Aku Bukan Pilihan.

Aku Bukan Pilihan.
Suasana pagi.


__ADS_3

Sejak hari itu, Megan dan Nadine terus mencari tahu tentang Icha, namun orang-orang suruhan Riyadh selalu membatasi pergerakan mereka, hingga mereka tidak dapat mengetahui sosok Icha.


Sementara itu, hubungan Icha dan Riyadh sudah kembali membaik, Semudah itu Icha memberi maaf, walaupun terkadang Icha masih suka mengungkit soal Nadine, jika Riyadh melakukan kesalahan. Mau sekecil apapun kesalahan itu, Icha tetap akan menghubungkannya dengan Nadine.


Mungkin hal itu terdengar kekanak-kanakan tapi namanya juga wanita, mahluk paling hebat dalam mengingat kesalahan pasangannya.


Pagi itu seperti biasa, sebelum berangkat untuk aktivitas mereka, obrolan ringan selalu terjadi di antara kedua, seperti apa yang akan mereka lakukan hari ini dan kemana saja mereka nanti, semuanya pasti akan mereka bicarakan sebelum keluar rumah untuk melakukan aktivitas masing-masing.


"Hari ini kamu sibuk nggak?" Tanya Riyadh. Pria itu saat ini terlihat begitu ruwet, padahal cuma mengikat dasinya saja.


Icha pun berjalan menghampiri suaminya itu, kemudian mengambil alih apa yang di lakukan Riyadh." Nggak juga, nanti setelah meeting dengan kamu, Aku dan Mimi rencananya akan mengunjungi hotel baru yang kemarin kita tanda tangan kontrak itu. Sementara David harus menemani Nadia untuk mengecek sisa pekerjaan kita." Jelas Icha dengan tangan yang begitu lincah mengikat dasi yang di gunakan Riyadh.


Pria itu mengangguk paham." Ini meeting terakhir ya! Mau kerja sama lagi nggak." Tawar Riyadh. Karena kerja sama mereka waktu itu, baru berakhir di hari ini.


Sebab ada tiga gedung apartemen yang di berikan Riyadh untuk di berikan kepada icha dan tidak semua calon pembeli apartemen itu menyukai dekorasi ruangan yang tersedia, mereka juga memiliki impian tersendiri untuk kenyamanan hunian mereka. Dan Icha sebagai orang yang bertanggung jawab dalam hal ini, harus memenuhi itu. Terkadang harus merombak total, atau sekedar di tambahi dan di kurangi saja.


Dan sejauh ini hasilnya memuaskan, semua unit apartemen itu telah terisi. Bersamaan dengan berakhirnya kerja saja mereka hari ini.

__ADS_1


"Boleh aja sih! Kalau tender ini kita yang menang lagi, aku nggak mau di bilang nepotisme atau apapun itu." Sahut Icha, sembari Merapikan kemeja yang di gunakan Riyadh, Begitu ia selesai memasang dasinya." Sudah rapi." Lanjutnya memberi tahu.


" Untuk itu kamu harus bersiap dari sekarang sehingga bisa mendapatkan tender ini lagi. "Ucap Riyadh mengingatkan, pria itupun tahu hal itu bukanlah sesuatu yang sulit untuk Icha jika wanita itu benar-benar tekun Mendalami pekerjaannya.


Apalagi yang dia dengar, bahwa istrinya itu baru saja, merekrut lima orang pekerja untuk membantunya, padahal sebelumnya sudah ada sekitar sepuluh orang yang membantu Icha di kantornya itu. Dua orang security, dua orang Office girl dan Enam orang pekerja tidak termasuk Icha dan kedua sahabatnya, bukan itu merupakan sesuatu yang bagus dan sangat membanggakan.


Apalagi kantornya itu di bangun dari benar-benar nol, dimana cuma ada mereka bertiga dan kini mereka sudah dapat merekrut orang lain untuk berpartisipasi bersama mereka, bukankah itu sesuatu yang sangat membanggakan.


Dia saja, tinggal melanjutkan apa yang sudah ada. Walaupun begitu keduanya sama-sama hebat. Karena memulai sesuatu dari nol dan mempertahankan sesuatu yang sudah berada di atas tetap di atas bahkan sedikit lebih tinggi dari itu. Bukanlah sesuatu yang gampang, tapi kedua dapat membuktikan diri jika mereka mampu.


"Oh iya, Sayang nggak papakan meeting-nya terakhir ini di lakukan kantor kamu lagi." Tanya Riyadh.


"Bukan seperti itu_" Sahut Riyadh, sembari melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya itu, membawanya untuk berdiri di depan kaca sebadan yang terpasang pada lemari hias yang berada di ruang tengah." Kamu cantik, semakin cantik kalau nggak mancing-mancing terus. Biking makin tambah cinta dan sayang sama kamu." Lanjutnya , mengombali istrinya itu.


"Diih alasan, kamu mas." Icha langsung menyiku perut Riyadh, kemudian berlalu meninggalkan Riyadh yang pura-pura kesakitan di belakang sana. Ia harus menyiapkan sarapan mereka, kalau tidak ingin terlambat pagi ini.


"Sayang aku tidak alasan loh, memang istri aku ini paling cantik. " Ucap Riyadh yang kini sudah menyusul langkah Icha. Pria itu kemudian duduk di kursinya, membiarkan Icha melayaninya. Pagi itu hanya roti yang di olesi selai nautela yang Icha siapkan karena mereka kesiangan lagi, untuk kesekian kalinya. Bagaimana tidak jika setiap malamnya mereka harus memuaskan satu sama lain sebelum tidur. Hal itu tidak pernah absen selama beberapa hari belakangan kecuali Icha kedatangan tamu bulanannya, tapi sejauh ini tamu Icha sedang mengerti mereka untuk itu dia tidak pernah datang lagi.

__ADS_1


"Silahkan mas, kalau mas bosan sarapannya roti lagi roti lagi. Mulai malam ini boleh kok begadangnya di kurangi." Ucap Icha, setelah meletakkan dua lembar roti air putih dan kopi di hadapan suaminya itu.


Kemudian ia menarik kursi untuk duduk, menikmati menu yang sama hanya minuman mereka yang beda, Icha bukan penikmat kopi, tapi ia sesekali meminumnya saat ingin saja. Pagi seperti ini jika bukan susu, coklat panas atau jus. Icha lebih suka menikmati sarapannya dengan segelas air putih.


"Baiklah, karena ini meeting terakhir kita. Sebaiknya di lakukan di perusahaan aku, ingat jam sembilan, nggak boleh telat, nggak ada drama gugup ataupun ganti orang yang presentasi lagi, atau_"


" Atau apa?" Riyadh menaikkan kedua alis dan bahunya secara bersamaan sembari memberikan senyuman devilnya, senyum yang baru berani' ia tunjukkan kepada Icha akhir-akhir ini jika pria itu memiliki maksud tertentu kepada dirinya.


"Tidak, sebaiknya di kantorku saja."


"Maaf sayang, kalau soal pekerjaan aku yang berkuasa dan menentukan semua semauku, bukan kamu! Kamu boleh membalasnya di luar itu." Ucapannya sembari mengusap sisa selai yang tertinggal di sudut bibir Icha kemudian mencicipinya. "Ayo nanti aku antar."


"Nggak usah mas, aku sendiri aja! Kan kantor kita berlawanan, nanti kamu telah, lagian aku juga udah pesan taksi." Tolak Icha dan Riyadh pun tidak bisa memaksa karena apa yang di ucapkan istrinya itu memang benar adanya.


" Ya udah aku berangkat duluan, ingat nggak boleh telat." Riyadh kemudian beranjak dari tempat duduknya, mencium kening Icha, kedua pipinya sebelum berakhir di bibir wanita itu. Melu-matnya sedikit lama, setelah itu ia memberikan tangannya untuk disalim Icha. " I love you." Ucapannya sembari mencium punggung tangan istrinya itu.


Pria itu pun berlalu dari ruangan itu, tidak lupa mengambil tas kerjanya yang sudah di siapkan Icha di atas nakas ruang tamu, sengaja agar Riyadh ataupun dirinya tidak perlu kembali ke kamar untuk mengambilnya, kecuali ada yang kelupaan.

__ADS_1


Lima menit setelah Riyadh pergi, taksi yang Icha pesan datang, bersamaan dengan wanita itu baru selesai membersihkan meja serta piring dan gelas bekas mereka.


Icha segera mengambil tasnya di tempat yang sama dengan ia meletakkan tas kerja Riyadh, wanita itu tak lupa mengunci pintu rumah mereka sebelum masuk kedalam taksi yang telah menunggunya.


__ADS_2