyadh meraih kunci mobil ponsel serta dompetnya kemudian menyimpan benda itu ke dalam saku jasnya, setelah itu dia melangkah keluar ruangan kerjanya.


Pria itu kemudian masuk ke dalam lift, yang akan membawanya ke besmane di mana mobilnya ter parkir di sana.


Setibanya di bestmane Riyadh pun, segera masuk kedalam mobilnya. Pria itu menyalahkan mesin mobil mewah itu, sebelum melaju meninggalkan basemen itu.


Tujuan pria itu adalah tokoh gue yang menjual Dessert box. Setelah membeli menu pertama pesanan icha, Riyadh kembali melajukan mobilnya cari penjual batagor dan martabak untuk pesanan kedua dan ketiga istrinya itu, barulah setelah itu dia mampir di minimarket untuk membeli es krim pesanan yang terakhir.


Setelah memastikan semua pesanan istrinya telah ia beli barulah melihat pulang ke rumah.


Tidak butuh waktu lama Riyadh kini telah sampai di depan pintu ke rumah istrinya, pria itu berdiri sembari memegang pesanan Icha, menunggu, mereka yang ada didalam membukakan pintu untuknya, setelah dia menekan bel pintu rumah itu.


"Salim dulu." Ucap Riyadh sedikit cemberut, karena merasa di abaikan oleh wanita itu.


"Hhehe hehehe. Maaf Icha lupa." Akunya sembari cengengesan, setelah itu dia meraih tangan Riyadh, kemudian mencium punggung tangan pria itu, berulang-ulang membuat Riyadh geleng-geleng kepala.


Pasalnya Icha selalu bertingkah berlebihan saat keinginan di turuti, seperti sekarang ini. " Udah makan nasi belum, kalau belum makan nasi nggak boleh makan es krim." Tegasnya, sembari mencium punggung tangan istrinya itu.


Riyadh memang sengaja bertindak tegas kepada Icha, karena wanita itu akhir-akhir ini jarang sekali makan nasi, harus di ancam seperti ini dulu, baru dia mau.


Jika pada umumnya orang hamil, itu tidak jauh-jauh dari morning sickness dan keinginan yang aneh-aneh. Icha berbeda, wanita itu justru ingin makan ini dan itu! Tapi hanya keinginan saja. Mentoknya yang akan dia makan, salad buah, rujak, es buah, sup buah lain dari pada itu hanya ingin saja.


Bersyukurnya, Riyadh selalu memastikan untuk istrinya itu memakan makan empat sehat lima sempurna sebelum makan es krim dan kawan-kawannya. Jika tidak. Entahlah.


"Tungguin mas." Jawabnya. Tanpa dosa. Sudah Riyadh duga, wanita itu pasti belum menyentuh nasi sama sekali, karena Ista tidak dapat memaksanya, jika Ista terlalu menuntut, Icha pasti akan ngambek dengan kakaknya itu.


"Ya udah, kita masuk! Mas temani makan! Baru ngemil es krim, karena ada yang ingin mas katakan sama Icha." Ucapannya, sembari melingkarkan tangannya pada pinggang wanita itu, kemudian menuntunnya untuk masuk kedalam rumah setelah menutup pintu rumah itu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Malam itu setelah selesai makan malam, Riyadh langsung mengajak Icha ke kamar, karena ada yang ingin pria itu bicarakan.


"Ada apa sih mas?" Tanya Icha mulai tidak sabaran.


Sementara Pria itu terlihat santai, ia justru menuntun Icha untuk duduk dilantai beralaskan karpet berbulu lembut itu, kemudian memberikan sekotak es krim berserta sendok untuk Icha. agar istrinya itu lebih rileks saat mereka berbicara nanti.


"Mas sebenarnya mau ngomong apa? Buat aku makin deg-degan aja deh." Tanya icha lagi.


"Ngapain deg-degan segala, Hmmm?" Bukannya menjawab pertanyaan Icha, pria itu justru balik bertanya, dengan tangan kanan yang terangkat untuk mengacak rambut istrinya itu. " Bukan masalah yang serius kok, jadi kamu nggak perlu deg-degan seperti yang kamu katakan." Ucapannya untuk meyakinkan Icha.


"Terus masalah apa kalau gitu?" Tanya Icha, lagi! Sembari mulai menyendok es krim ke dalam mulutnya.


"Tadi mama datang ke kantor aku!" Riyadh pun memulai pembicaraan mereka, agar Icha semakin tidak penasaran.


"Oh yah! Pasti mama mau ngajak Icha jalan-jalan lagi kan? Kapan itu mas, Icha siap kok." Riyadh langsung menarik nafas panjang, kemudian menghembuskan-nya dengan perlahan. 'Giliran di ajak jalan dia begitu bersemangat, pas pulangnya langsung ngerepotin, untuk sayang Cha.' ucap Riyadh dalam hatinya sembari menatap Icha penuh arti.


"Tadinya sih, begitu tapi mama berubah pikiran dengan mengajak kita untuk tinggal bersama mama dan papa." Jelas Riyadh, sembari menelisik raut wajah istrinya itu.


"Tinggal di rumah orang orang tua mas." Tanya Icha, Riyadh pun dengan cepat mengangguk kepalanya. " Emangnya boleh kalau aku tinggal di sana?" Tanya icha lagi membuat Riyadh menautkan keningnya tajam.


"Kenapa nggak boleh?" Bukannya menjawab Riyadh justru Balik bertanya karena bingung dengan pertanyaan istrinya itu.


"Ya nggak boleh lah! Kita itu berbeda_"


"Nggak ada yang berbeda diantara kita! Perbedaan itu ada saat kita belum menikah tapi sekarang kita sudah menikah kamu adalah bagian dari keluargaku, begitu pun sebaliknya tidak ada perbedaan sama sekali. " Riyadh dengan cepat memotong ucapan Icha karena tidak suka dengan pertanyaan istrinya itu.


"Maaf mas, jangan marah Icha cuma bertanya." Sahut Icha saat menyadari tatapan tajam suaminya itu. Belum lagi rahangnya yang mengeras hingga urat-urat lehernya terlihat jelas.


Icha memberanikan dirinya menyentuh pipi Riyadh, kemudian mengecupnya. " Sungguh Icha cuma bertanya tadi, nggak bermaksud untuk buat mas marah." Ucapannya lagi.


"Aku nggak marah! Aku nggak akan bisa marah sama kamu sayang! Aku hanya tidak suka dengan ucap kamu. Aku tidak suka kamu merendahkan diri kamu sendiri untuk alasan apapun? Karena kamu itu sangat berharga untuk aku." Riyadh pun membalas ucapan Icha sembari menatap dalam kedua mata Icha, kemudian mencium bibir istrinya itu dengan begitu lembut. " Cha aku tidak pernah bermain-main dengan perasaanku! Jadi Tolong Jangan ragukan perasaanku untuk alasan apapun." Riyadh kembali meyakinkan Icha setelah melepas tautan bibir mereka.


"Iya mas, maaf! Icha janji nggak akan ulang lagi." Riyadh tersenyum sembari mengangguk kepalanya. Pria itu kemudian membawa tubuh Icha kedalam pelukannya. " Icha juga mau kok tinggal di rumah orang tua mas!" Lanjutnya membuat, Riyadh menarik dirinya dari Icha untuk keseriusan di wajah istrinya itu.


"Kamu serius?" Icha tersenyum kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. " Aku nggak salah dengar kan sayang?" Tanya Riyadh lagi.

__ADS_1


" Iya mas, aku mau tinggal di rumah orang tua mas."


" Terima kasih sayang." Riyadh kembali memeluk Icha lagi, sungguh dia begitu bahagia, karena dia yang semua ini akan membuat hubungan Icha dan mama nya semakin dekat.


__ADS_2