
"Tidak aku, tidak akan pernah menceraikan kamu! Aku mencintaimu, aku sayang sama kamu! Tolong jangan meminta hal itu dari aku. " Tolak Riyadh dengan tegas.
" Nggak, aku nggak mau ceraikan aku! Kamu nggak bisa mendapatkan apa-apa dari aku dan aku yakin mamamu tidak akan setuju memiliki menantu Seperti aku, tolong ceraikan aku, aku mohon."
" Tidak Icha, tidak akan pernah. Kamu milikku, selamanya akan seperti itu." Riyadh tidak pernah selemah ini, ia juga tidak pernah menangis untuk alasan apapun, tapi di hadapan dengan Icha membuatnya selemah ini.
Pria itu kini berbaring di atas ranjang sembari memeluk tubuh istrinya. Wanita itu mulai suka tidak menjerit meminta ia menceraikannya, tapi tangisannya serta tubuhnya yang bergetar masih bisa Riyadh rasakan.
Sore itu keduanya berbaring dalam posisi saling memeluk, lebih tepatnya Riyadh yang memeluk Icha hingga keduanya sama-sama terlelap.
...🥀🥀🥀🥀...
Keesokan harinya, Kedua mata Riyadh mulai terbuka, karena cahaya matahari yang masuk menembus tirai jendela dan menerpa langsung wajah Riyadh, hingga membuat tidurnya terusik.
Ketika Riyadh hendak beranjak dari tempat tidur ia merasa tangannya keram dan sulit digerakkan. Membuatnya tersadar jika saat ini Icha masih terlelap dengan lengan dia sebagai bantalnya.
Wajah tenang dan damai Icha saat tertidur membuat Riyadh, menghentikan niatnya dan memilih menatap wajah Icha sepuasnya.
"Sejak pertama pertama aku melihat kamu! Kamu memiliki daya tarik tersendiri di hati aku. Tapi aku ragu namun, makin kesini aku making tahu, jika itu semua bukan hanya ketertarikan semata! Melainkan rasa cinta yang semakin kesini semakin membesar. Dan aku juga tidak dapat melepaskan kamu, untuk alasan apapun. " Ucap Riyadh sembari mengusap pipi Icha dengan lembut, pria itu mengira jika Icha sedang tertidur, hingga pergerakan wanita itu dengan tangan yang semakin melingkar erat pada pinggang Riyadh membuatnya tersadar.
" Selamat pagi, sayang." Ucap Riyadh. Sembari mencium puncak kepala Icha berkali-kali.
__ADS_1
"Pagi." Balas Icha dengan suara yang terdengar sedikit serak dan bibir yang ia paksakan untuk tersenyum.
" Kasian mata sayangnya aku bengkak karena banyak nangis! Cup, cup." Sahut Riyadh, ia juga mengecup kedua mata Icha secara bergantian, Sebelum ciuman itu berakhir di bibir Istrinya. " Apapun kondisi kamu, jangan pernah meminta pisah lagi ya, jika kamu tahu hal itu hanya akan membuat kita berdua harus sama-sama sakit." Lanjutnya Setelah menarik dirinya untuk mengakhiri ciuman yang cukup singkat itu.
" Sebelum mandi, mau mencoba lagi?" Tanya Riyadh namun Icha mengeleng kepalanya.
" Nggak mau! Hasilnya pasti sama aja." Sahut Icha, wanita itu telah benar-benar pasrah dan tidak ingin mencoba lagi. Jika pada Akhirnya, Riyadh harus menikahi wanita lain, untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya maka Icha akan ikhlas menerima itu semua.
"Kata Manda! Jika sering di coba pasti lama-lama bisa, ayo "Bujuk Riyadh namun Icha masih terlihat ragu dan tidak yakin dengan ucapan suaminya itu. " Sayang." Panggil Riyadh lagi. Karena Icha masih saja Diam dan tak merespon ucapannya.
Riyadh pun mengguncang pelan tubuh Icha membuat wanita itu tersadar dari lamunannya. Entah apa yang di pikirkannya hingga membuatnya tidak mendengar apa yang di katakan Riyadh barusan.
" Kata Manda! Jika kita sering-sering mencoba pasti lama-lama bisa kok, ayo ." Jawab Riyadh sembari mengulang kata-katanya berharap kali ini Icha mendengarnya.
" Nggak, mending mas nikah aja lagi! Aku nggak papa, jika memang itu yang terbaik, karena mau di coba seperti apapun! Aku tidak akan pernah bisa melakukannya." Sahut Icha membuat jantung Riyadh berdebar lebih cepat dari biasanya, permintaan Icha terdengar mungkin terdengar biasa untuk orang yang berada di posisi Icha, namun hal itu justru membuat Riyadh merasa tertampar, karena tanpa sepengetahuan istrinya, Riyadh sudah menikah jauh sebelum Icha memintanya. Yang lebih menyakitkan, usia pernikahannya dengan Icha dan usia pernikahannya dengan Nadine Nadine hanya berbeda dua hari.
Dimana Riyadh baru saja mengucapkan janji kepada mertuanya namun di saat makan itu masih basah ia justru mengingkarinya.
Sungguh Rasanya Riyadh ingin mengakhiri perasaan bersalah dengan mengatakan sejujurnya kepada Icha, namun pria itu belum siap untuk menerima tatapan kecewa dari istrinya itu. Dia belum siap jika harus di jauhi oleh wanitanya, karena kedekatan yang terjalin di antara keduanya, tidak hanya membuat Icha nyaman, karena Riyadh pun merasakan hal yang sama.
" Sayang, tolong jangan meminta Hal itu. Aku janji tidak akan menghindari kamu lagi, aku janji nggak akan pulang malam lagi tapi satu yang aku minta, jangan pernah mendorong aku untuk menjauh." Ucap Riyadh. Pria itu dengan cepat mengubah posisinya, hingga Icha kini Sudah berada di bawah Kungkungan nya.
__ADS_1
"Mas, apa yang kamu lakukan! Aku nggak mau mencobanya lagi. Mungkin dengan kamu menikah adalah solusi yang tepat untuk masalah kita."
"Aku tahu sayang, kamu melakukan itu untuk lari dari tugasmu." Pria itu berbicara sambil terus mencium seluruh wajah Icha, membuatnya kegelian.
"Mas cukup hentikan, geli." Teriak Icha sembari mendorong wajah Riyadh untuk menjauh darinya. " Mas awas aku mau mandi." Sambungnya lagi.
Riyadh pun langsung turun dari tubuh Icha, membuat Icha bernafas lega, namun hal itu hanya sesaat, karena di detik berikutnya Icha langsung menjerit. Karena riyadh yang menggendongnya.
" Kamu mau mandikan, kita mandi sama-sama." Ucap Riyadh tanpa dosa. Dia bahkan tidak peduli dengan protes yang di lakukan Icha.
" Mas aku bisa mandi sendiri! Aku bukan anak kecil yang harus di mandikan." Sungut Icha.
" Sayang, kamu tahu, orang dewasa kaya kita juga sering mandi bersama! Bahkan mereka lebih suka melakukan hal itu dari pada anak-anak." Ucap Riyadh, yang sengaja ingin merusak otak polos istrinya.
Karena Sekeras apapun Icha menolak! Pada akhirnya keduanya tetap mandi bersama. Mandi yang sebenar-benarnya di mana posisi Icha membelakangi Riyadh dan tidak berani untuk berbalik menatap tubuh polos suaminya itu.
Entah di sadari keduanya atau tidak! karena sejauh ini, baik Icha maupun Riyadh keduanya dapat mengikis sedikit demi sedikit tempat pembatas yang menjadi penghalang di antara keduanya.
Bahkan tembok pembatas tak kasat mata yang dulunya menjadi penghalang Icha dan Riyadh kini tinggal selangkah dan untuk melangkah melewati itu keduanya harus memiliki berani mengambil sikap dan harus sedikit berkorban lagi.
Seperti yang di ucapkan Amanda jika ingin benar-benar sembuh, Icha Harus siap untuk terluka di tempat yang sama. karena sekalipun tempat itu sudah terlihat membaik namun rasa sakitnya masih sangat terasa. Dengan melukainya lagi, itu akan mengeluarkan rasa sakit ya selama ini mengganggunya dan akan membuatnya benar-benar terlepas dari trauma itu sendiri.
__ADS_1